" ".

Recap dan Review Perfect Crown Episode 2

Table of Contents

Recap Episode 2

Kembali ke masa sekolah keduanya di Royal Academy, ada empat asrama sekolah :

  • Wisma Hyeonmu dari Utara
  • Wisma Cheongyong, Naga Biru dari Timur (ini asrama Ian)
  • Wisma Jujak, Burung Merah dari Selatan (Ini asrama HuiJoo dan PM Min JeongWoo)
  • Wisma BaekHo, Macan Putih dari Barat

Ryu MinSeok sempat-sempatnya menghina HuiJoo, sampai temannya curiga, ia naksir gadis itu Hoahaha. Sebelum hinaannya lebih jauh, Ian menghentikannya karena menurutnya kekasaran itu melukai telinganya Hoahaha.




Ketika drum ditabuh, kompetisi pun dimulai. Persaingan cukup ketat. Raja terdahulu HuiJong (Son JoonHo), ayah Ian hadir dan duduk di podium kehormatan. Beliau menanyakan alasan lapangan dibuka siang malam. Kepsek mengabulkan permintaan pribadi sang pangeran dan ayahnya terlihat tak senang. Saat Ian menatapnya, Raja malah membuang muka. Giliran Huijoo dan Ian berbarengan. HuiJoo duluan dan mendapat sembilan poin, sekeras apapun HuIjoo berdoa, Ian tetap mendapat poin sempurna.

JeongWoo berusaha menyemangatinya, mereka bisa membalikan keadaan di putaran kedua. {Sebenarnya untuk konsistensi saya pengennya menulis PM Min seterusnya, tapi kan di masa sekolah belum ketahuan bakal jadi PM}

Di putaran kedua tim merah dan biru selisih satu poin. Kepala sekolah yakin Ian akan menang tapi ayahnya justru menjawab "Entahlah, semua masih mungkin terjadi sampai benar-benar berakhir."

Dan giliran terakhir, lagi-lagi Jujak diwakili HuiJoo dan Ian mewakili Cheongyong. Ditengah gemuruh semangat dari penonton, HuiJoo berusaha fokus sampai merasa ketenangan yang dalam dan Ia menatap Ian yang melepaskan tembakan terakhir. Tatapan mereka sempat bertaut terakhir kalinya.


Kembali ke masa kini, setelah HuiJoo mengajaknya menikah. Ian hanya tersenyum lalu mengembangkan kipasnya. Ia menahan tatapan HuiJoo cukup lama sebelum mendorong cangkir teh yang terhidang di meja dihadapan mereka kearahnya dengan kipas yang sudah ditutup lagi.

"Apa syaratmu?" Tanya Ian santai

"Kau tak tampak terkejut?" 

"Kenapa harus terkejut?" Ian tersenyum sinis.

"Pasti sudah banyak yang mengajukan sebelumku".

"Memang. Baru dua hari ini saja aku sudah menerima puluhan lamaran." Ian melirik ke tumpukan kotak yang dibungkus kain warna-warni khas lamaran dalam pernikahan tradisional KorSel. 

HuiJoo hanya menjilati bibirnya sambil menunduk "Sial" bisiknya. Dikagetkan Ian yang menahan dagunya dengan kipas, "Jadi sebutkan syaratmu, akan kunilai sendiri"


HuiJoo nampak sedikit gugup sebelum kembali ke sikap angkuhnya yang biasa. Ia mengaku punya banyak uang. {Backsound-nya kerincingan khas mesin uang Hoahaha} Ian sempat tertegun lalu tertawa kencang, ia mengira akan ada alasan yang lebih variatif. Sebaliknya, kreativitas hanya sia-sia menurut HuiJoo karena semua perjodohan sama saja. Lagipula, yang terasa familiar akan lebih baik dan mudah. HuiJoo kembali ke sikap flirty tak tahu malunya tapi Ian masih ingin mendengar alasan lain. 

Menurut HuiJoo, silsilahnya unggul dan punya kecakapan lebih tajam. Abangnya terlalu bodoh untuk membuat masalah karena ia tahu Ian tak suka jika keluarga pasangan ikut campur.

"Apa lagi?" desak Ian

"Aku tebak muka." sebagai putri haram chaebol, HuiJoo sudah kebal kritik dan akan memastikan Ian tak akan pernah tahu karena itu, "Pakailah aku sebagai tameng hidup." Ia memberi gesture membidik dengan anak panah lengkap dengan backsound decakan bibirnya Hoahaha. {Yang hilarious-nya di ladeni Ian dengan gesture menangkis serangan itu Hoahaha}. Bahkan setelah kontrak habis dan mereka bercerai, ia yang akan menanggungnya.

"Apa lagi?"

"Kecantikan" HuiJoo menjawab centil dan Ian sempat tersenyum geli, "Apa lagi?" desaknya. 

HuiJoo sudah nampak kesal dan heran masih kurang juga. "Apa lagi?"

Hyeon menangkap basah AhReum (Choi JiSoo) membawakan obat Ian, jadi Hyeon mengambil alih dan meminta izin masuk. Ian langsung mengusirnya tanpa melepaskan pandangannya yang masih terkunci pada HuiJoo.

