Somewhere Called Home

review novel Somewhere Called Home Dhamala Shobita tahun 2016

Judul : Somewhere Called Home
Penulis : Dhamala Shobita
Penerbit : de Teens
Tahun Terbit : 2016
Tebal Buku : 260 halaman
ISBN : 9786023911783

Blurp :
Manusia adalah kumpulan dari kenang-kenangan yang tertata menjadi satu. Isi kepala manusia mungkin memiliki lebih dari lima puluh persen kenangan. Kenangan bahagia, sedih, marah, semuanya bercampur menjadi satu dan membentuj manusia sejak ia lahir dan menjadi dewasa.

Menurut Benjamin Murray, seorang surfer blasteran Australia-Indonesia, hidup adalah petualangan tanpa henti. Maka dari itu ketika dirinya terlibat lebih jauh dalam kehidupan seorang gadis bernama Lila yang sedang mencari Kakaknya, Ben semakin bersemangat untuk melanjutkan petualangannya. Pertemuan keduanya di pulau Sipora, Sumatera Barat dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan cukup untuk membentuk perasaan antara Ben dan Lila. Sayangnya gadis itu tidak mempunyai waktu lagi dalam hidupnya. Di sanalah perjalanan Ben dimulai.

Review :
Saya tertarik membaca novel ini karena tahun lalu pernah mengikuti giveawaynya dan ternyata tidak menang. Padahal seingat saya, saya mengikuti blogtournya lebih dari sekali. Rasa penasaran saya didorong karena penulisnya, Dhamala Shobita lahir di Pangkalan Kerinci, Riau. Sebuah kota kecil yang kerap saya lalui dalam perjalanan mudik Pekanbaru-Palembang bertahun-tahun yang lalu. 

Saya penasaran bagaimana penulisnya mengangkat Provinsi Riau sebagai setting ceritanya.Ternyata perkiraan saya tidak salah, novel ini mengeksplorasi Sungai Kampar, Riau, dengan Bono alias arus kuat di mulut Sungai Kampar. Fenomena alam yang belum sempat saya saksikan sendiri. Lengkap dengan para surfer 'Bekudo Bono' yang berarti secara harfiah menunggangi bono tersebut bagaikan berkuda.

Selain itu, melalui perjalanan Lila dan Ben (serta Ris), kita diajak mengunjungi berbagai lokasi wisata lain di beberapa propinsi di Indonesia. Lokasi travelling yang mereka kunjungi antara lain Pantai Mapadeggat, Pantai Katiet, Pulau Rinca, Labuan Bajo, Flores; Bukit Doa di Gunung Lokon Manado.

Lebih dari sekedar novel perjalanan, bagi saya novel ini menggambarkan kompleksitas emosi manusia. Tentang cinta platonis, cinta yang universal dan pencarian jati diri dalam perjalanan mencari rumah sejati.

Saya belajar bahwa kadang ada perasaan terdalam yang mendorong manusia untuk melakukan hal-hal yang diluar nalar. Atas nama cinta seorang lelaki bisa menerima istrinya berselingkuh bahkan membesarkan anak selingkuhan tersebut bagaikan anaknya sendiri. Seorang anak bisa meninggalkan Ibu dan adiknya demi memastikan ayahnya tidak melupakan mereka berdua.

Endingnya mengandung plot twist yang awalnya agak sulit saya duga, karena saya membaca novel ini sepotong-sepotong dan bukan sekali duduk seperti biasa. Namun clue yang diberikan masuk akal dan terjalin rapat.

Beberapa kalimat yang qoutable dari novel ini :
  • Kita tidak bisa memilih siapa yang akan menjadi keluarga kita. Harmonis atau nggak, bahagia atau nggak, nggak ada satu orang pun yang bisa memilih akan dilahirkan di keluarga yang kaya saj, atau yang memiliki reputasi yang baik di masyarakat juga
  • orang lain hanya melihat apa yang ingin mereka lihat, medengar apa yang ingin mereka dengar, oleh karena itu banyak orang yang bisa menciptakan keadaan sedemikian rupa. Hanya membuat suatu peristiwa terlohat seperti sesuatu yang ada di dipikiran kebanyakan orang.

Overall, saya beri novel ini 4 bintang dalam akun goodreads saya.