" ".

Recap dan Review Would You Marry Me? Episode 7

Table of Contents


Recap Would You Marry Me? Episode 7

MeRi sangat terkejut mendengar pernyataan cinta WooJoo, Ia malah bertanya "Kenapa?"

WooJoo jadi kelabakan juga, kenapa harus ada alasan untuk menyukai seseorang?

MeRi bingung, kenapa harus dirinya yang secara legal berstatus janda. Keluarga WooJoo pasti tak akan setuju. 

"Apa kau memacari keluargaku? Aku yang kau pacari" WooJoo 'pria dengan seribu modus' mulai beraksi.

"Tetap saja.." MeRi mulai menunjukkan tanda kecemasannya dengan gelisah mengepalkan tangannya.

WooJoo menyadari hal itu dan langsung menggenggamnya sambil bertanya, "Bagaimana dengan dirimu? Apa kau tak suka aku menyukaimu?"

"Tidak, maksudku bukannya tak suka. Jika aku menyukaimu, aku harus menikahi orang yang kusukai. Namun pernikahan selalu punya masalah kehidupan nyata. Dan kehidupan nyata, selalu soal uang. Jadi maksudku, apakah kau punya uang? Dari pakaianmu aku tahu kau bukan tipikal menabung" MeRi malah babling gara-gara grogi.

"Apa?" WooJoo jadi ikutan salting, Ia menjelaskan pakaian rapinya hari ini karena janji makan siang mereka. Ia jarang belanja baju. 

MeRi bertanya dimana rumahnya dan WooJoo bilang masih di rumah nenek tapi bisa saja pindah kalau mau. MeRi kembali mencecar tentang rekening tabungan untuk deposit rumah tapi WooJoo tak pernah merasa perlu membuat, karena selama ini tinggal di luar negeri. 

WooJoo menduga kecemasan MeRi karena takut dirinya justru yang akan menumpang di rumah hadiah itu Hoahaha.

Mata MeRi jadi makin membelalak tapi WooJoo menegaskan dirinya cukup berduit (ya iyalah pewaris Myunsoondang Hoahaha).

Intinya reaksi MeRi berlebihan karena WooJoo tak memintanya menikahinya sekarang juga, pernyataan cintanya tadi pun spontan dan Ia sendiri juga masih kebingungan. Jadi untuk sekarang anggap saja semua percakapan mereka tadi tak terjadi, lalu Ia bergegas pergi.

MeRi mengejarnya, bagaimana mungkin pura-pura tak dengar Hoahaha. Ia hanya terlalu lelah dan khawatir WooJoo marah dan Ia hanya mengabaikannya.

Mereka kembali ke depan ruangan WooJoo1 yang sudah merengek mencarinya. Sang mantan melirik sinis WooJoo dan bertanya siapakah dirinya, WooJoo hanya mengenalkan diri sebagai kenalan MeRi. WooJoo1 tak percaya, dengan cepat WooJoo membenarkan Ia lah sang pemilik rumah yang meminta MeRi menjaganya di Beaute Palace.

WooJoo1 makin emosi dan menuduh saingannya menggoda MeRi dengan rumah. MeRi menegurnya, WooJoo adalah ketua tim di salah perusahaan klien MeRi dan membantunya yang mengalami kesulitan tempat tinggal.

WooJoo1 masih berusaha menyindir keusilannya dengan urusan mitra kerja. WooJoo menerimanya sebagai pujian dan sekalian saja sebagai bentuk keusilannya Ia akan ikut campur dengan menggantikan MeRi menjaga WooJoo1 sampai keluarganya datang. MeRi harus segera kembali ke kantor karena SongHee asistennya menghubungi soal desain logo kedai kopi.

WooJoo1 merengek tak mau ditinggal, Ia takut WooJoo melakukan sesuatu padanya tapi MeRi meyakinkan sebaliknya. Hoahaha.

Sikap berisiknya membuat rekan sekamarnya mengamuk dan akhirnya Ia menyerah.

