" ".

Recap dan Review Would You Marry Me? Episode 4

Table of Contents



Recap Would You Marry Me? Episode 4




WooJoo dan MeRi yang terbawa suasana, melepaskan diri dengan canggung. MeRi yang menatap langsung, menyadari ada bekas lipstiknya menempel dibibir pemuda itu. Ia memberitahukannya dan WooJoo mencoba membersihkan dengan jarinya tapi salah posisi. Akhirnya MeRi yang membersihkannya membuat mereka merasa tambah akward.

Keduanya harus mengintip dari pintu memastikan keadaan sudah aman.

SeJeong melihat adegan itu dengan jengah dan keluar kembali ke teman-temannya. Mereka memastikan benarkah itu ketua tim ya tapi SeJeong bilang Ia tak bisa pastikan dari belakang.


Di rumah MeRi, WooJoo berusaha membantu menggantungkan foto yang sudah dibingkai. Sayangnya mereka tak punya palu alhasil jadi meminjamnya pada SangHyun.

Pak Direktur Pelaksana bertanya tentang perjalanan bisnis WooJoo yang dijawabnya setelah terlebih dahulu melirik MeRi yang memberi kode dengan anggukkan. WooJoo menjelaskan barangnya belum disusun, MeRi bilang Ia terlalu sibuk bekerja, "Sayang, jangan terlalu sibuk kerja, nanti kau sakit" ujarnya dalam aegyoo sambil meninju dada WooJoo main-main. 

"Aku berolahraga sayang, jangan khawatir" balasnya sambil mengelus rambut MeRi. "Arraseo Jagiya'" jawabnya manja sambil kembali meninju bahu WooJoo yang tampak antara bingung sekaligus menahan tawanya.

SangHyun mengajak WooJoo main squash tapi MeRi dengan cepat mengatakan mereka sudah ada janji yang pernah di cancel sebelumnya.






WooJoo melepaskan rangkulannya di pundak MeRi, Ia mempertanyakan benarkah perlukah langsung mendatangi SangHyun begini, saat ybs masuk ke halaman rumahnya. "Offense is the best defense" teori MeRi demi menepis kecurigaan SangHyun saat berkunjung ke rumahnya. MeRi menyadari WooJoo sedang mengelus rambutnya dan Ia cukup kaget tapi WooJoo mengangkat sedikit bibirnya untuk bilang "Dia melihat ke arah kita". 

WooJoo kembali merangkul MeRi, saat gadis itu protes, Ia mengembalikan kata-katanya Hoahaha. MeRi membalas dengan memeluk pinggangnya sambil terseok-seok mengikuti langkah pemuda itu. Saat MeRi protes sendalnya mau lepas, WooJoo malah menyuruhnya membuangnya saja. Semua percakapan ini berlangsung sambil mereka terus pura-pura mesra dan melambaikan tangan ke arah SangHyun yang tetap memperhatikan mereka dari jauh. MeRi sampai merasa bibirnya bergetar kebanyakan senyum pergaulan Whoahaha.

Di kantor Myunsoondang, SeJeong tetap mengamati tampak belakang WooJoo dan yakin pria di studio foto juga bosnya itu. WooSeok bertanya sampai kepalanya terbentur siku WooSeok Hoahaha. Gosip segera menyebar, MeRi yang ikut rapat jadi tersedak kopi --yang disajikan WooSeok dan produk Myunsoondang sendiri. 

SeJeong masih berkeras dan Bu Oh bertanya seperti apakah pasangannya. SeJeong malah menatap MeRi dan bilang dari tingginya sangat mirip MeRi. Yang lain bertanya kenapa Ia tak lihat wajah mereka tapi SeJeong dengan cepat menceritakan adegan ciuman yang dilihatnya sampai MeRi terpaksa menutup muka antara malu dan stress takut ketahuan Hoahaha

Asisten MeRi malah memberi ide agar SeJeong langsung bertanya dengan pihak foto studio atas nama siapa. MeRi berupaya mengalihkan perhatian gadis itu namun gagal total apalagi WooJoo langsung datang dan memulai rapat.



