" ".

Recap dan Review Would You Marry Me? Episode 5

Table of Contents


Recap Would You Marry Me? Episode 5

MeRi langsung memutuskan telpon WooJoo1 (dan memblokirnya) setelah menyadari si brengs*k itu  yang berada diujung sambungan. Memang dasar tak tahu diri, dengan santai Ia masih menganggap MeRi pura-pura jual mahal.

MeRi cemas WooJoo1 tahu tentang kemenangan "mereka" dalam undian Toserba Beaute. Pikiran segera teralih ketika mengangkat telpon dari WooJoo, mereka berjanji akan bertemu keesokan hari di kantor Myunsoondang karena MeRi ada meeting di sana. MeRi ragu mengganggu WooJoo dengan kepulangan WooJoo1.

WooJoo yang masuk ke rumah melihat neneknya di halaman. Beliau menanyakan apakah Ia senang bekerja di Myunsoondang dan WooJoo menjawab dengan realistis "Kerja ya kerja, siapa yang menyukainya?" Hoahaha. Tapi WooJoo meyakinkan neneknya untuk bisa bersantai karena sekarang dia dan paman akan bekerjasama memajukan perusahaan. 

Neneknya enggan berkencan karena menurutnya para janda justru jadi wanita tua yang bahagia. Beliau malah meminta WooJoo segera menikah. Sebagai pewaris Myunsoondang itu merupakan suatu kewajiban. WooJoo hanya mengiyakan sambil tersenyum, tapi terasa berat kala neneknya mengungkit Ia harus hidup demi ayahnya juga dan hanya dengan cara itu kakeknya bisa tenang di alam baka.

Di rumahnya MeRi bersiap menuju kantor, celakanya saat di depan pintu Ia melihat SangHyun, jadilah Ia mengangkat tasnya menutupi wajah dan pura-pura menguap kala mobil pria itu menyusulnya. MeRi berbohong kalau suaminya lembur karena pria itu bertanya tentang WooJoo dan menolak ajakan naik mobil bareng hingga halte bus dengan alasan suka jalan kaki sambil mikir.

SangHyun rupanya ke kantor Myunsoondang. Ia mewakili YeonWoo yang masih di RS dan memperkenalkan dirinya kepada paman dan nenek WooJoo. Sang Paman rupanya rekan YeonWoo disekolah bisnis dan teman main golf. Setelah basa-basi singkat, WooJoo --selaku kepala pemasaran-- dipanggil ke ruangan itu. Sang suami palsu pun baru mengetahui rencana kerja sama Beaute dan Myunsoondang dari WooSeok. Beaute ingin memberi Hangwa Myunsoondang kepada tamu VIP-nya sempena hari ultah perusahaan. 

WooJoo yang sudah berjanji dengan MeRi datang ke ruangan neneknya, tapi sebelum masuk Ia sempat bertanya pada sekretaris siapa yang datang. Saat nama SangHyun di sebut, Ia segera tergagap dan berakting sakit perut parah. Hoahaha.


Sekretaris sampai harus menghubunginya lewat ponsel kala WooJoo masih berusaha mencari ide kabur dari kantor. Sialnya, meski Ia sudah celingukan, saat meninggalkan toilet Ia justru dilihat oleh paman dan SangHyun. 

Paman memperkenalkan mereka berdua dan WooJoo seolah-olah baru pertama kali berjumpa, memperkenalkan dirinya dalam bahasa formal. Hal itu disambut oleh SangHyun. WooJoo diminta pamannya mengantar sang direktur pelaksana Beaute itu turun dan di lift, WooJoo sudah gelisah banget. Tapi Ia meluruskan berpura-pura tak kenal, takut SangHyun merasa tak nyaman. Rupanya sentimen ini pun diamini oleh SangHyun yang tak suka jalur ordal, terutama saat berbisnis. 

WooJoo terus terang minta bantuan agar SangHyun merahasiakan (rupanya pria itu teringat permintaan khusus pasangan pemenang untuk diumumkan dengan nama palsu demi menghindari debt colector hutang mereka). WooJoo membenarkan talk situasi jadi akward saat SangHyun menatapnya dengan curiga, kenapa Ia tampak sangat segar untuk orang yang lembut semalaman di kantor (pasti SangHyun berdasarkan pengalaman sendiri nih Hoahaha).