Di ruangan nenek, Ia mempelajari dokumen yang diserahkan istri Tuan Ko. Ia memerintahkan asistennya menyelidiki keterlibatan orang dalam perusahaan secara rahasia dan hati-hati.

Menantunya datang dan melihat dokumen itu dalam genggaman sang asisten sebelum menyerahkan laporan pembangunan pabrik di Texas, AS. Klaimnya akan selesai dibangun dalam setahun dan mereka akan mengujicoba peluncuruan tujuh produk. Bahkan asrama pegawai lokal siap akan dibangun bulan depan.

Nenek menginstruksikan agar Ia mengalokasikan waktu yang cukup untuk ujicoba karena mereka akan memasok ke jariang hotel Kaltz yang cukup terkemuka. Tak boleh ada kesalahan dan mereka harus segera meeting dengan Tuan David perwakilan jaringan perhotelan tersebut.



Mereka bertiga bertemu di sebuah restoran. Pria itu bercerita Ia dan Direktur Jang sudah berkeliling pabrik bulan lalu. Ia yakin dengan skala pabrik Myunsoondang, bisa memasok prasmanan ke seluruh jaringan hotel.  Nenek mengambil langkah berani dengan membuka pabrik terpusat alih-alih mengirim chef ke masing-masing hotelnya. Nenek mengharap bantuan dan Tuan David yakin Myunsoondang kelak akan jadi nama yang mendunia. 

Sepulangnya nenek, sang menantu meyakinkan Tuan David bahwa nenek tak akan langsung menghubungi pihak Kaltz. Rupanya Ia sendiri sudah lama resign dan mengikuti skenario Direktur Jang. Ia pun sudah mendengar bahwa J-Consulting sudah diperintahkan agar ditutup saja. Direktur Jang menenangkannya, yang penting saat ini Ia harus segera bersembunyi agar tak ketahuan.


WooJoo memberikan roti dan susu kotak pada WooJoo1, jelas si pasien protes. Dengan santai WooJoo makan sendiri dan bilang kalau tak mau juga tak mengapa karena Ia malas membelikan makanan. Hoahaha.

WooJoo bekerja sambil menggumam keenakan. Jadilah WooJoo1 yang kelaparan berusaha membuka kotak susu dengan sebelah tangannya. Usahanya akhirnya membuahkan hasil meski tumpah WooJoo1 menyadari bahwa nama mereka sama. WooJoo membenarkan dan merasa malang. WooJoo1 balas bilang Ia yang merasa malang Hoahaha.

WooJoo1 mengingatkan bahwa Ia dan MeRi pernah menikah setelah berpacaran selama lima tahun. 

"Kau mengatakan itu setelah berselingkuh darinya? Ya, Kau memang sampah" WooJoo memberikan skakmat.

WooJoo1 masih berusaha membela diri, itu hanyalah kebingungan sesaat, saat Ia cemas hendak menikah. Sebagai sesama pria harusnya mereka saling memahami.

Sayang, bagi WooJoo hanya ada rasa tanggungjawab ketika menikah.

WooJoo1 masih berusaha menang, Ia yakin MeRi tak akan memilih WooJoo karena Ia orang yang sangat mementingkan penampilan fisik.  Dia penyuka visual.

Percuma WooJoo yang menganggapnya serius. Ia meminta WooJoo1 mengelap bibirnya lebih dahulu (karena WooJoo yakin MeRi menyukainya sampai bagian belakang kepala. Hoahaha).

MeRi berusaha tidur namun teringat bahwa genggaman tangan WooJoo saat menyatakan cinta membuatnya speechless. Ia membaca pesan dari WooJoo yang akan pulang, pasien sudah tidur.

MeRi mengucap terimakasih dan berjanji tak akan mengganggunya lagi. WooJoo malah membelalakan mata membacanya. 

