Review the Practical Guide To Love : Wanita Single 30-an Wajib Nonton
Hai Assalamu'alaikum
Kalau ada hal paling trivial sekaligus paling saya kagumi dari kedua orang tua saya adalah kemampuan mereka untuk mengenalkan pasangan hingga menikah. Memang aslinya sejak lajang, mereka masing-masing kerap mengenalkan anggota keluarga, rekan / kolega sampai kenalan biasa satu dengan lainnya. Konteksnya bisa jadi secara random, misalnya saat ada acara di rumah / kantor atau bertemu di tempat lain bahkan ada beberapa yang memang diniatkan bahwa mereka akan mengenalkan pasangan tersebut.
Waktu kecil, saya ---yang memang paling senang menyimak kisah masa muda mereka-- merasa ini hebat banget lho. Kemampuan mereka berkolaborasi menganalisa karakter seseorang kemudian mencocokan dengan sosok lain yang dianggap cocok sebagai pasangan (setelah ayah dan ibu jadi pasangan, biasanya yang wanita teman ibu, sementara lelakinya teman ayah, secara pekerjaan dan finansial bisa dibilang potensinya sekufu). Bisa dibilang menjadi Mak Comblang adalah hobi yang tak mereka terlalu mereka sendiri sadari. Bagi ibu dan ayah sekedar menjadi penyambung silahturahmi. Toh, orang yang dikenalkan (sampai menikah) kelak mau inget atau tidak, mereka tak pernah ambil pusing atau mengungkitnya (makanya saya tak tahu pasti total jumlahnya berapa pasangan yang sukses naik ke pelaminan).
Setelah saya lebih gede, seiring dengan bertambahnya usia keduanya dan para kenalan pun sudah banyak yang berkeluarga, ayah dan ibu mengurangi aktivitas tersebut. Satu lagi, Ayah dan ibu saya menyadari bahwa anak muda sudah cenderung lebih terbuka dalam menyatakan perasaan jadi tak perlu dorongan berlebihan. Jadilah ayah cukup mensupport beberapa orang 'anak buah'nya di kantor yang pacaran dengan memberikan uang jajan buat ngedate dan saran seandainya dimintai. Plus jadi salah satu tim hore di pernikahan mereka.
Kalau ditanya hikmahnya buat saya (dan adik), ketika kami memasuki usia dewasa muda, yang mengajukan permohonan berkenalan lewat ortu cukup banyak. Yang berminat menjodohkan saya dengan anak / keponakannya / kenalannya lebih banyak! Saya beberapa kali sekedar ngobrol dengan bapak / ibu / nenek / kakek di ruang tunggu RS atau tempat umum lain dan sebelum pulang langsung dimintai nomor ponsel karena saya mau dikenalkan dengan anak / keponakan atau cucu dan kerabat lainnya. Hoahaha.
Tapii.. Semuanya saya tolak dengan sesopan mungkin. Bukannya menolak jodoh, justru karena alasan kedua orang tua saya memulai 'misi' mereka justru karena masing-masing harus berusaha keras menolak perjodohan baik dari keluarga maupun kerabat. Bagi ayah dan ibu yang penting berkenalan saja dulu, kalau memang jodoh ya akan sampai menikah tanpa perlu dijodohkan secara saklek apalagi formal sampai melibatkan dua keluarga besar. Sementara saya --mungkin karena kebanyakan baca manga / novel romansa atau nonton film barat romantis-- jatuhnya lebih 'idealis', saya ingin berkenalan secara alamiah, tanpa harus dikenalkan siapa-siapa. Bukannya takabur, tapi berkat perbuatan baik ortu selama ini, saya yakin jalan jodoh saya pun akan baik-baik saja, dimudahkan oleh Allah SWT dan saya pun merasa tak punya masalah berkenalan kemudian berteman dengan siapa saja (pernah saya ceritakan di sini).
Dilema bertemu jodoh secara alami yang seolah ditakdirkan atau bertemu melalui budaya matseon (perjodohan) ini lah yang dihadapi dalam drama The Practical Guide To Love.
