Recap dan Review Would You Marry Me? Episode 8
Recap dan Review Would You Marry Me? Episode 8
Ibu MeRi mencoba menghubungi karena mencemaskan anaknya sudah makan atau belum. Ia teringat kala MeRi terburu-buru pulang mengantar Sundol dan berganti pakaian. MeRi mengaku Ia akan menemui Pak Kim tapi tak memberitahukan alasannya. Ibunya penasaran tapi percaya dengan feeling-nya dan malah berdoa MeRi tak pulang sekalian. Hoahaha.
MeRi dan WooJoo berjalan-jalan sambil bergandengan di Padang ilalang. WooJoo menceritakan kedua orangtuanya meninggal setelah dirawat semalam di rumah sakit. Ia pun jujur kakeknya tak mau melihatnya setelah mendengar pengakuannya di rumah duka (kecelakaan terjadi saat ayahnya terpaksa menoleh ke belakang demi menasehati WooJoo yang ngambek mainannya diambil EungSoo). Sang kakek merasa kesulitan menantu dan putranya meninggal karena cucunya. Oleh karenanya Ia diantar paman masuk sekolah asrama di Amerika. Ia belajar hidup mandiri.
MeRi mencari tahu apakah WooJoo tak pernah pulang ke Korea setelahnya. WooJoo bilang pernah dan malah menemui MeRi di musim panas saat sekolah menengah pertama. Ia datang ke alamat yang diberikan detektif polisi sambil membawa sekotak jus botolan premium.
Dari luar Ia mendengar percakapan antara MeRi dan Ibunya. MeRi ingat ada minuman di depan rumah saat peringatan kematian sang ayah. Rupanya WooJoo menuliskan catatan permohonan maaf, sayang Ia segera pergi dan MeRi tak sempat melihat wajahnyaSeharusnya WooJoo tak terburu-buru dan mendengarkan keseluruhan percakapan. Rupanya sang Ibu justru merasa sedih orang tua WooJoo tetap meninggal meskipun ayahnya menolong mereka.
WooJoo menyesal segera pergi. Jadi MeRi bilang jangan dipikirkan lagi soal kecelakaan itu. Sebagai gantinya WooJoo ingin tahu kehidupan MeRi saat itu. Sang gadis menilai kehidupan mereka bertiga dengan SoRi sang adik baik-baik saja. Jika Ia merindukan ayahnya, tinggal datang ke padang ilalang ini karena saat kecil Ia sering jalan-jalan ke berbagai lokasi dengan taksi ayahnya termasuk tempat ini. Suatu hari MeRi kecil yang keasyikan menggambar menangis ketakutan ditinggalkan Ayahnya. Rupanya beliau sengaja ngumpet dan untuk menghiburnya Ia akan menggendongnya di pundak agar MeRi bisa melihat matahari terbenam dengan jelas. MeRi merasa sangat bahagia dan dicintai, sehingga sampai dewasa saat menghadapi masalah Ia suka datang kemari menatap bintang yang paling terang. Ayahnya adalah cahaya bintang itu yang menerangi jalannya seperti mercusuar.
WooJoo si party pooper langsung bilang kemungkinan secara ilmiah benda yang ditunjukkannya tadi adalah satelit. Namun Ia bisa menjadi mercusuar bagi MeRi.
Ketika MeRi bertanya bagaimana caranya, WooJoo menawarkan untuk menggendong dipunggungnya agar bisa melihat langit dengan lebih jelas. MeRi pun naik ke atas punggung WooJoo yang terus berjalan. Sesungguhnya MeRi cemas Ia berat dan minta turun tapi WooJoo meyakinkannya Ia seringan bulu sambil menggombal, 'Aku akan selalu disampingmu agar kau tak takut.." dan tiba-tiba kakinya tersandung. Mereka berdua terguling ke atas ilalang.
