Lancar Membaca Nyaring Dalam Bahasa Ibu bersama Let's Read

Lancar Membaca Nyaring Dalam Bahasa Ibu bersama Let's Read

Lets Read membaca nyaring

Ziqri dan Kemampuan Berbahasa Ibu Sebagai Bahasa Pertama

Ziqri, putra saya, termasuk anak yang cepat bisa berbicara. Alhamdulillah sejak usia setahun kosa katanya lumayan banyak. Pelafalannya pun cukup jelas untuk anak seusianya, tentu atas seijin Allah dan berkat beberapa langkah stimulasi yang kerap saya lakukan, diantaranya rajin berkomunikasi dan sering membacakan buku cerita kepadanya sedari dini.

Sebagaimana yang saya sempat abadikan di instargam, Ziqri di usia 20 bulan telah mengetahui dan bisa mengindentifikasi truk yang dia lihat dalam buku. Saat itu kami sedang berkunjung ke Perpustakaan daerah Kabupaten Karimun

Baca juga : Perpustakaan Daerah, Sepotong Surga di Karimun

Bahasa yang saya --dan anggota keluarga lain-- gunakan untuk berkomunikasi dengan Ziqri di tahap awal kehidupannya ialah bahasa Indonesia yang kental dengan bahasa ibu. Ziqri tumbuh menjadi anak yang fasih berbahasa Indonesia dengan tambahan kosa kata dari bahasa ibu sesuai asal saya --Palembang-- dan asal ayahnya --bahasa Jawa--  serta Bahasa Melayu dengan dialek Kepulauau Riau, dimana kami menetap pada saat itu.

Baca juga : Kamus Mini Bahasa Malay 

Bahasa Ibu ialah suatu bahasa yang digunakan sebagai bahasa pengantar, atau bahasa pertama kali saat seorang ibu bertutur dan berinteraksi dengan anak-anaknya.

Sebagai negara yang kaya akan suku bangsa, Indonesia memiliki pelbagai bahasa ibu yang identik dengan bahasa daerah masing-masing. Bahkan suatu daerah bisa saja memiliki beberapa bahasa yang berbeda-beda, ditambah dengan dialek yang berbeda pula. 

Berdasarkan data dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Badan Bahasa Kemendikbud), di tahun 2018 telah dipetakan dan diverifikasi 652 bahasa daerah di Indonesia. Jumlah tersebut tidak termasuk dialek dan subdialek. Dialek sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah  variasi bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai, misalnya bahasa dari suatu daerah tertentu, kelompok sosial tertentu, atau kurun waktu tertentu. Jadi kita sering mendengar, misalnya Bahasa Jawa Kromo Inggil (lebih halus dan sopan) atau Bahasa Jawa dengan dialek Banyumasan, yang banyak digunakan disebagian wilayah Pulau Jawa.

Urgensi Mempelajari Bahasa Ibu 

Di keluarga kami sendiri, ada tantangan baru terkait dengan penggunaan bahasa ibu ini. Pertengahan tahun 2020, kami sekeluarga pindah dari Kepulauan Riau ke kampung halaman saya di Sumatera Selatan. Di kabupaten ini sekurang-kurangnya ada enam bahasa ibu yang memiliki dialek berbeda-beda pula. Saya sendiri, selaku ibunya Ziqri, hanya faham satu bahasa saja, yaitu bahasa Semendo. Itu pun saya tidak terlalu fasih, sesuatu yang cukup saya sesali juga. Sempat ada keragu-raguan, bisakah Ziqri beradaptasi dengan lingkungan baru yang memiliki bahasa daerah baru pula?

Memang kenyataan yang terjadi saat ini, tanpa disadari banyak bahasa ibu yang semakin lama semakin sedikit penutur aslinya. Penyebabnya bermacam-macam, dari yang saya amati misalnya karena pergesaran budaya ke arah yang semakin global. Banyak orang tua masa kini yang seolah enggan mengajari putra-putrinya bahasa ibu. Bisa jadi demi kepraktisan, karena ayah dan ibu memiliki bahasa ibu yang berbeda, sehingga pada akhirnya di rumah diutamakan menggunakan bahasa nasional saja. Atau ada juga kenalan yang menganggap bahasa daerah kurang keren dibandingkan penguasaan bahasa asing.