Lebih seru lagi, di lantai dasar, saat pintu lift terbuka, MeRi nyaris menyapa WooJoo-sshi tapi untungnya lirih dan saat melirik ada SangHyun segera diganti jadi "Yeobo!!" WooJoo pun membalas dengan jawaban yang sama. 

SangHyun bertanya apakah MeRi bekerja di tempat yang sama juga dan wanita itu hanya terbata-bata (ya karena separuh benar juga kan, sedang ada kolaborasi dengan Myunsoondang), untungnya WooJoo segera berpikiran cepat dan bilang MeRi mau mengambil dompetnya yang terbawa WooJoo. 

"Saat pasangan tinggal bersama, barang-barang bisa bercampur" jelas WooJoo "Aku pergi buru-buru pagi ini dan tidak memperhatikannya" statemen blunder yang membuat SangHyun bingung, kan tadi pagi MeRi bilang suaminya ngelembur dan nginap di kantor Hoahaha.

"Kemarin, pagi" ralat MeRi, "Suamiku terlalu banyak bekerja jadi linglung"  MeRi berusaha memelototi WooJoo "Kemarin, kau lembur semalam di kantor tadi malam." 

SangHyun akhirnya permisi dan mereka berdua segera menuju tangga darurat yang kece banget itu. WooJoo bercerita tentang kolaborasi dengan Perusahaan Beaute sementara MeRi mengisahkan pertemuannya dengan SangHyun di jalan. WooJoo jadi ngeh dengan pertanyaan SangHyun di lift, jadi Ia meminta MeRi menelpon setiap bertemu SangHyun untuk menyamakan cerita. Malah Ia meminta MeRi menelpon tiga kali sehari, pagi, siang dan malam. MeRi terkejut dan mestinya tak perlu sebegitunya tapi WooJoo ngotot gara-gara pemikiran naif seperti itu mereka tadi nyaris ketahuan. 


"Lagipula, pasutri baru bisa menelpon berkali-kali dalam sehari" WooJoo sambil menelan ludah (Bisa ae nih modusnya WooJoo ye kan Hoahaha)

"Kita bukan pasutri sungguhan" MeRi masih bingung  "Apa Kau terlalu mendalaminya?"

"Kau pikir yang kulakukan ini demi aku? Tidak, aku hanya mau mencegah resiko. Aku ini orang yang sibuk" 

Bahkan Ia menambahkan satu lagi sebelum tidur. MeRi setuju dan segera pergi ke ruangan rapat. Ia meminta WooJoo datang agak lambat sedikit demi menghindari kecurigaan. Setelah MeRi berlalu WooJoo menghembuskan nafas antara lega dan puas triknya berhasil Hoahaha.

Di rumah WooJoo1, Ia sedang makan dan memuji masakan Ibunya. Yang bersangkutan sendang memangku Elizabeth si Kucing milik Jenny. Langsung lah pertanyaan diajukan "Sudah kah WooJoo1 bertemu ortu Jenny di Hongkong?" 

Karena WooJoo1 menghindar, Ibunya memberi kode pada kakaknya yang sedang asyik beryoga "Cepat kenalkan pada kami sebelum Ia berubah pikiran" desaknya. Ia ingin membayar deposit sewa gedung agar dapat memulai usahanya sendiri. WooJoo1 langsung marah dan membanting sumpitnya, sadar bahwa keluarganya mata duitan. Ia walkout ke taman. 





Ia bingung bagaimana menjelaskan bahwa hubungannya telah kandas. Sejak awal Jenny tak jujur elah dijodohkan oleh keluarganya dengan pria di kamar yang diintip WooJoo1. Ia memilih tunangannya karena kesepakatan keluarga lebih penting. Gongnya lagi Ia bertanya apakah WooJoo1 cemburu dan Ia bilang santai saja, toh suaminya nanti akan sering bepergian ke luar negeri, jadi mereka tetap akan bisa bertemu. Hoahaha wajah WooJoo yang schock waktu sadar sudah melepaskan semua tapi tak dipilih Jenny itu memuaskan sekali.