Langit justru tampak indah sekali jadi mereka mengamatinya dahulu. WooJoo menawarkan MeRi berbaring di atas lengannya dan dalam sekejap mereka saling menatap dan tersenyum. Bukan WooJoo kalau tak terhanyut suasana dan mencium MeRi mesra.
Di Seoul, JinGyeoung teringat mengejar WooJoo sampai ke tangga demi memberikan penjelasan. Ia merasa tak bersalah, MeRi lah yang konyol melibatkannya dalam hal absurd ini. Menurut JinGyeoung perasaan WooJoo bukanlah cinta melainkan rasa kasihan belaka.
WooJoo tak marah, Ia hanya menegur JinGyeoung yang berasumsi paham perasannya. Ia sungguh-sungguh menyukai MeRi. Jika diulangi lagi barulah Ia akan benar-benar marah.
JinGyeoung menangis, semua orang tahu rasa sukanya kecuali WooJoo sendiri.
SangHyun yang sedang berlari dan hendak beristirahat mengenali dan menyapanya. JinGyeoung heran kenapa malam-malam Ia berada di sini, pemuda itu santai bilang Ia lari tiap hari dan terbiasa duduk di spot yang sama.
SangHyun lebih heran dengan sikap JinGyeoung yang menghela napas, "Seperti bukan dirimu saja" ledeknya.
JinGyeoung membalas, apakah karena Ia terlahir kaya (ini kata-kata SangHyun pas mereka makan bareng).
SangHyun mengira Ia sungguh-sungguh memasukan perkataannya dalam hati. JinGyeoung membenarkan bahwa Ia sungguh-sungguh memasukkan dalam hati perkataan 'tak punya pesona sebagai wanita'.
Saat SangHyun kelihatan jadi kepikiran, gantian JinGyeoung yang bilang Ia hanya bercanda dan SangHyun terlihat serius sekali.
"Aku selalu serius" jawaban pria yang mulai ikut manyun itu justru membuat JinGyeoung tersenyum lagi.
SangHyun bertanya apakah JinGyeoung sudah mengutarakan perasaannya pada teman masa kecilnya? Saat JinGyeoung hanya terdiam, SangHyun menyemangatinya dari pada diam saja, justru Ia kelak akan menyesal.
Tapi kalau tak ingin memikirkannya, berlarilah bersamaku ajaknya. JinGyeoung berlari kencang sambil mengingat percakapan antara dirinya dan MeRi serta WooJoo Oppa.
SangHyun yang di balap balik mengejar JinGyeoung ke tepi sungai. Gadis itu terengah-engah mengakui bahwa Ia sudah mengacau. Ia tahu ada orang lain dihati pria yang disukainya tapi Ia dengan egois menghalangi mereka dan itu memperburuk keadaan. Ia menangis tersedu-sedu mempertanyakan dirinya sendiri mengapa melakukan semua itu. SangHyun hanya bisa mendengar sambil gelisah tak tahu harus bagaimana.
Kembali di YeoSu rupanya sang Ketua Tim Kim menginap. Ia tidur di kamar SoRi dan Ibunya menyerahkan bantal dan selimut bersih. WooJoo berterimakasih dan memintanya tak menggunakan bahasa formal lagi. Ibunya ingin tahu alasan pria itu ke rumah mereka. MeRi masih mengelak dan akan membahasnya nanti saja lalu langsung masuk ke kamar untuk tidur. Ibunya yakin ada sesuatu antara keduanya.
MeRi melakukan ritual perawatan sebelum tidur saat WooJoo mengirim pesan memintanya datang ke kamarnya. MeRi berusaha merapikan dirinya dan cemas ketahuan ibunya.
Rupanya WooJoo hanya menunjukkan ada tonggeret di ambang jendela (wajahnya asli gemesin banget). MeRi memungutnya dengan tisu dan membuangnya keluar jendela. WooJoo yang sudah bersiap menepuk serangga dengan buku tebal hanya melemparkan bukunya untuk memeluk wanita itu sambil meluncurkan gombalan mautnya, "Sangat bisa diandalkan, benar-benar tipe idealku"
MeRi hanya tertawa, tipe ideal WooJoo adalah wanita yang bisa menangkap serangga, tapi Ia berjanji akan menangkapkannya setiap hari.