Menilik data dari UNESCO dalam Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional, tanggal 25 febuari 2020, secara global 40 persen populasi di dunia tidak lagi memiliki akses ke pendidikan dalam bahasa ibu. Indonesia telah mengkaji hal ini melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikbud, hasilnya ada 11 bahasa ibu yang telah punah dari bumi pertiwi. Sungguh sangat disayangkan, bukan?

Kenapa Kita Harus Belajar Bahasa Ibu? 

Tentunya selain menjaga agar bahasa ibu tetap lestari, karena sangat banyak manfaat positif yang bisa kita petik, khususnya bagi generasi penerus :

  • >Bahasa ibu yang sering dipakai dalam keseharian membuat anak lebih mudah memahami kosa kata. Pada akhirnya akan menstimulasi kecerdasan linguistik atau kecerdasan berbahasa. Kecerdasan linguistik ialah kemampuan seseorang untuk mengungkapkan apa yang dipikirkan dan dirasakan melalui kata-kata (verbal) atau tulisan. Semakin tinggi kecerdasan linguistik maka penguasaan akan bahasa semakin tinggi yang ditandai dengan kemampuan berkomunikasi dua arah dengan tatanan bahasa yang baik. Anak-anak tentu perlu diasah kemampuan linguistiknya sebagai bagian dari multiple intelligence yang pada akhirnya akan meningkatkan kemampuan berinteraksi sosial
  • Anak-anak akan mudah mengenali dan memiliki rasa persaudaraan dengan orang-orang di sekelilingnya yang mampu bercakap-cakap dengan bahasa yang sama. Sekaligus mereka dapat diajarkan rasa toleransi kepada orang-orang yang berasal dari pengguna bahasa ibu yang berbeda
  • Dalam pergaulan sehari-hari, masyarakat seringkali menggunakan bahasa daerah masing-masing. Apalagi dalam ruang lingkup anak-anak yang masih jauh dari kata formal. Penggunaan bahasa ibu membuat anak lebih mudah diterima oleh teman sepermainan. Ziqri pun menjadi lebih cepat akrab dengan teman-teman baru.
  • Dengan memahami bahasa ibu, anak lebih mudah memahami kebudayaan asli. Hal ini disebabkan kadangkala memang tidak semua kata dalam bahasa ibu telah ada kata serapan atau padanan yang benar-benar sesuai dalam bahasa Indonesia.
  • Anak-anak yang menguasai bahasa ibu sesungguhnya telah menjadi bagian dari upaya melestarikan bahasa daerah. Bahasa daerah merupakan bagian dari khazanah kekayaan budaya Indonesia. Mencintai dan mewariskannya kepada generasi selanjutnya merupakan tanggungjawab sekaligus perwujudan rasa nasionalime dan kecintaan pada tanah air.
  • Meski saat ini sedang pandemi, sektor pariwisata masih dapat bergeliat dengan mengandalkan wisatawan lokal. Salah satu poin yang dapat dijadikan daya tarik misalnya desa wisata, di mana para pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan para penduduk asli. Tentunya dengan mengamati penggunaan bahasa ibu dalam aktivitas keseharian mereka, akan membuat pengalaman berwisata akan semakin kaya dan mengesankan.

Cara Meningkatkan Kemampuan Anak Untuk Bisa Berbahasa Ibu

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa pada umumnya. Langkah yang biasa Ziqri lakukan ialah :

1. Berkomunikasi Dengan Anggota Keluarga

Ziqri kerap berbicara dengan anggota keluarga besar dari pihak ayahnya menggunakan Bahasa Melayu dan sentuhan Bahasa Jawa. Sedangkan apabila berkumpul dengan keluarga besar saya Ia akan lebih banyak terpapar Bahasa Palembang. Dari interaksi sederhana ini, terjadi transmisi atau aliran arus bahasa yang diserap Ziqri dengan lumayan baik.