Judul : the Practical Guide To Love
Sinopsis
Lee UiYeong (Han JiMin) tinggal berdua ibunya saja. Meski usianya sudah diatas 30an tahun. Ibunya, Park JungIm (Kim JungYoung) masih mengomelinya bak anak kecil. Hoahaha. Terutama bagian mencari pacar.
Ia terlihat tersinggung ketika ibunya menejelaskan pada kliennya ia sendiri sudah tak menghadiri undangan pernikahan lagi karena toh putrinya tak ingin menikah. Hoahaha.
Sebenarnya UiYeong bukannya tak ingin menikah, ia hanya sudah lama tidak punya pacar. Selepas kuliah ia langsung bekerja di The Hills, hotel mewah yang menangani banyak tamu VIP. Ia bergabung di tim pembelian bersama juniornya Jung HyunMin (Jung HyeSung) dan Sim SaeByeok (Kim SoHye) serta seniornya Jung NaRi (Lee MiDo) yang bekerjasama dengan chef dan tim dapur lainnya. Ia terkenal kompeten meski atasan langsungnya Oh MyungWon (Park JungPyo) sedikit menyebalkan.
Lagipula, seorang junior yang pernah menembaknya di masa kuliah Kang DoHyun (Shin JaeHa), kini bekerja di bagian hukum. Mereka cukup dekat, sayangnya terjadi kesalahpahaman yang menjadi titik balik UiYeong mau dikenalkan oleh mentornya Eun JungSook (Kim WonHae) dengan rekan sesama volunteer di penampungan hewan, Song TaeSop (Park SungHoon).
Pertemuan pertama, lebih tepatnya sejak pandangan pertama UiYeong sudah mendapatkan kesan positif dari pria yang ternyata memiliki studio pertukangan sendiri, Home. Walau kencan pertama mereka berakhir canggung dan diwarnai kecerobohan UiYeong yang menumpahkan kecap asin ke gaunnya, pria itu meninggalkan kesan mendalam. Namun tunggu punya tunggu, ia tak kunjung mengirim pesan.
Akhirnya UiYeong menuruti NaRi untuk ikut kencan berikutnya dengan pria yang direkomendasikannya. Diam-diam pria itu malah membayar Shin JiSoo (Lee KiTaek) untuk hadir di pertemuan. Tugasnya adalah membuat UiYeong ilfeel dan membatalkan secara sepihak.
Siapa nyana, di kafe yang sama mereka tak sengaja dengan bertemu TaeSop, JiSoo --yang dengan tangkas berpura-pura sebagai sepupu UiYeong dihadapan pemuda itu-- benar-benar terpikat. Ia mengajak minum bareng dan mereka bersenang-senang di taman bermain.
Siapakah yang akan dipilih oleh UiYeon, TaeSop yang soft spoken, keuangannya stabil tapi style-nya jadul dan kepribadiannya agak membosankan atau JiSoo yang terungkap seorang calon aktor yang masih berjuang di teater sembari menjadi barista paruh waktu tapi mampu membuat hati UiYeong berdebar berkat ketampanannya dan sikapnya yang sedikit bad boy?
Makin kompleks saat TaeSop ternyata CEO vendor yang diincar The Hills dalam kerjasama eksebisi pop-up store dengan salah satu brand miras ternama dunia serta JiSoo menjadi barista di kafe yang paling dekat dengan The Hills
Lalu bagaimana reaksi sahabat baiknya, Lim SeungJoon (Joo YeonWoo), pemilik gym yang sama-sama hopeless romantic? Serta ibunya yang ternyata punya masalah sendiri yang cukup pelik?
Review
Pertama kali membaca judulnya, reaksi pertama saya adalah membayangkan buku self-help percintaan yang dijual di rak toko buku. Isinya beneran praktis, seperti: "Langkah 1: berkenalan. Langkah 2: berinteraksi intens. Langkah 3: Jatuh cinta." Tapii ya namanya kehidupan sepraktis-praktisnya memang tak ada yang bisa digampangkan, meski belum tentu juga harus diribetin.