Di istana, Ibu Suri menerima Kim Jaegyeong (Jang HeeRyeung) ke istana. Gadis itu memberi hormat terdalam dan ibu suri tersenyum puas.


Di kantornya, HuiJoo masuk dengan gembira. HyeJeong stress melihatnya tersenyum. Menurutnya bosnya tak berhak tersenyum sekarang. Apakah ia hilang akal sehat atau sedang menjalani masa hukuman? Atau yang paling parah, apakah ini efek racun yang dipaksakan minum oleh Ian? Hoahaha

HuiJoo menenangkannya, ini bukan dinasti Joseon. Senyumnya menghilang saat akhirnya Ia memberi tahu dirinya ditolak. HyeJeong kebingungan.

Rupanya, saat HuiJoo minta penjelasan alasan penolakannya, dengan sabar Ian mengaku ada hal yang lebih dihargainya dibandingkan uang, kemampuan dan kecantikan.

HuiJoo ingin tahu apakah itu dan Ian menantangnya balik, bisakah HuiJoo memenuhinya jika diberitahukan sekalipun.

"Kau kira, aku tak bisa?" HuiJoo si gadis keras kepala yang tak pernah menerima penolakan justru tersulut. 

Ternyata Ian menginginkan cinta, ia ingin menikah karena cinta, itulah impian seumur hidupnya, HuiJoo terang-terangan mencibir sekaligus kesal dipermainkan. 

Di kamar Ian, Hyeon--yang sedang membatunya berpakaian--pun heran kenapa Ian mempermainkan adik kelasnya itu. Ian bisa saja menolaknya dengan baik tak perlu sekejam itu. Tapi Ian hanya tersenyum sambil menatap cermin.

HyeJeong berjanji akan mencarikan kandidat lain karena HuiJoo telah ditolak. Tapi HuiJoo menanggapinya dengan santai. HyeJeong semakin heran, kenapa bosnya tetap mau mencoba lagi padahal ia tak bersungguh-sungguh. HuiJoo bilang tak mungkin ia lebih sungguh-sungguh dari ini.

HyeJeong mengomelinya, mana ada orang yang serius langsung melamar  dengan pendekatan HuiJoo kemarin tanpa sedikit pun sikap rendah hati. Justru menurut HuiJoo, Ian sudah muak dengan orang jenis itu, berpura-pura rendah hati. Ia butuh strategi untuk terlihat berbeda. Ia yakin Ian suka orang aneh sepertinya, karena aslinya Ian pun sama anehnya, mana ada pangeran normal yang mendatangi jamuan resmi dengan Cheolik.

Ibu Suri masih mencari kandidat lain untuk Ian dan berusaha menemui HuiJoo.

Manajer PR sangat nervous--sampai gelasnya bergetar hebat, hoahaha--saat dipanggil ke ruangan HuiJoo, ia mengira itu soal laporan saat rapat terakhir. Rupanya HuiJoo memberinya misi rahasia mencari tahu pergerakan Ian. Sekeluarnya dari ruangan, sang manajer PR masih bengong dan menjawab sekenanya pertanyaan manajer produksi. Ia tersadar bahwa ia punya misi penting agar bosnya bisa menikah.

Ia menelpon ibunya menanyakan nomor telepon pamannya yang bekerja di Sekretariat Kerajaan. Lalu ia menghubungi reporter yang punya akses kantor urusan publik kerjaan. Hasil laporan diberikan pada HyeJeong. Nasib sedang berpihak pada mereka. Secara resmi Ian sehari-hari akan dikawal garda Nasional dan tak mungkin didekati, tapi karena saat ini ia sedang cuti, sang manajer PR sudah mendapatkan agenda tak resminya. Ia dan HyeJeong sampai toss khusus karena mulai sekarang, ia sudah masuk dalam lingkar dalam Nona Seong.


Jadilah, saat Ian berkuda santai di Padang rumput hijau yang asri, tiba-tiba terdengar ringkikan kuda lain dan derap kaki penuh semangat dari HuiJoo. Ia menggodanya habis-habisan dengan mengaku rindu. Ian tampak kesal padahal baru dua hari.




Keesokan harinya, HuiJoo mendatangi restoran favorit Ian. Sambil mengedipkan mata ia menanyai jadwal Ian selanjutnya apakah mau ke penampungan kucing liar. Ian sadar HuiJoo berani menyelidiki kegiatannya. HuiJoo membenarkan, semua karena Ian bilang hendak menikah karena cinta, karena itulah ia berani mencoba merebut hati paduka sambil meniupkan kecupan mesra. {Yang mendarat dipipi Ian yang beraksi "aakh" gemesin banget!}.



HuiJoo bahkan mencegatnya di lampu merah. (placement produk Benz yang kece karena HuiJoo pun mendadak ganti mobil merah dari merk ini juga), di bioskop, bahkan saat sang pangeran berlari di sepanjang sungai Han. Gadis itu tanpa tahu malu mengatakan ia merindukannya.