2. Bergaul Dengan Teman Sebaya dan Lingkungan Sekitar

Berdasarkan pengalaman, anak-anak memiliki kemampuan penyerapan bahasa yang lebih cepat. Hal ini dialami Ziqri. Meskipun sedang menjalani kegiatan belajar daring dan hanya bertemu segelintir teman-teman baru dilingkungan tetangga, Ia mampu menyerap banyak kosakata bahasa daerah baru.

3. Pelajaran di Sekolah

Sejak tahun 1951, badan PBB yang bergerak dibidang pendidikan keilmuan dan kebudayaan, UNESCO telah merekomendasikan penggunaan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pendidikan. Alasannya, yakni :

  1. Secara psikologis, bahasa ibu merupakan alat berpikir sejak anak lahir.
  2. Secara sosial, bahasa ibu dipakai dalam komunikasi sehari-hari dengan lingkungan terdekatnya.
  3. Secara edukasional, pembelajaran melalui bahasa ibu mempermudah proses penyerapan ilmu pengetahuan di sekolah dan proses pendidikan pada umumnya.

Disisi lain, bahasa daerah dalam kurikulum pendidikan tahun 2013 dapat dijadikan salah satu mata pelajaran muatan lokal. Penetapan dilakukan oleh Pemerintah Daerah masing-masing yang memang sudah memahami urgensi pentingnya penguasaan bahasa daerah.

4. Melalui Media Ajar

Media ajar yang dapat di gunakan dapat bermacam-macam. Secara konvensional misalnya melalui mengajak anak menyaksikan pementasan aneka kesenian daerah, contohnya wayang, ludruk dan lain sebagainya. Atau yang lebih sederhana dan bisa diaplikasikan di rumah oleh setiap orang tua ialah dengan rutin membacakan dongeng bagi ananda terkasih. 

Membaca dongeng secara nyaring dengan bahasa daerah ibarat sekali dayung, dua atau tiga pulau terlampaui. Anak kita dapat belajar bahasa ibu dengan penerapan kosa kata yang lebih mumpuni berkat adanya intonasi dan mimik yang ditampilkan ayah atau ibu. Kegiatan ini tentunya merekatkan bonding dengan anak sambil bersama-sama menggali hikmah yang terkandung dalam dongeng.

Sumber dongeng dapat berupa  cerita turun temurun maupun yang kekinian melalui buku cerita bergambar yang dibacakan. Gambar-gambar yang ada dapat membuat cerita semakin menarik dan menyenangkan. 

Pendekatan lainnya di era internet of things ini tentunya dengan memanfaatkan media teknologi. Tentu kita tidak boleh sembarang pilih. Harus yang berkualitas, terutama telah terverifikasi ahli linguistik. Favorit saya dan Ziqri salah satunya ialah menggunakan Let's read.

Let's Read

Let's read ialah perpustakaan digital untuk anak yang di gagas sebagai bentuk peran aktif The Asia Foundation melalui program Book For Asia. Diharapkan dengan kehadirannya dapat menjadi sarana pendorong kecintaan terhadap dunia literasi dan meningkatkan minat baca bagi anak-anak di kawasan Asia. Tujuan akhirnya ialah efek berantai yang mampu meningkatkan taraf hidup di wilayah Asia itu sendiri.

The Asia Foundation


11 Keunggulan Let’s Read

11 keunggulan Lets read

1. Kolaborasi Dalam Booklabs

Cerita yang dihadirkan seluruhnya memiliki kualitas tinggi. Dikerjakan dengan sepenuh hati oleh para penulis dan dibuat ilustrasinya oleh illustrator berbakat. Kemudian cerita tersebut disunting oleh editor dan didesain sebaik mungkin oleh para sukarelawan dari seluruh Asia. Langkah teraakhir ialah dengan menerjemahkannya kedalam bahasa dan aksara asli masing-masing daerah. 

2. Akses Gratis

Let's read  dapat digunakan oleh siapa saja di mana saja. cukup mengakses https://www.letsreadasia.org atau mengunduh aplikasinya di Google play store. 

unduh

3. Antarmuka Menarik

halaman antarmuka Let's read baik versi web maupun aplikasinya sama-sama mudah digunakan. Tampilannya simpel dengan didominasi warna hijau yang cerah. Navigasi dilakukan dengan mengarahkan kursor atau klik di fitur yang kita inginkan.