Setelahnya mereka berdua ngobrol di tangga darurat (yang kece banget, btw, jadi vibesnua malah kayak lagi mojok pacaran Hoahaha). WooJoo bilang Ia pesan dengan nama palsu. MeRi menghela nafas lega. Ia bilang sudah panik karena WooJoo tak cerita. 

WooJoo menyalahkan MeRi yang memilih lokasi dekat kantor Myunsoondang tapi MeRi beragumen justru di akhir pekan lebih aman pesan dekat kantor agar tak ada yang curiga. Tapi Ia meminta maaf dan berjanji akan lebih berhati-hati.

WooJoo cemas SangHyun menghubungi MeRi lagi. Sejauh ini aman, tapi MeRi bilang Ia akan mengusahakan membatalkan kunjungan Dirut itu. WooJoo bilang MeRi semudah itu berbohong, lagi-lagi menurut MeRi yang penting mereka bisa mengelak. "Kau akan bermasalah, jika Aku ketahuan".

WooJoo langsung menunjukknya "Apa kau mengancamku?"  Wajahnya serius

"Apakah aku terdengar seperti mengancamku? Aku hanya tak ingin merepotkan mu lagi. Foto pernikahan kita sudah lebih dari cukup."

MeRi pun meminta WooJoo untuk tak terlalu memikirkan adegan selama foto itu diambil, anggap saja Ia sedang menjadi model. 

WooJoo mengawali dengan permintaan maaf, tapi Ia bilang Ia selalu memandangnya demikian. Justru tampaknya MeRi yang jadi kepikiran. Hoahaha

WooJoo mengingatkan MeRi yang menyambarnya. MeRi jelas tak terima (Ia langsung berdiri) Ia hanya takut ketahuan dan lagi ide ciuman justru dari WooJoo tapi pemuda itu bilang hanya mau berpose tapi MeRi malah langsung nyosor like a bull (atau bebek) 🤣🤣

"Kau pasti bercanda, ketahuilah bahwa aku tak berusaha mendapatkan apapun darimu"

WooJoo memicingkan matanya (kalah bombastis side eyes!! Hoahaha)

"Tatapan apa ini? Kau tak percaya?" MeRi malah memelototi WooJoo Hoahaha

"Terserahlah" akhirnya WooJoo mengalihkan tatapannya.

Ia menyerahkan kantong besar yang langsung diperiksa MeRi. Rupanya ada pakaian dalamnya juga

"Seperti inilah kau harus melakukannya, teliti, tapa melewatkan detil" Ia berujar dengan wajah serius lagi.

MeRi sangat gembira dan berkata anggap dirinya sudah belajar dari ahlinya Hoahaha.

"Balas dengan kerja kerasmu. Pimpinan (neneknya) suka dengan proposal kemasan baru yang dibuat MeRi. Jadi gadis itu harus mempresentasikannya secara langsung.

Di kantornya MeRi mengajak asistennya untuk menangani proyek ini mati-matian. Sang Asisten memberi tahu kalau pimpinan (Nenek WooJoo) adalah menantu pendiri. Ia yang berjasa memajukan toko bakpao kecil milik mertuanya jadi perusahaan sebesar saat ini. Ia dikenal memiliki etos kerja yang tinggi dan sangat memperhatikan kesejahteraan karyawannya. MeRi malah makin tertantang karena orang seperti ini adalah tipe yang setia. Ia berniat bergadang dan membuat dua rencana cadangan.

Di rumahnya, Nenek WooJoo menerima kedatangan Ayah EungSoo. Beliau bertanya tentang pemakaman Tuan Ko dan bersedih karena anaknya masih sekolah, jadi perusahaan harus membantu keluarganya. Tapi menantunya langsung memberi kabar buruk, Tn. Ko diduga melakukan penggelapan uang perusahaan. Ia mengklaim tim audit internal kantor mengetahui hal tersebut sehari sebelum hari nahas. Lebih jauh lagi, Ia menuduh almarhum mengakui kebiasaan berjudi saat diinterogasi. Pria itu bahkan berjanji membalikan uangnya dari pesangon pensiunnya kelak tapi keburu meninggal kecelakaan. Nenek WooJoo sebenarnya tak percaya tapi sang menantu lagi-lagi memberi ide sebaiknya tidak melaporkan pada polisi demi melindungi nama baik Tn.Ko dan perusahaan mereka sendiri. 



