Review Marry My Husband Jepang : Paradoks Waktu dan Intensi
Hai Assalamu'alaikum
Disclaimer : Spoiler Alert Marry My Husband Japan
Setelah penayangan Episode sepuluh yang menjadi terakhir Marry My Husband versi Jepang (Watashi no Otto to Kekkon Shite / 私の夫と結婚して ) sebenarnya saya ingin segera langsung membuat review secara menyeluruh. Tapi entah mengapa Saya justru gagal move on dari Head Over Heels. Mungkin karena di minggu yang sama dengan berakhirnya serial ini saya harus membuat rekap dan review yang tertinggal dari delapan episode terakhirnya. Ditambah lagi di penghujung Juli lalu tayang pula Glass Heart, Dorama baru Tekeru Sato yang keren banget!! (Pengen ngereview juga tapiii antrian tulisan koq masih ada aja Hoahaha).
Setelah beberapa hari akhirnya saya mencoba untuk mendapatkan feels kembali dari serial Marry My Husband dengan menonton ulang dari episode perdana. Selain itu saya juga membaca ulang webtoonnya sebagai basis perbandingan (karena versi Drakor kurang lebih sama dengan Webtoon hanya ada beberapa twist). Ternyata, sebenarnya saya mendapatkan mixed feeling. Di satu sisi saya sebenarnya suka banget tapi di sisi lain ada perasaan yang sedikit mengganjal. Apakah itu?
Sebagaimana yang pernah saya ulas sebelumnya, hasil adaptasi selalu membuat saya atau mungkin barangkali beberapa teman pembaca blog ini juga sering membandingkan satu dengan lainnya. Menurut saya itu manusiawi sih, apalagi sebelumnya juga pernah diadaptasi dalam versi drama koreanya.
Beberapa Hal yang Saya Sukai dari Versi Jepang Marry My Husband
1. Pemeran dan Akting
Di postingan sebelumnya saya sudah membahas bahwa Saya sangat menyukai Takeru Sato dan akting Fuka Koshiba.
Ternyata Sei Siraishi yang memerankan Reina cukup berhasil memerankan Reina yang memiliki sifat licik dan kejam. Yu Yokohama sebagai Tomoya juga lumayan pas dibagian nyebelin sekaligus bikin kasihannya.
Yang mencuri perhatian adalah pemeran ibu Tomoya dan Yuto yang lebih menjadi scene stealer. Peran Yuto memang lebih menonjol terutama di bagian akhir. Sementara Ibu Tomoya berhasil sekali memerankan tokoh mertua yang licik.
2. Setting dan Blocking
Pemilihan lokasinya sangat menarik. Selain menampilkan keindahan landscape Jepang pada umumnya dan Tokyo, hamparan salju yang memutih di Toyama -prefektur asal Misa (dan Reina)-- membuat suasana terasa sangat magical.
Saya juga suka blocking atau pemilihan posisi dari para pemain pada beberapa adegan. Contohnya adegan di episode empat, ketika sepulang kantor Misa menghindari Rena dengan menjadikan sebuah pilar gedung kantor sebagai pemisah antara dirinya (plus direktur Suzuki) dengan Reina.
3. Color Grading
Saya suka tone vintage yang digunakan untuk menggambarkan perbedaan timeline waktu. Jadi secara mudah kita akan menyadari apabila suatu adegan itu beralih dari masa kini dan masa lalu atau lebih tepatnya masa yang telah terjadi sebelumnya --saya sering menggunakan istilah kehidupan pertama dan kehidupan kedua, biar lebih gampang.
4. Penjelasan yang Lebih Mendetail
5. Mengikuti Sejarah Populer
Beberapa Hal yang Saya Kurang Sukai dari Versi Jepang Marry My Husband :
1. Prop yang Digunakan
Khususnya pada beberapa adegan di episode menjelang terakhir yang menampakkan darah. Somehow pengambilan gambar dengan properti darah (palsu) Ini lebih keren di film horor Indonesia Hoahaha. Padahal saya yakin sebagai sebuah proyek dalam bentuk kerjasama Korea Selatan dan Jepang budget yang dipersiapkan juga tidak main-main.
2. Penokohan Wataru Suzuki
3. Ending
Ending kisah versi ini sebenarnya cukup memuaskan. Yuto dan Miku --meskipun tidak dijelaskan secara eksplisit-- bersama setelah Yuto meningkatkan kemampuan kulinernya di Perancis. Begitu pula Ibu Sumiyoshi dan kedai cemilan favorit Misa, Mamekame-Dou yang berhasil di revitalisasi.
Wataru berhasil menjalani impiannya menjadi seorang peneliti dan lepas dari bayang-bayang konglomerasi Suzutoya.