Ketika pulang ke rumahnya, Ian membuat Hyeon kebingungan karena mendadak mau membuat baju baru agar saat dibuntuti ia nampak tampil maksimal. Hyeon bolak-balik bertanya, siapa yang terus muncul dan mengikutinya. {Kasihan Hyeon sampai merasa ngomong sendiri dan ini HuiJoo cegilnya next level banget lho..}

Di kantornya, HuiJoo menerima telepon dari kakak iparnya yang mengingatkannya ini hari kencan perjodohannya. Jika ia tak datang maka ia dan ayahnya akan kesulitan. Iparnya mengirim nomor pria tersebut beserta ancaman ayahnya akan menutup Castle Beauty bila perjodohan ini gagal.

Huijoo menemui Kim YenJoon (Heo NamJoon) di suatu galery seni. Pembicaraan mereka blak-blakkan. Pria itu berbasa-basi, ia tahu banyak tentang HuiJoo



dari ayahnya dan gadis itu mengelola instalasi seni yang sukses. HuiJoo pun terus terang bahwa itu untuk kepentingan pencucian uang, sambil mengedip centil. Wajah pria itu langsung syok Hoahaha.

HuiJoo bertanya apakah ia punya saudara. Anak tunggal artinya tak ada ada yang berebut warisan. Huijoo pun langsung menentukan bulan pernikahan dan membuat sang pria terbatuk-batuk tak nyaman. Lebih jauh HuiJoo membocorkan pernikahan mereka merupakan bagian rencana ayahnya agar ia tak mendapatkan posisi tawar lebih tinggi dalam suksesi Castle Grup. Ayahnya memang lebih pro abangnya yang dianggap HuiJoo bodoh itu Hoahaha.

HuiJoo sibuk melihat lukisan dan menyadari koleksi lukisan antik sebagian besar milik Pangeran Ian dan bergambar kucing lucu. Ia berbalik menghadapi kencannya dan langsung menembaknya, berapa pun jumlah uang yang pria itu pikirkan, ia bisa memberikannya lebih bayak tapi sebagai gantinya bisakah ia mengabdikan seluruh dirinya pada HuiJoo agar bisa mencapai puncak.

Belum sempat pria itu menjawab, Hyeon menyapanya dan mereka saling melempar gurauan kalau HuiJoo mau mencuri koleksi Kerajaan sebaiknya ia ke lantai B2. 

HuiJoo meminta maaf, seharusnya ia memperkenalkannya dengan Hyeon. Pria itu langsung mundur dan yakin pernikahannya tak akan berhasil. Di mobilnya HuiJoo sudah menduga hasil akhirnya akan  begini.



Hyeon melaporkan pertemuannya pada Ian, HuiJoo menemui pria baru yang tinggi dan keren. Hyeon curiga HuiJoo dikirim ibu Suri tapi bagi Ian itu tak mungkin karena kakak iparnya berasal dari silsilah yang melahirkan empat ratu terdahulu. Sedikit orang yang paham rasa superioritasnya jadi tak mungkin ia bersekongkol dengan gadis rakyat jelata. {Ini Ian ngisengin Hyeon memindah-mindahkan posisi lukisan tapi akhirnya harus dipasang di posisi semula}. 

Hyeon makin penasaran siapa yang menang jika keduanya berhadapan?  Hyeon membocorkan ia sempat menyelidiki HuiJoo diam-diam. Menurutnya aneh, gadis itu tiba-tiba melamar Ian. Tapi ternyata tak ada yang istimewa, ia hanya keluar rumah untuk bekerja, dan tampaknya tak punya teman. Dia makan dan nonton film dengan asistennya. Mungkin karena temperamennya yang gampang marah. Lebih sulit menemukan orang yang belum pernah bertengkar dengannya dan Ia tak pernah kalah. Ian tersenyum. 

Hyeon masih penasaran jika Ibu Suri berhadapan dengan HuiJoo, siapa yang menang seandainya mereka duel tanpa memandang hierarki {lucu banget ini reka adegan ala Hyeon Hoahaha}. Setelah minta maaf, Hyeon pergi meninggalkan Ian yang masih nampak berpikir. {Apa sedikit gelisah?}


Di ruangannya, Ibu Suri teringat almarhum suaminya pernah menulis surat pengunduran diri sebagai raja. Ia berniat turun tahta. Istrinya murka dan membakar surat tersebut, "Lebih baik mati. Aku lebih suka kau mati, demi Putra Mahkota." Kata-katanya dingin dan kejam. 

"Ratuku" jerit sang raja dan malam itu kebakaran besar terjadi di aula yang sama dan raja ditemukan tak bernyawa. Ia hanya menatap nanar saat suaminya ditandu dan Ian mendekati abangnya, membuka kain yang menutupi wajahnya lalu bertanya dimana keponakannya sang pewaris tahta.

Ian bangun dari mimpi buruk dalam keadaan berkeringat dan matanya berkaca-kaca. Keesokan paginya, ia tak sehat. Hyeon memberinya teh dan menasehatinya la tak bisa terus-terusan tidak tidur.

Ibu Suri mempersiapkan Baginda Raja untuk memberikan penghargaan bagi rakyat terpilih yang memimpin industri negeri. Ibunya berpesan raja membawa diri dengan bermatabat. Menurut Ibu Suri, ini kesempatan Baginda menunjukkan pada dunia bahwa Ia bisa sendiri tanpa didampingi sang paman. Karena menurut dayang cutinya masih empat hari lagi.

