" ".

(Bukan) Review Pavane : Plain-Looking-Girl Against the World

Table of Contents

Judul : Pavane

Judul Lain : 파반느
Sutradara: Lee JongPil
Penulis Naskah : Park MinGyu (Novel), Lee JongPil, SonMi
Pemain : Go AhSung, Moon SangMin, Byeon YoHan, Lee YiDam, dll
Genre : melodrama, romansa
Durasi : 113 menit
Tayang perdana : 20 Februari 2026
Rating Usia : 18+
OTT : Netflix

Sinopsis

Lee GyeongRok (Moon SangMin), ditinggalkan ayahnya yang menjadi artis tenar di ibukota kemudian menikah lagi dengan seorang wanita cantik dan kaya. Ibunya jadi depresi sehingga Ia merasa tak percaya cinta. Semuanya terasa superfisial dan penuh kepalsuan. 

Ia mengambil pekerjaan sebagai penjaga lapangan parkir di sebuah departemen store. Seorang pegawai lain yang lebih tua, Park YoHan (Byeon YoHan) mengajaknya mengobrol setelah melihat kaus David Bowie-nya. Mereka menjadi akrab. YoHan secara aktif membantu GyeongRok yang naksir Kim MiJeong (Go AhSung) pegawai bagian gudang yang bertubuh mungil, chubby sekaligus berkulit eksotis. Wajahnya tak pernah dipulas make-up dan rambutnya dikepang dua sederhana.

GyeongRok tertarik padanya karena suatu kali menangkap basahnya sedang mendengarkan melodi musik klasik dan MiJeong seolah memainkannya diatas tuts piano. Ia pun menjelaskan bahwa itu adalah Pavane yang biasa mengiringi tarian barat klasik  seperti Waltz.

Kedekatan mereka menimbulkan pembicaraan hangat dikalangan pegawai lain. Terutama SeRa (Lee YiDam) yang terlihat menaruh perhatian pada GyeongRok yang tampan. Wanita cantik ini mempertanyakan hubungan keduanya yang disamarkan YoHan sebagai persaudaraan. Konyolnya, saat GyeongRok terang-terangan menyuarakan isi hatinya, mengapa ia tertarik pada MiJeong di tengah jam makan siang yang penuh teman sekerja, Yohan mengalihkan perhatian semua orang dengan malah mencium si pemuda! (Wadiwaw yak Hoahaha).

Ternyata sikap eksentrik YoHan itu bukan tanpa alasan. Ia sebenernya pernah mengajak MiJeong menjumpai ayahnya ---yang selalu mendesaknya menikah lagi-- dengan imbalan sejumlah uang. Pada akhirnya MiJeong menolak uang tersebut dan YoHan menganggapnya menarik serta mendukung hubungannya dengan GyeongRok.

Ketika sebuah kejadian tak terduga terjadi, dinamika persahabatan diantaranya juga berubah. Mampukah mereka mewujudkan impian masing-masing : Yohan ingin jadi penulis terkenal, GyeongRok diam-diam ingin menjadi penari sambil lanjut berkuliah serta mengajak pacarnya melihat Aurora, dan MiJeong yang ingin mensejahterakan keluarganya?

Review 

Kamu tahu, kenapa perpisahan menyedihkan? bukan karena rasa sakit setelah berpisah, tapi karena kau sempat merasa hidup karena dia, meski hanya sebentar. saat perasaan itu hilang, itulah yang menyakitkan.”

Park YoHan 

Sejujurnya, awalnya saya tak begitu tertarik nonton film original terbaru aplikasi si merah, Pavane. Akhir-akhir ini saya merasa terlalu sering nonton melodrama (selain duo film Even If This Love Disappears From the World Tonight, saya pun sedang nonton marathon drakor Love Me dan dorama Silent Truth). Dari sinopsis awal, saya menyimpulkan film ini akan jadi mellow slow ala nonton film Jepang dan saya merasa cukup sudah dulu, deh ya, gitu.. Secara, genre favorit saya sebenarnya aksi dan misteri, tapi seringnya nonton rom-com Hoahaha!