Ia berusaha menjadikan Elizabeth pancingan saat mengirim pesan pada Jenny. Gadis itu sedang sibuk mengurusi pernikahannya jadi hanya berpesan menyerahkan si kucing pada kerabatnya. WooJoo1 yang patah hati, mengenang kebersamaannya dengan MeRi. Ia ingat bagi MeRi Ia adalah satu-satunya pria dan alasannya menyukainya hanya karena ketampanannya.




MeRi datang ke percetakan dan menemukan bahan kertas yang sesuai spesifikasi yang diharapkannya untuk kemasan Myunsoondang. Ia janjian dengan Park Gyeonghwa (Kim HanNa) --yang baru pulang seminar pertahanan-- makan di restoran khas Korea. Karena makanannya enak dan terkenal, tapi ukurannya tak begitu kapang, mejanya sangat penuh. Terpaksa dua orang ini digabungkan oleh pramusaji dengan seorang pembeli yang baru datang. Tak di duga, pria itu adalah WooJoo. 

Gyeonghwa menatapnya dengan penuh minat. WooJoo dengan sopan bilang MeRi sering bercerita tentang dirinya dan jadi makin semringahlah si perwira tentara itu. 

MeRi heran bagaimana WooJoo bisa tahu restoran hidden gem ini. Rupanya justru dari bosnya di New York. Mereka mak. Tapi Gyeonghwa malah bercerita WooJoo mirip cinta pertamanya. Bentuk kepalanya bagus dan indah saat dibotakkan. Rupanya sang cinta pertama memilih menjadi biksu. Jadi pertemuan terakhir mereka di rumah makan, pria itu bercukur untuk jadi biksu sementara GyeongHwa menjadi tentara. Hoahaha.

WooJoo turut prihatin atas patah hatinya. MeRi malah menyamakan cinta pertama sama dengan tabungan berjangka yang memang harus dibatalkan. MeRi yakin harus melupakannya dan menganggap baik-baik saja. GyeongHwa langsung mengaitkannya dengan cinta pertama MeRi yang dijuluki si "Belakang Kepala". WooJoo menyela dengan nama MyungShik dan MeRi menjelaskan pada temannya bahwa mereka adalah orang yang sama.

Intinya kata GyeongHwa, MeRi dicampakkan tanpa ucapan terimakasih setelah memberi anak yang gemetaran akibat kecelakaan itu mainan favoritnya. WooJoo langsung menyadari, Ia adalah anak yang dimaksud sementara GyeongHwa mengomeli MeRi, gara-gara hal tersebutlah Ia selalu memberikan seluruhnya pada para kekasihnya. "Kau memulainya dengan salah!" Bentaknya sambil menunjuk dengan sumpit. 

MeRi balas mengomeli GyeongHwa yang makan dengan lambat. Ia menceritakan sendiri, awalnya menyebutnya demikian karena belakang kepala anak lelaki itu sangat bundar, membuatmu ingin menyentuhnya tambah MeRi. 

Tanpa sadar, WooJoo menyentuh belakang kepalanya sendiri. GyeongHwa penasaran apakah MeRi pernah berjumpa lagi dengan anak itu di YeoSu tapi MeRi yakin Ia bukan warga lokal. 

WooJoo malah tes ombak "Kau tak ingat lagi?"

"Tidak, pertemuan kami sangat singkat. Namun, jika bertemu lagi, kurasa aku akan langsung mengenalinya. Dia sangat tampan, pasti tumbuh jadi pemuda yang tampan. Benar-benar tipe pria ideal ku." 

WooJoo akhirnya membayari mereka semua dan sebagai balasan terimakasih GyeongHwa menawarkan akan mentraktirnya minum dan memberikan suvenir dari seminarnya. Isinya perawatan aftershave pria. WooJoo membuka kantongnya dan melihat sekotak kaktus. GyeongHwa dengan santai menyerahkannya kepada MeRi yang protes dianggap tempat sampah. 

"Jangan duduki yang itu" goda WooJoo

Dan MeRi teringat kejadian malam itu lalu tersenyum, sementara GyeongHwa menatap keduanya dengan curiga karena punya inside joke berdua.