Malam itu, saat makan malam bersama keluarga, nenek langsung memberi perintah EungSoo menggantikan posisi Tn. Ko saat makan malam bersama. Cucunya malah mengelak dengan alasan akuntansi bukan keahliannya. Ibunya memberi kode dari seberang meja tapi Ia tetap bersikeras tak mau. Ayahnya bilang Ia akan membantu mengawasi dan ini hanya sampai mereka menemukan orang baru. 

Sang Bibi malah memberi komentar tak sensitif, untung saja itu kecelakaan tunggal bukan sekeluarga.  Suaminya sampai harus memperingatkannya. Ia meminta maaf pada WooJoo jika membuatnya bersedih. Sebagai ganti, Ia menawarkan sepiring lauk. WooJoo hanya pamit dan kembali ke kamarnya.

Neneknya memarahi putrinya itu dan memintanya berhenti berbicara omongkosong di meja makan. Bibi protes karena WooJoo saja tak marah, tapi EungSoo membocorkan sebenarnya saat kecil dan bersedih WooJoo hanya tak menunjukkannya tapi Ia selalu memeluk boneka penenangnya di kamar. 



WooJoo menatap foto kenangan dengan kedua ortu. Ia pun mengambil boneka beruang dengan hati dari lacinya. 

Flashback saat kecelakaan, WooJoo teringat meminta tolong dan seorang supir taksi --yang sedang mengemudi bersama putrinya--nyaris menabraknya yang berhasil keluar dari mobil dalam keadaan terluka.

Setelahnya polisi datang dan sang supir memberikan keterangan di kantor polisi. WooJoo kecil terduduk sendirian sambil menangisin ayah ibunya, itulah saat putri pengemudi taksi menyerahkan bonekanya. 

Nenek dan paman datang menjemputnya. Sebelum naik ke mobil, WooJoo sempat melihat anak perempuan itu menangis karena khawatir siapa yang akan merawat WooJoo jika ayah dan ibunya meninggal dunia.

Boneka itu masih berfungsi dan WooJoo tersenyum saat menekan 

Di kamarnya, MeRi masih terkenang ciuman di studio foto. Ia mengomeli dirinya sendiri, itu bahkan bukan ciuman sungguhan. Ia kesal teringat perkataan WooJoo yang menuduhnya menyosornya. MeRi bilang Ia bahkan tak pakai lidah. Tapi kemudian jadi ragi sendiri. Ia malah memparodikannya lagi dan ujung-ujungnya jadi malu sendiri karena terlalu mendalami peran. Ia berusaha melupakannya dan menutupi wajahnya dengan selimut. 

JinGyeoung mencari lokasi yang tepat untuk menyatakan cinta. Ia menelpon mengajak WooJoo yang bertanya apakah Ia penyendiri jadi tak punya rekan lain. Akhirnya WooJoo setuju tapi baru bisa malam karena sorenya dia ada janji.

Para koleganya yang mendengar percakapan itu menggodanya. Ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dengan menyuruh mereka melakukan pemeriksaan. Perawat di meja jaga memberi informasi tentang seorang pasien yang menyebalkan, marah hanya karena merasa tidurnya terganggu.

Saat itu SnagHyun lewat dan mereka mengasihaninya yang selalu dipanggil tanpa tahu waktu.


Di rumah, MeRi menyusun semuanya dengan mempertimbangkan selera dan estetika pengantin baru. Ada foto mereka berdua yang dibingkai terpisah, gelas pasangan, barang-barang WooJoo di tempatnya dan gongnya mereka memakai pakaian pasangan lengkap sampai ke sendalnya.

WooJoo agak gelisah tapi saat berkaca di foto pengantin, Ia bilang Ia tampak lumayan dan tersenyum sangat lebar.

WooJoo curiga di minta datang lebih cepat agar MeRi bisa mendadaninya. MeRi bilang itu hanya satu alasan, lainnya Ia harus menyelaraskan jawaban dengan WooJoo.

Pria itu bisa menjawab tanggal pernikahan mereka tapi terjebak saat ditanya tujuan bulan madu.