Ibu MeRi datang lagi ke Kamar WooJoo dan mengetuk kemudian membuka pintunya untuk meletakkan obat nyamuk bakar. Ia sempat melihat ke arah tempat tidur. Ternyata MeRi bersembunyi di bawah selimut. WooJoo berusaha menahannya selama mungkin, jadi Ia bisa memeluknya sambil pura-pura tidur. Tapi MeRi menyadarinya dan akhirnya mereka saling bergelut untuk tidur berdua sambil menahan suara agar tak terdengar sang ibu.
WooJoo bangun dengan riang. Setelah merapikan kamar, Ia sempat bercermin dan mengintip MeRi yang pindah untuk tidur ke kamarnya sendiri.
Ibu MeRi menangkap basah WooJoo mengintip jadilah Ia disuruh mandi.
Mereka sarapan di halaman. MeRi protes kenapa harus sarapan Samgyetang. Ibunya malah mengomel toh MeRi suka Samgyeopsal (hidangan perut babi) untuk sarapan. WooJoo berhasil menebak ini bukan sembarang samgyetang, ayamnya adalah yang biasanya disajikan saat menantu mengunjungi mertuanya.
MeRi jadi salah tingkah soal menantu dan darimana pula datangnya ayam betina di pagi ini. Ibunya menukarnya dengan tetangga dibarter daging sapi. Hoahaha.
WooJoo merasa semakin lezat karena effortnya, jadilah Ibu MeRi menawari semua side dish yang semuanya dimakan lahap.
Ibunya mohon izin bertanya, setelah melirik anaknya, Ia bertanya apakah WooJoo tahu MeRi sudah pernah menikah dan bercerai? WooJoo mengangguk sebagai tanda mengetahuinya.
Ibu MeRi minta WooJoo menyalahkan dirinya saja karena Ia lah yang memaksa MeRi mendaftarkan pernikahannya agar Ia mau membantu deposit apartemen.
MeRi memotong dan meyakinkan Ibunya itu bukan salah beliau. Tapi Ibunya tetap merasa Ia lah yang paling pantas disalahkan.
WooJoo dengan formal mengaku kalau Ia tak terlalu peduli dengan hal semacam itu.
Ibunya khawatir akan ada penolakan dari keluarga pria itu. MeRi menegurnya dengan halus itu terlalu berlebihan.
Ibunya malah mengungkap tidak berlebihan lah, dia tahu mereka berdua berpelukan erat semalam. Jadilah kedua OTP saling lirik salah tingkah. Hoahaha
WooJoo jujur Ia hanya tinggal berdua neneknya yang diharapkannya bisa menerima orang apa adanya. Ibu MeRi menyambut gembira. Ia hanya ingin MeRi dicintai dan tak rela anaknya bersama keluarga yang tak menghargainya (kayak WooJoo1 tu hih!!).
"Itulah keahlian ku!" WooJoo pede banget deh soal mencintai MeRi ini Hoahaha.
WooJoo makan dengan lahap karena Ibu MeRi memberinya lebih banyak ayam.
Setelahnya mereka ke rumah Abu ayah MeRi. WooJoo menyampaikan rasa terimakasihnya pada Ayah MeRi, Yoo JaeMan sekaligus minta maaf baru datang sekarang. Ia meletakan bunga dan membungkuk hormat.
Ibunya berterimakasih atas perbuatan heroik sang ayah sekaligus jadi mak comblang mereka. Hoahahaha.
SoRi menelepon MeRi. Ia masih di Amerika dan baru selesai shift malam di restoran. Ia menyesal tak dapat cuti tapi berjanji segera pulang saat restorannya tutup permanen. Ibu dan kakaknya cemas tapi SoRi malah mencemaskan WooJoo1 yang tak pernah mau ikut datang. Ibunya malah menyorotkan videocall ke arah WooJoo dan SoRi yang kebingungan bertanya apakah Ia operasi wajah Hoahaha.