Sebelum WooJoo naik taksi, GyeongHwa menginginkan mereka tetap berkontak. Menurut MeRi itu berlebihan tapi dari senyuman WooJoo sepanjang jalan, jelas Ia tak keberatan mendengarkan seluruh kisah masa kecil MeRi dari sahabatnya Hoahahah. WooJoo mengulangi percakapan mereka dan tersenyum super lebar sambil menatap foto pernikahan mereka yang dicetaknya ukuran dompet.


Di kamar YeonWoo, JinGyeoung yakin pria itu baik-baik saja jadi bisa pulang akhir pekan ini. Si bayi bongsor nan cengeng mengeluh leher dan pundaknya kaku dan matanya kering. JinGyeoung yakin itu cuma efek kebanyakan main game. YeonWoo kembali mengeluh perutnya sakit dan JinGyeoung menusuk sekuat tenaga. Karena Ia masih ngeyel, JinGyeoung membongkar semua simpanan makanan rahasia sampai miras yang diminumnya tengah malam. Ia memerintahkan perawat menyitanya.

"Kau pasien yang buruk, tapi kau sama buruknya karena membiarkannya" ucapnya sambil menatap SangHyun yang berusaha membuat YeonWoo tinggal hingga akhir bulan. JinGyeoung bilang ini bukan hotel dan tetap akan memulangkannya. YeonWoo memerintahkan SangHyun bicara langsung dengan ayahnya, karena putrinya ini tak akan mau mengalah

Di luar JinGyeoung menyumpahi mereka tapi segera sadar diri agar tak semakin keriput. Ia menolak permintaan seniornya untuk bertukar jaga karna malam ini Ia punya janji yang sangat penting.




Cue to.. WooJoo menikmati band jazz di sebuah kafe fancy. JinGyeoung datang dalam balutan busana yang cantik. Dasar WooJoo clueless malah dikiranya gadis ini mau pergi kencan buta makanya berdandan. JinGyeoung menyelamatkan harga dirinya dengan bilang justru Ia dandan karena WooJoo memesan tempat sebagus ini. WooJoo jujur ini dipesankan neneknya.

 Mereka makan malam sambil mengungkit kisah masa lalu. JinGyeoung yang patah hati karena diputuskan seorang calon idol pernah menangis sampai menempelkan ingusnya di baju WooJoo yang mahal. Hoahaha. Setelahnya ada seorang pemain Hoki --yang meski JinGyeoung sendiri yang memutuskan-- yang malah membuatnya jauh-jauh ke AS demi curhat pada WooJoo. Akhirnya ujian pria itu jadi nilainya jelek.

JinGyeoung pun membalas dengan mengungkit mantan WooJoo semua curhat padanya. Semuanya umpatan kasar yang intinya WooJoo hanya peduli dengan dirinya sendiri. Ia pun sudah diblacklist dalam pasar kencan buta, makanya neneknya tak pernah memintanya pergi lagi.

"Gawat sekali. Aku harus bagaimana?" WooJoo menghela nafas tapi tetap sambil makan Hoahaha

"Jadi, aku memikirkannya, siapa yang bisa menyelamatkanmu, WooJoo Oppa. Tak perlu mencari jauh-jauh orang itu mungkin ada di dekatmu." 

Sayang saat Ia bersiap menyatakan cinta, perhatian WooJoo teralih karena semua tamu mulai bertepuk tangan untuk pemain musik yang baru menyelesaikan lagunya. WooJoo menoleh ke arah yang berlawanan dan JinGyeoung menatap belakang kepalanya penuh keraguan.

JinGyeoung kehilangan momen, apalagi WooJoo malah menceritakan ada yang bilang belakang kepalanya tampak bagus. Sudah lama sejak orang itu melihatnya dan WooJoo jadi penasaran.

JinGyeoung yang memang sangat mengenalnya langsung menyadari mood WooJoo yang membaik. Ia terlihat lebih ceria dari biasanya.

"Apa Kau bertemu cinta pertamamu?' tebak JinGyeoung.

"Kau seharusnya jadi cenayang." WooJoo meletakkan sendok.