Tapii saya penasaran juga sama reviewnya dan malah nyasar ke satu base drama Korea-China yang salah satu anggotanya malah ngasih rating 6 /10.  

Sebagai reviewer abal-abil, menurut saya nilai 6 bagi sebuah karya performing arts yang kompleks dengan banyak departemen lainnya, agak keterlaluan sih ya.. Seorang guru pun memberi poin upah menulis bagi murid yang menjawab soal meski kurang tepat dan jika tiap soal diakumulasikan jadi lumayan juga.

Saya pun selalu berasumsi, para reviewer memang orang-orang yang memang senang menonton atau bila bentuknya buku / karya seni lain ya memang menikmatinya. Kalau pun tak cocok, pasti ada alasan mendasar seperti beda selera, plot yang tak masuk logika dasar atau alasan lainnya. Misal, ekspektasi adaptasi yang jauh banget, contoh saat saya nonton dorama Hello, Nice To Meet You, Let's Get Divorce. Itu pun masih saya beri nilai 6,5 lho..

Saya pun mencoba memahami, sebagaimana seorang Joko Anwar pernah membagikan tweetnya, ada banyak faktor yang membuat seseorang menyukai suatu karya, diantaranya :

Sumber : akun X @Jokoanwar

Tapi, review Pavene ini subjektif banget, langsung menjudge penampilan si gadis, lalu menyimpulkan itu mustahil terjadi di kehidupan nyata. Ya memang film ini bukan bersumber dari autobiografi atau memoir melainkan dari buku fiksi Pavane For the Dead Princess karya Park MinGyu.

Kembali lagi ke reviewer tadi, saya samarkan satu judul film KorSel lain yang dijadikannya pembanding plus identitasnya, barangkali ybs berkeberatan saya ulas di blog. Agar lebih jelas, dari namanya dan saya cek ke akunnya ---yang terlihat asli--- beliau adalah seorang pria. Sebagai gambaran lain, beliau mereview dua drakor lain dengan cukup objektif (yang dibahas sinematografi, tema secara umum, pengembangan karakter dan lain sebagainya).

Akhirnya, jadi nonton juga. Tulisan ini bukan hanya buat mereview filmnya. Buat saya secara ringkas, film ini sangat menarik. Lembar demi lembar diungkap dengan hati-hati. Dari persahabatan hingga jatuh cinta yang manis, penuh dialog puitis dan quoteable lalu  dipuncaki melodrama yang menghangatkan hati. Tulisan ini akan lebih ke yapping karena ke-trigger jadi mau sharing pengalaman pribadi. Sebelumnya, marilah kita mengucap Bismillahirrahmanirrahim, mohon ampunan kalau ada salah kata dan perlindungan dari sikap ujub serta hasad.

Sayalah plain-looking-girl yang atas izin Allah, 'dikelilingi' cowok ganteng itu. Hoahaha. Rasanya biasa saja, malah lebih banyak kena julid-nya. Makanya saya bisa bersimpati banget sama MiJeong.



Bagi saya, Ia gadis pekerja keras yang mungkin karena stereotip masyarakat sangat bertentangan dengan penampilan fisiknya, jadi menutup diri. Ia selalu menunduk dan bahunya terkulai. Padahal, ia punya banyak potensi dan pengetahuan yang luas sehingga sangat menyenangkan mengobrol dengannya. 

Sementara saya sendiri, supaya lebih jelas, kayaknya kita harus flashback kehidupan saya dulu nih. Ibu saya berasal dari etnis Cina sedangkan ayah saya suku Semendo, Sumatera Selatan. Secara objektif, Ibu saya cantik banget, sementara ayah saya standar saja. Sehingga saat gen keduanya mengalir di tubuh saya, hasilnya kulit saya tak sebening adik atau pun saudara saya dari pihak ibu.

Secara fisik, saya cukup tinggi untuk cewek seusia saya, dengan perawakan cenderung chubby dan fitur wajah biasa-biasa saja, malah hidung saya pesek banget. Hoahaha. 