Sambil lanjut sarapan, Hyeon menyarankannya mendukung Baginda jika Ian tak yakin keponakannya akan baik-baik saja. 

Sementara HuiJoo menerima instruksi jelas dari HyeJeong di telepon, harus tiba pukul berapa dan larangan memakai warna terang, apalagi merah atau memakai pewangi dan aksesoris yang mencolok. {Ini HyeJeong PA teladan. Hafal banget kebiasaan HuiJoo}.

Di lokasi acara, HyeJeong yang mendampingi, dengan sabar mendengarkan omelan HuiJoo yang kesal harus melewati detektor logam dan di scan seluruh tubuh. Ia merasa bukan disemangati malah menurunkan semangatnya.


Di ruang tunggu, para asisten berusaha menenangkan Baginda Raja. Mereka terkejut melihat kedatangan Ian. Rupanya sang keponakan sendiri yang menelponnya sambil menangis. Raja kecil itu mengaku ketakutan tapi langsung tersenyum saat sang paman menggenggam lengannya terutama saat menghadapi cahaya blitz kamera yang menyilaukan mata.


HuiJoo tersenyum dari kursinya saat matanya dan Ian bertatapan sejenak. Saat diberi anugrah wirausahawan terbaik, HuiJoo maju dan menyapa baginda lalu memintanya memasangkan topi tersebut di kepalanya. Saat Ian menyerahkan bunga sambil memuji, "Negeri bersuka cita akan indahnya bakatmu", HuiJoo dengan tak tahu malu bilang ia kangen dan minta hadiah dari Ian. Sang Pangeran bilang ia sudah mendapatkannya dari Baginda Raja di kepalanya, tapi HuiJoo berkeras ingin hadiah pribadi. Ian akhirnya berdiri dibelakangnya untuk berfoto bersama. 



HuiJoo berpose dengan centil dan mengunggah fotonya dengan tagar Castle Beauty dan bunga kehormatan lalu dengan jahil menambahkan tagar Pangeran Agung Ian.

Di ruangan PM Min, ia mendapat laporan anugrah ekonomi lancar. Saat memeriksa berita terkait kedatangan Ian mendampingi baginda, ia malah terpaku dengan berita HuiJoo dan pamit pulang.


Baginda raja pulang dengan berat hati karena pamannya tak pulang bersamanya. Ia menatap dari jendela sambil sedikit merajuk. Setelah iring-iringan berlalu, Ian merasa pusing dan Hyeon langsung cemas. 

HuiJoo rupanya menginap di hotel sebagai reward untuk dirinya sendiri. Ia sempat bersenda gurau dengan HyeJeong dan minta jangan dihubungi dengan alasan apapun. Di lobby yang sama, Ia bertemu dengan PM Min yang sengaja membawakan buket bunga untuknya.

Mereka makan bersama, HuiJoo berjanji akan mentraktirnya karena hari ini ia memenangkan bunga kehormatan. Tapi Min malah mentraktirnya untuk merayakannya. HuiJoo membaca menu sambil menggoyangkan topi itu sampai akhirnya Min memintanya melepasnya saja karena agak memalukan, ia tampak bagai nanas raksasa. 

"Yakin bukan nanas yang sangat cantik?" Goda HuiJoo.

Min menjawab bukan tapi matanya tak bisa bohong dan mereka mengenang masa-masa sekolah. HuiJoo lah yang mengajarinya memanah dan jelas sejak awal fokus Min adalah HuiJoo bukan panahnya.

Menurut HuiJoo, syukurlah Oppa pandai belajar karena ia payah dibidang lain. Ia terus bergurau seandainya saat menjalankan tugas PM ada yang aneh, jangan segan bertanya.

Hyeon membelikan Ian obat di apotek. Jika keadaannya tak kunjung membaik, ia akan membawanya ke RS Seoul. Ian menolak karena banyak keluarga ibu Suri bekerja disana. Ian mengingatkan Hyeon untuk mengabari istana bahwa mereka menginap di hotel.

Di hotelnya, HuiJoo sangat senang dengan respon di sosmed. Ia berjoged riang, besok saham perusahaan akan naik. Tak disangka ia berpapasan dengan Hyeon di depan lift

HuiJoo memanggilkan dokter untuk Ian. Dokter bertanya apakah Ian kesulitan tidur. Hyeon menceritakan insomnianya dan menurut dokter akan susah menyembuhkan kelelahan jika kurang istirahat. 

Ketika mengantar sang dokter turun, HuiJoo minta merahasiakan hal ini dan minta agar dirinya lah yang dicatat sebagai pasien. Ia mengucapkan terimakasih atas pengertian beliau.


Di istana, Ibu Suri yang mengetahui putranya tetap didampingi Ian marah besar. Ia semakin memarahi Baginda yang memanggil Ian dengan penuh afeksi padahal sudah berpesan agar putranya mampu tampil dengan percaya diri. 

