Review Climax : Kisah Pasangan Toksik Penuh Intrik dalam Dunia Politik dan Kekuasaan
Hai Assalamu'alaikum
Saya nonton Climax jelas demi Ju JiHoon dan Ha JiWon yang comeback ke layar kaca setelah terakhir empat tahun sebelumnya di Curtain Call (2022).
Judulnya provokatif sekaligus bikin penasaran, berhasilkah drakor ini menjaga pacing dan konsistensi hingga klimaks cerita?
CLIMAX
Sinopsis
Bang TaeSeop (Ju JiHoon) sendirian di malam hujan lebat, menggali sebuah kuburan di tengah hutan. Lewat narasi, kita mendengar bahwa apa pun yang dilakukannya malam itu terhubung langsung dengan harga yang harus ia bayar untuk ambisinya.
Kisahnya bergulir, ambisi TaeSop didorong keinginannya untuk balas dendam atas keadaan hidupnya yang sulit. Ayahnya --seorang ketua serikat buruh yang memperjuangkan hak koleganya-- bunuh diri setelah dijebak oleh jaksa korup. Ia bercita-cita mengubah sistem dari dalam, oleh karena itu ia pun menjadi jaksa. Sayang, sistem yang memang sudah bobrok membuatnya menyadari bahwa ia membutuhkan sekutu agar bisa menaiki jenjang kekuasaan dan mendapatkan kekuatan yang bisa memuluskan niatnya itu.
Meskipun TaeSeop adalah jaksa yang cerdas dan berbakat serta rela melakukan apa saja, ia kesulitan masuk ke lingkaran elit masyarakat Korea. Ia melihat peluang ketika bertugas di divisi kriminal tiga bertemu dan menyelidiki kasus yang melibatkan Chu SangAh (Ha JiWon). SangAh adalah seorang aktris terkenal yang sedang menjadi saksi dalam sebuah kasus.
TaeSeop --yang sedari muda sebenarnya sudah ngefans-- menawarkan pernikahan sebagai perlindungan bagi SangAh dan jalan bagi dirinya sendiri untuk masuk ke dunia orang kaya dan berkuasa.
Pernikahan mereka diliput media internasional bak kisah Notting Hill modern, saat seorang jaksa dadi kalangan bawah menikahi bintang top Asia. Mereka dielu-elukan sampai SangAh kena skandal penggelapan pajak. Ia meminta maaf tapi reaksi publik tetap sangat keras, ia dipaksa menjalani hiatus dan tak ada tawaran syuting
TaeSop mulai berputar halauan ke dunia politik dan memulai manuvernya atas saran rekan-rekannya. Ada senior mereka yang dipecat kepala kejaksaan karena ketahuan menyelidiki aksi korupsi Walikota Nam HyeYoon yang menjadi incumbent di Kota Seoun.
TaeSop menyelidiki lebih lanjut isu tersebut dan menemukan kaitan Walkot Nam dengan WR Grup, konglomerasi ketiga terbesar di KorSel. Saat ini WR Grup secara defacto dikuasai oleh Lee YangMi (Chu JaYoung), istri kedua pendiri WR Kwon SeMyeong (Kim HongFa).
Ia merekrut Hwang JeongWon (Nana After School) sebagai informan. Ia juga berhasil meyakinkan Kwon JongWook (Oh JungSe), anak dari istri pertama WR Group yang memiliki dendam pribadi terhadap YangMi, untuk bergabung dalam misinya. Namun, semakin dalam TaeSeop terlibat, ia semakin menyadari bahwa situasinya jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan. Terlebih lagi, ia mulai curiga bahwa istrinya, SangAh, menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Di sisi lain, SangAh bukanlah wanita biasa. Di balik wajah cantik dan karakternya yang lembut, ia menyimpan luka masa lalu dan rahasia yang gelap. Ia pernah menjadi korban eksploitasi di industri hiburan, dan pengalaman itu membuatnya menjadi wanita yang tangguh namun juga penuh perhitungan. Hubungannya dengan TaeSeop pun tidak seindah yang terlihat di luar. Mereka lebih seperti sekutu politik daripada pasangan suami istri yang saling mencintai, mereka sama-sama saling membutuhkan, tapi juga saling curiga.