Sampai usia remaja, saya tak suka berdandan bahkan sekedar menyisir rambut pun malas. Alhamdulillah, rambut saya lurus bak model iklan shampo, memang cuma perlu disisir jari langsung beres Hoahaha. Dimasa itu rasa insecure cukup sering hinggap apalagi pas jerawatan parah atau eksim saya kambuh, untungnya kedua orang tua saya selalu menanamkan rasa percaya diri serta penampilan fisik tidak sesignifikan sikap, etika dan kemampuan akademik atau skill lainnya.

Style berpakaian saya tomboy abis dan begitu akhirnya saya suka agak girly, saya cenderung tabrak warna dan motif. Sebagai gambaran, selera saya tu Diana Rikasari lah. Versi lebih ke ibukota provinsi-nya tapi Hoahaha. 

Bagi saya sih fine-fine saja. Teman saya berimbang antara cowok dan cewek. Dan mereka pun tak terlalu mempermasalahkan ke-quirky-an saya sebagai anak SMP (sampai kelas 3) yang masih pakai tas Mickey Adinata atau serba Hello Kitty. Nilai sekolah saya stabil, saya bukan golongan nerd atau pun yang gaul banget. Saya pas di tengah spektrum dari segi keuangan maupun kedudukan orang tua dalam pekerjaan dan masyarakat. Saya pun berteman dengan semua tanpa pandang bulu. Pulang pergi sekolah atau les berimbang antara diantar jemput (oleh ayah saya atau dengan supir kantor yang berganti-ganti) dan naik angkot atau bus kota. 

Masa kecil-remaja saya sangat bahagia dan menyenangkan.

Ohya, saya tomboy mungkin karena di rumah ramai sepupu cowok dan ayah selalu melibatkan saya dan adik cewek satu-satunya dalam semua kegiatannya. Sejak kecil kami terbiasa diajak ke bengkel, jadi asisten saat renovasi rumah, membongkar akuarium, merangkai listrik atau ke kebun itik dan mengurus aneka hewan serta tanaman. Dan saya bisa dibilang cukup jago dalam hal-hal tersebut.

Sementara ibu saya bukan tipe yang jago banget soal pekerjaan rumah tangga --Ayah saya lebih jago sebenarnya-- dan ibu juga tak pernah memaksa kami mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ya selayaknya anak perempuan standar bisa beres-beres rumah, nyapu, cuci piring dan baju sendiri lah. Menyetrika ada ibu tukang gosok pakaian yang datang ke rumah untuk mengerjakannya. 

Soal masak saya pernah buat tulisan sendiri, Meski tak ngoyo dalam menu sehari-hari (rumah dekat resto dan warung bakso enak jadi kalau ibu ga masak, ya tinggal beli lauk atau jajan), hebatnya setiap tahun, kue lebaran kami baik basah maupun kering adalah homemade. Open house berjilid-jilid dengan menu paket lengkap ketupat plus hidangan khas Palembang (biasanya tekwan dan mpek-mpek). Yang mengerjakan hanya ibu, saya dan adik plus dibantu ayah bagian bersih-bersih, sejak kami masih SD. 

Intinya, pengetahuan dan skill saya pun pas ditengah-tengah lah untuk versi dunia maskulin ataupun feminim.

Nah, sirkel orang tua saya yang paling akrab ada tiga keluarga. Ayah dan ibu saya paling muda, sehingga anak-anak dari dua keluarga lainnya usianya diatas saya sekitar 5-7 tahun. Masing-masing punya anak perempuan juga. Kedua kakak inilah yang ternyata sering mencemaskan 'masa depan' saya yang dianggap tak bakalan punya pacar karena penampilan saya dan gaya saya yang lebih cocok dijadikan teman.

Padahal, memang sampai menginjak usia SMA, saya belum tertarik pacaran. Mungkin standar saya ketinggian, ayah saya si serba bisa dan family man, sepupu-sepupu cowok yang selalu siaga serta sering memberi gambaran untuk berhati-hati terhadap cowok dan teman-teman cowok di sekeliling saya --di mata saya saat itu-- belum ada yang menimbulkan rasa ketertarikan. Parahnya sampai ada setitik arogansi, saya merasa lebih jago dari teman-teman cowok saya baik dari segi akademis maupun skill bertahan hidup mandiri Hoahaha.

