Jangan serius-serius banget bersocmed (atau medsos?)

Jangan terlalu serius bersosial media. Ambil saja dampak positifnya. Buat apa kita merusak ukhuwah Islamiyah di dunia nyata
jangan serius bersosial media


annisakih.com Niatnya sih rajin ngeblog, banyak ide-ide tulisan, minimal untuk menggantikan nulis diary bayi Ziqri yang biasanya pakai aplikasi di note, tapi kenyataannya setahun berlalu gak ada yang ditulisin tu hahahaha..

Ya kembali ke judul,, kali ini saya pengen ngebahas fenomena yang terjadi disekitar saya. Jadi disclaimernya : kalau ada orang-orang terdekat saya yang membaca blog ini dan jadi agak merasa.. mungkin bisa jadi yang saya maksud memang anda! hoahahaaa.. bukan menyindir tapi yang saya amati tentunya orang-orang disekitar yang saya tahu dan berteman di media sosial juga.

Sebagai anak generasi digital, bohong banget kalau saya sendiri bilang gak menikmati teknologi dengan segala kecanggihannya. So far sih walau ga selalu up to date tapi minimal saya masih mengikuti perkembangan teknologi khususnya gadget lebih spesifiknya lagi handphone pintar a.k.a smartphone. Mungkin dulu orang terdekat seperti teman dan saudara mengenal saya sebagai orang yang tidak terlalu peduli dengan handphone. Saya pernah menghilangkan beberapa karena lupa, merusakkan karena jatuh atau sering bepergian tanpa membawa handphone. Tapi itu jelas sebelum zamannya smartphone yang bisa mengakses internet lewat handphone. Sejak itu saya lebih aware dengan keberadaan handphone saya. Hoahahaa

Selain untuk fitur telepon dan kamera, saya perlu smartphone untuk browsing. Biasanya yang berkaitan dengan interest saya saat itu, ntah blogwalking, mencari info jadwal film, info seputar kesehatan, yang berkaitan dengan perkuliahan atau perkerjaan dan tentunya bersosial media.

Jadi saat ini saya tinggal di suatu pulau di Kepulauan Riau, sedangkan semasa sekolah hingga kuliah dan bekerja saya habiskan di Pekanbaru dan Semarang. Sejak lulus sekolah atau kuliah dari masing-masing kota tersebut, saya hanya sempat bertemu segelintir teman saja, sisanya hanya silahturahmi lewat sosmed. Tapi bukan berarti saya sosmed addict ya.. on off juga sesuai mood. Kadang saya bisa tidak membuka facebook 1-2 bulan lamanya, bahkan sempat saya 1 tahunan lho.. Begitu pula twitter saya yang sudah lama sekali mati suri. Hanya Instagram dan Path yang lumayan aktif tahun-tahun terakhir ini untuk menshare perkembangan Ziqri pada bicik dan aunty-auntynya.


Nah yang menggelitik saya, bahkan bisa jadi dagelan harian, ada beberapa teman yang berbeda kubu dalam pemilihan presiden tahun 2014 lalu namun efeknya masih kuat terasa hingga sekarang di sosial media masing-masing. Setiap yang satu men-share berita atau menulis status di facebook berkaitan dengan kubu yang didukung, pihak lain selalu berusaha untuk nimbrung dan menentang. Sungguh ironi yang bahkan disadari oleh teman lain yang berada diluar lingkungan pertemanan itu sendiri : yaitu kenyataannya zaman masih kuliah dulu saja jarang ngobrol, eh, koq sekarang 10 tahun berikutnya malah diskusi panas melulu? Di status facebook tapinya ;) Topiknya lama-lama melebar ke ranah agama pula. 

Sejujurnya saya jadi heran lho,, pengen nanya langsung tapi saya pun tidak pernah seakrab itu dengan sebut saja namanya A, sebenarnya apa sih keuntungan langsung yang diperoleh si A dengan sebegitunya membela kubunya itu? Karena saya pribadi biasanya berpikir dua kali bila akan menginvestasikan waktu untuk membela suatu kubu bila tidak mendapat benefit langsung tersebut. Benefitnya tidak mesti uang lho, tapi bisa juga kemudahan atau apapun bentuknya yang langsung dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Bawaannya jadi sensitif, setiap teman lain yang diketahui berbeda kubu di pemilu kemarin menulis status, maka akan bisa dipastikan ada pula status sanggahannya. Kocak abis! 

Saya pernah nyaris terjebak dalam 'perang' argumentasi dengan si A tadi disalah satu status teman saya yang memang aktivis dakwah. Tapi saya cepat-cepat tersadar debat kusir gak ada habisnya, akhirnya saya sudahi saja dengan permintaan maaf. Bukan berarti saya menyetujui pendapatnya ya.. tapi karena ada sepenggal statement saya yang malah bisa jadi bumerang kalau dibaca orang banyak tanpa menelusuri kenapa hingga saya bisa mengeluarkan statement tersebut. 

Akhirnya saya juga jadi malas membagikan berita-berita politik (padahal sedari kecil saya aktif membicarakan politik dengan kedua orang tua), lebih kepada pengetahuan yang berkaitan dengan ibu rumah tangga, mengurus anak, kpop atau yang ringan-ringan saja sepanjang saya rasa menarik dan perlu suatu saat jadi saya simpan dahulu di timeline saya.

Intinya ya.. apa yang saya (dan mungkin kebanyakan orang lain) share atau membuat status di facebook itu bukan berarti selalu untuk menyindir orang lain. Bisa sebagai self reminder, mushabah diri,, kan malu uda ngeshare larangan ini itu tapi tetap melakukan, disimpan untuk dibuka lagi saat perlu atau memang untuk mengabarkan kepada handai taulan yang tersebar hingga ke benua lain, suatu keadaan yang sedang dialami. Bukan untuk pamer, tapi misalnya begini : berita kelahiran anak, alangkah praktisnya sekali klik di facebook seluruh handai taulan telah sekalian dapat melihat fotonya. Dari pada via sms atau telefon, rasanya si ayah atau ibu baru tidak sempat menghubungi satu-satu seluruh kenalan. Dan sejujurnya bagi si penerima kabar kelahiran via sms kadang bingung hendak membalas apa (doa saja untuk si kecil? Perlukah menayakan keadaan ibunya? Di rumah sakit mana? dll ) Ada 'beban' untuk menjenguk, di balas smsnya dengan diisi pertanyaan pun belum tentu dibalas lagi, dan sebagainya berdasarkan pengalaman pribadi.

Jangan terlalu serius bersosial media. Buang dampak bahaya, ambil saja dampak positifnya. Buat apa kita merusak ukhuwah Islamiyah di dunia nyata hanya demi setitik kemenangan di dunia maya. 
Salam.