Weaning With Love (or not?)

Definisi Weaning With Love (WWL). langkah-langkah Weaning With Love (WWL). tips Weaning With Love (WWL)., cara menyapih bayi. cara menetop pemberian ASI, Air susu iu
Weaning With Love (WWL) cara menyapih ASI

Annisakih.com Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, keluarga suami saya memiliki beberapa orang generasi ketiga yang hampir sebaya. Ziqri adalah cucu yang paling besar, jadi saya lumayan sering ditanya-tanya soal milestone and how to handle it. Termasuk soal menyapih dari pemberian Air Susu Ibu (ASI).

Sebenarnya Ziqri bukanlah anak ASI ekslusif, dulu juga pernah saya ceritakan, bahwa karena ASI saya belum keluar setelah caesar sementara Ziqri lahir bongsor, Dokter Spesialis Anak yang menangani Ziqri, khawatir gula darahnya drop dan langsung di beri susu formula. Ditambah karena Ziqri tidak terlalu doyan makan, sejak usia setahunan saya sudah memberinya susu UHT sebagai susu ekstra.

Setelah banyak membaca, teknik menyapih yang paling ideal menurut saya ialah dengan Weaning With Love (WWL), menyapih dengan cinta dan kelembutan. Tanpa drama dan paksaan (plus tangisan). Mengikuti perkembangan dan 'kesadaran' dari si anak sendiri. Sehingga si anak dengan perlahan-lahan menjadi tidak menyusu lagi tanpa banyak drama. Tetapi, Ziqri cenderung suka menggigit saya sepanjang menyusu. Sehingga, setelah berdiskusi dengan suami dan ibu saya, sejak usianya 1,5 tahun saya sudah berniat untuk menjadikan ulang tahunnya yang kedua sebagai momen menyudahi pemberian ASI, with or without drama! Begitulah tekad saya.

Ziqri merayakan hari ulang tahunnya yang kedua pada tanggal enam Agustus. Jauh sebelum itu, saya sudah melakukan sounding. Setelahnya saya memberi spare time sekitar sepuluh hari untuk penyeseuaian, mengurangi jatah ASI dan lain-lain. Penghentian total saya lakukan percobaan pertama tanggal 16 Agustus, Ziqri menangis dan merengek. Alhamdulillah, tanggal 17 Agustus langsung Ok dan resmilah berakhir masa-masa saya menyusui.

Inilah 7 langkah saat saya menyapih Ziqri :


1. Kuatkan niat Ibu untuk menyapih
Bedasarkan pengalaman dan pengamatan saya, kegagalan dalam proses menyapih seirngkali sebenarnya berawal dari sang Ibu sendiri. Setiap anak yang akan disapih pasti jadi rewel dan menangis. Benar-benar dibutuhkan niat dan ketegaran hati Ibu untuk sedikit tegaan demi keberhasilan proses penyapihan.

2. Soundingkan ke anak jauh-jauh hari
Saya sendiri mulai mendengungkan bahwa Ziqri sudah besar dan tak boleh mimik lagi sekitar tiga-empat bulan sebelum disapih. Caranya, saya memberitahukan bahwa sebentar lagi Ia akan berulangtahun dan setelah hari Ulang Tahunnya, maka Ia tidak boleh mimik lagi.

3. Perkenalkan dengan susu tambahan beberapa saat sebelum proses menyapih.
Bila akan diperkenalkan dengan susu tambahan, ada baiknya diperkenalkan pada anak beberapa saat sebelum benar-benar menyapih. Tetap dengan di sounding kalau mulai sekarang Ia minum susu dengan cara lain yaitu dengan dot atau gelas tergantung pilihan.

4. Ajak anggota keluarga yang lain untuk bekerja sama.
kompaklah dengan ayahnya, opa dan oma atau anggota keluarga yang lain untuk secara bersama-sama terlibat dalam percakapan yang meyakinkan si anak untuk tidak boleh menyusu lagi pada ibunya. Kesiapan anggota keluarga yang lain ini juga diperlukan pada saat di anak merengek, untuk  membujuk dan mengalihkan perhatiannya.

5. Biarkan ayahnya yang meninabobokan untuk sementara waktu.
Sepanjang tidur berdua, dijamin Ziqri tetap akan mencari kenyamanan dengan menyusu pada saya. Maka, saya sangat bersyukur ayahnya dapat mengambil alih sementara untuk meninabobokan Ziqri selama kurang lebih sepuluh hari dalam "masa tenggang" tadi.

6. Janjikan reward dan tepatilah
Saya menjanjikan pesta ulang tahun sederhana pada Ziqri ketika hari ulang tahunnya tiba. Alhamdulillah saya berhasil menjadikannya hari yang ditunggu-tunggu Ziqri untuk tidak menyusu lagi.

7. Pujilah keberhasilannya.
Sekecil apapun keberhasilan yang diraih, ucapkan pujian, bahwa Ia sangat pintar dan sudah besar karena tidak menyusu lagi.

Alhamdulillah, bagi kami prosesnya lumayan cepat. Memang sih, kesannya saya lebih berorientasi pada hasil dibandingkan proses. Semoga Ibu-ibu yang lain dapat melaksanakan penyapihan dengan lebih banyak cinta dari pada saya. xixixixi