Bagaimanapun, saya selalu punya sahabat cowok yang akrab banget. Saya sebenarnya memang lebih nyambung ngobrol dan main di kelas sama cowok, balik lagi karena ketomboy-an saya. Sejujurnya, saya malas mengikuti pembicaraan para cewek yang selalu tentang cowok juga. Hoahaha.

Dari sudut pandang saya, saya easy-going, cukup berwawasan luas dan mudah diajak ngobrol tentang apa saja. Sering bergaul dengan para sepupu cowok pun membuat saya paham guyonan cowok tapi nyatanya dihadapan saya, mereka memperlakukan saya dengan respek. Bahkan, tak ada jokes yang nyerempet jurang, apalagi sejak saya berhijab. 

Sepengatahuan saya, tak pernah ada perasaan lebih diantara saya dan para sahabat itu (yang berganti juga sejak SD hingga jenjang selanjutnya). Meski selama satu tempat belajar, kami ngobrol tiap hari dengan seru tentang banyak hal. (Sampai sekarang juga kadang masih DM-an.)

Hingga di masa SMA saya akrab dengan seorang teman cowok dan kisahnya jadi berkembang.

Awalnya kami sahabatan bertiga. Saya, dia dan seorang sahabat perempuan saya sejak kelas dua SMP. Akhirnya bertambah dengan sepupu perempuan sahabat Saya itu dan pacarnya (yang juga teman SMP kami). Saya dan sang teman perempuan memang sejak lama sering saling pinjam komik, ternyata di tahun tersebut jaringan toko buku terbesar baru dibuka di kota saya. Jadilah saya dan si sahabat cowok ---yang juga suka banget membaca-- awalnya sering nongkrong di sana berjam-jam buat numpang baca Hoahaha. 

Saya mencoba menjodohkan si sahabat lelaki baru ini dengan teman sekelas saya yang lain. Ternyata, di waktu yang sama ada satu sirkel lagi yang mencoba menjodohkannya dengan cewek satu sekolah juga. Kedua cewek ini cantik dan anggun, jelas style-nya beda banget sama saya yang ceplas-ceplos. 

In the end yang jadian malah saya dan dia. Dan yang malesin adalah komentar orang-orang karena dia ganteng (banget? Entahlah soalnya saya bisa jadi bias🤣). Reaksinya kurang lebih mirip teman-teman sekerja di Pavane ini.. Lebih gong adalah dari sirkel satunya itu yang kadar salty-nya masin banget kalau kata orang Palembang Hoahaha. Itupun baru saya tahu ketika saya sudah kuliah karena ada anggota sirkel tersebut yang jadi bestie saya.

Anyway, kejadian ini bukan untuk pertama dan terakhir saya alami. Masih ada lagi. Yang kedua adalah saat saya melanjutkan kuliah. Merantau jauh dari orang tua, saya dititipkan pada anak lelaki dari salah satu keluarga yang akrab banget tadi. Sebutlah Abang R, yang memang sepengetahuan saya ditaksir remaja cewek sewilayah perumahan saya tinggal. Perawakannya tinggi dengan kulit cerah dan bersih. 

Ia saat itu sudah semester akhir karena memang jarak usia kami cukup jauh. Saat ujian seleksi di Universitas swasta Islam terbesar di kota Pelajar, saya diantar olehnya. Kalau bisa tebak nama kampusnya, pasti ngeh balairung utamanya cukup luas bergaya joglo. Saat saya dan Abang R berjalan bersisian menaiki tangga, believe it or not, adegannya persis kayak di film! Semua mata memandangi kami ---khususnya saya-- dengan tatapan judgmental. Semua orang bahkan sampai menepi. Omaigad, serasa jalan sama artis. Hoahaha

Lebih menyebalkannya, karena dulu membuat rekening bank belum semudah sekarang, orang tua saya mentransfer uang bulanan saya ke rekeningnya. Jadi, suatu waktu, saya menghubungi beliau dan mengajak bertemu karena uang pegangan saya hampir habis. Celakanya yang menerima adalah seorang cewek, saya kurang tahu pasti apakah itu memang pacar si Abang yang jelas saya dijudesin karena reputasi sebagai adik 'jelek'nya yang bakalan merepotkan sudah menyebar Hoahaha.