MeRi tersenyum dan mengaku bahwa memang belum pernah dibahas, jadilah Ia menyerahkan rangkuman prediksi pertanyaan yang umum diajukan pada pengantin baru. 


WooJoo heran tujuan wisata mereka ke London tapi MeRi bilang Ia ingin melihat Son Heungmin. WooJoo1 pastilah sangat murah hati karena mengizinkan istrinya melihat pria lain saat bulan madu. MeRi mengkoreksi, Ia lah yang menentukan tujuan bulan madu karena tiket menggunakan poin loyalitas penerbangannya selama sepuluh tahun. 

WooJoo makin kaget karena MeRi toh sudah bayar apartemen. Ternyata tak hanya itu, MeRi juga membayar kelas TOIEC, asuransi dan uang semester kuliah WooJoo. Dulu dianggapnya itu wajar karena MeRi yang lebih dahulu berkerja. 

"Apakah dia setidaknya berterimakasih?"

"Kurasa tidak" MeRi tampak murung

"Bagaimana kalian dulu bertemu?"

"Saat berlibur dengan teman-temanku, Ia sempat tenggelam dan WooJoo memberikan CPT di pantai. Ia terbangun dan melihat seorang pria tampan menatapku"

"Kau suka tampangnya" WooJoo tersenyum

"Namun, tak ada yang menutuskan menikah demi tampang"

"Apa kau menyesalinya?" WooJoo bertanya sambil menatapnya

"Apa kau menyesalinya? Ya, kenapa aku memberinya seluruh hatiku, dasar bodoh. Kupikir cinta seperti itu. Aku sudah melupakannya sekarang"

"Yang benar saja, kenapa kau yang harus berubah? Aku yakin kau akan bertemu seseorang yang akan menghargai cintamu."

MeRi terlihat ragu, tapi Ia memberitahu WooJoo perkataannya itu sangat menenangkan hatinya.

Ponsel MeRi bergetar ternyata dari Ibunya yang sedang membuat makanan buat dikirim ke Seoul. Jumlahnya sangat banyak, sampai temannya curiga calon besannya sedang mengadakan acara. Ia pun bergurau seandainya punya putra, Ia akan menjodohkannya dengan MeRi atau adiknya agar Ia bisa menikmati semua kelezatan ini. Ibu MeRi membalas tak akan. Membiarkan putrinya menikah dengan sembarang orang, ayah WooJoo1 adalah dosen. Tapi sang tetangga kembali membalas "Keluarga terpelajar itu bahkan tak berterimakasih atas semua kiriman makananmu. Mereka sangat tak sopan. Semua orang tahu mereka merendahkan mu. Bahkan calon menantumu tak pernah berkunjung."

Ibu MeRi Masih membela WooJoo1 yang sibuk karena bekerja di perusahaan investasi besar di Seoul. Ia pun pernah menolak ajakan untuk menetap di ibukota. Besok Ia pun akan bertemu sang menantu dan membuktikannya dengan menelponnya.

Pria itu sedang stress karena sahamnya terus menurun. Saat telfon itu masuk, Ia hanya menolaknya. Ia mencoba mengalihkan pikiran dengan menonton televisi. Tepat saat mengambil remotenya, Ia melihat sekilas notifikasi hp Jenny yang berisi nomor kamar. Ia curiga dan langsung membacanya karena nama pengirim hanya diberi inisial "C". Jenny memintanya mandi tapi WooJoo1 jadi curiga.




SangHyun membatalkan kunjungan Dirut. Rupanya sang direktur kena masalah melakukan pemukulan pada sesorang.  la beralasan YeonWoo ada urusan lain, padahal SangHyun terpaksa menawarkan uang kompensasi sebesar 300 juta Won demi menghapus bukti CCTV kejahatan tersebut. 

Jahatnya, SangHyun malah kena omel YeonWoo, mentang-mentang bukan uangnya sendiri, seenaknya menawarkan kompensasi sangat banyak. Ia malah menuduh SangHyun yang mau mencuri uangnya. Padahal SangHyun sudah menyusun skenario dihadapan bos besar, seolah-olah anaknya (yang tempramental ini) adalah korban dan oleh karena itu dia harus dirawat di RS beberapa hari. YeonWoo mengaku lapar den memerintahkan membeli Sushi dalam umpatan. Semuanya disaksikan JinGyeoung.