Ia pun langsung menceritakan tentang pemilik gantungan kunci masa kecilnya dan WooJoo dengan begitu gembira mengingatkannya pada Yoo MeRi (yang duri kaktusnya dicabuti JinGyeoung Hoahaha).

WooJoo mengangguk dengan antusias saat teman masa kecilnya ini ingat si Gadis Kaktus. JinGyeoung mengaku sampai merinding. Ia ingin tahu bagaimana WooJoo tahu, dan apakah MeRi sudah tahu siapa WooJoo. WooJoo masih penuh senyum, yakin hanya dirinya yang tahu.



JinGyeoung heran, kenapa Ia tak mencari MeRi sejak dulu. Rupanya WooJoo saat remaja pernah ke Yeosu, ke alamat yang diberikan ayah MeRi kepada polisi. Dua pekan setelah kejadian kecelakaan itu ayah MeRi meninggal dan saat Ia berkunjung, ibunya dan MeRi (atau SoRi?) sedang membahas hal tersebut. Mereka menyesalkan karena ayahnya mau berangkat ke kantor polisi untuk melaporkan hal yang baru teringat tentang kejadian itu, kecelakaan malah menimpanya.

WooJoo yang mendengar semuanya hanya meletakkan buah tangannya di halaman dan pulang.

Ia masih tak dapat percaya dapat bertemu MeRi lagi. Ia terlalu takut menemuinya, karena takut dibenci. Jadi Ia tak tahu harus bagaimana berikutnya, apakah harus memberi tahu MeRi atau tidak.

JinGyeoung justru melarangnya dengan alasan harus memikirkan perasaan MeRi. 




Setelahnya, JinGyeoung mengutuki dirinya sendiri yang mengatakan hal yang bisa membuat WooJoo bersedih. Ia menyesal tak jadi lembur saja, jadi Ia bermain piano di lobi rumah sakit, teringat saat Ia dan WooJoo kecil biasa memainkan chopstick berdua. Tapi kali Ini JinGyeoung sudah lebih jago. Diam-diam SangHyun melihatnya secara tak sengaja.

Pria ini pun sedang bersedih sehabis dihina oleh YeonWoo. Rupanya majalah memuat wawancara dengan SangHyun alih-alih YeonWoo. Judulnya sangat menjunjung SangHyun. YeonWoo pun tahu sebenarnya penghargaan Wirausaha Muda yang diterimanya baru-baru ini pun sejatinya akan diberikan pada SangHyun, tapi ditolak dan malah membujuk penyelenggara untuk diberikan ke YeonWoo. 

YeonWoo memberikan bonus berupa uang langsung ke jas SangHyun sambil menepuk pipinya dengan arogan "Selaras apapun kau mencoba, Kau tak akan menjadi diriku. Saat SMP, kita menjadi dekat karena aku melindungiku dari perundung. Ayahku menyekolahkan mu di luar negeri dan menjadikan kau direktur pelaksana karena kita bersahabat. Tapi sepertinya kau jadi salah paham, kau adalah anjing peliharaan kami."



Keesokan pagi hujan turun saat peringatan kematian orang tua WooJoo. Ia  penghormatan dalam upacara keagamaan yang dihadiri seluruh keluarga di kuil tempat abu kedua orangtuanya di semayamkan. Setelah selesai upacara, Bibi dan sepupunya menunggu di luar dengan tak sabar karena Nenek WooJoo masih mengobrol dengan biksu.

EungSoo penasaran sarapan apa, Ibunya yang sudah kelaparan mengingatkan menu gukbap yang sama tiap tahunnya. Itu adalah menu kesukaan ayah WooJoo. EungSoo mengusulkan makan tonkatsu, meski Ibunya melarang menjadikan gorengan sebagai sarapan, menurut EungSoo itu adalah kesukaan WooJoo dan ini adalah hari ulang tahun sepupunya itu. Ia mengomeli Ibunya yang tak ingat ultah keponakan satu-satunya Hoahaha.

Yang bersangkutan malah mendekat saat mereka berdua menggosipkan WooJoo yang tak bisa merayakan ulang tahunnya sendiri karena menyebabkan kematian ayahnya. Paman menegur istrinya dan menepuk pundak WooJoo dengan simpati.