Untunglah, saat pengumuman seleksi saya keterima univ negeri di Semarang. Kalau ga, ga tahu deh, berapa lama saya bisa lolos dari tatapan judgmental orang-orang hanya karena jalan bersamanya. Kagetnya, setelah saya menikah, kakak perempuan Abang R (salah seorang yang dulu meragukan saya itu, lho) mengakui kalau keluarga mereka sebenarnya bersiap hendak menjodohkan kami kalau saya tetap di Jogja. Hoahaha saya hanya ngakak guling-guling karena ya bagi saya beliau hanya Abang tetangga cakep yang sering saya pinjem komik Kung Fu Boy atau majalah Hai-nya.

Pindah kampus bukan berarti selamat juga sih ya... Saya tetap berpacaran dengan pacar saya sejak SMA. Dia pun pernah mengunjungi saya ke Semarang. Tapi berhubung angkatan saya ada 300 orang, tak mungkin semuanya saya kenalkan kan? Akhirnya saya tetap kena julid. Alasannya kurang lebih sama, saya akrab dengan satu teman cowok seangkatan. Sebenarnya, akrabnya rame-rame. Genk saya saat itu awalnya lima orang berkembang jadi lebih dari sepuluh. Celakanya, saat semester lima dan peminatan, yang satu peminatan Hukum Internasional hanya saya, dia dan satu teman perempuan lain. Jadilah kita bertiga sering sekelompok mengerjakan tugas dan kemana-mana bareng. 

Saya merasakan tatapan sinis dari segerombolan teman seangkatan dalam waktu yang cukup lama. Saya yang tak merasa tak bersalah pun merasa tak perlu ada yang harus diklarifikasi sih ya.. Bagi saya, dia hanya teman akrab tempat sharing juga. Sekitar awal semester enam memang hubungan asmara saya berakhir (alasannya rumit, tapi sama sekali tak ada hubungannya dengan pihak lain). 

Dalam jangka waktu tersebut, we went out satu atau dua kali (siang hari ke toko buku dekat kampus ya for the record). Ia saya ajak ke perayaan ultah saya bareng genk cewek sekosan. Mereka yang sebenarnya sudah kenal juga, kasih lampu hijau terang banget, tapi saya menyadari, dia dan mantan saya terlalu mirip. Bukan hanya dari fisik tapi juga sikap dan sifat, bahkan aroma cologne-nya juga sama. Dan itu tak sehat buat mental saya yang lagi drop pasca putus (masih sering bengong kayak GyeongRok Hoahaha). Hubungan kami tetap sebagai sahabat. Setelah KKN, dia pun punya pacar baru (yang selalu saya panggil kakak ipar), saya dekat dengan beberapa orang baru tapi gosip di kampus makin santer dan menyebar sampai ke teman beda kelas dan peminatan juga, ternyata!

Saya yang aslinya memang kurang gaul sebenarnya tak terlalu ambil pusing. Nilai dan segala urusan kuliah pun tak terpengaruh. Ibarat anjing menggonggong, kafilah berlalu. Cuma, dari cerita adik angkatan --cowok--yang memang akrab juga dengan saya, sahabat saya ini di semester akhir, sampai disidang oleh perkumpulannya. Jadi, ada perkumpulan keagamaan yang sebenarnya ekstrakurikuler juga sih, dimana dia adalah anggota. Dua anggota perempuan memanggilnya dan menegur perihal ini. 

Saya jelas kaget setelah tahu belakangan. Apakah memang ada aturan menegur anggota yang dianggap kurang mematuhi tata tertib perkumpulan? Meski bukan anggota, saya pun kurang lebih tahu SOP perkumpulan tersebut. Seingat saya, kami bahkan tidak pernah chat diluar tentang pelajaran / kuliah. Kami tidak pernah pergi berduaan saja, selalu bertiga dan so on. Lagipula, seandainya kami memang lebih dari sahabat pun sebenernya tak ada hubungannya dengan mereka. Toh, ada satu orang sahabat satu genk yang juga bergabung di perkumpulan tersebut dan sebenarnya ia pun tahu benar posisi kami. Kenapa tak cukup bertanya? Atau lewat sahabat Saya itu saja yang bertanya ke saya? 