Tapi kembali lagi ke pasangan utamanya, entah mengapa Misa dan Wataru tidak benar-benar bersama meskipun mereka sudah menjalani kesempatan kedua dalam hidup. Memang di dunia yang progresif seperti saat ini, banyak yang menjadikan pernikahan bukanlah hal yang utama. Namun menurut hemat saya, jika toh pada akhirnya mereka akan menikah mengapa mereka tidak menikah sejak 10 tahun yang lalu? Sebagai pembanding di Webtoon, Ji-won dan Ji-hyuk bahkan sampai mempunyai tiga anak. Hoahaha
4. Alur Cerita
Oke, jadi ini merupakan hal yang paling krusial menurut saya. Mungkin kembali lagi ke latar belakang saya sebagai seorang anak hukum, selain hukum sebab akibat, niat atau intensi merupakan suatu pondasi dasar dalam menilai bentuk kejahatan yang terjadi. Perbedaan ini akan membawa dampak terutama apabila akan dilakukan penghukuman. Misalnya pembunuhan terencana dan pembunuhan yang dilakukan sebagai bentuk self defense tentu memiliki justifikasi yang berbeda pula. Ada pula akibat kelalaian seseorang yang menyebabkan hilangnya nyawa orang lain.
Plot dasar dari Marry My Husband adalah seorang wanita yang kembali ke masa lalu demi membalas dendam kepada suami dan teman baiknya yang berselingkuh dan berusaha mengambil alih asuransi jiwanya, dengan cara alih-alih dirinya yang menikah, sejak awal Ia menjodohkan keduanya.
Pertama, jadi dalam drama ini memang Misa kembali ke masa 10 tahun yang lalu. Saat itu Tomoya sang kekasih maupun Reina belum menjalin hubungan. Malah bisa disimpulkan dari episode kedua Misa yang berusaha untuk membangun chemistry di antara keduanya. Ini awal mula paradoks yang saya maksud, benar, walaupun tanpa campur tangan Misa di timeline kehidupan yang lama di satu titik waktu mereka akan mulai saling berhubungan. Ini menunjukkan bahwa kesalahan benar-benar ada di tangan keduanya. Namun jikalau sedari awal Misa yang berusaha menyatukan mereka berdua dengan segala strateginya maka di sini saya mempertanyakan : Apakah di timeline yang kali ini Tomoya dan Reina akan saling berselingkuh seandainya Misa tidak turun tangan? Pada episode kedua, Reina justru tertarik pada Wataru Suzuki dan (saat itu) Tomoya pun sangat memuja Misa.
Kedua, saya merasa sangat berkesan dengan ending Webtoon Marry My Husband justru karena terungkap alasan SooMin mendekati JiWon. Sang wanita licik sedari SMP sudah berniat menghancurkan kehidupan JiWon sebagai bentuk balas dendamnya kepada ibu JiWon yang telah dianggapnya merebut ayahnya. Jadi apapun yang dilakukan SooMin pada dasarnya sudah dilandasi dengan niat yang salah. Ia tak pernah benar-benar ingin menjadi sahabat, oleh karena itu "wajar" saja bila di satu titik ia berselingkuh dengan suami sahabatnya ini.
Ketika JiWon kembali ke timeline 10 tahun yang lalu pun sebenarnya di SooMin memang sudah jahat. Sayangnya paradoks kembali terjadi di versi Jepangnya. Alasan Reina ini justru dihilangkan sama sekali. Wanita yang menjadi selingkuhan ayahnya bukanlah Ibu dari Misa. Benar ada kejadian yang lebih tragis yang dihadapinya di masa lalu, tapi tidak ada hubungan secara langsung dengan Misa. Satu-satunya alasan yang dijadikan Reina adalah karena ia mengira Misa adalah anak yang sama terlukanya dengan dirinya, kekurangan secara finansial, ditinggalkan ibu dan tidak dicintai ayahnya. Sayangnya, karena asumsinya itu salah (Misa bahagia bersama sang ayah) justru Ia menjadi membenci Misa. Apakah alasan ini masuk akal? Bisa jadi kalau dia memang memiliki kepribadian yang kecenderungan psikopat sejak dini.
Tinggal lah artinya kejahatan Reina sejak dini bisa dikategorikan sebagai kebohongan kanak-kanak. Ketika baru berkenalan --di sekolah dasar-- Ia bilang ayahnya bekerja di luar negeri sementara Ibunya bekerja di toko pakaian yang fancy pada Misa, semuanya demi menciptakan ilusi keluarga yang bahagia. Anehnya Misa malah tak menyadari hal ini hingga dewasa bahkan baru tahu di kesempatan hidup kedua. Persahabatan macam apa ini?
Misa menganggap Reina selalu iri dan ingin memiliki segala sesuatu yang lebih dari Misa. Premis ini memang diperkuat alasan dimasa SMP fitnah dari Reina yang membuat Misa dirundung teman sekelas. Termasuk kisah cinta pertamanya dengan Yuto yang jadi kandas akibat saling salah paham. Tapi Misa pun mengakui, Ia terlalu lembek untuk meng-cut off Reina dari kehidupannya.