Ternyata drama ini jauh lebih kaya dari itu. Dan jauh lebih lucu, hangat, sekaligus sedikit menyebalkan --dengan cara yang menyenangkan, tentu saja.
1. Adaptasi Webtoon yang Lebih Menarik
The Practical Guide to Love diadaptasi da ri webtoon Naver (Line) berjudul Mihonnamnyeoui Hyoyuljeok Mannam atau Efficient Dating For Single karya Tari, yang terbit dari 30 September 2021 hingga 29 September 2022 dan terjemahannya sekitar setahun berikutnya di Webtoon Indonesia. Webtoon ini cukup populer di kalangan pembaca KorSel karena menyentuh isu yang sangat relevan: bagaimana orang dewasa di era modern mendekati cinta dengan pendekatan yang lebih terkalkulasi, bukan karena tidak romantis, tapi karena waktu dan energi adalah sumber daya yang terbatas.
Setelah membaca webtoonnya (baru-baru ini karena hanya 51 episode sambil menunggu penayangan episode pamungkas), secara subjektif saya lebih menyukai versi adaptasi dramanya.
Meski bagian-bagian krusial tetap dipertahankan (terutama untuk bagian komedi, misalnya rasa penasaran UiYeong dengan tipe mobil TaeSoop atau adegan kencan UiYeong - JiSoo lalu bertemu TaeSoop di kafe yang sama sampai-sampai UiYeong kabur dengan merangkak Hoahaha), pengubahan latar belakang pekerjaan UiYeong, TaeSoop dan JiSoo menjadikannya lebih dinamis dibandingkan jika bekerja di kantor biasa. Selanjutnya penambahan karakter di sekeliling mereka, termasuk mengubah gender sahabat terbaik UiYeong menjadi pria, memperkuat jalannya cerita.
Favorit saya adalah kehadiran Lee SooA (Kim RoA), putri dari teman seangkatan sekaligus rekan bisnis TaeSeop, Lee EunHo (Jo BokRae). Ia yang telah ditinggalkan ibunya terlihat cepat dewasa sekaligus membawa keluguan dalam dinamika hubungan TaeSeop dan UiYeong.
2. (Lebih) Memahami Budaya Matseon
Sebagai penggemar drakor, kita pasti sudah sering banget melihat adegan kencan buta (matseon). Salah satu kunci memahami drakor ini adalah menilik terlebih dahulu hal yang telah menjadi bagian budaya yang diakui di KorSel sana.
Matseon adalah kencan buta formal di Korea. Pertemuan biasanya difasilitasi keluarga, kenalan, atau bahkan ada agen profesional yang memang menyediakan jasa. Pesertanya sama-sama bertujuan serius menuju jenjang pernikahan, bukan sekadar pacaran.
Berbeda dengan pacaran biasa, karakteristik matseon :
- Profil pasangan sudah diseleksi, dicarikan yang kira-kira sekufu dari segi penampilan, pendidikan, usia, status sosial ekonomi bahkan yang sedikit berbau kepercayaan, misalnya berdasarkan saran shaman.
- Pertemuan bersifat evaluatif, jadi kalau memang tak ada kecocokan sejak semula tak perlu melanjutkan.
Jadi, ketika UiYeong akhirnya memutuskan bersedia hadir dalam matseon yang difasilitasi atasannya, artinya ia memang telah siap membuka diri untuk menikah dan berhak untuk melanjutkan sekaligus membatalkan jika dirasa tidak ada kecocokan.
3. Casting (Nyaris) Sempurna
Tim casting mendapatkan jackpot dengan para pemerannya. Menggaet Han JiMin yang tak kelihatan telah lewat usia 40an, masih cocok banget jadi wanita 30an, Park SungHoon yang mundur dari peran di Bon Appetit Your Majesty comeback dengan sukses. Ia seolah switch image dari peran-peran antagonisnya sebelumnya di The Glory (2022-2023) atau Queen Of Tears (2024) dan Lee KiTaek yang bukan sekedar ganteng, charming yang bikin deg-degan.