Plot twist dalam hidup berikutnya adalah, justru salah seorang cewek yang memanggil untuk menyidangnya itu kemudian menjadi istrinya. Ya Allah, saya tuh aslinya lega banget lho, saat tahu infonya dari email. Biar teman-teman seangkatan ngeh juga, kalau memang kami tak ada hubungan apa-apa. Mau ngikik juga ada, soalnya jadi sempat kepikiran, apa jangan-jangan saya disinisin gara-gara ada yang memang sudah cemburu melihat kedekatan kami? Hoahaha Wallhu'alam bishawab (kalau ada teman seangkatan saya yang baca ini, cukup tahu aja deh. Maaf kan saya juga seandainya dulu ikut terpapar gosip itu🤣🤣 Saya pun sudah lama sekali mengikhlaskan segalanya, ini murni ditulis demi kepentingan ulasan juga sih).

Lanjut kuliah pun sebenarnya saya akrab dengan beberapa orang sahabat cowok dan akhirnya punya pacar lagi meski hubungan kami pun harus berakhir. 

Ada satu orang teman satu angkatan kuliah magjster yang satu kali terang-terangan meledek saya mirip Sule! (Ooh the audacity, padahal ia pun jauh banget dari definisi cowok cakep dalam sejarah hidup saya hoahaha). Konteksnya, ia kesal karena saya membela mantan kekasihnya --sahabat perempuan saya-- yang akan menikah selepas kuliah dengan pria yang lebih matang. Saya aminkan perkataannya dan berdoa semoga saya benar-benar mirip Sule, termasuk rezekinya! (Sebagai catatan saat itu ia pelawak termahal yang merajai program televisi). Langsung kicep dese Hoahahaha.

Daaan kisah terakhir tentulah dengan lelaki yang sekarang jadi suami. Ini kurang lebih sama, hanya skalanya bisa dibilang satu Pulau Kecil Hoahaha.

Suami saya (mungkin pada zamannya) adalah salah seorang calon mantu idaman. Good looking, pendidikan dan pekerjaan stabil, dari keluarga bereputasi baik dan sebagainya. Jadi, yang mau menjodohkannya tu banyak sekali. Mulai dari tetangga, kerabat, ulama sampai pejabat daerah tingkat provinsi. Sayang, semua ditolaknya. Alasannya cukup logis yang dengan gentle beliau sampai kan langsung kepada pihak-pihak tersebut sebagai alasan menolak, beliau tak mau disetir mertua atau para tokoh yang menjodohkan tadi dalam hubungannya kelak. Dan (dari sepengamatan saya), memang benar-benar mencari yang klik banget.

Kami akhirnya bertemu di usia yang cukup matang, dan sama-sama sudah tahu pasti pasangan seperti apakah yang kami harapkan sebagai jodoh sejati. Alhamdulillah, kemudian kami menikah. Saya ikut ke pulaunya tapi masih sering pulang ke pulau orang tua saya bermukim. Keluarga besarnya baik dan asyik banget (saya juga sudah pernah tuliskan disini). Lagi-lagi, pandangan judgmental kembali saya terima dari pihak luar. Namun kali ini, saya sudah lebih dewasa. Saya pun merasa aman dalam hubungan kami, yang dilandasi cinta kasih dan mutual respect. Jadi saya (semakin) tak peduli sih pandangan orang lain. 

Semua baru nampak hilal terangnya saat saya diajak mengajar di Madrasah Aliyah. Satu persatu mendatangi saya menceritakan sikap judgmental mereka lebih ke penasaran, kenapa most eligible bachelor versi Belakangpadang itu memilih saya, Hoahaha. Ada yang su'udzhon karena melihat latar belakang pendidikan atau keluarga saya. Ada yang mengira saya yang lebih agresif mengejar (ini asli bikin LOL😂). Yang jelas, setelah lebih kenal mereka lebih paham bahwa ya memang jodohnya saja. Mereka jadi lebih tahu siapa saya dan value apa saja yang jadi kekuatan saya, dimana kami bisa saling melengkapi sebagai suami istri. 