WooJoo dan MeRi lega bisa menghindari hal ini. Suami palsu berpesan agar MeRi memberi tahu kapan penjadwalan ulangnya. MeRi sebenarnya cukup khawatir menghabiskan waktu WooJoo. Saat hendak menukar bajunya, WooJoo tertarik dengan gambar MeRi, Ia menjelaskan ini adalah karakter maskot yang akan dipresentasikan ke Myunsoondang. Tokoh ini akan menjadi materi promo di toko daring. MeRi menawarkan menunjukkannya pada WooJoo. 

MeRi memberi maskot citra manis untuk keberuntungan, yang perempuan diberi nama MyungSoon. WooJoo menyukai tokoh anak perempuan itu. Tapi saat melihat tokoh sahabat lelakinya, MyungShik, WooJoo bilang mereka terlalu mirip. MeRi membelanya, ternyata modelnya adalah cinta pertama MeRi waktu kecil.

"Apa? Anak itu sejelek itu?" Ejek WooJoo

"Jelek katamu? Dia tampak manis dengan mata berkilau" MeRi mulai cemberut Hoahaha

"Bagaimana bisa dianggap manis? Dia seoerti pembuat onar sombong!'

"Justru itulah pesonanya" bangga MeRi.

WooJoo ingin tahu apakah MeRi masih berhubungan dengan MyungShik, ternyata kejadiannya sudah lama. MeRi malah bertanya balik soal cinta pertama WooJoo. Anehnya, tidak seperti ke JinGyeoung, Ia pura-pura lupa tentang cinta pertamanya. Jadilah MeRi menuduhnya pembohong sambil mendorong dengan bantal. WooJoo hanya tertawa, bertanya dari mana kekuatan itu berasal, meski MeRi meminta maaf dengan perasaan bersalah.




JinGyeoung menelpon menanyakan lokasi WooJoo. Ia sudah di resto fancy dengan dandanan cantik. Sayangnya, waktu WooJoo bilang belum berangkat, Ia langsung berpura-pura sibuk juga dan menelpon untuk membatalkan janji mereka.

Setelahnya Ia sangat menyesal. Lalu Ia tetap masuk dan minum minuman paling keras di bar.

Saat tengah frustasi, tahu-tahu SangHyun duduk disebelahnya. Ia berusaha menghibur pria itu dengan kata-kata penyemangat "Menjadi pegawai itu memang berat, tapi kita hanya harus menahannya saja." tapi rupanya SangHyun justru tak ingat siapa dirinya. Dan bahkan akan menuntut karena mereka sudah memberi sumbangan besar untuk bangsal Kanker sebagai uang tutup mulut "Ucapan penghiburan yang tak diminta adalah kesombongan." Omelnya pada JinGyeoung yang jadi salah tingkah dan meminta maaf.

JinGyeoung memarahinya balik, "Bagaimana orang bisa hidup dengan emosi yang terkuras? Jika kau sedih, terbukalah dan biarkan dihibur ketimbang berlagak tangguh. Apalagi alasanmu minum sendirian disini selain mengalami kesedihan, seperti aku!!" 

Saat JinGyeoung memesan minuman lagi, SangHyun menuangkan segelas untuknya. JinGyeoung mengira pria itu menggodanya tapi SangHyun dengan kejam hanya ingin Ia minum lalu pergi karena butuh keheningan.

Ibu MeRi datang dari YeonSu. Ia turun di terminal bus Gangnam. Ia membawa banyak sekali makanan.

Di saat yang sama WooJoo mempresentasikan pada pimpinan, pergantian kemasan diharapkan akan menguatkan identitas merk mereka di seluruh demografi pelanggan. Terutama generasi muda yang aktif di sosial media. MeRi menyimak dengan antusias, tetapi saat itulah ibunya mengirim pesan Ia akan mampir di rumah WooJoo1. MeRi langsung panik dan keluar ruangan. WooJoo memperhatikannya dari podium dan menyusul saat gadis itu berusaha menghubungi ibunya, namun tak diangkat.