Keesokan paginya, JinGyeoung menerima telepon di lorong rumah sakit dari rekan yang diselamatkannya saat jogging. Wanita itu mengajak JinGyeoung makan malam sebagai ucapan terimakasih. Ibu dan Kakak WooJoo1 menabraknya dan bukannya minta maaf mereka hanya berlalu setelah memelototi JinGyeoung (padahal yang dipelototi nih anak direktur RS-nya lho Hoahaha). Untunglah minuman JinGyeoung tidak tumpah.

Perawat yang menyuntik WooJoo1 protes karena pria itu sangat bau jadi pasien lain jadi tak nyaman. Mau tak mau WooJoo membantunya membersihkan diri. Ia menggosoknya dan sepertu biasa, pria itu mulai merengek. Kedua anggota keluarganya datang dan langsung membuat kehebohan. WooJoo dengan segera pamit permisi.

Ibunya mendesak bagaimana peristiwa ini bisa terjadi, kakaknya yakin MeRi terlibat. WooJoo1 pergi minta maaf atas perlakuan Ibunya pada ibu MeRi. Ibunya masih tak merasa bersalah, haruskah sebagai Ibu WooJoo1 justru Ia yang harus minta maaf atas kelakuannya berselingkuh? Hoahaha. Ibunya takut Ibu MeRi justru minta pengembalian uang deposit rumah.


Kakaknya curiga si adik mau kembali pada MeRi dan WooJoo1 jujur sudah putus dari Jenny. Ia menceritakan semuanya sampai kakaknya menyemburkan susu dan mengenai sang Ibu yang berapi-api bilang gadis jahat itu harus dihukum. WooJoo1 membenarkan, justru Ia lah yang sedang di hukum. Ia mengakui mencintai MeRi sambil air mata mengaliri pipinya, memohon agar ibunya meminta maaf dan memohon agar MeRi mau kembali. Ia merasa tak bisa hidup tanpa gadis itu. Ibu dan kakaknya hanya bisa saling berpandangan sambil melotot Hoahaha. MeRi menerima telepon dari keduanya yang masih berusaha mengashlight dirinya. MeRi bilang Ia sudah melakukan tugasnya dengan menjaga WooJoo1 selama mereka di Jepang dan mengingatkan bahwa Ia lah yang mengusir MeRi dulu. Saat ini Ia tak mau melihat keluarga mereka lagi. 

MeRi merasa lega dan di saat bersamaan SongHee ternyata mendengar semuanya. Jadi MeRi minta maaf tak bercerita karena kehilangan timing yang tepat. SongHee juga minta maaf, kemarin Ia yang memberi tahu WooJoo1 lokasi MeRi. Namun MeRi meyakinkannya itu bukan masalah, toh SongHee belum tahu mereka sudah putus.


WooJoo menghubungi dan menjemputnya. MeRi sadar ini mobil baru, tapi WooJoo bilang ini indent, jadi baru dikirim. Sebagai penumpang pertama, MeRi memuji kenyamanannya, dengan mulus WooJoo menyampaikan keinginannya sesekali menjemput MeRi. MeRi malah bertanya alasannya dan --tentu saja-- WooJoo menggombal Ia hanya ingin memperlakukan MeRi dengan lebih baik lagi. MeRi yang sebenarnya sudah salting banget mengaku tak akan mudah dirayu. WooJoo malah bilang Ia sudah menduganya dan mengangsurkan sebuket besar bunga!! Wow, Senyum MeRi merekah bahagia. WooJoo masih sempat bercanda Ia menemukannya di perjalanan dan tak mau memberitahukan baik jenis maupun makna bunga tersebut. Ia dengan smooth meminta MeRi mencari tahu sendiri jenis dan maknanya yang ternyata adalah bunga  yang melambangkan perasaan tulus.




Di restoran JinGyeoung bersiap makan malam dengan temannya, ternyata SangHyun pun diundang. Seketika temannya menelpon untuk minta maaf tak dapat hadir. JinGyeoung menyesal tak dikabari dahulu jadi tak bisa menjadwalkan ulang. SangHyun langsung mau pamit tapi JinGyeoung menahannya karena traktiran masih berlaku. JinGyeoung pun mengaku tak sanggup menghabiskan semua makanan yang terhidang.