Sementara itu, Lee YangMi ternyata adalah sosok yang sangat berkuasa dan kejam. Sebagai pemimpin WR Group, ia mengontrol banyak aspek kehidupan, mulai dari bisnis, politik, hingga industri hiburan. Ia tidak segan-segan menggunakan cara kotor untuk mencapai tujuannya, termasuk memanfaatkan orang lain dan bahkan melakukan pembunuhan. Ambisi utamanya adalah menjadikan putrinya sebagai pewaris utama WR Grup dan menguasai KorSel melalui orang-orangnya.
Di tengah pertarungan kekuasaan ini, semua karakter terjebak dalam permainan catur yang mematikan. Siapa yang akan menjadi pemenang? Siapa yang akan menjadi korban? Dan apakah ada yang bisa keluar dari lingkaran setan ambisi dan korupsi ini?
Review
Menurut saya Climax ini agak sulit di tonton. Dramanya yang terlalu gelap (termasuk dalam artian harfiah sampai harus membuat saya menaikkan kontras gawai yang saya pakai untuk nonton), membuat saya harus nonton 'diam-diam' agar anak saya khususnya Abang Z tak penasaran dan malah mau ikutan nonton. Bukannya apa-apa, saya nontonnya mengikuti jadwal tayang asli di minggu-minggu super sibuk dan sedang malas memikirkan penjelasan bagi adegan yang terlampau dewasa maupun politik yang terlalu njelimet.
Bagaimanapun dramanya cukup menarik, terutama di bagian :
1. Penokohan Utamanya yang Abu-Abu
Sejak awal, line up pemainnya menimbulkan rasa penasaran bagi penggemar K-drama. Ini adalah reuni Ju JiHoon dan Oh JungSe setelah Jirisan (2020) dan kolaborasi perdana dengan Ha JiWon setelah dahulu sempat batal dalam satu proyek layar lebar.
Setelah dramanya dimulai, penggambaran karakternya yang sangat kompleks dan sebenarnya cukup realistis. Bisa dibilang, tak ada karakter yang benar-benar baik atau benar-benar jahat, semua memiliki sisi gelap dan motivasi sendiri dan alasan sendiri untuk bertindak, sehingga penonton bisa memahami sudut pandang masing-masing, meskipun tidak selalu setuju dengan tindakan mereka.
Bang Tae Seop (Ju JiHoon): Ambisius tapi Rapuh
Ju JiHoon berhasil memerankan TaeSeop dengan sangat sempurna. Ia terlihat tegas, cerdas, dan tak kenal takut, tapi di dalam hatinya tersimpan rasa sakit dan insecure yang mendalam. TaeSeop adalah tipe orang yang rela melakukan apa saja demi mencapai tujuannya, bahkan jika itu berarti harus mengorbankan orang yang ia cintai. Namun, di balik semua itu, ia sebenarnya sangat kesepian dan ingin diakui.
Sebagai pemenang Baeksang kategori pemeran utama pria terbaik dalam drama tahun lalu, wajar range akting Juji begitu teruji. Meski tanpa banyak kata-kata, kita bisa menilai dari ekspresi dan gesture tubuhnya ketika ia sedang dilanda rasa percaya diri yang berlebihan, hingga rasa panik dan putus asa ketika rencananya mulai berantakan. Chemistry-nya dengan Ha JiWon juga sangat kuat, membuat hubungan mereka terasa nyata dan penuh dinamika. Apalagi di episode perdana, semua pasti akan mengira hubungan mereka lebih dari sekedar diatas kertas. Dinamika pasangan yang terkadang terlihat toxic ini membuat penonton terus bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
Ketika TaeSeop menemukan video memalukan Wali Kota Nam, dia menjadikannya senjata. Dalam konferensi pers yang dramatis, dia merilis video itu sambil membingkai dirinya sebagai pahlawan yang membela aktris-aktris muda tak berdaya dari cengkeraman kartel kekuasaan. Citra publiknya meroket jadi pejuang keadilan sementara di balik layar dia memainkan papan caturnya sendiri.
Chu SangAh (Ha JiWon): Cantik tapi Berbahaya
Ha JiWon kembali menunjukkan kelasnya sebagai aktris handal dengan peran SangAh. Ia berhasil menggambarkan karakter yang memiliki banyak lapisan, di satu sisi ia terlihat lemah dan rapuh, tapi di sisi lain ia sangat tangguh dan pintar. SangAh tahu cara menggunakan kecantikan dan pesonanya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, tapi ia juga tidak segan-segan bertindak tegas ketika situasi membutuhkan.