MeRi menceritakan masalahnya dan Ibunya belum tahu. SeJeong memanggilnya untuk presentasi. WooJoo menawarkan akan menjemput Ibunya dan meminta MeRi mengirimkan alamat WooJoo1.

Ibu dan Kakak WooJoo1 menyampaikan berita pembatalan pernikahan kedua anak mereka. Ibu MeRi masih berusaha meluruskan keadaan dan memberi lauk ke tangan kakaknya (yang menerima karena memang doyan Hoahaha). Tapi ibunya memintanya mengembalikannya dengan isyarat.

Ibu WooJoo1 malah menjelekan MeRi yang kejam dan pemarah, berani membentak mertua dengan mata melotot, seharusnya ibunya mengajari lebih baik dan Ia merasa beruntung pernikahan ini batal. Ibu WooJoo1 pun mengusirnya dan saat membanting pagar, Ibu MeRi yang tak seimbang di undakan jadi tergelincir dan makanannya tumpah di jalanan. Kakaknya malah cuma sempat menyedihkan kimchi daun bawang yang disukainya sebelum masuk ke dalam bareng ibunya.

WooJoo tiba dan melihat semuanya, Ia bergegas membereskan kimchi dan lainnya. Ibu MeRi sampai tak enak hati, jadi menyuruhnya berhenti sambil menyodorkan tisu. WooJoo mengaku sebagai teman MeRi yang diminta menjemputnya karena MeRi ada presentasi. 

Ia mengantar ibunya MeRi ke terminal bus. Di perjalanan Ia minta ibu MeRi bicara informal saja. Meski awalnya menolak, Ibu MeRi menurut karena WooJoo bilang bagaimana pun MeRi adalah direktur hoahaha.

Ibunya memuji keterampilan MeRi menggambar dan Ia selalu bangga padanya. MeRi tak selalu galak, ia bisa feminim dan memberi semuanya pada orang yang disayangi. Ibunya khawatir orang akan salah paham karena MeRi ditempat tegar sebagai tulang punggung sejak ayahnya meninggal. 

WooJoo meyakinkan beliau bahwa semua orang menyukai MeRi karena ceria dan terampil bekerja. WooJoo terlihat penuh senyum mendengar semua kisah masa kecil MeRi.

Presentasi berlangsung dengan lancar dan MeRi bergegas mau ke terminal. Tapi ibunya melarang, wanita ini pun berpura-pura tak berjumpa orang tua WooJoo. Ia berpesan agar MeRi berterimakasih pada Ketua Tim yang mengantarnya. MeRi berpesan agar Ibunya lain kali mengabari dulu sebelum datang.

WooJoo membelikan tiket dan Ibu MeRi sangat berterimakasih. Terakhir ia berpesan agar WooJoo tak memberi tahu MeRi kejadian hari ini. Pasti ada alasannya Ia belum cerita, jadi buat apa menambah kesedihannya. Ibu meRi juga berjanji akan mentraktir WooJoo makan enak jika pergi ke YeoSu.

Setelahnya Ia menelfon untuk mengabari Ia akan pergi ke "rumah mereka", mengantar lauk yang dititipkan ibu MeRi. MeRi yang berada di taksi menerima telpon dari Kakak WooJoo1 yang mengaku menerima kedatangan ibunya lalu membuat darah tinggi ibunya naik.


Di rumah MeRi sangat sedih tapi Ia berusaha nampak baik-baik saja saat WooJoo datang. Ia pun berusaha mengalihkan ke khawatiran WooJoo tentang pekerjaan tapi WooJoo bertanya sekali lagi apakah Ia baik -baik saja dan air mata MeRi mulai mengalir. MeRi menceritakan telfon dari kakak WooJoo1 tadi. Ia bersedih karena saat tahu, Ibunya jadi sedih dan seharusnya Ia hadir jadi pertengkarannya akan adil.

WooJoo mendengarnya dengan penuh simpati, mengangsurkan tisu dan pada akhirnya meminta MeRi bicara dengan ibunya karena sepertinya beliau juga ingin mendengar langsung darinya. 

"Bagaimana mungkin aku bisa bilang aku menjadi janda tanpa menikah? Dia tak akan bangga padaku lagi" Isak MeRi

'Yang benar saja, apa harus selalu jadi kebanggannya? Kau harus menjadi apa lagi selain menjadi putrinya?"