Diperjalanan, hujan membuat suasana semakin sendu. Tak ada yang bersuara. Hanya nenek yang teringat pernah meminta  WooJoo menyampaikan ucapan terakhir pada ayahnya saat di rumah duka. WooJoo kecil menangis dan meminta maaf karena telah menyebabkan kecelakaan itu. Rupanya Ia mengeluh karena EungSoo mengambil salah satu robot mecha hadiah ulang tahunnya. Ayahnya membujuknya, sebagai bentuk terimakasih karena EungSoo dan keluarganya datang dari jauh untuk merayakan ultah WooJoo. Ayahnya berjanji akan mengganti mainannya. WooJoo tetap tak mau, ia ingin robot yang lama dikembalikan EungSoo karena ini bukan kejadian yang pertama anak itu mengambil miliknya. Ia mengumpat dan ayahnya memintanya menarik perkataannya, nahas saat ayah dan ibunya menoleh ke belakang itulah truk menghantam mereka

 Percakapan itu pun didengar kakeknya yang langsung mengamuk. EungSoo menyupiri kedua orang tuanya. Ibunya menerima kabar dari asisten, nenek tak bergabung untuk sarapan. EungSoo malah menggosip, Ia teringat saat kakek mengusir WooJoo ke AS, hanya nenek yang peduli padanya. Ayahnya tak bergabung dalam percakapan, karena pikirannya pun berkelana ke hari nahas itu. Ada sesorang yang mengirim pesan padanya "Sudah kutangani" setelah memeriksa kendaraan WooJoo yang terbalik.



MeRi memeriksa kaktus pemberian temannya. Ia melihat bunganya dan mengambil beberapa foto. Di kamarnya WooJoo teringat potongan pembicaraan bibinya yang mengatakan sudah bersyukur Ia tak diusir dari keluarga karena menyebabkan kecelakaan orangtuanya sendiri. Saat anxiety menyerang, detak jantungnya melaju dan tubuhnya gemetar hebat, Ia bergegas menuju laci obatnya, MeRi mengirimkan pesan berisi foto kaktus. Ia mengatur napasnya saat membaca pesan selanjutnya, MeRi bertanya apakah Ia benar berulang tahun hari ini dan jenis cake apa kesukaannya, jadi bisa dikirimi kupon. WooJoo hanya membaca pesan lanjutan MeRi yang  mengklarifikasi bukan untuk suap hanya sebagai ucapan selamat ultah.

WooJoo langsung minta ditraktir makan saja. MeRi bertanya bagaimana kalau masakan rumahan saja? Lalu cemas terdengar terlalu menggoda, jadi Ia beralasan takut bertemu kenalan dan jadi sumber salah paham, namun sebelum sempat pesannya terkirim. WooJoo sudah bilang mau datang.

WooJoo pergi tanpa minum obat. Dan MeRi mengingat semua kebaikan WooJoo dan mewajarkan diri memasak untuknya. Ia mengemasi rumahnya, membongkar semua isi kulkas, kemudian minta diajari ibunya memasak sup rumput laut gurita. Ibunya jelas curiga meski MeRi beralasan itu untuk dirinya sendiri, porsinya sangat banyak Hoahaha. Jadi Ia bertanya siapa yang akan datang, tapi MeRi masih merahasiakannya. Ibunya memancing dengan menyarankan agar Ia mengeluarkan set piring cantik yang dibelinya untuk pernikahan. MeRi kena pancingan Ibunya tapi buru-buru mematikan telfon dengan alasan sibuk Hoahaha.

Nun di YeoSu ibunya berdoa pada kerumuman camar yang terbang dilangit agar MeRi mengundang seseorang, terutama Pria seperti Ketua Tim (WooJoo!! Yeay feeling ortu nih emang ga ada obat). 





WooJoo datang dan menghela nafas melihat semeja makan lengkap dengan cake yang manis. MeRi pun tampak berdandan cantik. (Cue.. pakai warna Earth Tone yang biasanya jadi favorit WooJoo tapi karna baru pulang dari kuil kali ini jadi ga matching deh huehehe).