JinGyeoung mengajaknya minum dahulu dan pria itu menurutinya bersulang. Setelah mencicipi oyster, JinGyeoung bercerita sudah membaca wawancara SangHyun di majalah.

Menurutnya SangHyun sangat kompeten sebagai direktur pemasaran termuda sekaligus berkarakter baik. SangHyun langsung bertanya apakah itu pujian tetapi JinGyeoung justru hendak bertanya, sebagai orang yang memiliki rasa keadilan tinggi, bagaimana mungkin Ia membiarkan bosnya yang jahat mengintimidasinya. Setiap kali YeonWoo butuh surat dokter untuk menghindari panggilan pengadilan maka SangHyun yang membereskannya. SangHyun yang sudah meletakan alat makannya hanya terdiam saat JinGyeoung melepaskan tembakan terakhir: "Apa harga dirimu tak terluka?"

Pria itu menenggak minuman, JinGyeoung minta maaf jika perkataannya menyinggung.

"Ada dua orang, yang satu dilahirkan kaya dan dirinya berpikir berprestasi atas usaha sendiri dan mengkritisi orang lain tanpa berpikir. Betapa tak kompetennya dirimu sehingga harus berjuang dari nol. Kebanggaan dan keyakinan dari orang sepertimu adalah hal pertama yang harus dihadapi orang sepertiku yang memulai segalanya dari nol." 

JinGyeoung gantian terdiam dan kehilangan keberanian menatap lawan bicaranya.



Sesampainya di rumah, MeRi memberi hadiah pada WooJoo sebagai ucapan terimakasih sudah menjaga WooJoo1. WooJoo menerima dengan senang, tapi tetap ya namanya raja modus, pas MeRi pamit mau turun, menurutnya kalau benar berterimakasih harusnya MeRi menawarkan Ramyeon bersama di rumahnya (yang dalam budaya Korea punya makna kiasan lain sesuai film One Fine Spring Day (2001)). 

MeRi langsung salting lagi tapi WooJoo bilang ada hal lain yang ingin ditunjukkannya. Rupanya Ia membawa semua diary masa kecilnya. Ia berusaha meyakinkan MeRi untuk lebih mengenalinya sebagai usah memprediksikan masa depan mereka bersama. Sejak usia tujuh tahun WooJoo membuat catatan keuangan sekaligus ngedoodling hari-harinya. Ia punya banyak tabungan berjangka dan kebiasaan menabung tak akan mudah hilang. MeRi malah membaca bagian lain, contohnya saat latihan taekwondo, tendangan WooJoo membuat abangnya mimisan. Jadi MeRi bertanya dan dijelaskan bahwa itu adalah sepupunya (EungSoo Hoahaha). "Sejak dulu kau pandai membuat orang mimisan" komentar MeRi. WooJoo kembali menunjukkan bagian tabungannya. Ia bahkan membiayai kuliahnya di luar negeri dari tabungan itu. Ia pun terus mengoceh tentang warisan orangtuanya dan kestabilan finansialnya. Tapi yang jadi perhatian MeRi justru nama MiSo yang terus muncul. WooJoo merebut dan pura-pura lupa siapa. MeRi meledeknya sebagai cinta pertama WooJoo dan berusaha membaca diary lain, menduga nama itu akan muncul kembali. WooJoo kembali mengomeli ya karena membaca bagian diary selain yang ditunjukkannya. Tak sengaja Ia malah mendarat di atas bada MeRi yang terjatuh ke sofa. Saat WooJoo mendekat untuk menciumnya, saat itupula perut MeRi bergemuruh kencang Hoahaha

 Keduanya sama-sama kaget dan menjauh. "Aku belum makan" ujar  MeRi malu.

Mereka makan Topokki instan yang dipanaskan dengan microwave. Karena rasanya berbeda mereka saling mencicipi. Kemudian kompak berpendapat butuh bir sebagai pelengkap. Jadilah mereka pindah ke beranda. 