Yang paling menarik adalah bagaimana Ha JiWon menampilkan luka masa lalu SangAh. Ia bisa membuat penonton merasa iba, tapi juga merasa takut pada sisi gelap yang tersembunyi di dalam dirinya. Peran ini sangat berbeda dengan peran-peran sebelumnya, dan ia berhasil melakukannya dengan sangat baik.
Hwang JeongWon (Nana): Misterius dan Berbahaya
Nana tampil sangat berbeda dari biasanya dengan peran JeongWon. Ia memerankan seorang informan yang cerdas, berani, dan memiliki rahasia sendiri. JeongWon bukan hanya sekadar alat bagi TaeSeop, tapi ia juga memiliki tujuan dan dendam sendiri yang ingin ia tuntaskan.
JeongWon menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar: kunci sebuah "kotak Pandora" yang akan membuka seluruh kebusukan kartel kekuasaan yang menghubungkan dunia hiburan, bisnis, dan politik Korea Selatan.
Nana berhasil menampilkan karakter yang tenang tapi penuh tekanan. Matanya bisa berbicara banyak hal, dan ia bisa membuat penonton penasaran tentang apa yang sebenarnya ada di pikirannya. Kehadirannya di drama ini memberikan warna baru dan membuat cerita semakin menarik.
Kwon JongWook (Oh JungSe): Kompleks dan Penuh Dendam
Oh JungSe, si pemeran tambahan kesayangan, selalu berhasil memberikan kejutan dengan peran-perannya, dan kali ini pun tidak terkecuali. Ia memerankan duo kembar dari WR Group yang memiliki hubungan yang rumit dengan keluarganya. JongIl hanya tampil di foto keluarga karena telah melepaskan hak waris. Sedangkan JongWook yang terlihat santai dan humoris, sebenarnya ia sangat pintar dan memiliki rencana besar untuk membalas dendam pada ibu tirinya, Lee YangMi.
Oh JungSe berhasil menyeimbangkan sisi lucu dan serius dari karakter ini. Ia bisa membuat penonton tertawa (apalagi setelah saya nonton rekaman promo Tempest tahun lalu, he was effortlessly funny!), tapi juga bisa membuat mereka merinding ketika ia menunjukkan sisi gelapnya. Perannya sangat penting dalam cerita, dan ia berhasil melakukannya dengan sangat maksimal.
Lee Yang Mi (Cha JooYoung): Kejam dan Berkuasa
Cha JooYoung yang terakhir saya tonton di Head Over Heels kali ini tampil sangat memukau. Ia berhasil memerankan karakter yang sangat berkuasa, kejam, dan tak kenal ampun. YangMi adalah tipe orang yang akan melakukan apa saja untuk mempertahankan kekuasaannya, dan ia tidak segan-segan menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya.
Bagi saya transformasinya dalam gaya retro bergincu merah tebal yang khas, berhasil membuat karakter ini menjadi salah satu antagonis terbaik dalam drama Korea tahun ini. Setiap kali Ia head to head dengan SangAh selalu berhasil membuat saya merasa akting mereka setara.
2. Cerita yang Kompleks dan Penuh Kejutan
Salah satu kelebihan terbesar Climax adalah naskahnya yang sangat kuat dan terstruktur. Ceritanya beralur non-linear, penuh dengan lika-liku, plot twist, dan jalinan rahasia yang terus terungkap sedikit demi sedikit. Setiap episode memberikan informasi baru yang membuat penonton semakin penasaran dan ingin terus menonton. Saya pun sempat berucap "Nyawit, nih, penulis naskah dan sutradaranya!"
Semua elemen teknikal berpadu harmonis, dalam balutan genre thriller, misteri, politik, dan melodrama yang membuat cerita terasa lengkap dan tidak membosankan.
3. Penggambaran Dunia Kekuasaan yang Realistis
Climax tidak takut untuk menunjukkan sisi gelap dari dunia politik, bisnis, dan industri hiburan di Korea. Drama ini menggambarkan bagaimana kekuasaan bisa merusak manusia, dan bagaimana orang-orang berkuasa bisa melakukan apa saja untuk mempertahankan atau meningkatkan posisi mereka.