4. Responsif dan Kompatibel dengan Berbagai Layar Gadget

Let's read dapat diakses melalui laptop atau PC untuk versi web. Versi aplikasi kompatibel dengan berbagai macam gadget yang ada. Aplikasinya responsif menyesuaikan dengan ukuran layar gadget sehingga tetap nyaman dibaca.

5. 51 Pilihan Bahasa

berkat kerja keras para translator saat ini di Let's read kita sudah bisa membaca cerita yang diterjemahkan kedalam kurang lebih 51 pilihan bahasa. setiap sampul buku digital langsung dilengkapi dengan tanda bahwa buku tersebut tersedia dalam suatu bahasa tertentu. Atau kita bisa juga langsung melakukan filterisasi terhadap pilihan bahasa yang kita inginkan. Senang sekali bahwa bahasa Ibu asli Indonesia pun telah ada pilihannya. Sebut saja bahasa Jawa, Sunda, Bali dan Batak Toba.

6. Ada Pilihan Level Membaca

Fitur unggulan lainnya ialah kita bisa langsung memiloih level membaca yang disesuaikan dengan kemampuan anak. Di tahap awal, saya mengenalkan Ziqri dengan buku-buku dari seri buku pertama ku. Setelah kemampuan membacanya meningkat maka ia mulai memberanikan diri membaca di level selanjutnya yaitu level satu dan dua.

7. 14 Pilihan Genre

Alternatif filterisasi yang lain ialah berdasarkan genre bacaan. Ada 14 genre yang bisa dipilih yaitu : superhero, sains, berpikir kritis, petualangan, binatang, seni dan musik, problem solving, alam, non-fiksi, kesehatan, dongeng, komunitas, keluarga dan persahabatan hingga kesetaraan gender melaui tag mighty girl.

8. Ada Fitur Pencarian

Fitur ini sangat berperan penting apabila suatu saat kita ingin mencari judul yang sudah pernah kita baca dan ingin dibaca ulang kembali. Cukup ketikan satu atau dua kata kunci atau nama pengarang dari buku tersebut.

9. Ilustrasi Indah dan Keterbacaan Tinggi

Ilustrasi yang dihadirkan Let's read sangat mengagumkan. Poin plus berikutnya ialah karena di gambar oleh ilustrator yang berbeda-beda, maka pilihannya  pun beragam jadi tidak membosankan. Keterbacaannya tinggi karena gambar dapat di zoom dan untuk tulisan disediakan tiga pilihan ukuran huruf yang dapat diatur dengan mudah.

10. Bisa Diunduh dan Dicetak.

Buku yang tersedia di Let's read bisa diunduh kemudian dibaca tanpa menggunakan kuota data dari internet. Jika diarasa perlu, hasilnya dapat dicetak dalam bentuk PDF atau EPUB. melalui versi web. Posisinya pun bisa ditentukan berupa potrait, landscape atau booklet.

11. Perpustakaan Online untuk Anak

Setiap cerita mengandung nilai-nilai universal yang maknanya mendalam.

7 Manfaat menggunakan Let's Read

1. Sarana Pemenuhan Hak Anak

hak Anak PBb


Let's read memiliki nilai rekreatif dan edukatif. Dimana merupakan kewajiban orang tua untuk memenuhi setiap hak anak sebagaimana tercantum dalam Kovensi PBB tahun 1989 tentang Hak Anak. Berdasarkan amanat konvensi tersebut Indonesia telah mengakui dan merativikasi dengan mengeluarkan Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 dan diperbarui dengan Undang-undang nomor 35 tahun 2014. 

Melaui kisah yang termuat di dalam Let's read anak dapat memperoleh pembelajaran nilai kesetaraan gender dan mendapatkan perlindungan

2. Memanfaatkan Jatah Waktu Bermain Gadget Dengan Pilihan yang Lebih Baik

Sulit rasanya mencegah anak-anak zaman untuk bebas sama sekali dari gadget. Meski jauh dari kata ideal, atas kesepakatan bersama, Ziqri pun masih menggunakan gadget kurang lebih 30 menit setiap harinya. Berkat Let's read, saya dan ayahnya sebagai orang tua bisa memanfaatkan waktu bermain tersebut dengan mengajaknya membaca buku digital.