Itulah kuncinya yang bikin Pavane nyesek. Keduanya sama-sama menyadari bahwa perasaan diantara keduanya yang paling penting itu justru di detik-detik penghabisan. At least, mereka sempat saling mengakui perasaan masing-masing.

Dan buat mas-mas yang masin banget ngereview itu.. Saya cuma bisa mendoakan semoga mas dapat jodoh yang sekufu. Baik dalam penampilan fisik maupun sikap dan lainnya. Bukan apa-apa, dari pengalaman (for more than 20 years🤣), emang berat dijulidin hanya dari penampilan. Saya sempat mempertanyakan diri sendiri apakah saya yang lebay atau terlalu sensi (ternyata memang ada orang-orang yang mengkonfirmasi kebenarannya). Untungnya, saya tak sampai insecure atau --amit-amit-- jatuh ke jurang depresi. Lebih bahaya, kalau mentalnya kurang ditempa atau tangki cintanya tak sepenuh saya (ayah saya adalah pria beruntung itu) Hoahaha. 

Teruntuk yang sekarang merasa berada di posisi MiJeong, semua akan baik-baik saja. Ikuti kata GyeongRok : tegakan bahumu dan tatap lurus kedepan. Pandangan orang lain termasuk segala julid-an itu sebenarnya tak berpengaruh apa-apa sepanjang memang kita berada di jalan yang benar. Percayalah, akan ada titik terang selama kita berusaha, berdoa dan tawakal.

Kalaupun (calon) pasanganmu saat ini ganteng (atau cantik banget), tak perlu merasa insecure lalu menghindar atau kebalikannya su'udzhon khawatir dengan maksud terselubungnya. Pasti ada sesuatu yang membuatnya bisa melihat sinaran aslimu. Hubungan yang sehat justru akan membawa kalian sama-sama bertumbuh ke arah yang lebih baik. Semoga waktu yang menjadi jawabannya.

Satu lagi, --ini saya sih, kembali lagi ke pribadi masing-masing-- tak perlu juga bersikap reaktif. Misalnya melabrak pihak-pihak yang julid, menyindir di sosmed apalagi klarifikasi sana-sini. Cukup berdo'a saja, karena orang-orang yang memang tak menyukaimu tak peduli apapun yang disampaikan. Fokus pada perbuatan baik, ibadah, inner beauty dan mental health kita sendiri. Tingkatkan pula value diri. Yang pada akhirnya, semoga suatu hari segala kebaikan (dan kebenaran) itu akan nampak terang di mata semua orang dan dunia..

Bagi yang belum menemukan calon pasangan, berdo'a minta jodoh yang sekufu (I did it since I was very young girl🤣 spesifik ke tipe gimana yang diharapkan, misal bukan perokok dan Alhamdulillah diijabah Allah), perluas pergaulan, jangan takut untuk berteman dengan orang baru, tentu tetap secara waspada dan koridor yang baik

Semoga, ia yang kelak akan jadi jodohmu adalah orang yang benar-benar bisa menghargai segala kelebihanmu, saling melengkapi kekurangan serta bersama -sama bergerak menuju versi terbaik dari diri masing-masing dan sebagai pasangan (lalu orangtua nantinya). Aamin YRA.

2 komentar


Comment Author Avatar
2/23/2026 07:40:00 PM Delete
Terimakasih atas reviewnya. Saya cukup terkejut lihat postingan review saya di grup Facebook jadi perhatian 😱🤣🤣
Tapi saya nggak keberatan kok kalo mbak mau SS
Comment Author Avatar
2/25/2026 02:14:00 PM Delete
Hai, terimakasih sudah mampir!

Iya, saya perhatikan karena yang dibahas hanya penampilan MiJeong lalu langsung merasa keseluruhan kisahnya tak relevan dengan dunia nyata. Padahal saya sendiri selalu berada di posisi demikian dan itu juga tak apa-apa.