Malam itu, MeRi benar-benar menelepon ibunya. MeRi memulai dengan canggung, tapi Ibunya langsung memotong, menyuruhnya melupakan saja pria brengsek itu. Ternyata dari awal memang ibunya tak suka. Ibunya memintanya menjalani hidup dan bekerja dengan baik tunjukkan siapa yang rugi dan gantikan dengan yang lebih baik. Ibunya bahkan berpesan jangan beri tahu WooJoo1 tentang hadiah undian itu dan jangan sampai ketahuan Hoahaha. Ia harus tetap kuat dan MeRi yang keheranan menutup telpon dan lega.

Ibunya mencabut foto mereka bertiga dan merobek bagian foto WooJoo1 dan membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu Ia berjoget riang merayakan hal tersebut. 



WooJoo1 makan malam dengan Jenny tapi gadis itu mau bertemu dengan teman sekolahnya yang tak dikenalnya. Setelah pura-pura akan kembali ke kamar hotel, Pria itu segera mengejar pacarnya dan setelah berlarian dan naik tangga lima lantai (dari lantai 31 ke 36 karena lift apartemen hanya bisa dipakai dengan kartu penghuni apartemen) dia berhasil menangkap basah Jenny bersama selingkuhannya di kamar yang pernah dikirim ke nomor ponsel Jenny. WooJoo1 patah hati.

Sementara MeRi menikmati semua lauk dari ibunya dengan girang, Ibunya minta tolong agar Ia bertanya dengan WooJoo apakah dompetnya ada tertinggal di mobil sang Ketua Tim. 

MeRi segera menghubungi pria itu yang dengan segera mencarikannya, ternyata memang ada dompet terselip di pintu mobil.





WooJoo membuka dompet itu dan mengkonfirmasi tanda pengenal ibu MeRi

 Ia pun mencabut salah satu foto yang menyembul. Rupanya foto keluarga dan Ia tersenyum mengenali gadis kecil berambut ikal yang membawa gantungan boneka beruang itu. 

Terdengar inner monolog WooJoo

"Terkadang hal yang kau cari,  berada tepat dihadapanmu (WooJoo melihat foto uang sama dibingkai MeRi, tergeletak dalam koper saat mengantarnya ke kamar motel). Gadis yang lama kucari berada tepat di hadapanku. Entah apa dia tahu, (WooJoo teringat momen tabrakan yang membuatnya trauma bahkan sampai remaja di sekolah asrama di Amerika, Ia pernah nyaris tertabrak van pengantar barang karena membeku di sepedanya.) Bahwa saat angin kencang menerpa hati sepiku, kehangatan dari gadis yang kutemui sekali membawa momen kedamaian sesaat. (Ia memencet boneka beruang sambil teringat MeRi yang menangis) Dia menangis untukku. Saat menemuinya lagi, aku ingin mengucapkan terimakasihku padanya. Namun, aku tak pernah bertanya apakah dia ingat kepadaku. Jarak ini sudah cukup, aku membalas budinya dengan membantunya sebanyak ini."

Di saat yang bersamaan, WooJoo1 tiba di bandara KorSel dengan lesu. Ia langsung menghubungi MeRi yang mengangkatnya tanpa melihat nama di layar, bertanya tentang dompet ibunya. Pria tak tahu diri itu dengan santai bertanya apa kabarnya, sementara WooJoo juga menelponnya balik. 

Review Would You Marry Me? Episode  4

Ooh what an ending!!

Pengungkapan ini menggegerkan sosial media!! Ada yang membandingkan seolah nonton episode kedua Lovely Runner saat POV SunJae mengungkap bahwa Ia lebih dulu naksir Sol.

Ternyata WooJoo sudah mengetahui sejak malam di motel itu kalau MeRi adalah cinta pertamanya!!

Jadi semua tindakannya setelah dari Motel itu bisa dimaknai ulang sebagai strateginya memenangkan hati MeRi. Ya, meski dia mengaku belum akan memberi tahu MeRi atau bertanya apakah gadis itu ingat pernah memberikan boneka beruang padanya di malam nahas itu.

