Tentang Puasa Saat Pandemi

Tentang puasa saat pandemi : bedanya saat tahun lalu masih bekerja, sedangkan tahun ini lebih banyak berada di rumah namun kekhawatiran semakin kuat
tentang-puasa-saat-pandemi

 Day 20 : Puasa Saat Pandemi

Setahun yang lalu kita pertama kali menjalankan ibadah puasa dalam keadaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Terasa banget buat saya yang saat itu masih menjadi guru di Madrasah Aliyah. Sebagai sekolah berbasis agama, lazimnya di bulan Ramadan kegiatan di sekolah justru semakin padat. Ada pesantren Ramadan, kajian subuh, buka puasa alumni, Shakat Tarawih bersama hingga menginap di sekolah.

Seru bangeeet...

Dan tiba-tiba semuanya jadi ga boleh  bisa dilakukan, ya demi kebaikan seluruh umat manusia.

Banyak siswa yang mengutarakan  kekecewaan dan selalu membahas di grup aplikasi chat, bahwa mereka rindu sekolah dan kegiatan Ramadan tahunan yang sudah menjadi tradisi. Istilah mereka, puasa rasanya kurang greget. Padahal buat saya malah lebih greget, karena bersiap untuk resign, saya harus menyelesaikan dan mengalihkan pekerjaan saya kepada guru lain. Alhasil, sebenarnya setiap hari selama Ramadhan tahun lalu saya masih datang ke sekolah untuk bekerja seorang diri T___T

Kepada anak-anak, Saya dan guru-guru yang lain hanya bisa menyabarkan dan mengingatkan agar selalu mematuhi protokol kesehatan dan mengurangi bepergian, termasuk ke Pulau Batam.

Memang, pulau Belakang Padang saat itu masih terbilang aman dan berada di zona hijau, namun sebagian besar kecamatan yang berada di Pulau Batam sudah memerah. Sehingga kami harus lebih waspada, meningat banyaknya penduduk Belakang Padang yang pulang pergi antara kedua belah pulau untuk bekerja atau menjalankan aktivitas lainnya.

Sisi positifnya adalah pengawasan yang terbilang ketat dari pemerintah kecamatan yang bekerjasama dengan jajaran Puskesmas, Kepolisian dan instansi lain. Secara rutin ada patroli yang mengedukasi, melakukan penyemprotan antiseptik di lokasi umum, membagikan cairan sterilisasi gratis, hingga razia masker. Caranya pun cukup kreatif, karena warga yang tertangkap tidak mengenakan masker dibuat viral dengan dibagikan fotonya di grup kecamatan.

Tahun ini keadaannya sedikir berbeda, saya sudah balik ke kampung dan sehari-harinya lebih banyak beraktivitas dari rumah. Nyatanya, kekhawatiran saya dan keluarga akan persebaran pandemi masih sama besar atau bahkan mungkin menjadi meningkat.

Kenapa?

Saat ini saya tinggal dengan para Uwak yang dikategorikan sebagai manula, salah satu kelompok usia yang rentan terpapar virus COVID-19.

Baca juga : Vaksin COVID-19 Untuk Lansia

Selain itu, bedanya, karena faktor geografis, sebagai pulau, pintu masuk dan keluar Belakang Padang sangat terbatas, sehingga memudahkan pengawasan dan tracing seandainya ada ada yang terkena. Sementara di tempat saya tinggal saat ini, tentu tidak demikian. Akses keluar masuk ada banyak dan yang lebih parah, banyak warganya seolah menyepelekan dan "santai" saja beraktivitas tanpa menggunakan masker.

Seolah terlena, karena diawal pandemi, kabupaten ini masih nihil korban. Saya pun pernah mendengar langsung sendiri obrolan sekelompok pekerja yang sedang berkumpul di samping rumah, bahwa mereka meragukan adanya virus dan menganggap ini semua hanya teori konspirasi. Naudzubillah.

Padahal meski edukasi dan razia rutin juga kerap dilakukan jajaran terkait, korban yang positif hingga meninggal pun sudah banyak yang berjatuhan.

Jadi yang bisa saya lakukan saat ini adalah tetap berusaha melindungi diri sendiri dan keluarga dengan menerapkan 5 M plus dan berdo'a kepada Allah SWT agar pandemi lekas berlalu. Selebihnya, Saya dan keluarga tetap berusaha menjalankan ibadah di bulan penuh magfirah ini dengan sebaik-baiknya.

Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamin YRA