Setelah tinggal berdua dayang kepercayaannya, ibu suri jujur sekilas melihat bayangan suaminya dalam diri anaknya. Ia merinding mengingat kelemahan suaminya yang bisa jadi akan menurun pada anaknya. Ibu Suri menanyakan apakah keberadaan Ian sudah ditemukan dan dayang mengangguk cepat.

HuiJoo kembali ke kamar Ian membawa roti lapis agar Hyeon bisa makan. Hyeon sangat berterimakasih karena ia tak sempat makan, terutama bantuan HuiJoo memanggilkan dokter bagi Ian yang nyaris ambruk. HuiJoo heran kenapa mereka tak kembali saja ke istana tapi menurut Hyeon, Ian tak suka merepotkan istana dan jadi pusat perhatian. 

Tiba-tiba Hyeon berdiri terkejut, ia mendapat info bahwa Ibu Suri datang ke kamar mereka. Hyeon panik menyembunyikan HuiJoo yang sangat kebingungan tentang siapa itu daebi-mama. {Hyeon ini sejak awal welcome banget ke HuiJoo, walau tanpa Ian mereka sudah sefrekuensi}



Hyeon berusaha mencegah Ibu Suri masuk kamar dengan alasan hari sudah malam tapi wanita itu menerobos sampai ke kamar Ian. Ian tak ada di ranjang dan keluar dari toilet hanya dengan jubah mandi dan bertelanjang dada. Ian minta Ibu Suri menunggu diluar. Ibu Suri akhirnya bergegas keluar namun ia tak sengaja melihat tas tangan wanita HuiJoo di sofa tempatnya makan dengan Hyeon tadi dan berbalik kembali. Saat itulah Ia melihat Ian dan HuiJoo berdiri berhadapan. (Lalu reflek HuiJoo ngumpet lagi). Ia terlihat menahan amarah dan berpesan pada Hyeon agar besok Ian ke istana dalam pakaian yang pantas untuk menjelaskan kesalahan ini. {Ini ningrat banget ga sih, padahal Ian ada langsung di tempat yang sama, ngomong langsung kenapaaa?🤣}

HuiJoo sangat bingung dan bertanya '"Ottoke?" pada Ian yang hanya bisa menggeleng lemah. {Ian pucat banget, untung infusnya berhasil di sembunyikan}


Keesokan paginya, HuiJoo terbangun berkat telepon HyeJeong. Asistennya itu memintanya tetap di hotel dan karena ia akan menjemputnya. Rupanya internet meledak dengan skandal HuiJoo yang menginap bersama Sang Pangeran di hotel. Staf Castle kerepotan membalas telepon dari banyak pihak.

Abangnya--yang sedang bermasker--membaca berita online itu dan mengumpati adeknya sudah gila. Istrinya malah heboh sendiri dan suaminya mengira ia cemburu dengan HuiJoo. Dayeong malah menepuk wajah suaminya sambil berseloroh "Aigooo." Ia curiga, jangan-jangan selama ini adik iparnya menolak dijodohkan karena hal ini. 

Di kamar hotelnya HuiJoo membaca semua komentar dan artikel yang sebagian besar menuliskan dirinya adalah kekasih rahasia Pangeran Agung. "Aku?" HuiJoo tertawa tak percaya sekaligus senang.

Di belakangnya HyeJeong stress berat dan sedang mengafirmasi dirinya sendiri bahwa ia sudah pernah melalui badai kehebohan yang lebih buruk. Hoahaha

Huijoo memintanya tak usah dramatis karena tak akan ada yang percaya gosip itu karena memang tak terjadi apapun. Ada Hyeon disana. Namun HyeJeong menunjukkan bukti foto lengkap dengan time line check-in HuiJoo dan Ian lalu kedatangan dokter dan HuiJoo yang pergi membeli roti lapis, tak ada Hyeon terfoto malah ada artikel Ian memulangkan semua staf demi kencan rahasia. HuiJoo malah tertawa dan bergurau seharusnya franchise  roti lapis itu membayar mereka karena telah melakukan promosi gratis. HyeJeong menerima banyak telepon, termasuk dari wartawan. Ia menunjukkan latar ponselnya sambil tertawa semi histeris pada atasasannya yang masih acak-acakan bangun tidur.

Gongnya, saat HyeJeong bilang ada gosip HuiJoo hamil. "What?" Mata HuiJoo membelalak lalu ia bertepuk tangan sambil tertawa geli, tak percaya akan kemapuan imajinasi publik. HyeJeong sampai meneriakinya, "Fokus!"

Di istana, ibu Suri emosi melihat martabat keluarga kerajaan akan dijatuhkan karena skandal. Dan HuiJong akan terseret, makanya ia yakin mereka akan membantahnya. 

HyeJeong bertanya serius apakah HuiJoo memang tak memahami arti Ian bagi rakyat. Ia mengingatkan saat tahun lalu HuiJoo berkencan dengan seorang idol. Setiap hari ia kena bully online, dilempari telur sampai mobilnya digores. Dulu ia geram dengan fans fanatik yang sampai membunyikan bel pintunya saat subuh. 

"Ian Daegun bukan idol" bela HuiJoo.

"Dia lebih parah, idol hanya dicintai fansnya, Pangeran Ian dicintai seluruh negeri." HyeJeong membuat perumpamaan dengan mengerjakan tangannya seluas-luasnya.