Ibunya menjelaskan bahwa ini adalah orang berbeda hanya namanya sama. MeRi segera mengambil alih telepon sebelum Ibunya sempat menjelaskan pada adiknya yang semakin bingung. Mereka akan membahasnya saat sudah pulang ke Korea.
Akhirnya MeRi mengajak semua orang pulang. Tapi sebelum berangkat ke Seoul, ibunya menyiapkan banyak sekali lauk. MeRi sampai khawatir tak habis, tapi ibunya bilang itu untuk mereka berdua. WooJoo jelas dengan cheeky berterimakasih.
Ibunya meminta MeRi mengambilkan wadah baru di lemari. Tempatnya penuh dan posisinya yang tinggi menyulitkan MeRi sehingga WooJoo membantu mengambilkannya dari belakang. Situasi jadi akward kala Ibunya sadar dan mereka berdua juga menyadari posisi yang terlalu intimate, tapi mereka hanya tersenyum bersama saat Ibu MeRi malah pamit pergi ke toilet.
MeRi dan WooJoo menyempatkan berjalan di pantai. MeRi merasa ibunya sangat berlebihan tapi karena Ia sangat menyukai WooJoo. Pria itu sangat lega. Namun MeRi belum cerita siapa WooJoo sebenarnya karena pasti ibunya akan bertambah khawatir jika tahu keluarga WooJoo yang terpandang.
MeRi juga merasa blank saat tahu hal itu setelah diberi tahu JinGyeoung tapi sekarang Ia sudah memutuskan untuk jujur pada SangHyun. Jika kemenangannya tak sah maka rumah harus dikembalikan dan kemungkinan terburuk Ia akan dituntut.
WooJoo bertanya apakah Ia benar-benar yakin. Tapi bagi MeRi saat terlilit hutang, rumah itu seolah akan jadi penyelamat terakhirnya. Namun sekarang Ia punya sesuatu yang lebih berharga, Ia ingin tampil dengan bangga dihadapan WooJoo dan orang-orang disekelilingnya. Jadi Ia akan bekerja keras dan melunasi hutang. Jadi, ia minta WooJoo menunggunya sebentar.
WooJoo langsung memeluknya dan berjanji akan selalu berada disampingnya dan mendukung semua langkahnya. Terimakasih juga untuk keputusan sulit itu.
Sebaliknya MeRi berterimakasih karena WooJoo telah memberinya keberanian. WooJoo mengecup rambutnya maniiss.
Di rumah EungSoo, ayahnya akan berangkat ke Amerika Serikat. Ibunya bilang sebaiknya mengajak EungSoo siapa tahu Ia bisa jadi direktur, meski Ia tak ambisius. Karena itu ayahnya yang harus lebih memperhatikannya. Jadi direktur Jang berjanji demikian.
Ibunya muak dengan ayahnya bolak balik ke AS. Beliau berjanji pulang sebelum peringatan ultah perusahaan ke-80 minggu depan.
Ibunya menyuruh EungSoo mengantar ayahnya ke bandara. Sepanjang perjalanan terasa canggung tapi EungSoo mencoba membuka percakapan dengan bertanya tentang pembangunan pabrik. Jika sudah ditahap akhir, artinya perjalanan bisnis ayahnya akan berkurang.
Ayahnya masih harus mengujicoba peralatan, lalu ada auditor dan menentukan produk artinya masih panjang prosesnya.
EungSoo meminta ayahnya sering menghubungi Ibunya karena beliau sering cemas saat tak bisa menelfon suaminya. Ayahnya mengabaikan dan berseloroh tak ada kabar berarti kabar baik. Ia mengaku sibuk dan perbedaan waktu mempersulitnya. Padahal istri mudanya sudah mengirim pesan menanyakan penerbangannya.
