Belajar Bahasa Inggris Itu Mudah (?)

Pengalaman belajar bahasa Inggris dan menjadi pengajar bahasa Inggris di Madrasah Aliyah


"Belajar bahasa Inggris itu mudah, Bu. Yang susah mengaplikasikannya"

Ungkapan lugu-lugu-lucu dari salah seorang murid saya.

Sengaja, nama dan gender saya samarkan, soalnya saya baru saja mengajarkan anak kelas XI membuat email dan (rencananya) blog, jadi saya sudah mempublikasikan blog ini ke peserta didik saya.
#TutupMuka #KetauanAbalAbilnya #TapiKoqPageviewsSayaStabilAja? #Sedih #Hoahahaha..

Baca juga : Seminggu Mengajar di Madrasah Aliyah

Balik lagi ya.. Dari ungkapan sepintas lalu itu, saya jadi berpikir keras. Kalau kata orang Melayu, "iye, ke?" Atau bahasa Indonesia gaulnya "Masak, sih?" 
#Di #Dapur #kriuk

Alhamdulillahnya, bagi saya, belajar bahasa Inggris memang tidak sesulit itu karena beberapa alasan. Yang pertama, kedua orang tua saya sedari dini sudah menyadari tantangan era globalisasi. Saya sangat bersyukur, keduanya memfasilitasi saya untuk belajar bahasa Inggris, baik melalui kursus maupun media belajar lainnya. Prinsip ayah saya, biarlah Ia capek mengantar jemput saya les, asal saya (lumayan) casciscus.

Alasan kedua, saya memang suka. Bagi saya lebih mudah melukiskan perasaan melalui -katakanlah- lagu berbahasa Inggris. Bukannya saya sok -sokan apa gimana ya, justru karena saya kurang memahami arti lirik lagu yang puitis dalam bahasa Indonesia. #likeSeriously! Iya, saya juga suka pelajaran dan belajar bahasa Indonesia, tapi untuk urusan puisi-puisian, saya angkat tangan. 

Plus, sejak SD tontonan saya adalah serial Friends, 90210 dan film-film Hollywood lainnya. Masalah sebenarnya dari segi cerita tidak sesuai dengan usia saya, itu perkara lain lagi. Yang jelas, salah satu memori terindah adalah saya nonton Jurrasic Park di bioskop  bareng orang tua dan adik. Makin kesini, saya makin memanfaatkan tontonan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris saya.


Alasan ketiga, saya bersekolah di sekolah favorit di Pekanbaru sejak jenjang pendidikan dasar hingga sekolah menengah atas. Tak bisa dipungkiri, atmosfir pendidikan yang kompetitif sangat terasa. Semua murid berpacu untuk menjadi yang terbaik (bukan yang terhebat lho yaaa). Sekolah pun memiliki fasiltas dan kegiatan yang mumpuni. Contohnya, di SMA saya, ada lab bahasa lengkap dengan komputer dan earphone untuk setiap siswa. Ada "English Day" setiap hari Sabtu, dimana setiap kelas secara bergantian menampilkan performance dalam bahasa Inggris, mulai dari drama, tari, lagu bahkan cheerleading.

Semua alasan itu, membuat proses "belajar" saya terasa menyenangkan dan tanpa keterpaksaan.

Nah, realita yang saya hadapi di sekolah yang saya ajar saat ini, agak berbeda. Tidak ada lembaga kursus tambahan di pulau Belakangpadang ini. Fasilitas maupun kegiatan sekolah pun terbatas. Memang dari segi kemajuan teknologi, seharusnya bisa lebih menolong.

Misalnya saat saya meminta mereka memberikan contoh kata sifat yang berlawanan arti setelah ditambahi awalan "Un", maka jawaban yang keluar ialah "unblock, unfollow, unfriend" Hoahahahaha Ga sepenuhnya salah sih, tapi kata-kata diatas sebenarnya bukan kata sifat melainkan kata kerja.

Psst.. contoh jawabannya : "Happy" jadi "unhappy", 

Tapi, ternyata kemajuan teknologi yang berwujud telepon selular itu pun belum dimanfaatkan secara optimal. Kebanyakan ya digunakan untuk fitur foto atau online untuk membuka medsos atau aplikasi ngobrol.