Salah satu strategi menuju kekuasaan, ialah melalui pernikahan sebagai aliansi strategis. TaeSeop menikahi SangAh untuk mendapatkan akses ke dunia elit, sementara SangAh setuju menikahi TaeSeop untuk mendapatkan perlindungan hukum dan stabilitas. Climax berani menunjukkan sisi realistis dari hubungan manusia, di mana kepentingan pribadi seringkali menjadi prioritas utama.
Sebenarnya hal serupa juga terjadi di negara kita. Tak melulu dengan artis papan atas, tapi salah seorang mantan pemimpin daerah di tempat bermukim saya saat ini, saya dan banyak warga menyadari bahwa pernikahan dengan istrinya hanya simbolis saja. Mereka menikah demi status sosial, ekonomi dan agenda politik.
4. Visual dan Sinematografi yang Memukau
Drama ini memiliki visual yang sangat indah tapi juga gelap dan misterius. Penggunaan warna yang dominan gelap dan pencahayaan yang dramatis berhasil menciptakan suasana yang tegang dan mencekam, sesuai dengan tema cerita. Mengingatkan akan film noir zaman dulu, setipe dengan Made in Korea, meski garis waktunya adalah masa kini.
Sinematografinya juga sangat bagus. Setiap adegan diambil dengan sudut pandang yang menarik, dan pengeditan yang rapi membuat alur cerita terasa lancar dan tidak membingungkan. Musik latar yang digunakan juga sangat pas dan berhasil meningkatkan ketegangan dalam setiap adegan. Lagu pembuka langsung membuat bulu kudung meremang, meski bukan bergenre horror.
5. Womencentric
Mohon maaf dulu nih sama Oppa Juji, menurut saya Climax mengusung tema women empowerement banget. menampilkan karakter wanita yang sangat kuat, cerdas, dan mandiri. Ketiga tokoh utamanya adalah wanita yang tidak bergantung pada pria, dan mereka memiliki tujuan serta kemauan sendiri.
YangMi yang memang kaya dan berkuasa pun blak-blakkan sejak awal memang mengincar semua itu dengan segala cara termasuk memanfaatkan putrinya sendiri.
SungAh pun sebisa mungkin melindungi junior artisnya sambil berusaha menyembunyikan rahasia orientasi seksualnya.
JeongWon badass abis. Ia mengubah keadaan dari korban menjadi tangguh. Pertalian kisahnya dengan SangAh membuat kita memikirkan betapa penyimpangan seksual sudah dinormalisasikan hingga sudah masuk ke acara mainstream.
Di dunia politik yang didominasi pria, anggota partai sampai ke walikota yang berkuasa juga wanita.
6. Kritik Sosial
a. Pernikahan Kontrak
Pernikahan paling berbahaya bukan yang penuh pertengkaran, melainkan yang penuh senyum tipis sambil masing-masing diam-diam menghitung kelemahan pasangannya.
b. Kekuasaan yang Diatur Segelintir Orang yang Mengetahui Rahasia
Salah satu pesan yang sangat kuat di Climax adalah tentang pentingnya informasi. Di drama ini, siapa yang memiliki informasi rahasia, dia yang bisa mengendalikan orang lain dan situasi.
Setiap orang mencoba mencari tahu rahasia orang lain, sambil berusaha menyembunyikan rahasia mereka sendiri. Kemudian mengekspose rahasia orang lain tersebut demi keuntungan diri sendiri atau kelompoknya. Hal ini membuat cerita terasa seperti permainan catur yang sangat cerdas dan menegangkan.
c. Kritik Terhadap Industri Hiburan
Climax juga memberikan kritik yang tajam terhadap industri hiburan di Korea. Drama ini menunjukkan bagaimana artis seringkali menjadi korban eksploitasi, tekanan, dan kekuasaan orang-orang besar. Mereka dimanfaatkan sebagai pion gratifikasi seksual kepada pejabat atau penguasa.
Kisah SangAh dan para juniornya lainnya yang pernah mengalami hal serupa membuat penonton sadar bahwa di balik kemewahan dan popularitas, ada sisi gelap yang menyedihkan. Banyak penggemar yang menghargai keberanian drama ini untuk membahas topik yang sensitif ini. Terutama setelah latar belakang jaringan hiburan-kekuasaan dalam drama ini langsung mengingatkan pada kasus "Jang JaYeon List" tahun 2009. Ketika aktris pemeran pendukung dalam drama hits Boys Over Flowers ditemukan meninggal dan meninggalkan catatan yang merinci pesta hiburan paksa, gratifilasi seksual, serta nama-nama tokoh media dan pejabat tinggi. Kasus itu tidak pernah sepenuhnya terungkap hingga hari ini. Climax, dengan semua fiksinya, terasa seperti cara KorSel untuk mengatakan sesuatu yang selama ini sulit diucapkan secara terbuka: kita tidak lupa.