WooJoo kaget dengan jumlah dan macamnya tapi MeRi ngeles ini yang biasa dia makan sehari-hari Hoahaha. Mata WooJoo kembali agak menyipit jadilah MeRi beralasan dia memang mau mengosongkan lemari pendingin Hoahaha.

Intinya ini tak terlalu merepotkan, jadilah Ia memasak untuk WooJoo. Suapan pertama sup rumput laut, WooJoo mengangguk sopan, eeh pas MeRi yang cicip ternyata asin banget! Pas pula ibunya chat bilang jangan tambahkan garam lagi karena guritanya sudah asin Haoahaa!! WooJoo dengan santai cuma menambahkan air dan lanjut makan. Jadi MeRi yang salting menambahkan lauk langsung ke mangkuknya dan menawarkan menu lain

"Kenapa Nona MeRi sangat baik padaku?"

"Apa?"

"Kenapa memasak sebanyak ini untukku? Bahkan keluargaku tak peduli ulangtahun ku. "

"Aku tak tahu soal itu" 

"Sudah lama tak makan sup rumput laut. Kalau tak salah saat usiaku delapan tahun. Kurasa itu saat terakhirku. Aku tak layak makan sup rumput laut. Orangtuaku meninggal pada hari ultahku karena kesalahanku. Jadi dari pada makan itu, Aku makan nasi yang banyak biar mengantuk. Agar aku bisa tertidur, saat terbangun sudah keesokan  harinya. Itu yang kulakan untuk melewatkan hariku. Karena itu aneh saat melihat orang yang menantikan ultahnya. Rasanya canggung saat sesorang mengucapkan selamat ulang tahun. Terimakasih sudah merayakannya dengan ku." WooJoo lanjut makan

"Baguslah! Untuk tidur seharian. Bagus untukmu. Ada 365 hari dalam setahun. Tak masalah menghapus satu hari dari benakmu.  Saat kenyataan terlalu berat, lebih baik beristirahat saja. Mari kita makan yang banyak dan menyimpan energi! " MeRi menjawab setelah sempat kehilangan kata-kata mendengar kisah WooJoo.

WooJoo pun tersenyum dan mereka lanjut makan bersama. WooJoo membantu MeRi membersihkan sisa nasi di bibirnya dan gadis itu jadi menyadari ada pelangi ganda di luar saat minum dengan kikuk.





Ia mengajak WooJoo keluar dan membuat permohonannya. MeRi menjelaskan ada tiga waktu makbul untuk membuat harapan : saat salju turun pertamakali, menahan nafas melewati terowongan dan pelangi ganda ini. WooJoo menertawainya tetapi akhirnya ikut berdoa dalam hati.

MeRi bertanya apa harapannya tapi WooJoo bertanya balik. Gadis itu bilang Ia berharap semua lancar, bisa dapat banyak uang buat bayar hutang dan ibunya sehat serta tak ada yang tahu soal rumah ini' tunjuknya. Saat MeRi bertanya padanya WooJoo cuma membalik badan sambil menghindar dan pura-pura lupa. MeRi masih mencecarnya dan karena tak adil, Ia minta WooJoo mengeluarkan lagi makanannya dan pemuda itu dengan bergurau pura-pura muntah ke telapak tangan MeRi. Hoahaha 

Suasananya sangat romantis, ditambah inner monolog WooJoo yang berkata 'dalam waktu singkat itu aku membuat harapan agar harapan gadis yang selalu menjadi jalan keluar setiap kali aku mengalami kebuntuan ini akan terwujud".




Mobil WooJoo1 berhenti dan pria menyebalkan itu turun di depan rumah mereka saat kaki MeRi tersandung selang dan jatuh ke dalam pelukan WooJoo. Pria itu mencondongkan wajahnya seolah hendak menciumnya

Review Would You Marry Me? Episode 5

Endingnya dreamy sekali.. Manis, romantis dan mengingatkan saya beberapa adegan ikonik dari drama Korea bergenre romantis populer lainnya :

- Adegan main di pantai Pangeran Shin dan ChaeGyoung di Princess Hours (2006)

- Adegan api unggun Kapten Ri dan SeRi di Crash Landing On You (2020)

Playful, saling menggoda tanpa disadari dan benih-benih cinta mulai bersemi. Lowkey, mereka ini hanya belum 'jadian' saja tapi kayaknya persis pasangan pacaran (atau malah pasutri) betulan Hoahaha.