"Tapi, Aku tak mencintainya!' HuiJoo santai

"Depyo-nim!" Bentak HyeJeong emosi

"Nanti bayiku, kaget" Gurau HuiJoo. Hoahaha 

PM Min berusaha menelpon Ian, tapi tidak diangkat, begitupula HuiJoo yang ponselnya dimatikan HyeJeong.

Ajudannya mengusulkan segara dilakuan damage control tapi menurutnya ada sisi positifnya, kritik soal pembekuan upah minimum akan tertutup dengan isu ini. Pengalihan isu yang sempurna jadi biarkan saja dahulu.

Hyeon dan Ian naik kendaraan resmi, Hyeon menginstruksikan sopir ke istana--karena PM Min dan kantor urusan publik sudah menunggunya--tapi Ian menyela. Ia ingin ke kediaman pribadinya dan Hyeon harus menghubungi HuiJoo untuk menemuinya di sana.

HuiJoo datang sore itu dengan HyeJeong. HyeJeong sangat panik {apalagi musik latarnya kayak adegan mau perang} HuiJoo pun mengaku ikut panik, tapi di halaman dalam, Hyeon bilang Ian mau bertemu empat mata saja.

"Gwenchana. Kau tunggu diluar saja." HuiJoo sempat-sempatnya mengedipkan matanya pada sang asisten. Ia masuk dengan percaya diri sambil diiringi tatapan para pelayan.


"Demamnya sudah turun?" HuiJoo menyapa Ian yang sudah lebih dulu duduk di sofa.

"Seperti yang kau lihat."

"Keadaanmu baik?"

"Seperti yang kau lihat." Lalu HuiJoo tersenyum karir. "Aku merindukanmu padahal baru kemarin kita bertemu."

Ian tidak merespon melainkan langsung meminta maaf karena telah menyeret HuiJoo dalam skandal ini dan menjadikannya kambing hitam.

"Lalu?" HuiJoo kembali pada mode bisnis. Ia tegas dan sinis

"Katakan apa permintaan mu."

"Cih, jika kukatakan, apakah bisa kau kabulkan?"

"Seong HuiJoo..."

"Yang kuinginkan mungkin amat sulit diraih".

Di halaman para pelayan bergosip. Separuh  tak yakin mereka benar-benar berpacaran, apalagi saat pertemuan pertama, mereka seolah tak kenal. Apalagi pangeran sangat sibuk. Namun pelayan yang lelaki tetap yakin, saat orang tak bisa berpacaran karena sibuk itu cuma alasan.

HuiJoo menggelar isi amplop lamarannya. Ternyata itu adalah bunga kehormatan yang dikeringkan. Bunga itu didapatkan setelah HuiJoo mengalahkannya di perlombaan memanah saat mereka sekolah.


Tembakan terakhir Ian  meleset dan hanya bernilai tujuh poin. HuiJoo melihat semuanya--Ia paham Ian dengan sengaja menyabotase tembakannya agar meleset dan membuat timnya kalah (tapi belum jelas alasan Ian, sepertinya karena sesaat sebelum menembak, ia melirik ke ayahnya). Ia paham tatapan kesal Ian karena  merasa geram, harus kalah dari orang yang bisa dikalahkan. 

Ia paham rasanya karena abangnya yang idiot bahkan sampai dikeluarkan dari sekolah padahal mereka adalah donatur. Ia juga menghancurkan bisnis yang harusnya berjalan sendiri. Tapi ayahnya dan dewan perusahaan selalu ingin menggantinya dengan sang Abang setiap kali HuiJoo berbuat kesalahan. Bukan karena ia lahir duluan sebagai lelaki dan anak yang sah, tapi karena ia menikahi wanita bangsawan. (Ian baru menatap mata HuiJoo)

"Karena itu, aku ingin naik kedudukan karena pernikahan." HuiJoo terus terang sambil menggedikkan bahunya. {Ini gestur Idgaf girl boss banget!}

"Kau mau menikahi ku hanya demi gelar kosong?"

"Karena aku kehilangan banyak peluang hanya karena tak punya gelar itu." Padangan mereka intens dan terasa mendebarkan.

"Bersiaplah menjadi istri Pangeran Agung." Ian akhirnya memecah keheningan. "Kau akan melawan.. seluruh negeri." Ian tersenyum penuh makna.



HuiJoo menghela nafas lega sebelum senyum lebar merekah di bibirnya.

Review

Minggu pertama yang solid. Wajar ratingnya langsung naik dan jadi tontonan terlaris di aplikasi kepala tikus di banyak negara.

Sinematografi juara dan makin terlihat mahal karena placement place alias iklan dari dua brand dunia Mercedes Benz dan Subway. Tapi tetap terasa cukup subtle nih ngiklannya. Salut lah ga terlalu terang-terangan seperti iklan permen kopi lokal yang sering muncul juga di drakor. (Bukan julid sama produk dalam negeri ya, saya sering beli Kopiko tapi saya ngerasa agak cringe aja serasa lagi nonton sinetron karena penempatannya kurang halus, gitu).