Ada benarnya juga kala Reina yang histeris -sambil berusaha mencelakai Misa di episode pamungkas-- bilang : Misa terlalu banyak curhat soal ketidakberuntungan dirinya sendiri tanpa mengetahui bahwa sebenarnya Reina lebih ngelangsa dibanding dirinya.
Paradoks kembali terulang, bagaimana jika dilihat dari sudut pandang Reina justru Misa-lah yang menjahatinya? Apakah Reina juga berhak mengulang hidupnya atau pantas mendapatkan akhir demikian (ya secara objektif sejak dipertengahan, Ia juga banyak melakukan hal-hal yang kejam pada Tomoya, ibu mertuanya, Nenek Misa dan Wataru)?
Ketiga, berkaitan erat pula dengan permintaan maaf Tomoya ketika Ia sedang mengalami masa kritis. Dia sempat meminta maaf kepada Misa dan mengatakan (kurang lebih) seandainya bisa mengulang waktu kembali maka ia akan kembali menjadi kekasih Misa yang setia dan tidak akan mengkhianatinya. Bagaimana seandainya keinginan terakhir ini dikabulkan semesta? Akan menjadi suatu timeloop yang tidak berkesudahan, karena sama dengan beberapa elemen di atas, Tomoya di sini belum melakukan kejahatan yang serius. Ia memang berniat menikahi Misa yang dianggapnya sebagai pilihan aman untuk menjadi istri yang patuh dan rajin (termasuk dalam hal finansial). Tapi kan hal ini belum terjadi, justru Misa yang berusaha untuk mendekatkannya kepada Reina. Jadi jelas saja Tomoya di sini merasa justru Ialah yang dicurangi oleh Misa.
Bahkan, ada di satu titik ia menyuarakan kecurigaannya kepada hubungan Misa dan direktur Suzuki. Apakah untuk menghindari kebenaran pernyataan Tomoya dan menjaga karakteristik Misa, pernikahan mereka ditunda selama 10 tahun berikutnya? Wallahualam.
Keempat, mengenai direktur Wataru Suzuki. Di sini Ia lebih sekretif dalam memberitahu Misa bahwa Ia pun ikut kembali ke masa 10 tahun yang lalu. Nah, yang menjadi masalah ialah alasan ia ikut kembalinya itu. Di drakor, dikisahkan mengalami kecelakaan tunggal ketika berkendara sepulang dari pemakaman JiWon. Kemudian di kehidupan kedua, Ia mengalami kecelakaan saat tabrakan dengan kendaraan ayah SooMin yang berkomplot dengan Ibu JiWon. Tujuannya demi melindungi JiWon dari ancaman pemerasan keduanya.
Sementara di versi Jepang ini agak sedikit ambigu, di kehidupan perdana kecelakaan maut terjadi karena Wataru seolah-olah menabrakkan kendaraannya sendiri ke pembatas jembatan sepulangnya Ia meletakkan Pasu Abu Misa di kuil di kota asalnya. Saya mencoba memahami apakah ini ada kaitannya dengan tradisi Sepukku, bunuh diri yang biasa dilakukan Samurai Jepang yang mengalami kekalahan ataupun para wanita demi menjaga kehormatannya. Namun sebagai seseorang yang agamis, saya tidak bisa membenarkan bahwa penyesalan yang mendalam (karena tak sekalipun berusaha mengajak Misa berkenalan dan menyelamatkan hidupnya) justru mendorongnya untuk mengakhiri hidupnya alih-alih berbuat suatu hal lain yang bermanfaat.
Paradoks intensi ini juga sangat mempengaruhi bagi saya. Apakah Wataru benar-benar layak mengulang waktu kembali? Karena bunuh diri pun, artinya Ia mengubah jalan takdir hidupnya. Dan yang lebih membagongkan lagi, di kehidupan kedua Ia diam-diam ngide mengundang Tomoya ke Toyama kemudian nyaris kecelakaan (dalam artian mengulang adegan menabrak pembatas jembatan) berdua dengan pria itu di lokasi yang sama (untungnya Misa datang tepat waktu). Sepanjang sepemahaman saya, tujuannya agar takdir buruk Misa berpindah pada dirinya sendiri dan Tomoya, tapi apakah ini tak memberi sinyal yang salah? Bunuh diri adalah solusi gitu? OMG.
Duh, pusing ya? Apakah saya terlalu baper atau kebanyakan mikir (untuk hal yang mungkin bagi sebagian orang sekedar tontonan jadi ya logika bisa dikesampingkan)? Hoahaha
Barangkali, banyak yang tak setuju dengan saya dan menganggap Marry My Husband Japan adalah versi favoritnya. It's okay, saya perhatikan ratingnya di My Drama List 8,4 artinya cukup baik. Saya pun terbuka untuk menerima diskusi di kolom komentar. Feel free to hit me!
Psst, versi favorit saya ternyata masih di pegang oleh..... webtoon Marry My Husband.
Baca juga : Marry My Husband versi manakah yang terfavorit?






















Posting Komentar