Balada Posyandu dan 7 Tips Menghadapi Anak Susah Makan

Balada Posyandu dan 7 Tips Menghadapi Anak Susah Makan dengan cara baby lead weaning, menu seimbang, ajak siapkan makanan dan lain sebagainya
Balada Posyandu dan 7 Tips Menghadapi Anak Susah Makan

Balada Posyandu dan 7 Tips Menghadapi Anak Susah Makan

Sejak menjadi seorang ibu, saya baru memahami concern utama seorang ibu itu ialah kesehatan anaknya. Sehat disini bukan hanya dalam arti tidak diserang penyakit saja, melainkan sehat dalam pertumbuhan dan perkembangannya.

Secara awam, tolok ukur yang paling standar ialah Kartu Menuju Sehat (KMS) yang mencatatkan penambahan berat badan dan tinggi badan serta lingkar kepala sejak bayi dilahirkan hingga berusia lima tahun. Saat ini saya rutin membawa Ziqri ke Pos Layanan Terpadu (Posyandu) demi mengetahui pertumbuhannya. Kegiatan ke posyandu ini bukan tanpa balada, Ziqri selalu menangis setiap hendak ditimbang! Sebenarnya Ziqri biasa saya bawa ke dokter anak di rumah sakit tempatnya dilahirkan. Dokter anak dan perawatnya sudah sangat familier bagi Ziqri. Tapi sayangnya lokasinya di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau. Setelah suntikan imunisasi wajibnya selesai, saya tidak rutin pulang ke Tanjung Balai Karimun sebulan sekali. Jadilah saya membawa Ziqri ke posyandu di Belakang Padang.

Hasilnya bagaimana?
Ziqri itu lahir dengan "modal yang besar" yaitu 4.050 gr. Jadi dengan rumus menghitung berat badan lahir di kali 3, maka seharusnya diusia 1 (satu) tahun berat idealnya ialah 12.150 gr. Sayangnya berat ini tidak tercapai. Diusia satu tahun, berat ziqri hanya 10.500 gr. Begitu pula saat Ziqri berusia 2 tahun, seharusnya berat badannya 4x berat lahir, yaitu 16.200 gr. Tetap tidak tercapai karena bertanya hanya 14.500 gr.

Berbagai upaya telah saya (beserta suami dan keluarga) lakukan untuk meningkatkan nafsu makan Ziqri. Mulai dari memberi vitamin penambah nafsu makan hingga mengkonsultasikan kesehatannya ke dokter anak. Sembari memeriksakan benjolan di ketiaknya (mungkin akan saya ceritakan sendiri nanti), kami berkonsultasi dengan dokter anak dari 5 rumah sakit berbeda, termasuk 2 diantaranya rumah sakit di Malaysia. Hasilnya dari tes darah, rotgen dan sebagainya, Alhamdulillah Ziqri dikategorikan sehat. Apalagi anaknya cenderung aktif sehingga para dokter tersebut "hanya" memberikan nasihat menyerupai rubrik konsultasi di majalah atau artikel yang bisa saya temukan sendiri di internet, misalnya " variasikan makanannya, bila perlu sajikan dalam bentuk yang menarik". Saya cuma bisa mikir.. "Boro-boro ngebento, dok, Masak biasa saja, skill saya pas-pasan" Hoahahahaaa

Setelah "kenyang" sendiri menghadapi Ziqri, saya dapat mengambil kesimpulan sendiri dalam menghadapi anak susah makan :

1. Menerima anak dan diri kita sebagai ibu apa adanya

Sedari kecil saya doyan makan dan salah satu ketakutan terbesar saya adalah anak saya sulit makan. Berkaca pada pengalaman orang tua saya yang sering berseloroh tahan ngupah biar adik saya mau makan. Akhirnya saya sering stress. Kenapa anak saya koq ga doyan makan? Ternyata semakin saya frustasi, maka Ziqri juga akan semakin merasa tertekan dan makan dengan ogah-ogahan.

Saya akhirnya bisa menerima, bahwa saya bukan ibu yang telaten dan cekatan dalam menyiapkan menu dan menyuapi anak. Setelah saya bawa santai, Alhamdulillah, justru Ziqri mulai mau makan teratur. Prinsip saya "yang penting saya sudah berusaha memberinya makan di waktu makan". Kalau habis disyukuri, tidak habis berarti coba lagi beberapa jam lagi.

2. Menu makan yang seimbang dan makanan penunjang.

Idealnya mengikuti piramida makanan sehat. Sesuaikan dengan kelompok usia untuk mengetahui besar kalori kebutuhan anak.
Sayangnya bagi Ziqri hal ini cukup sulit untuk dilaksanakan. Ziqri sering menolak jenis dan bahan makanan tertentu. Akhirnya prinsip saya ganti dengan apa yang disukai. Contohnya sewaktu Ziqri dibawah satu tahun dan menolak bubur nasi, saya banyak memberinya alpukat. Setelah lebih besar dan ada hari-hari Ia ga mau makan nasi? Saya ganti dengan makaroni atau pasta. Pokoknya lebih baik ada yang masuk dari pada tidak sama sekali.