Sebenarnya saking sukanya saya sempat bingung mau mulai dari mana mau nge-review, jadi lanjutin dari episode lalu ajalah ya..

Scoring diakhir episode ini lumayan bernuansa tradisional dan bagus banget.

Akting IU jadi cegil next level mantep. Semua gesture dan tatapan matanya bermakna. WooSeok bisa mengimbangi.

Jadi semakin paham, kalau mereka ini memang sekufu. Selain yang sering diutarakan HuiJoo (sama-sama rupawan, cerdas dan punya potensi luar biasa), masih ada banyak kesamaan mereka (karena saya sudah nonton sampai episode 4, nanti akan semakin jelas) :

1. Lingkar Sosial dan Ekonomi 

Walau status HuiJoo anak diluar nikah, ia tetap bersekolah di Royal Academy karena itu ia bisa berteman dengan PM Min dan mengenal Ian. Tak mungkin dari keluarga sembarangan bisa masuk. Ayahnya pasti jadi donatur juga. (Kemungkinan abangnya juga bertemu Dayeong di sekolah ini tapi beliau dikeluarkan Hoahaha).

Ketika HuiJoo mengejar Ian, ia bisa punya akses ke lapangan berkuda privat, bioskop dan restoran elite yang pastinya tidak murah dan mudah dimasuki kecuali ia punya koneksi ordal. Hoahaha (Bahkan sejak mencari info tentang Ian juga lewat jalur ordal manajer PR -nya).

2. Punya Asisten Seru

Dinamika Hyeon dan Ian VS HuiJoo dan HyeJeong itu mirip banget. Absurd dan lucu tapi tetap kedua asisten menunjukkan loyalitas tanpa batas. Keduanya sama-sama berusaha melindungi atasannya dan menginginkan yang terbaik bahkan sampai aspek kehidupan pribadi.

Plusnya Hyeon bisa akrab dengan HuiJoo dan HyeJeong pun di satu titik pasti akan dekat juga dengan Pangeran yang disukainya sejak awal itu.

3. Eksentrik

HuiJoo memahami Ian itu eksentrik jadi sukanya juga dengan yang blak-blakan, apa adanya, bukan yang penuh kepalsuan. Karena HuiJoo pun mencari pasangan yang sama. Makanya Ia langsung jujur dengan pria yang diatur dalam matseon bahwa ia ambisius, licik dan melakukan money laundry di galeri seni-nya untuk melihat reaksi pria itu. Ia benar-benar terlihat kecewa karena dari sisi ketampanan sebenarnya pria itu lulus (Hyeon aja memuji habis-habisan Hoahaha).

Ngomongin soal Hyeon yang melapor ke Ian soal pertemuannya dengan kencan HuiJoo ada beberapa teori yang beredar di kalangan fans, diantaranya HuiJoo sengaja memindahkan pertemuan ke lokasi galeri seni yang sedang memamerkan karya koleksi Ian dan kerajaan dengan harapan bertemu Ian atau itu murni kebetulan.

Apapun alasannya, yang penting saya suka hasil akhirnya : Ian dan khususnya Hyeon menyadari HuiJoo sudah move-on ke pria baru. Makanya Ian tampak tambah kesal saat HuiJoo tetap bilang ia kangen lalu minta hadiah di podium saat menerima penghargaan dari keponakannya.

Dari sisi Hyeon, saat ia menerima bantuan dari HuiJoo di hotel, Hyeon pun tanpa beban--karena Ian tidak jujur mengakui orang yang mengejar-ngejarnya sampai merasa perlu beli baju baru adalah HuiJoo.

Jadi kejadian di hotel dari sudut pandang saya adalah genuin kebetulan dan Hyeon menerima pertolongan HuiJoo yang juga dilakukan gadis itu dengan tulus atas dasar kemanusiaan saja.

Ketika berita itu meledak wajar HuiJoo tertawa geli dan merasa mendapat durian runtuh.

Awalnya, menurut saya, melihat tempramen HuiJoo, Ia setengah tersulut setengah bergurau, meladeni 'keinginan' Ian untuk mengambil hatinya yang ingin menikah karena cinta. Tapi setelah kejadian ini tereskalasi maksimal dan ia melihat dampaknya yang luar biasa, HuiJoo baru masuk ke mode serius. Ia to the point: ingin naik kedudukan melalui pernikahannya. 

Ian mengaminkan hal ini meski awalnya Ia mengaku mau menikah karena cinta. Alasan pastinya masih belum jelas, karena kita belum diperlihatkan POV Ian, tapi menurut analisa abal-abil saya antara tiga skenario berikut :

1. Ian Naksir Duluan

Sejak awal--masa sekolah-- Ian memang menyukai HuiJoo. Jadi ketika bertemu lagi, ia memang mengenalinya dan ketika HuiJoo mengajaknya menikah, pernyataan Ian yang mau menikah karena cinta justru sebenarnya adalah pancingan belaka, agar HuiJoo berusaha memikatnya dan selaras dengan itu turut jatuh cinta pula pada dirinya. 