EungSoo masih berpesan oleh-oleh yang diinginkan ibunya : kukis Ara dari toko bebas bea dan sepatu baru dari lini musim panas M-Kors. Sebagai hadiah anniversary pernikahan juga. Sekalian EungSoo yang sadar ayahnya tak tahu nomor sepatu Ibunya memberitahukan size yang tepat.
Di bandara saat ayahnya akan terbang dan menepuk bahunya. Tampaknya ada yang ingin disampaikan tapi Ia berusaha menahannya. Ia hanya berpesan agar ayahnya tak pergi lama karena Ibunya menunggu.
WooJoo mengajak MeRi ke toko perabotan dan ahli desain interior. Di tempat yang sama Ibu dan Kakak WooJoo1 sedang menganggumi desain pintu, ibunya ingin renovasi rumah tapi kakaknya malah mengomel mereka tak punya uang apalagi sekarang WooJoo1 pun menganggur. Kakaknya menyalahkannya akibat ibunya terlaku cepat menyimpulkan tentang Jenny.
Ibunya masih berharap WooJoo1 bisa memperbaiki hubungan dengan gadis itu (kan WooJoo1 bohong, memutarbalikkan cerita), tapi kakaknya mengingatkan WooJoo1 hanya ingin kembali ke MeRi. Ibunya malah melarang kakaknya menyebut nama itu agar tensinya tak naik.
Tepat saat itu WooJoo membujuk MeRi untuk mengizinkannya merenovasi dapur ibunya. Awalnya MeRi menolak tapi dengan manis WooJoo membujuknya.
Kakak dan Ibu WooJoo1 sampai bersembunyi di balik kabinet dapur demi mengintai keduanya. Mereka mengirimkan foto kepada WooJoo1 yang semakin yakin bahwa ada sesuatu antara kedua orang itu.
WooJoo1 berusaha mencari info dari SongHee. Gadis itu langsung membanting telponnya dengan kesal setelah tahu yang sebenarnya. Ia bersyukur tak menghapus nomornya jadi bisa menghindar.
WooJoo1 sangat kesal tapi Ia ingat sendiri tentang Myunsoondang. Lalu mencari informasi alamatnya. Ia menghubungi kantor dan SeJeong yang tak curiga memberikan info bahwa ketua timnya sedang cuti sehari.
Nenek WooJoo sedang diwawancara. Ia menjelaskan sejarah Myunsoondang yang dimulai mertuanya dari bakeri kecil bermodal dua karung tepung bantuan dari AS.
"Meski kita hidup dalam zaman tipu daya, Myunsoondang bertahan hingga hari ini karena kepercayaan kami pada makanan yang jujur dan sehat."
Nenek mengundang agar wartawan datang lagi di acara ulang tahun perusahaan. Ibu EungSoo datang dan Ibunya sekalian mengajaknya mengurus kebun. Jelas anaknya mengeluh dan menawarkan tabir surya. Ibunya tahu kalau ada yang ingin disampaikan jadi langsung sajalah. Rupanya anaknya penasaran siapa yang akan diumumkan dalam perayaan ulang tahun Myunsoondang menjadi penerus. Ibunya yakin akan menyerahkan pada orang yang layak, jadi siapapun tak boleh ikut campur.
Menurut anaknya, keadaan berat sebelah karena sejak kecil sang Ibu hanya sayang pada abangnya (ayah WooJoo) dan kerap mengabaikannya. Pola itu menurun pada WooJoo dan EungSoo.
Ibunya merasa tak pernah demikian tapi bagi sang anak keluarga mereka sering bias gender.
Ibunya malah mengomelinya tentang nilainya yang buruk, gampang menyerah dan sering tertipu. Anaknya malah menyalahkan balik sebagian kesalahan genetik karena IQ-nya hanya dua angka.