Cute banget lihat WooJoo diam-diam menerima telepon sampai berguling di atas kasur sambil cekikikan tapi begitu bicara dengan MeRi, Ia kembali jual mahal Hoahaha

Jadi, Idenya mengajak MeRi foto studio dan tatapan penuh cintanya serta tingkah anehnya setelah keluar dari ruangan memang murni karena dia berakting menutupi perasaannya sendiri.

Saya memang lebih suka versi cowok yang naksir duluan. Apalagi yang seperti WooJoo, tidak memaksakan perasannya. Sejauh ini Ia membuktikan dirinya jauh lebih baik dari WooJoo1:

1. Memahami suasana hati MeRi, ketika MeRi bersedih, Ia bertanya dan memastikannya lagi. Ia bisa memberikan motivasi bagi MeRi dalam situasi apapun.

2. Bisa diandalkan, saat MeRi menghadapi krisis dengan ibunya, WooJoo menawarkan diri menjemput beliau dan mengantarnya lagi. Poin plus mereka ternyata cocok karena WooJoo suka mendengarkan cerita masa muda MeRi, sebaliknya Ibunya terkesan pada kebaikan dan keseopananya.

3. Playful tapi tegas. Ia bisa membedakan kapan saat bercanda (Ia sering menggoda MeRi sebenarnya, tapi mainnya smooth banget lho! Hoahaha contoh pas di tangga itu), kapan saatnya serius terutama soal pekerjaan, sejauh ini dia ingin MeRi pun sukses melancarkan pengembangan kemasan baru demi kemajuan Myunsoondang juga.

4. Berkomunikasi dengan baik. Sejak awal WooJoo tak segan minta maaf duluan. Meski punya beban masa lalu, tak menjadikannya pribadi yang aneh. Ia tetap hangat dan terbuka. Itulah yang membuat pola komunikasi dua arahnya efektif. Ia bisa mengutarakan pemikirannya secara langsung dengan lugas. Sejauh ini Ia pun cukup jujur (kecuali mengaku lupa siapa cinta pertamanya, tapi itupun sebenarnya strateginya untuk tetap bisa membantu MeRi), begitu pula sebaliknya, MeRi sudah lumayan mempercayai WooJoo, contohnya Ia bisa bilang tentang ibunya yang mau datang ke rumah mantan mertua dan bicara hati ke hati setelah Ibunya mengetahui justru dari mantan mertua kalau mereka batal nikah. 

Jadi, awas aja nih di episode mendatang tiba-tiba ada kesalahpahaman karena miskom Hoahaha.

Ibu MeRi ternyata orangnya asyik juga, Ia malah berjoget riang kala tahu anaknya lepas dari keluarga aneh itu. Ia pun terlihat menyukai Ketua Tim WooJoo dan mengundangnya ke kampung MeRi. Ya kalau WooJoo beneran datang artinya lebih baik dari WooJoo1 yang pacaran lima tahun tapi tak pernah sekalipun mengunjungi camer.

Dari sisi para 'penjahat' paman WooJoo ternyata benar-benar kejam, bukan hanya membunuh, Ia tega memfitnah Tn.Ko dengan dalih penggelapan. 

YeonWoo semakin terlihat watak tempramentalnya. Wajar saja kalau SangHyun pada akhirnya mengkhianatinya dan membantu MeRi-WooJoo mendapatkan hadiah rumah meski sebenarnya tidak jujur sepenuhnya.

SangHyun nampaknya memang baik dan semoga saja hubungannya dengan JinGyeoung semakin terbangun karena kasihan juga JinGyeoung mengharapkan WooJoo, padahal orangnya sudah 'nikah' sama cinta pertamanya pula hoahaha.

WooJoo1 yang kembali ke Korsel membuat dinamika tambah seru nih, bisa jadi Ia adalah orang baru yang direkrut Myungsoondang menggantikan Tn.ko menangani bidang keuangan. (Secara Ia lulusan universitas bagus dan pekerjaan sebelumnya sebagai manajer investasi jadi sedikit banyak paham akuntansi kan?).

Ohya, saya positif suka semua OST-nya yang sejauh ini keren-keren.

Baca juga Recap dan Review Would You Marry Me?

Episode 1

Episode 2

Episode 3








 







Posting Komentar