Ini kemungkinan yang paling saya dukung ditilik dari sikapnya yang baru mau menerima permohonan audensi ketika HuiJoo menggunakan nama junior dan sikapnya yang terus mencecar apa yang siap HuiJoo tawarkan. Kalau saja HuiJoo sejak awal menunjukkan rasa tertarik (minimal naksir) atau berani menjanjikan cinta, bisa jadi Ian langsung terima, ya 'kan?

Ohya, dalam garis waktu cerita, Ian mulai menerima ide untuk menikah justru setelah pertemuan kembalinya dengan HuiJoo lho. Jadi semua yang terjadi setelahnya (gosip di hotel), tak berpengaruh banyak. Justru pertemuan tak terduga Hyeon dan HuiJoo seolah jodoh yang ditakdirkan (efek nonton Practical Guide to Love nih).

2. Fifty-Fifty 

Ian memang asbun saja ketika menolak HuiJoo, nuraninya baru terusik ketika HuiJoo benar-benar mengejar-ngejarnya. Pesona cegil bersumber daya unlimited memang tak ada lawan. Hoahaha. Setelah kejadian di hotel, ia semakin terusik setelah melihat HuiJoo santai saja dibantai di internet bahkan berani terus terang akan niatnya menikahi Ian demi keuntungan pribadi dalam suksesi Castle Grup.

Satu lagi, percakapan dengan Hyeon akan latar belakang HuiJoo membuatnya berfikir dan yakin bahwa HuiJoo adalah lawan sebanding dengan kakak iparnya, Ibu Suri. Jadi menikahi HuiJoo adalah pilihan yang paling potensial untuk mengahadapi faksi kakak iparnya (termasuk tuan Inpyeong).

3. Ian Belum Menyukai HuiJoo

Benar, Ian terlihat gelisah saat mendengar HuiJoo sudah melakukan matseon dengan pria lain. Bisa jadi ini karena ego lelakinya yang tersentil, makanya ia kesal ketika HuiJoo masih bersikap flirty di acara kenegaraan.

Apakah efek tersebut menambah rasa pusingnya sampai jatuh sakit? Entahlah, tapi yang jelas, saat dirinya memandang HuiJoo di kamar malam itu, tatapannya jauh berbeda ketika memandang kakak iparnya. Ia tidak marah pada HuiJoo, hanya ada rasa sakit yang coba disembunyikan.

Setelah melihat reaksi keras di internet dan sikap kerajaan yang siap melakukan damage control, kejadian ini semakin meyakinkan Ian : HuiJoo yang di era sekolah berani menantang aturan sekolah dan dirinya  sendiri yang seorang pangeran, maka akan cukup kuat melawan seluruh dunia.

Mereka berdua--dengan ataupun tanpa rasa cinta--bisa jadi pasangan powerful.

Tinggal tunggu saja POV Ian sih, tapi Perfect Crown kan genre-nya RomCom jadi di satu titik mereka akan sama-sama menyadari perasaan satu sama lain. Mengikuti prosesnya itu yang seru! Apalagi kemungkinan mereka benar-benar menikah adalah 90% mengingat judul asliya 21st Century Grand Prince's Wife.

Highlight lain dalam episode 2 adalah kita jadi paham kalau PM Min memang menyukai HuiJoo sejak remaja. Sementara HuiJoo menganggapnya sekedar teman baik, ya karena lebih tua saja jadi dipanggil Oppa. Hoahah

Di sisi lain, Ibu Suri pun memberikan tatapan aneh saat Ia menerobos kamar Ian dan melihatnya bertelanjang dada. (Kemudian saya membaca rilis resmi bahwa Ibu Suri memang naksir Ian tapi memilih menikah dengan abangnya--antara desakan keluarga atau ambisinya jadi ratu).

Keluarga Ian pun semakin jelas bahwa ayahnya selalu berusaha agar Ia tak mencolok. Ian yang memahami hal itu rela mengalah dalam pertandingan panah. HuiJoo menyadari hal ini meski belum tahu alasan pastinya.

Kenapa raja HuiJong bersikap demikian? Selain tuntutan menjaga wibawa Putra Mahkota, mungkin sejak kecil ia sudah bisa melihat Ian lebih bersinar di pelajaran dan penampilan. Maaf ya, saya suka Sung Joon (masih sama komentar saya dengan saat mereview Butterfly atau Can This Love Be Translated?, bapak satu anak ini sekarang aktor spesialis cameo tokoh yang penting bagi kisahnya tapi scene minim), tapi jelas dia kebanting sama visual Byeon WooSeok.

Jadilah ayahnya semakin cemas, Ian yang dicintai rakyat akan didukung politisi dan bangsawan. Kekhawatiran ayahnya pun terbukti ketika abangnya berniat mundur dari takhta hanya dalam empat tahun setelah menjabat (spoiler dikit, Ini info dari eps 4 sebenarnya. Raja HuiJong meninggal 7 tahun lalu, sedangkan abangnya 3 tahun lalu).

Fyuh, buset deh, reviewnya hampir bisa jadi satu postingan standar blog saya sendiri, nih. Emang semenarik itu mengikuti Perfect Crown sambil menganalisis bareng fans lain di sosmed.

Baca juga Recap dan Review Perfect Crown :

Episode 1

Posting Komentar