3. Meningkatkan Kemampuan Membaca Nyaring

Kini, memasuki usia sekolah dasar, sesungguhnya Ziqri sudah pandai membaca.  Terinspirasi dari tantangan membaca nyaring yang digalakkan Let's read di sosial media, kami secara bergantian saling membaca buku-buku yang tersedia. Alhamdulillah kemampuan membaca Ziqri meningkat pesat.

4. Meningkatkan Minat Membaca

Sedari kecil Ziqri sudah saya akrabkan dengan buku-buku bacaan. Sayangnya, anaknya cenderung cepat bosan akan buku-buku bacaan yang sudah dimilikinya selama ini. Mau meminjam ke perpustakaan daerah, sayangnya sedang pandemi. Budget membeli buku pun terpaksa dialokasikan untuk kebutuhan lain. Keberadaan Let's read mampu menjadi solusi. Menarik minat Ziqri untuk membaca menyenangkan.

5. Meningkatkan Bonding Anggota Keluarga


Sejak pindah, Ziqri menjadi lebih akrab dengan Opa dan Oma dengan cara melakukan banyak kegiatan bersama. Opa lah yang kerap membacakan Ziqri dongeng dalam versi Bahasa Jawa di Let's read . Momen yang menyenangkan bagi keduanya, karena mereka bisa tertawa-tawa membahas arti kata-kata yang kurang dipahami Ziqri. 

6. Menambah Kosa Kata Bahasa Ibu dan Pilihan Bahasa Lain Yang Ingin Dipelajari

Selain kosa kata dalam bahasa ibu, Ziqri mulai belajar Bahasa Inggris di sekolah. Ia senang sekali saat mengetahui, di Let's read juga ada pilihan terjemahan dalam bahasa internasional tersebut. Sedikit demi sedikit, Ia mulai menunjukkan ketertarikan dan meminta saya atau ayahnya membacakan buku dalam dalam bahasa Inggris.

7. Menambah Cakrawala Imajinasi dan Wawasan

Semenjak pandemi merebak, Ziqri lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja. Untuk mengembangkan imajinasinya Let's read cukup efektif. Contohnya salah satu judul buku yang disenanginya ialah "Udan-Udan", sesuai banget dibaca di musim penghujan begini. Ziqri jadi memahami fungsi hujan bagi manusia, hewan dan tumbuhan sekaligus jadi ingin ikutan main hujan dan serunya becek-becekan hehehee...

❤❤❤❤❤❤

Sesungguhnya tidak ada kata terlambat dalam mengenalkan suatu bahasa, apalagi bagi anak-anak yang tingkat keingintahuan tinggi dan daya ingatnya masih baik. Bersama Let's read kita bersama-sama bisa melestarikan bahasa ibu kepada generasi selanjutnya. Ayo membaca secara nyaring satu cerita setiap hari kepada anak untuk memperkaya kosa kata dalam Bahasa Ibu. Bila Ia sudah mampu membaca sendiri, mintalah ananda yang membaca. 

Bagi teman-teman yang memiliki pengalaman serupa saya dan Ziqri, yuk sharing pengalamannya di kolom komentar ya..


Artikel Ini diikut sertakan dalam lomba Blog Lets Read dan Blogger Perempuan.
Sumber :

-Tangkapan Layar Let's Read dan The Asia Foundation.org
-Jaga Bahasa Daerah dari Kepunahan, http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/berita/2804/jaga-bahasa-daerah-dari-kepunahan, diakses pada 07 Januari 2021
-Cegah Bertambah Punahnya Bahasa Daerah, Kemendikbud Lakukan Pelindungan Bahas, ahttps://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/02/cegah-bertambah-punahnya-bahasa-daerah-kemendikbud-lakukan-pelindungan-bahasa, diakses pada 07 Januari 2021
Editor Infografis : Canva