Seminggu Mengajar di Madrasah Aliyah. First Impression

Seminggu Mengajar di Madrasah Aliyah. pandangan dan pengalaman pertama menjadi seorang guru MA
Hai Assalamualaikum..

Januari hampir berakhir dan ini baru postingan saya yang ke tiga. Sungguh bulan yang tidak produktif dalam menulis plus blogwalking.

Penyebabnya, jelas, setelah menghelat pesta pernikahan adik saya, selama seminggu terakhir saya resmi menyandang status cikgu alias guru.

Ketika ditawari pekerjaan ini, saya tanpa ragu-ragu mengiyakan. Padahal belum bertanya pada suami segala lho.. Karena berita yang saya peroleh tersebut, saya terima pertelefon. Jadi setelah telefonnya ditutup baru saya kepikiran macam-macam. Ziqri gimana? Suami ngizinin ga ya? Jadwal mudik saya ke Tanjung Balai gimana? Terakhir baru deh mikirin mau ngajarnya gimana.

Kalau soal materi, iya saya sempat bingung nyari-nyari buku pegangan. Selebihnya, saya merasa bahasa Inggris itu adalah skill. Ibaratnya naik sepeda, sekali bisa, meski agak kagok, tinggal dilatih sedikit InsyaAllah sudah bisa ngebut lagi.

Alhamdulillah, saya masih menyimpan seluruh buku les saya di LIA. Lembaga Bahasa Inggris tempat saya mengikuti kursus sejak zaman SMP hingga SMA. Saya baca- baca ulang untuk referensi.

Tibalah hari pertama saya masuk mengajar. Selain saya hanya ada beberapa orang guru lain yang mengajar. Sekolahnya imut-imut dengan jumlah siswa perkelas masih bisa dihitung dengan jari tangan plus kaki. 


Bagaimana catatan kisah saya selama seminggu ini?
1. Persiapan
 Saya yang biasanya kudul alias tak berdandan dan sering ke pasar pagi tanpa mandi dulu ini, 'terpaksa' mulai memperhatikan penampilan. Diawali dari membawa baju-baju yang sekiranya appropriate sebagai guru dari rumah Tanjung Balai. Plus membawa tas makeup yang telah lama terlupakan. Termasuk mengisinya dengan perintilan yang sudah habis atau keburu kadaluarsa saking tak terjamah semacam eyeliner.

Waknga saya turut menghadiahi sepasang sepatu berwarna hitam yang nyaman dikenakan. 

Hasilnya? Saya kena ledek habis-habisan saat menghadiri acara mendoa setahunan tetangga depan rumah. Komentarnya mulai dari mendadak feminim sampai ada yang mau mendaftarkan anaknya les di rumah. Hohahaha! Minimal, para tetangga dengan baik hati turut mendoakan kesuksesan saya. Aamin YRA

2. Mengajar
Ternyata mengajar tidak segampang itu saudara-saudari! Sebelum menyampaikan materi, kita sebagai guru harus mempersiapkan dan menyusun silabus bahan ajar, Perangakat Pembelajaran serta Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). 
Berisi standar kompetensi, indikator pencapaian hasil, tujuan pembelajaran, materi, metode atau teknik pembelajaran, strategi pembelajaran serta edenbre-edenbray lainnya.

Tujuannya memang untuk membuat pembelajaran fokus, dapat dipertanggungjawabkan dan memudahkan si guru sendiri. Tapi, bagi saya, yang tidak memiliki basic sarjana pendidikan, agak syok juga. Terutama karena peralihan penggunaan kurikulum 2013 edisi revisi, membuat saya harus mengerjakan lagi dari nol, tidak bisa meniru peninggalan pengajar yang lama.
Ada tiga kelas yang harus saya garap RPPnya sambil menjalani aktivitas mengajar. 

Tebalnya yang alamakjang membuat level sulitnya ibarat harus ngerjain skripsi lagi huhuhuhu *enggak lebay* Lah, wong skripsi saya ga nyampe dua ratus halaman begini. Padahal baru untuk satu semester lho..

Selebihnya so far so good. Saya sudah sampaikan bahwa saya tidak memiliki basic keguruan atau pendidikan bahasa Inggris. Ketika saya melakukan kesalahan, mohon dikoreksi misalnya tulisan saya yang tak terbaca atau ocehan saya yang terlalu cepat. 

3. Kids zaman now
Sesuai dugaan, pelajar saat ini makin kritis. Pertanyaannya banyak yang tak terduga. Banyak kejadian-kejadian yang sebenarnya lucu. Misalnya ada siswa yang saat diminta mengerjakan tugas malah sibuk menjahit celana di dalam kelas. Padahal cowok lho.. (ya ialah kan siswa, kalau cewek jadi siswi *kriuk *garing).

Saya mengajar bahasa Inggris langsung di tiga kelas, yaitu X, XI dan XII. Sebanyak dua belas jam pelajaran per minggu ditambah dua jam pelajaran untuk terobosan kelas XII. Sebagian besar para siswa telah memiliki pemahaman bahasa Inggris yang lumayan. Sisanya ada yang masih harus dibimbing dengan level anak SMP atau bahkan dasar sekali. *hela nafas panjang*

4. Family Matter
Last but not least, ternyata suami saya suportif sekali. Begitu saya cerita tentang pekerjaan ini, belum apa-apa beliau sudah menawarkan membawa Ziqri ke kantornya di jam saya mengajar. Memang sih, kadang Ziqri ikut ke kantor ayahnya, tapi durasinya pendek hanya setengah hingga satu jam. Sekarang durasinya lebih lama, bisa setengah harian tergantung jadwal saya.

Sepertinya suami saya semangat karena melihat saya bersemangat memiliki aktivitas baru yang positif. 

Jadwal mengajar saya kebanyakan masuk siang dan saya memang dibolehkan hanya hadir saat ada jam saja. Hal ini semakin mempererat kekompakan kami dalam manajeman waktu dan komunikasi. Yang penting kami sama-sama tahu posisi Ziqri, apakah sedang di Kantor ayahnya ataukah saya tinggalkan di rumah mbahnya. 

Ziqri gimana? Alhamdulillah, meski di hari kedua sempat menangis tersedu-sedu karena mencari-cari saya atau ayahnya. Hari-hari berikutnya masih aman. Malah bisa dibilang Ziqri juga ikut lebih disiplin. Misalnya setiap pagi mau mandi tanpa banyak drama. Bahkan dia sudah bisa mandi sendiri. Hanya butuh supervisi saja, apakah busa sabunnya sudah benar-benar bersih atau belum.

Target jangka pendeknya, saya ingin pelajar saya memahami bahasa Inggris yang paling dasar dalam kemampuan berbicara maupun secara tertulis. Lebih baik lagi, jika kompetensi yang disyaratkan standar setiap satuan ajar dapat dicapai sepenuhnya.

Mungkin ke depannya saya bisa bercerita mengenai tantangan pendidikan bagi anak-anak hinterland (gugusan pulau-pulau kecil) termasuk Belakang Padang. Untuk saat ini sekian dulu yang bisa saya bagikan. 
See you next time!