Sayang banget 'kan ya? Okelah, terkadang digunakan untuk mencari alias browsing tugas atau materi yang berkaitan dengan pelajaran sekolah. Padahal, dari segi simplenya, coba jangan ubah pengaturan bahasa dari Inggris ke Indonesia. Baik dari handphonenya maupun aplikasinya. Lumayan lho, sudah berapa kosa kata dan tatanan kalimat yang bisa dipelajari?

Jadi, definisi mudah dalam belajar (dan mengajar) bahasa Inggris bagi mereka, berbeda dengan standar saya. Ini artinya, tantangan buat saya, bagaimana menyukseskan anak-anak kelas XII yang akan menghadapi UN di bulan April. Ditambah anak-anak kelas X serta XI seluruhnya tuntas ketika menghadapi ujian kenaikan kelas. Bagaimana cara saya membuat proses belajar bahasa Inggris menjadi menyenangkan dengan segala keterbatasan yang ada, dalam waktu yang sebegini singkat?

Setelah berkontemplasi, akhirnya saya malah menertawakan diri saya sendiri. Bukankah saya "sukses" mengajari seorang anak manusia, dari yang tidak pandai berkata apa-apa hingga ketika baru berusia hampir dua tahun ceriwisnya minta ampun?


Yap, saya mendapatkan ilmunya dari Ziqri, anak saya sendiri! Faktanya adalah setiap bayi terlahir tanpa kemampuan berbicara. Kemudian, seiring berjalannya waktu, lama-kelamaan Ia akan mendengar kata-kata yang familiar baginya. Biasanya kata-kata yang sering di dengarnya, akan Ia pahami artinya kemudian akan Ia imitasi dan tirukan. Dimulai dari pelafalan yang tidak sempurna, hanya "Num" untuk meminta minum, lalu berlanjut "minum" hingga satu kalimat untuh : "Ziqri mau minum". Lebih lanjut, Ia akan merangkai kalimat-kalimat tersebut menjadi suatu cerita.

Dari analogi diatas, saya menemukan kunci untuk memudahkan siswa di tatanan sekolah menengah atas (SMA/MA) untuk belajar bahasa Inggris, atau bahasa lainnya.  Tahapan yang harus di lalui dengan selalu berlatih : 

1. Expression (ungkapan) :
Mengasah kemampuan listening (mendengarkan) dan speaking (berbicara).
Ini adalah kemampuan dasar, karena toh anak-anak belajar berbicara sebelum pandai membaca, bukan? 

Yang terpenting mau dan berani berbicara, Salah secara tata bahasa tak mengapa, akan saya koreksi langsung dan dari mendengarkan saya, kedepannya kesalahan tersebut tidak akan diulangi seluruh siswa dikelas. 

2. Grammar (tata bahasa) : 
Tenses dan lainnya, dipelajari mengacu kepada buku cetak, sesuai materi yang harus dikuasai pada setiap semester. Untuk Kelas XII mereview kembali seluruh materi.

3. Paragraph / text : 
Mengasah kemampuan reading (membaca) dan writing (menulis). Yang harus diperhatikan ialah struktur cerita (naratif, deskriptif, etc), tanda baca (punctuantion), spellling (ejaan) plus grammar.

4. Vocabulary
Ada pendidik yang menempatkan penguasaan vocabulary di awal belajar, misalnya menghapalkan kosa kata mengenai suatu topik. Menurut pendapat saya, vocabulary bisa diperkaya sambil memperdalam ketiga tahapan pendahulu. 

Sebagaimana anak-anak, dengan semakin banyak mendengar dan membaca, maka kosa kata kita akan semakin meningkat pula. Sebaliknya, semakin banyak kosa kata yang dikuasai, maka akan semakin memudahkan kita dalam setiap aspek.

Setelah memiliki kompetensi minimum di atas diharapkan setiap siswa mampu menganalisa setiap soal ujian, baik lisan maupun tulisan dan menjawab dengan tepat. Sekaligus, mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. 

Doakan saya sukses menerapkan langkah-langkah diatas dengan cara yang semenyenangkan mungkin. Agar para murid bisa menganggap belajar Bahasa Inggris itu mudah. Hingga pada akhirnya, mereka bisa dengan percaya diri mengatakan bahwa lulusan MA Amanatul Ummah mampu berbicara dalam 3 bahasa (Indonesia, English dan Arabic). Aamin YRA.