Higenitas Terjaga Kunci Cegah Tipes Pada Anak

Memasuki usia sekolah, salah satu pertimbangan saya sebagai orang tua adalah mencari sekolah dengan  kantin yang terjamin kebersihannya. Bukannya apa-apa, saya belajar dari pengalaman pribadi, pernah kena tipes saat masih bersekolah di tingkat menengah atas. Penyebabnya –bisa jadi—akibat jajan sembarangan, maklum saat itu saya tinggal jauh dari orang tua. Alhasil, saya ingin sebisa mungkin mencegah kejadian tipes pada anak ini berulang pada anak saya.


Sebelumnya ada yang pernah kena tipes juga?? Huhuhu semoga jangan deh. *amit-amit* ketokin meja ..

Eh, kadang suka ketuker-tuker antara istilah Tipes dan Tifus ya? Ada yang mengucapkannya Tipes ada juga yang Tifus.

Sebenarnya secara medis, istilah ini merujuk pada dua penyakit yang berbeda. Tipes atau Demam typhoid disebabkan oleh bakteri salmonella typhi. Dengan gejala sakit / gangguan seputar sistem pencernaan : mual / muntah, sakit perut, diare atau justru sembelit, sakit tenggorokan dan kehilangan nafsu makan, yang disertai demam tinggi berulang pada malam hari, sakit kepala, nyeri otot dan merasa kelelahan. 

Penyebarannya melalui makanan dan air yang terkontaminasi bakteri atau tertular dari penderita lain. Bisa dari air liur atau cairan tubuh lain ataupun dari tinja, karena bakteri dapat hidup dalam waktu yang cukup lama meskipun dalam saluran pembuangan.

Sedangkan tifus disebut juga rickettsia ialah penyakit yang ditularkan melalui gigitan serangga seperti tungau dan kutu dengan gejala hampir mirip namun kadang disertai ruam dibadan. 

Apakah bila tiba-tiba merasa kurang fit dengan gejala diatas setelah makan yang kurang bersih lalu langsung self diagnose : “wah, jangan-jangan saya kena tipes, nih!” ? 

Biasanya, tipes memiliki masa inkubasi satu hingga dua minggu setelah terinfeksi. Lagipula, jangan jadikan kebiasaan googling gejala penyakit tertentu, lalu segera mencari obatnya yang bisa dibeli secara bebas sekenanya. Terlebih di era pandemi ini. Carilah petunjuk ahli kesehatan terdekat. Bisa ke puskesmas, klinik atau dokter praktek. 

Dari pengalaman, setelah diperiksa kondisi lidah (sering kali ada penebalan berwarna putih) kita akan diberikan serangkaian tes, yang disebut sebagai tes widal. Dimana kita ditanyai seputar riwayat kesehatan, kebiasaan makan / pola hidup dan tes darah. Ada juga metode tes urin dan tinja. Di masa itu,hasil titer tes darah saya dinyatakan positif (lupa berapa hasilnya) dan berakhir dengan rawat inap selama lima hari.

Memang, tipes ini proses penyembuhannya membutuhkan waktu. Selain minum obat yang diresepkan dokter, kita pun sebaiknya merawat kesehatan organ pencernaan. Misalnya dengan sementara waktu mengkonsumsi makanan yang teksturnya lembut, kaya serat namun kurang spicy. Bisa dibilang saya rutin makan bubur selama dua minggu setelah dinyatakan boleh pulang ke rumah dan menghindari makanan pedas selama hampir enam bulan berikutnya. 

 Nah, tidak kebayang deh, kalau Ziqri  yang masih anak-anak juga kena. Pasti rewel dan bikin ortunya resah karena ga tega. Oleh karena itu sebisa mungkin saya menerapkan  :

1. Cuci tangan secara teratur.

Seiring dengan program ingat pesan ibu untuk selalu 3M, mencuci tangan sudah menjadi bagian dari keseharian kita saat ini. Bahkan tata cara mencuci tangan sesuai standar WHO sudah masuk buku cetak tema di kelas satu sekolah dasar / sederajat. Ingatkan lagi si buah hati untuk selalu mencuci tangan sebelum makan atau minum dan setelah buang air kecil / besar.

2. Memastikan makanan / minuman yang dibeli higenis

Sebisa mungkin saya membiasakan Ziqri untuk membawa air minum sendiri. Makanan yang diberikan padanya pun sudah dipastikan telah dicuci dengan baik seandainya untuk dimakan langsung seperti buah-buahan, sedangkan yang dimasak, telah matang sempurna.

Selebihnya, sebagai keluarga yang masih sering jajan di luar, saya mengajari Ziqri untuk memperhatikan kebersihan tempat penjual makanan atau minuman. Hindari yang sudah terlihat jorok atau kotor, ataupun dekat dengan sumber yang kurang higenis misalnya dekat tempat pembuangan sampah atau saluran pembuangan air / got.

3. Memberikan vaksin 

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberikan rekomendasi pemberian vaksin bagi anak usia dua tahun dan diulangi setiap tiga tahun sekali hingga anak berusia 18 tahun.

4. Tidak menggunakan peralatan makan yang sama dengan penderita tipes 

Seandainya ada anggota keluarga yang terkena tipes, untuk berjaga-jaga sebisa mungkin pisahkan peralatan makan dari ananda. 

Jadi marilah sebisa mungin kita bersama selalu menjaga higenitas agar selalu terhindar dari tipes dan penyakit lainnya. Plus ajarkan juga kebiasaan baik tersebut pada anak-anak kita ya