"Kau pasti menggemaskan saat kecil" kata MeRi. WooJoo mengaku sebagai anak-anak Ia memang ingin terlihat keren, makanya cita-citanya berubah-ubah. MeRi kembali menggiring pembicaraan ke MiSo dan WooJoo bertanya apakah MeRi merasa terganggu. MeRi membantah, cuma penasaran, WooJoo yang mengaku tak pernah punya cinta pertama tapi namanya muncul terus di diary-nya. 

Miso bukan nama asli, itu merupakan singkatan yang dibuat WooJoo. MeRi terus mencecar, kenapa begitu berterimakasih pada sesosok yang bahkan namanya saja tak diketahui. WooJoo tersenyum manis banget sambil seolah pikirannya menerawang. MeRi menggoyangkan kursinya ingin tahu dan WooJoo berpura-pura terguncang hebat sampai akan terbang. Jadilah mereka tertawa-tawa.


Di lokasi lain, sehabis makan, JinGyeoung sudah mabuk berat. SangHyun menawarkan akan memanggilkan supir. JinGyeoung minta bantuan SangHyun memberikan jawaban yang sangat objektif "Apakah aku tak punya pesona sebagai wanita?"

SangHyum hanya tercengang sebelum menjawab "Kau lumayan"

JinGyeoung senang karena Ia sendiri berpendapat dirinya lumayan, kemudian mulai mengutuki pria yang disukainya tak merasa Ia menarik. Mungkin karena sudah terlalu lama saling kenal.

Sebagai pria SangHyun menjelaskan pria sejak awal --kanak-kanak sekalipun-- langsung tahu siapa yang dianggap tak cocok dipacari. Pria cenderung langsung memutuskan siapa yang hanya dianggap adik begitupula sebaliknya. 

JinGyeoung menangis dan mengumpat menyadari WooJoo tak pernah menyukainya. SangHyun yang sempat ditodong sampai pipinya di tekan JinGyeoung dengan kedua tangan gadis itu hanya bisa pasrah, Ia sudah seobjektif mungkin.

JinGyeoung segera berdiri saat ada mobil yang mendekat. SangHyun berusaha menjelaskan itu mobilnya, sementara mobil JinGyeoung belum dapat supir pengganti. Celakanya JinGyeoung langsung memaksa naik dan tertidur. (Tapi masih sempat-sempatnya menggumam "bangunkan aku jika ada kasus darurat" kebiasaan sebagai dokter sudah mendarah daging).

Supir SangHyun sampai meminta maaf atas kesalahpahamannya menduga gadis itu memang bersama dengannya.

SangHyun hanya bisa menghela nafas.




Di Beaute Palace hujan telah turun. WooJoo diam-diam membatalkan pesanan sopir pengganti dengan menyalahkan hujan jadi permintaan tinggi. (Emang WooJoo ini mainnya mulusss terus Hoahaha). "Bagaimana sekarang, Aku tak mungkin menginap di sini" Ia memancing sambil melirik MeRi.

MeRi jadi tak enak hati. Ia menawarkan WooJoo nginap, ada banyak kamar dan ini kan rumahnya juga. 

"Apa?" WooJoo kaget

"Apa?" MeRi lebih kaget dan merasionalisasi maksudnya mereka kan mengaku sebagai pasutri jadi ada andil WooJoo juga. 

WooJoo membenarkan, jadi Ia bisa menginap. Besok pagi Ia akan berangkat saat subuh. WooJoo malah melirik kamar MeRi, tapi karena ditawari kamar yang lain, Ia memilih tidur di sofa ruang tengah. Ia pun langsung mengambil posisi tidur. MeRi masih membujuknya pindah ke kamar agar lebih nyaman , akhirnya Ia menyerah dan mengambilkan baju ganti. Berhubung yang ditinggal WooJoo kebanyak pakaian formal, MeRi mengeluarkan pakaian couple mereka. Saat MeRi keluar, WooJoo sudah tertidur. Jadilah Ia menyelimutinya dan memuji wajahnya yang terlihat imut saat tidur. WooJoo yang berpura-pura mendengarnya lalu tersenyum saat MeRi masuk ke dalam.