Chemistry UiYeong dengan kedua pria potensial tersebut sama kuat. Bahkan kedua pria tersebut juga punya koneksi yang amat baik kala bertemu. Setelah dua episode pembuka, pilihan UiYeong masih benar-benar terbuka. Baik TaeSeop maupun JiSoo punya kelemahan dan kelebihan yang genuine, bukan sekadar "baik" vs "jahat".
![]() |
| Courtesy : X Rakuten VIKI |
Kim SoHye menghadirkan komedi fisik yang segar tanpa berlebihan; Kim WonHae yang sepertinya saya nonton semua dramanya tahun ini, hadir sebagai general manager hotel punya timing komedi yang sempurna; serta kehadiran ibu UiYeong seolah membalikan keadaan ketika mereka bertemu sebagai CEO agensi penyalur tenaga kerja professional dan ahli penguji tas branded di Love Scout (2025).
Cameo-nya pun cukup memberi warna, SooYoung yang baru saja hadir di Idol I, menjadi mantan pacar TaeSop ketika berkuliah. Hubungan enam tahun mereka kandas dan baru berjumpa kembali di pernikahan salah seorang sahabat seangkatan.
4. Ekseskusi Premis yang Relateable
Premis yang diangkat jujur dan relevan sekali dengan masa kini. Drama ini berani mengakui sesuatu yang sering kita semua hindari: bahwa menunggu cinta yang seolah ditakdirkan itu romantis, tapi tidak efisien. Dan tak ada yang salah dengan mengakui bahwa kita butuh cinta tapi tidak tahu cara 'menemukannya'.
Posisi UiYeong mungkin dialami kebanyakan perempuan di era sekarang. Selain tekanan eksternal untuk segera menikah, UiYeong tidak punya masalah memilih antara TaeSeop dan JiSoo. Masalah sebenarnya adalah ia tidak (atau belum) tahu siapa dirinya dalam konteks sebuah hubungan. Ia bukan perempuan yang lemah atau butuh diselamatkan. Ia hanya seseorang yang memutuskan --dengan kesadaran penuh-- untuk belajar hal baru, yaitu jatuh cinta. Dan ada sesuatu yang sangat refreshing dari itu.
Panduan praktisnya : ikut matseon/ blind date, susun checklist kriteria calon “Apa yang saya benar-benar inginkan dari pasangan?” serta bagaimana menavigasikan hubungan selaras dengan pekerjaan dan keluarga besar. Cocok banget buat yang lagi di usia 30-an.
Ketika pertemuan itu benar-benar terwujud, kejadian realistis pun terjadi, misalnya UiYeong menumpahkan kecap di gaunnya lalu bolak-balik mengecek ponsel menunggu ajakan kencan kedua. Kemudian ada ekpektasi keluarga yang harus dipenuhi. Sampai campur tangan rekan kerja dan lingkungan.
5. Sinematografi dan Faktor Teknis Mantap
Sutradara Lee JaeHoon membawa gaya visual yang cerah dan hangat, sangat kontras dengan drama thriller atau melodrama yang akhir-akhir ini sedang banyak ditayangkan. Ada kelembutan dalam cara kamera mengabadikan momen-momen simple. Bagiamana para tokohnya saling memandang, tangan yang hampir bersentuhan atau ketika bekerja.
Scoring-nya manis. Saya juga suka OST pembukanya, Highlight dari YoungJae. Dan montase adegan seolah dalam bentuk hasil foto jepretan kamera polaroid di bagian akhir setiap episode itu kece banget.
Ohya, posternya pun bagus-bagus. Sentuhan warna pastel yang girlie sempat bikin bingung, mana yang akan saya pilih untuk di upload ulang.
6. RomCom Sesuai Ekpektasi
Plotnya “calming” dan beda dari US rom-com yang selalu rusuh. Terbilang slow-burn tapi tak bikin ngantuk, lebih ke healing. Romantisnya pas.
