7 Hal yang Membuat Bahagia

7 hal yang membuat bahagia ; kelahiran anak, aroma buku baru, olahraga, diapresiasi karena kemampuan, belajar hal-hal baru
7-Hal-yang-Membuat-Bahagia

Day 13 : 7 Hal Yang Membuat Bahagia

 1. Kelahiran Ziqri

Kelahiran Ziqri adalah salah satu hari yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Serius, entah mungkin karena saya masih berada dalam efek anastesi, tetapi saat saya memandang wajahnya saat pertama kali saya benar-benar merasakan euphoria yang luar biasa. 

Ga ada kata-kata yang bisa mendeskripsikannya.  Perasaan  haru, takjub, bahagia, bangga, ada kesadaraan bahwa “eh, saya sudah jadi ibu nih” dan “Ooh, ini, toh, yang selalau dimaksud ayah dan ibu : nanti saya akan merasakan sendiri saat punya anak—kalau saya lagi ngeyel ke mereka--,  entahlah semua bercampur jadi satu.

Diantara up and down saya sebagai orangtua dalam menghadapi tingkah polah si bocah, saya akan selalu bersyukur dan mengenang kembali hari kehadiran Ziqri dalam kehidupan saya.

2. Aroma Tanah Basah Setelah Hujan dan Buku Baru

Dua-duanya selalu berhasil membuat saya senyum-senyum bahagia. Apalagi saat saya menetap di Belakang Padang, Kepulauan Riau. Kehadiran hujan sangat didambakan dan dirayakan sepenuh hati

Pun saya mengurangi membeli buku di tahun-tahun tersebut karena cukup jauh dari toko buku besar dan mahalnya ongkir jika harus membeli secara online.  Jadi, ketika saya bisa mencium aroma buku yang baru dibuka, duh, senangnya ga kira-kira. Combo maut adalah ketika saya bisa santai membaca saat hujan turun.

3. Berkumpul Dengan Keluarga

Harta yang paling berharga adalah keluarga. No debat ya..

Saya juga sangat bersyukur, keluarga suami di Belakangpadang pun sama asyiknya. Suami berasal dari keluarga besar yang usia antara kakak dan adik berdekatan plus menikah dengan jarak yang nyaris bersamaan.  Masih ditambah para sepupu dan pasangan-pasangan mereka.  

Karena tinggalnya berdekatan, saya serasa punya banyak sahabat baru. Dan Ziqri pun selalu merasa punya adik berkat keberadaan adik-adik sepupunya. 

Sekarang setelah tinggal berjauhan, saya selalu merindukan kebersamaan dengan para keluarga, khususnya keponakan-keponkan saya. 

Baca juga : Take It for Granted

4. Berbagi Kebaikan dengan Seluruh Makhluk Ciptaan Allah

Sebagaimana yang pernah saya ceritakan di hari ke…, diusia yang cukup matang ini, saya merasakan salah satu pencapaian terbesar saya adalah ketika saya bisa berbuat suatu kebaikan. Semakin banyak kebaikan yang kita bagi, niscaya, berbanding lurus dengan kadar kebahagiaan.

Berbaginya pun tidak mutlak dalam bentuk materi. Banyak hal kecil lain yang bisa kita lakukan termasuk untuk hewan dan tumbuhan yang ada di lingkungan sekitar kita.

Baca juga : Sedekah a la Ibu Rumah Tangga 

5. Belajar Hal-Hal Baru

Setelah kembali ke sekolah (baca : mengajar di suatu Madrasah Aliyah), saya baru menyadari bahwa saya sangat suka proses belajar sesuatu yang baru. Menantang diri sendiri dengan mencoba mempelajari hal-hal yang saya tidak kuasai sebelumnya itu seru! Ibarat istilah adrenalin junkie, saya suka rasa penasaran, berdebar-debar, jatuh bangun selama proses belajar, hingga akhirnya bisa menguasainya. 

Salah satu dari silver lining di masa pandemi ini adalah semakin banyak kanal belajar yang bisa diakses secara online. Mulai dari yang gratisan hingga berbayar. Kesempatan emas yang sungguh sayang untuk disia-siakan. 

6. Diapresiasi Berkat Kemampuan

Ketika saya berhasil mengemban suatu tanggung jawab dengan baik, ada kelegaan yang membuat seluruh effort yang saya berikan terbayarkan. Terlebih manakala ada sebentuk apresiasi yang diberikan. Sekecil apapun bentuknya, benar-benar bisa membuat saya menjadi lebih bersemangat.

7. Berolahraga

Di masa sekolah, saya tidak terlalu suka jam pelajaran olahraga, ribet harus berganti pakaian di sekolah dan saat sekolah menengah, jadwal olahraga berada di luar jam pelajaran utama. Kemampuan saya pun standar saja. 

Tapi sejak berada di Jogja untuk bimbel sebelum tes PTN, saya sering bergabung dengan mbak-mbak sekosan yang jogging keliling kampus UGM. Meski tidak lulus, semangat berolahraga tetap saya bawa hingga kini.  Saya cuek saja sih lari-lari seorang diri. Pun setelah menikah dan tinggal di pulau nan imut yang membuat langkah kaki kerap terhenti setiap beberapa ratus meter akibat bertemu kenalan. Jogging, main hulahoop, skipping dan ngikutin senam dari youtube adalah salah satu me time terbaik saya. Bonusnya, iya lingkar pinggang saya stabil sejak SMA hingga kini hihihiii

❤❤❤❤❤