Di kamarnya MeRi pun merasa seolah-olah mereka pasangan yang lagi pisah kamar saat bertengkar. Ia tak bisa berhenti tersenyum. 

Hujan makin lebat menghadirkan guntur yang membangunkan mereka berdua. WooJoo mengirim pesan yang berisi lagu yang bisa diputar MeRi agar bisa tidur sambil mendengarkannya "Under the Lonely Sky" yang liriknya menggambarkan perasaan mereka berdua.

Keesokan paginya, mentari bersinar cerah dan mereka berdua sengaja ke pusat komunitas agar dilihat SangHyun. Ini ide WooJoo, jadilah mereka pakai baju couple dan dengan sengaja mendatanginya. 

SangHyun sedang menghubungi sesorang di depstore Beaute meminta pakaian sampel dikirim ke alamatnya sekarang juga. Ia buru-buru pamit saat dua orang itu dayang mengajaknya sarapan bersama.

MeRi berpura-pura kecewa, padahal senang misi mereka tercapai.



Di rumah SangHyun, JinGyeoung jatuh dari sofa dan sadar bahwa Ia tak pulang semalaman serta menginap di tempat yang bulan rumahnya sendiri. Ia berkaca dan melihat betapa mengerikannya dirinya 

Ia teringat tadi malam menggila saat SangHyun terpaksa menggendongnya pulang. Pria itu sampai harus melepaskan kacamatanya saat JinGyeoung nyaris menabrak pintu kaca sambil berusaha membuka pakaiannya. Setelah kesulitan menahannya, akhirnya mereka berdua sama-sama terjatuh ke sofa. Saling menatap selama beberapa menit sebelum JinGyeoung mulai merasa ingin muntah. SangHyun setengah mati mengarahkannya ke sofa. JinGyeoung tadinya ingin langsung kabur, tapi Ia mendengar SangHyun membuka pintu depan. Pria itu menyerahkan pakaikan ganti dan sup pengar, sebelum pamit pergi kerja. Ia menambahkan baju JinGyeoung dikirim ke penatu dan baru bisa diambil nanti sore. JinGyeoung sangat marah plus malu dengan dirinya sendiri. 


MeRi dan WooJoo yang berjalan -jalan sesudah sarapan memutuskan minum kopi di taman seputaran pusat komunitas.

Mereka mengenali seorang atlet anggar (cameo oleh Oh SangUk). MeRi merupakan fansnya dan minta tanda tangan. Beliau tak keberatan tapi karena tak ada kertas, MeRi minta di punggung kausnya saja. WooJoo jelas langsung mencegah dan minta tukar posisi. 

WooJoo yang aslinya sudah cemburu, makin cemburu waktu MeRi memuji ketampanan dan postur sang atlet. Ia pun menegakkan pundaknya.

MeRi masih minta difoto bersama, WooJoo mencoba menghalangi tapi MeRi memberi puppy eyes terimut, mau tak mau WooJoo menurut. 

WooJoo berusaha mengambil selfie tapi MeRi minta difoto dengan kamera belakang. Akhirnya sambil manyun WooJoo menurutinya. MeRi sempat minta ganti pose. Setelahnya SooJoo mendorong MeRi untuk pergi secepatnya.

JinGyeoung meninggalkan rumah SangHyun dengan terburu-buru.

Saat memeriksa foto-fotonya MeRi sangat kecewa karena semuanya gelap akibat terlalu terangnya back light. MeRi curiga bahwa itu adalah perbuatan sengaja. Saat mereka sedang memperdebatkannya, mereka berpapasan dengan JinGyeoung.

JinGyeoung memanggil WooJoo Oppa dan balasannya tentu dalam bahasa informal. Baju couple MeRi dan WooJoo membuat mereka membuat keadaan makin akward.