Kekurangan Drama Climax: Tidak Ada yang Sempurna, Kan?
Meskipun memiliki banyak kelebihan, Climax juga tidak luput dari kekurangan. Berikut adalah beberapa hal yang mungkin bisa menjadi catatan:
1. Terlalu Kompleks dengan Banyak Tokoh Pendukung
Selain kelima orang tadi, masih banyak tokoh lain yang saling bersinggungan satu sama lain. Kadang saking banyaknya nama tokoh politik dan hubungan bisnis yang disebut, saya harus menekan pause buat mencerna siapa mengkhianati siapa
2. Alur yang Kadang Terasa Lambat
Meskipun cerita secara keseluruhan menarik, ada beberapa bagian yang alurnya terasa agak lambat. Beberapa adegan terasa terlalu panjang dan tidak terlalu penting, sehingga bisa membuat penonton merasa bosan sedikit. Saya paling malas melihat bagian politiknya, bikin pusing, negara sendiri aja belum bener, huhuhu.
Namun, hal ini sebenarnya juga bertujuan untuk membangun suasana dan memperdalam karakter, jadi tergantung selera masing-masing penonton apakah hal ini mengganggu atau tidak.
3. Beberapa Plot Hole yang Belum Terjawab
Seperti banyak drama lainnya, Climax juga memiliki beberapa plot hole atau hal-hal yang tidak dijelaskan secara jelas. Beberapa misteri terasa dibiarkan terbuka, sehingga penonton harus menebak-nebak sendiri jawabannya.
Bagi sebagian orang, hal ini justru membuat cerita semakin menarik dan memberikan ruang untuk imajinasi. Tapi bagi yang suka cerita yang jelas dan tuntas, hal ini mungkin bisa sedikit mengecewakan.
4. Ending yang Menggantung
Setelah bagian pertengahan melambat, saya merasa bahwa endingnya justru terlalu terburu-buru dan beberapa konflik tidak diselesaikan dengan memuaskan.
Selain itu, drama ini menggunakan konsep open ending, yang artinya penonton tidak diberikan jawaban yang pasti tentang nasib karakter-karakternya. Bagi yang suka happy ending atau cerita yang tuntas, hal ini mungkin bisa membuat merasa kurang puas.
Tapi bagi yang suka cerita yang realistis dan membuat penonton berpikir, ending seperti ini justru dianggap sangat bagus dan meninggalkan kesan yang mendalam.
5. Nilai yang Bertentangan Dengan Kompas Moral
Tak hanya tentang penyimpangan seksual, banyak hal yang bertentangan dengan nilai-nilai moral pribadi. Jadi menontonnya sebaiknya siapkan mental atau tinggalkan bila dirasa terlalu overstimulasi.
Meskipun terkadang terasa melelahkan karena intensitasnya, drakor ini tak akan mudah dilupakan sekaligus tak mudah juga untuk ditonton ulang. Cocok buat penggemar genre thriller, misteri, atau cerita dengan karakter yang kompleks.
Jadi, gimana? Sudah siap melihat Bang TaeSeop mengacak-acak tatanan kekuasaan Seoul? Langsung saja meluncur layanan streaming legal favorit. Tapi ingat, jangan sampai ikut-ikutan jadi ambisius seperti mereka ya, cukup nikmati dramanya saja!













Alur ceritanya juga menarik, terutama motivasi TaeSeop yang berangkat dari luka masa lalu. Konflik batinnya kerasa, antara idealisme ingin memperbaiki sistem dan kenyataan bahwa sistemnya sendiri sudah rusak. Jadi makin penasaran gimana dia akan ‘membayar harga’ dari ambisinya itu.
Begitu romcom kayak Love Your Enemy, aku malah "Errgghh" gituu... lucu siii.. tapi asa kurang terasah bakat aktingnya yang ekspresif.
Dan aku baru tau kalau Climax ini uda END.
Aku pikir masih on-going.. bakalan makin seru nih nonton 10 eps.