Dandanan MeRi cantik banget, bikin SooMin kelihatan makin muda. Sebaliknya WooShik yang biasa tampil boyish jadi kelihatan manly dan ganteng banget MasyaAllah! 

Kehadiran WooJoo1 ini bikin dinamika tambah seru. Memang dasar tak tahu malu, bisa-bisanya Ia mengharap MeRi kembali. Tapi dasar tukang bohong, ya dia tetap memutarbalikkan kisahnya dengan Jenny (padahal aslinya dia yang tak dipilih Hoahaha --asli ni Jenny player yang jahat. Dia tahu bahkan melarang WooJoo1 membantu MeRi saat kena tipu agen properti). Ga sabar juga keluarganya tahu kalau hubungannya dengan Jenny sudah kandas.

Jawaban MeRi kepadanya sangat logis karena MeRi sudah mengenal WooJoo yang meskipun baru kenal sekalipun bersedia menolongnya di masa sulit.

Ternyata anxiety WooJoo cukup parah tak hanya akibat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya, tetapi juga karena Ia merasa bersalah. Ayahnya menoleh ke arah kursinya di belakang saat kecelakaan itu terjadi. Terlebih sang kakek benar-benar menyalahkannya. 

Andai saja semua terbongkar, bayangkan betapa malunya Bibi dan EungSoo kepada sang paman yang menjadi dalang semua ini. 

Bahkan saya jadi curiga, Ia juga menyebabkan kecelakaan ayah MeRi. Agar rahasia dapat ditutupi. Agak khawatir kalau Ia sampai sadar kalau MeRi juga ada di mobil yang sama, bisa jadi Ia pun akan membungkam MeRi!!  Duh amit-amit.

Untunglah, MeRi mau memasak untuknya. Membuat ultah WooJoo kembali bermakna (makan sup rumput laut kan tradisi ultah yang membudaya di KorSel). Meski MeRi beralasan sebagai bentuk terimakasih, benar sih, kalau seorang gadis sudah mau mulai belajar masak demi seseorang itu artinya dalam banget. Kan hubungan yang sehat itu membawa kita masing-masing sama-sama menjadi pribadi yang lebih baik.

Sama dengan harapan Ibu MeRi. Saya pun yakin, dengan sikap beliau yang santai saat MeRi dan WooJoo1 putus, ibunya akan cukup mudah memaafkan dan menerima WooJoo (serta keluarganya kalau benar paman jadi penyebab ayah MeRi meninggal). Tapi ga tau dengan SoRi, adik MeRi?

Pasangan kedua kita, JinGyeoung dan SangHyun tak begitu banyak berinteraksi. Hanya JinGyeoung menyampaikan terus terang kesalahannya yang selalu mendukung YeonWoo --yang jelas-jelas salah itu-- sama saja. SangHyun pun lebih notice keberadaan JinGyeoung, buktinya Ia mengamatinya saat gadis itu main piano.

JinGyeoung yang patah hati hanya dianggap teman oleh WooJoo. Ia sangat kaget MeRi adalah cinta pertama pria yang disukainya. Tapi lebih kasihan WooJoo saat meminta saran dari salah seorang yang bisa dipercaya, JinGyeoung malah memanfaatkan situasi agar WooJoo tak memberitahu MeRi siapa dirinya. Semoga Ia tak bertindak aneh deh..

Tak sabar menantikan mereka berempat pada akhirnya bisa saling bekerja sama menjatuhkan YeonWoo, paman WooJoo yang jahat sekaligus WooJoo1. Hoahaha masih jauh perjalannya ya. 

Terakhir, EungSoo ternyata cukup baik untuk mengingat ultah WooJoo, ya mungkin karena sejak kecil Ia sudah terbiasa meminta hadiah ultahnya WooJoo ya

Baca juga Recap dan Review Would You Marry Me ?

Episode 1

Episode 2

Episode 3

Episode 4



Posting Komentar