JinGyeoung memarahi WooJoo atas kegilaan ini dan bahaya jika sampai neneknya tahu. WooJoo menjelaskan kacaunya situasi ini.  Intinya JinGyeoung minta WooJoo mundur dari pada terlibat selaku komplotan. MeRi yang mendengarkan dari dalam rumah hanya bisa menghela nafas panjang.

Kim JuHee (Sa Kang) asisten nenek WooJoo, menelpon seseorang mengenai J-Consulting di Amerika. Pria itu mengaku tak ada masalah. Rupanya Ia sedang berada di ruangan direktur Jang dan memberitahukan informasi ini.



MeRi sedang mengupdate pekerjaan pada SongHee di kantor ketika JinGyeoung menghubungi. Gadis itu mengajak bertemu sebelum MeRi pulang ke Yeosu untuk peringatan kematian ayahnya. Keduanya berbincang dan JinGyeoung minta MeRi jangan melibatkan WooJoo Oppa karena jika hal ini tersebar akan berbahaya karena Ia harus mewarisi perusahaan. JinGyeoung menyadari bahwa MeRi belum tahu WooJoo cucu dari pemilik Myunsoondang uang akan mengambil alih perusahaan kelak. MeRi merasa sangat bersalah telah egois memikirkan dirinya sendiri. WooJoo tak akan bisa menolak keinginan MeRi dan JinGyeoung menceritakan ayahnya MeRi menyelamatkan WooJoo. Jadi pria itu ingin membalas budi sebagai ungkapan rasa bersalah.

MeRi memikirkan perkataan JinGyeoung dalam menunggu bus ke Yeosu. Ia jadi paham isi diary WooJoo yang bilang akan minta maaf pada MiSo jika mereka bertemu lagi.

WooJoo menemui JinGyeoung yang sedang melamun. Untunglah teman kecilnya jujur bahwa Ia sudah mengacau dengan menceritakan semua pada MeRi. WooJoo tak berkata apa-apa, Ia hanya pergi keluar dan langsung menghidupkan mobilnya. Ia menuju ke Yeosu setelah ponsel MeRi tak bisa dihubungi.



Di rumahnya, Ibunya menceritakan kisah Sundol, anjing mereka yang patah hati karena betina dari rumah sebelah malah kawin dengan jantan lain. MeRi ikut kasihan karena sudah berharap tinggi. Ibunya merasakan ada masalah tapi MeRi mengabaikannya dan mengajak si anjing jalan-jalan. Ia menasehati Sundol sesuai dengan keadaan dirinya sendiri "mulai sekarang jika ada yang menyukaimu, jangan berikan hatimu sepenuhnya.hidup tak selalu indah dan bahagia" nasehatnya pada sang anjing.

Tepat pada saat itu mobil WooJoo tiba dan pria itu hanya bertanya kenapa MeRi tak menjawab ponselnya. MeRi dengan gugup bilang ketinggalan di rumah tapi WooJoo cuma tersenyum simpul.




Setelahnya mereka duduk berdampingan di ladang ilalang, matahari senja membuat suasana sangat romantis. WooJoo memulai percakapan dengan bertanya kenapa MeRi tak mengabari bahwa Ia bertemu JinGyeoung dan saat MeRi beralasan Ia berniat memberi tahu, WooJoo malah bergurau, "Kapan? Tahun depan?"

Saat MeRi hanya menghela napas, WooJoo ganti strategi dengan meminta MeRi bertanya langsung saja padanya. MeRi benar bertanya tentang boneka yang dulu di berikannya. WooJoo meyakinkannya bahwa boneka tersebut dijaga dengan baik.

Ia pun mengkonfirmasi bahwa MiSo adalah MeRi. 

"Aku tak apa-apa"

"Dengan apa?"

"Kematian ayahku. Aku tak menyalahkan keluargamu atas hal itu. Selagi ayahku masih hidup, Ia sangat mencintaiku.. jadi..  Jadi, kau tak perlu merasa bersalah. Selain itu kau bisa berhenti membantuku. Ini bukan hanya karena ucapan JinGyeoung. Sejujurnya selama ini pun aku merasa tak nyaman." MeRi berdiri.

