Take It For Granted

kita terlalu sering take it for granted akan segala sesuatu yang kita anggap "ya, gitu deh". Terlalu nyaman dengan segala sesuatu yang kita anggap pas

Take It For Granted

Take it for granted ialah salah satu frasa yang menurut saya paling sulit dicari padanan katanya secara harfiah dalam Bahasa Indonesia. Penerjemahannya harus dilihat konteks pembahasannya terlebih dahulu.

Contohnya nih, seorang bisa saja mengeluarkan statement "You've always take me for granted". Nah biasanya ini diucapkan oleh seseorang kepada orang lain (biasanya significant other) di saat dia merasa bahwa semua yang telah dilakukan untuk orang tersebut hanya disia-siakan. 

Atau dalam konteks kisah saya, meski agak sulit dijelaskan, sejak pandemi COVID-19 mendera Indonesia dan dunia pada umumnya, berkali-kali saya merasa saya terlalu take it for granted dengan banyak hal dalam hidup ini. Mulai dari yang sepele semisal berkumpul bersama teman, jalan-jalan, hingga masuk sekolah, melaksanakan ibadah berjamaah maupun bernafas dengan lega karena kini setiap keluar rumah, wajib menggunakan masker.

Hal-hal tersebut meluas karena saya sudah berencana pindah ke kampung halaman ketika Ziqri masuk sekolah dasar. Isu lockdown menggema menjelang Idul Fitri, jadwal airlines bahkan pelayaran antar pulau banyak yang ditiadakan! Ini sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan akan terjadi dimasa lampau. 

Ya, saya atau mungkin kita terlalu sering take it for granted akan segala sesuatu yang kita anggap "ya, gitu deh". Terlalu nyaman dengan segala sesuatu yang kita anggap pasti akan ada keesokan harinya. 

Apakah ini salah satu cara Nya untuk menjadikan saya, pribadi atau kita -- manusia-- menjadi makhluk yang lebih bersyukur? Bisa jadi.

Bukan berarti saya tidak bersyukur dengan keadaan saat ini dengan membanding-bandingkan, karena jelas sangat tidak apple to apple antara Belakang Padang yang ibukota kecamatan berlokasi di sebuah pulau kecil dengan lokasi kami sekarang, yaitu sebuah ibukota kabupaten di pedalaman Pulau Sumatera. Justru karena saya ingin mengenang dan bersyukur atas beberapa hal yang saya anggap terlalu take it for granted selama kurang lebih tujuh tahun saya hidup di Belakang Padang, diantaranya adalah :

Keluarga Besar Suami dan YPI Amanatul Ummah, Belakang Padang

Keluarga besar Mbah Poniyah : Belakang Padang - Batam -Johor

Keluarga Besar YPI Amanatul Ummah (MI, MA, TPQ)
Formasi kurang lengkap ya nih fotonya, tapi saya suka karena selama 2,5 tahun saya sering dipercaya jadi juru foto apa adanya begini wkwkwk.


Kayaknya ga perlu dijelasin ya.. Saya kangen semuanya.. Termasuk para tetangga yang serasa saudara juga.

Baca Juga : 11 Kegiatan Menarik di Belakang Padang 

Memandang laut

Sejak sekolah dasar, saya bercita-cita ingin tinggal di rumah di atas bukit yang memandang lautan. Alhamdulillah dijabah Allah. Rumah orang tua kebetulan dapat lokasi yang pas, eh, setelah menikah dan tinggal di Belakang Padang, rumah mertua juga lokasinya diatas bukit yang masih kelihatan laut dikejauhan. Malah boleh dikatakan karena Belakang Padang pulaunya terbilang kecil, dikelilingi oleh pantai dan lautan. Sehingga sangat mudah untuk sekedar melepas penat, cukup berkeliling pulau atau iseng duduk memandang lautan, pikiran bisa kembali fresh lagi. 

Seafood

Seafood di belakang padang itu lumayan beraneka ragam mulai dari berbagai macam ikan, kepiting, kerang, kerang kipas, udang hingga yang khas Kepulauan Riau berupa gonggong dan kepah. Biasanya dijual di pasar dari nelayan yang mengambil langsung di lautan sehingga harganya relatif terjangkau dan segar-segar. Keberadaan aneka seafood ini membuat susunan menu makanan sehari-hari jadi bisa lebih variatif, ketimbang di daerah yang jauh dari lautan.

Kepah
Kerang Kipas


Di lokasi saya saat ini, seafood adalah komoditas langka, karena harus didatangkan dari Propinsi tetangga. Harganya lebih mahal padahal kesegarannya jelas sudah menurun. Ikan sungai pun memiliki tekstur dan rasa yang kurang jauh berbeda dengan ikan laut. Jadilah suami dan anak saya butuh waktu untuk "melemaskan" lidah

Kekusyukan Adzan

Di Belakang Padang ibadah shalat sangat diprioritaskan. Contohnya bila sedang berlangsung resepsi pernikahan, meskipun ada penyanyinya atau hiburan lain maka mereka akan senyap disaat azan menggema. Lalu bergegas pergi ke mesjid / mushalla terdekat untuk shalat berjamaah. Hal itu tidak saya jumpai di sini sehingga rasanya jengah sekali tetap melanjutkan kegiatan di kala masjid sedang menyerukan adzan.

Keamanan

Belakang Padang terkenal dengan tingkat keamanan yang cukup terjamin. Jarang terdengar kasus kriminal karena saya akui, aparat penegak hukum cukup disiplin. Bahkan di malam hari, kami sering tidur tanpa mengunci pintu dan jendela. (Please, jangan ditiru!!) Penyebab lainnya ialah pulau tersebut yang kecil dan warga yang saling menjaga satu sama lain. 

Hal itu sangat berbeda jauh dengan apa yang saya alami saat ini, tingkat kriminalitas cukup tinggi. Selama saya menetap tiga bulan terakhir, saya sudah mendengar ada dua kasus perkelahian yang berakhir dengan saling tusuk (atau biasa di sebut tuja) yang berakibat fatal hingga memakan korban jiwa.

Perasaan kurang aman  lainnya ialah saat berkendara di jalan raya. Banyak sekali pemotor yang memodifikasi kendaraannya dengan knalpot racing berbunyi nyaring memekakkan telinga. Sungguh disayangkan kekurangtegasan aparat dalam melakukan razia, karena di malam hari, kendaraan tersebut benar-benar mengganggu ketentraman tidur, terutama bagi kami yang tinggal di sebuah ruko yang berlokasi di jalan utama.

booth payo_payu di depan ruko di Muaradua, kamari tidur di lantai 3☺

Bahkan kesadaran untuk menggunakan masker pun masih terbilang rendah meskipun sudah berkali-kali diadakan penyuluhan keliling yang diikuti razia masker oleh aparat gabungan.

Naik Kapal Laut

Last but not least, saya rindu dihempas gelombang, baik yang berukuran kecil dan biasa disebut pompong untuk ke Batam hingga yang berkapasitas 200-300an orang untuk mudik ke Tj. Balai atau kota / negara lain. Alhamdulillah belum pernah mengalami pelayaran yang dahsyat hingga saya mabuk laut.

pompong / pancung / boat

uwuw.. 

Pada akhirnya saya sangat bersyukur pernah tinggal di Belakang Padang dan mendapat banyak sekali kebahagiaan, pengalaman baru serta ilmu berharga. Alhamdulillah...

InysaAllah, Sampai jumpa lagi di Blp!!