3. Ganti metode pemberian makan.

Kebanyakan orang tua memberi makan anaknya dengan cara disuapi. Biasanya digendong lalu diajak keliling kampung. Saya termasuk produk yang diberi makan seperti ini. Efeknya saya jadi kurang mengapresiasi makanan dan mempengaruhi berat badan saya.

Saya Saran saya, cobalah Baby Led Weaning (BLW). Bisa di googling sendiri untuk lebih jelasnya. Sebenarnya saya sejak awal ingin mengaplikasikan metode ini sepenuhnya. Tapi ditentang keras oleh orang tua saya. Akhirnya saya masih menerapkan BLW dicampur dengan disuapi alias spoon feeding. Alhamdulillah, manfaatnya diusia 1 tahun Ziqri sudah jago makan sendiri dengan duduk di high chair memakai sendok atau garpu. Memang masih ada yang berceceran tetapi lebih santai membawanya untuk pergi keluar.

4. Berikan anak pilihan dan ajak anak menyiapkan makanannya

Idealnya diterapkan setelah anak lumayan lancar berbicara. Begitu bangun pagi, saya menawarkan opsi pilihan sarapan yang ada pada Ziqri, misalnya : "Ziqri mau telur? Dimasaknya bagaimana? Rebus, ceplok atau dadar?" Kalau dia mengiyakan, saya ajak ke dapur dan tunjukkan proses pembuatannya (tentunya dari jarak yang aman) Saya juga sering mengajaknya ke pasar berbelanja bahan makanan dan menceritakan asal bahan makanan misalnya : "Ini udangnya wak Roman yang tangkap di laut, lho.. Jadi Ziqri harus habiskan ya".

5. Hentikan melabelling anak susah makan / picky eater, dsb

Sesama ibu- ibu atau minimal bertemu dengan para ipar yang mempunyai anak sebaya, saya kerap curhat alias mengeluhkan kesulitan Ziqri. Sebenarnya saya tahu persis, hal ini tidak ada manfaatnya sama sekali. Terlebih bila Ziqri turut mendengar perbincangan kami, sama buruknya dengan kita mencap anak-anak dengan ucapan senada "bandel" atau bahasa Melayunya 'degil"

Akhirnya saya ganti halauan dengan selalu memuji-muji Ziqri bila Ia mau makan, apalagi hingga habis. Saya sengaja melaporkan pada ayahnya setiap ayahnya pulang kerja bahwa Ziqri sangat sholeh dan pandai di hari tersebut karena hal-hal positif yang Ia lakukan, misalnya banyak makan.

6. Jangan membandingkan pertumbuhan anak dengan anak lainnya

Alhamdulillah, meski sulit makan, Ziqri terbilang tinggi untuk anak seusianya. Bagaimanapun hal ini tidak dapat dijadikan patokan. Tolok ukur yang digunakan ialah KMSnya sendiri. Dari sana akan terlihat apakah kurva pertumbuhannya mengalami kenaikkan atau terus mendatar. Langkah selanjutnya yang harus diambil tentu berkonsultasi dengan ahli kesehatan bila kurva menunjukkan stagnasi apalagi cenderung menurun atau medekati garis merah.

7. Latih anak untuk tidur sepanjang malam (sleep trough the night)

Kerap kali bayi bangun dan menangis untuk minta susu. Kebiasaan ini kadang berlanjut hingga usianya lebih besar. Orang tuanya pun tidak tega menolak karena beranggapan dengan diberi susu malam hari dapat meningkatkan asupan gizi dan mengejar ketertinggalan karena kurangnya asupan makanan di siang harinya, Saya sendiri tidak menyetujui pendapat ini. Meskipun tidak terlihat hubungan secara langsung tetapi saya sangat mempercayai bahwa bayi (dan anak) haruslah tidur sepanjang malam. Pernah dengar diet OCD a la Deddy Corbuzier? Salah satu alasan yang dikemukakan hormon pertumbuhan (hgh / human growth hormone) paling aktif berkerja saat tubuh tidak mencerna makanan.
Ziqri tidur nyenyak sepanjang malam (Ia hanya bangun menyusu pukul 23.00 WIB lalu baru bangun  lagi saat azan Subuh) sejak Ia beruisa tiga bulan. Efeknya, saat terbangun pagi hari, dapat dipastikan Ziqri lapar dan mau sarapan. Alhamdulillah selama ini pun grafik pertumbuhan di KMSnya tetap baik, saya dan ayahnya dapat menjalani tidur malam tanpa terganggu dan ini surga banget.

Menjelang usia Ziqri tiga tahun ini pun saya sedang mengurangi asupan susu tambahan. Dikurangi secara bertahap, dari yang tadinya susu UHT ukuran 125 ml tersedia dan dapat diminum Ziqri dalam jumlah unlimited perhari. Memang setelah lewat usia 2 tahun sebenernya susu hanyalah pelengkap.

*****
Demikianlah pengalaman saya menghadapi Ziqri yang kurang doyan makan. Buat ibu-ibu yang lain yang memiliki pengalaman serupa, bersabarlah, bisa jadi ini hanya fase sementara. Tetap berusaha dan do'akan kesehatan anak kita.