![]() |
| Masa kuliah, UiYoung pernah menolak cinta adik kelas karena masih mau fokus belajar dan bekerja |
Humornya tak slapstick, tapi situasional. Salah satu puncak komedi adalah ketika UiYeong salah paham akan maksud rekan sekerjanya yang ternyata naksir SaeByeok, alih-alih akan menyatakan cinta pada dirinya.
Tak ada ketegangan yang tidak perlu, misalnya minta putus sepihak atau kesalahpahaman yang berlarut-larut. Semua diselesaikan dengan komunikasi yang baik.
![]() |
| Ibu tiri JiSoo adalah klien The Hills dan UiYoung |
7. Akhir yang Tidak Berlebihan
Episode finalenya jujur. Tidak ada adegan dramatis berlebihan seperti tidak ada kecelakaan sebagai turning point. UiYeong tegas memilih TaeSeop dan cara ia mengungkapkannya adalah dengan membalikkan pertanyaan yang pernah membuatnya menumpahkan kopi di pertemuan pertama mereka awal: "TaeSeop, would you like to date me with marriage in mind?"
Sayang, drama ini tetap ada beberapa yang mengganjal di hati saya :
1. Internal Monologue UiYeong Kebanyakan
Narasi internal UiYeong beberapa kali memang lucu dan membantu membangun kedekatan dengan penonton. Tapi ketika ia digunakan terlalu sering untuk menjelaskan situasi yang seharusnya bisa kita baca dari visual atau dialog, rasanya seperti drama tidak sepenuhnya mempercayai dirinya sendiri.
2. Paruh Kedua yang Kehilangan Momentum
Bagi yang belum baca webtoon-nya, bagian pertama lumayan seru menerka-nerka siapakah yang akan di pilih UiYeong. Ketika semakin mengerucut pada satu nama, entah kenapa drama ini seolah kehilangan momentumnya. Narasi mulai terasa seperti jalan di tempat. UiYeong terasa tidak berkembang dalam pengambilan keputusannya.
Penonton yang tim JiSoo pun bisa jadi merasa koneksi emosional mereka dengan karakter ini sia-sia karena ia jelas tidak punya kesempatan yang fair. Padahal, kehadiran UiYeong membawa dampak yang signifikan bagi kehidupan JiSoo baik personal maupun keputusan profesionalnya. Sementara UiYeong mendapatkan sahabat cowok kedua setelah SeungJoon.
3. Dialog Awal yang Terasa Konservatif
Beberapa dialog di episode awal yang membahas perempuan berusia 30-an dalam konteks "nilai pasaran dalam kencan" sedikit menyinggung. Di era 2026, ekspektasi soal representasi perempuan dewasa sudah jauh lebih tinggi. Pernikahan atau membentuk keluarga pun telah mengalami pergeseran, bukan lagi jadi tujuan utama dalam kehidupan.
4. Kurang Dramatis
Bagi penggemar Drakor yang padat konflik, Drakor ini bisa terasa datar dan bisa bikin bosan. Adegan percintaannya pun standar banget, dengan kesopanan luar biasa.
Beberapa kebetulan yang terjadi seperti orang tua TaeSop ternyata adalah pemilik restoran ayam pedas favorit UiYeong atau ibu tiri JiSoo juga mengenal UiYeong adalah kemungkinan yang terbilang masih wajar di dunia nyata sekalipun.
❤❤❤❤❤
Overall 8,5 dari saya. Cocok banget buat yang mencari drama healing minim konflik. Wanita usia jelang 30-an atau yang sedang mencari jodoh, burn-out di percintaan atau pacaran boleh juga nih ikut mencari referensi dari kehidupan para tokohnya.














Btw, ternyata bukan hanya di kampung Indonesia, soal jodoh juga menjadi kecemasan orang tua di Korea ya....
Aku suka sama Han Jimin.. tapii kadang ngerasa ga relate sama usianya yang bertemu dengan cinta pertama. Mungkin bukan cinta pertama lagi yaa.. di drakor The Practical Guide to Love inii.. karena sebelumnya MC uda punya pacar, tapi putus dan lama nge-jomblo.
Pingin lanjuutt nontoon...