"Aku melakukannya bukan karena rasa bersalah, itu karena aku suka. Kulakukan ini karena menyukaimu, MeRi-ssi. Apapun yang kau lakukan, aku akan tetap berada di sisimu" mereka bertatapan dan musik lembut mengalun (OST Because Of You dari Jung SeungHwan) lalu WooJoo maju dan berkata "Kuronika.. " kemudian mengecup MeRi.

Review Would You Marry Me? Episode 7

Pertanyaan babbling MeRi tentang kekayaan WooJoo sebenarnya bukan matre. Ia hanya realistis mengingat permasalahan keuangan yang membelitnua saat ini. Meski saya yakin tak sejauh kecurigaan WooJoo yang menduga MeRi khawatir Ia akan menumpang tinggal di rumah hadiah.

Adegan ini juga menegaskan ketidaktahuan MeRi saat JinGyeoung menjelaskan bahwa Oppa WooJoo adalah pewaris.

Toh setelah mengetahuinya pun kecemasan MeRi BUKAN soal perbedaan kekayaan dan status sosial, lebih ke penerimaan keluarga WooJoo dengan statusnya yang janda (sebagaimana diungkapkannya di awal) dan perasaan WooJoo benar-benar genuin atau seperti yang dimaksud JinGyeoung, hanya sekedar rasa bersalah.

Tantangan tentang masalah keluarga ini nampaknya pasti akan segera muncul. Setidaknya Ibu MeRi sangat menyukai WooJoo. Ia bahkan minta disalahkan sebagai alasan MeRi mencatatkan pernikahannya. WooJoo pun jujur Ia yatim piatu dan berharap neneknya memang orang yang berpikiran terbuka 

Tapi ya semoga nenek tetap akan memberikan hukuman yang setimpal bagi paman alias Direktur Jang. Gile penipuannya lebih dahsyat dari yang awalnya saya perkirakan. Ini bukan sekedar penggelapan dana perusahaan. Kontrak dengan Jaringan hotel Kaltz dan pabrik di Texas hanya fiktif sementara Myunsoondang sudah menerima suntikan dana.

Semoga WooJoo bisa membantu menyelamatkan masa depan usaha yang sudah empat generasi ini. Walaupun lagi sibuk bucin akut. Asli sampai kepikiran seharusnya anak sulung saya juga ikutan nonton nih biar tahu kalau cowok bisa se-sweet dan sepengertian WooJoo. (Eh, ayahnya alias suami saya sebenarnya boleh juga tapi yang ini versi lebih smooth dan bikin salting Hoahahaha).

Sayang kepekaan WooJoo tampaknya hanya berlaku untuk MeRi. Ia tak menyadari kalau JinGyeoung selalu menyukainya. Kasihan Bu dokter sampai frustasi dan melampiaskannya pada SangHyun. Pria yang luarnya tampak cool itu sampai jungkir balik dalam arti sebenarnya menghadapi JinGyeoung. Semoga mereka segera menyadari kalau chemistry berdua juga lumayan. Setidaknya mereka bisa jujur satu sama lain.

Saya berhasil nih menebak alurnya dari Minggu lalu, saat JinGyeoung menangkap basah WooJoo dan MeRi dalam kostum couple.

Bagian yang paling menyebalkan jelas WooJoo1 dan keluarganya yang enggak banget itu. Minimal sekarang dia sadar akan perasannya pada MeRi deh dan keluarganya sudah tahu Jenny itu jahat banget. Cuma dasar kebiasaan, masih saja mau mengashlight MeRi. Untung sekarang tangki cinta MeRi sudah penuh jadi tak bakal terpengaruh lagi.

Ohya, seperti biasa earth tone di Drakor ini bikin perasaan semakin hangat. Apalagi kostum MeRi dan WooJoo yang matching bikin tambah keren keduanya. Sama OST-nya enak-enak semua deh.

Baca juga Recap dan Review Would You Marry Me ?

Episode 1

Episode 2

Episode 3

Episode 4

Episode 5

Episode 6


Posting Komentar