Alkisah Kasih

Review Novel Alkisah kasih karya Lea Agustina Citra yang diterbitkan gramedia Pustaka utama tahun 2016 tentang Andjani dan perjodohan dengan Ardian
alkisah kasih lea agustina citra

Spesifikasi Buku

Judul : Alkisah Kasih
Penulis : Lea Agustina Citra
Penerbit : GPU
Tahun terbit : 2016
Tebal : 304 halaman
ISBN : 9786020331546


Sinopsis

Andjani Safira nyaris memiliki segalanya: kecantikan, kecerdasan, karier, dan popularitas sebagai penyiar berita. Semua itu masih disempurnakan oleh kehadiran pria tampan blasteran Maroko bernama Radja yang pernah menjadi kekasihnya.

Tapi semua itu tak berarti dengan adanya ultimatum Eyang Putri: Andjani harus menikah di usia 25 tahun dengan pria yang belum pernah ia temui! Satu-satunya petunjuk tentang pria itu hanya selembar foto usang seorang anak SMP gemuk berkacamata. Dia menolak ultimatum itu keras-keras. Baginya pernikahan harus berlandaskan cinta dan cintanya hanya satu: Radja.

Sampai akhirnya ia bertemu Ardian, dokter anestesi dengan selera humor payah yang mengajarinya bahwa cinta saja tidak cukup membuat pernikahan bahagia. Dan hal itu yang membuat Andjani berpikir dua kali tentang ultimatum Eyang Putri.

Review

Pertama kali saya menyukai covernya. Minimalis, romantis dengan sentuhan batik yang membawa kesan klasik. Sesuai dengan judulnya "Alkisah Kasih". Dibuka dengan penggalan dongeng dalam bahasa Jawa yang dituturkan secara halus oleh Eyang Putri dari Andjani Safira. Sebenarnya lebih dari sekedar dongeng, Legiun Mangkunegaran ialah bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan penjajah. Eyang Kakung Andjani ialah salah seorang anggota tim elite tersebut. Beruntung, Sang Eyang dapat melalui kerasnya peperangan berkat bantuan sahabatnya. Untuk mempererat hubungan yang terjalin, Sang Eyang berjanji untuk saling menjodohkan kerturunan mereka.

Perjodohan yang telah dirancang untuk dijalani Andjani begitu usianya menginjak 25 tahun, terasa begitu membelenggunya sejak kecil. Ia tumbuh dalam kukungan adat dan tradisi yang terasa begitu otoriter di bawah pengawasan Eyang Putri dan ibunya. Kenyataan bahwa Andjani sampai kabur dari Jogjakarta menuju Jakarta demi bisa kuliah dan mewujudkan impiannya tidak berhasil mengubah pendirian kedua wanita yang telah membesarkannya tersebut. Hanya kepada seorang sepupu lelakinya ia berani mencurahkan perasaannya, malangnya sang sepupu hanya bisa menyelediki sang calon mempelai pria dengan menyerahkan sehelai foto anak lelaki berwajah gemuk dan berkacamata.

Kini, saat usianya memasuki 25 tahun yang dijanjikan, Andjani ialah seorang pembaca berita di salah satu stasiun televisi nasional yang populer. Karirnya cukup diperhitungkan karena kepiawainnya dalam berhubungan dengan narasumber. Andjani berusaha menghindari perjodohan tersebut dengan berpacaran dengan Radja, seorang seniornya sejak bersekolah di SMA berasrama di Jawa Tengah. Radja ialah anak dari Gubernur Sumatera Utara yang tampan, cerdas dan sukses, membuat Anjdani yakin bahwa keluarganya bisa menerimanya sebagai calon suami.

Sayangnya Radja tidak selama sependapat, dengan menyebalkan, ia mengumumkan pertunangannya dengan seorang model terkenal. Kejutan pahit yang membawa Andjani secara tidak sengaja berkenalan dengan seorang dokter anastesi tampan bernama Ardian. Dibalik profesinya yang serius ternyata Ardian seorang yang agak konyol dengan jokes-jokes garing tapi menyentil serta sedikit misterius.

Saya suka persahabatan antara Anjani dengan sahabat perempuannya dan Ardian. Cara penulisnya bertutur juga sangat apik. Bahasa Jawa kromo yang membawa kenangan saya semasa berkuliah di Semarang. Ada yang dilengkapi dengan arti dalam catatan kaki, namun beberapa yang lebih umum diserahkan kepada penafsiran pembaca dari jawaban-jawaban Andjani yang lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Alurnya yang bergerak maju, mengulas masa lalu dalam bentuk flashback dalam satu bab yang terpisah, dan diberi penunjuk waktu yang jelas, sehingga tidak menimbulkan kebingungan bagi pembaca. Sedikit demi sedikit mengungkap rahasia di masa lalu maupun masa depan, mengenai siapakah calon suami Andjani sesungguhnya.

Sebagai orang yang dari kecil anti dijodohkan (karena Alhamdulillah saya tahu persis, kedua orang tua saya juga mati-matian mengelak dari perjodohan sewaktu muda --jadi gak mungkin menjodohkan anak-anakya Hoahaha), buku ini lumayan berhasil memberikan semacam insight baru pada saya. Bahwa tak selamanya perjodohan itu menakutkan, bagai membeli kucing dalam karung atau kiasan lainnya. Cinta itu bisa tumbuh seiring waktu, witing tresno jalaran suko kulino. 

Beberapa kalimat yang quotable dari novel Alkisah Kasih ini :

  • Semua masalah pasti ada solusinya. 
  • Ingat, besok masih ada matahari. Masih ada harapan. 
  • Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda paling bernilai. 
  • Semua pekerjaan butuh proses dan perjuangan. 
  • Bagi wanita, tak ada yang lebih membahagiakan selain menghabiskan sisa hidup bersama pria yang mencintai dan menjunjung wanita itu tinggi-tinggi.
  • Percaya deh, semua manusia sudah ada jodohnya masing-masing.
  • As you know, first love never dies but true love could bury it! 
  • Kalo lo meramalkan masa depan lo bakal baik-baik saja, maka nggak bakal pernah ada perceraian. 
  • Mencintai itu hendaknya di kala susah maupun senang. 
  • Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai.
  • Cinta tidak boleh berdiri di atas keegoisan.
  • Orang baik pasti disayang Tuhan. 
  • Jangan mengecilkan kuasa Tuhan. Di dunia ini tidak ada sesuatu yang kebetulan.

Overall, untuk buku yang manis dan membuat saya merasakan kehangatan hubungan antara nenek-ibu-anak perempuannya, saya beri 4 bintang di akun goodreads saya

Review ini saya sertakan dalam IRRC 2017 dan Proyek Baca Buku Perpustakaan 2017