Ibunya pamit ke dalam dengan alasan kepalanya jadi pusing. Anaknya menendang keranjang buah dan marah, ibunya selalu begitu, menghindari percakapan dengannya. Ia tak mengapa, tapi tak akan tinggal diam jika Ibunya berbuat tak adil pada anak dan suaminya. Setelahnya Ia menangis dan langsung pulang.
Suaminya mengabaikan teleponnya. Ia sedang minum sampanye bersama istri muda. Merayakan keberhasilan mereka. Sang anak sudah tertidur.
Rupanya istri muda ini dulu mantan pegawai Ibu mertuanya juga. Jadi mereka harus tetap berhati-hati. Pelakor ini meyakinkan suaminya, Ia sudah menahan diri selama ini jadi bisa bertahan sedikit lagi. Tak sabar rasanya melihat semua orang tahu Direktur Jang --menantu yang diperlakukan seperti pesuruh--yang menguasai semuanya.
Ia sudah menutup J-Consulting dan memindahkan uangnya ke rekening bank Swiss sang suami. Ia agak cemas nona Kim mencari tahu soal hal tersebut atau dana ekuitas swasta. Tapi suaminya meyakinkan, kalaupun ketahuan sudah terlambat karena pihak Myunsoondang sudah tak bisa berbuat apapun.
Pelakor juga penasaran dengan reaksi istri sah, apalagi sebelum ini dana warisan dari ayahnya yang diinvestasikan di hotel Hawaii merugi dan itu sebenarnya ulah Direktur Jang juga. Ia malah meledek, bisa jadi ada dua pemakaman. Saat suaminya tak bergeming, pelakor malah mengajak toast lagi sambil berkata alasannya menyukaiya justru karena Ia tak bersimpati pada siapapun.
Selesai rapat dengan tim pemasaran di Myunsoondang, WooJoo mengajak MeRi bicara berdua. Gayanya santai tapi begitu sampai di tangga, WooJoo langsung mengecup pipinya. MeRi panik takut ada yang melihat. "Maka itu, mulai dari sekarang, jangan terlalu cantik saat datang untuk rapat. Aku tak bisa konsentrasi." Raja gombal kembali beraksi Hoahaha.
MeRi melarangnya mengirim pesan selama rapat karena gugup ketahuan. WooJoo mengajaknya makan siang dan agak kesal diabaikan. MeRi tak bisa membalas karena SeJeong dan SongHee bisa membaca namanya Kepala Tim Kim WooJoo. Jadi mereka sepakat mengganti nama menjadi MyungSoon dan MyungShik di kontak ponsel masing-masing.
Rupanya lusa nenek mengundang tim pemasaran dan Merry Design Studio makan siang. Ini tradisional tahunan, Ia akan mengajak staf kantor pusat dan perusahaan mitra sambil menyemangati sekaligus mendengarkan permasalahan yang ada
WooJoo memeluknya untuk meyakinkan MeRi datang. Jangan terlalu gugup, anggap saja pratinjau singkat. MeRi takut terlihat tapi WooJoo malah membanggakan perusahan mereka, yah lebih tepatnya perusahaan neneknya.
WooJoo1 dipulangkan dari rumah sakit. Kakaknya mengajak makan siang tapi Ia malah pergi ke Myunsoondang. Ia berniat melaporkan WooJoo secara langsung pada pimpinan tapi Ia dilempar oleh satpam. Akhirnya Ia mengirim surat yang akan membuat Kepala Tim Pemasaran dipecat. Diam-diam Ia menguping pembicaraan Bu Oh dan SeJeong mengenai persaingan EungSoo dan WooJoo sebagai calon pewaris. Jelas sekali WooJoo lah penerus selanjutnya. WooJoo1 langsung patah hati. Ia menangis di karaoke setelah mencari tahu latar belakang WooJoo dan membaca artikel neneknya memperoleh penghargaan presiden.
Di hari H, SongHee bertanya-tanya kenapa pak Kim tak terlihat. SeJeong membocorkan bahwa Ia adalah cucu Myunsoondang.
WooJoo memperkenalkan MeRi dan SongHee. Nenek sangat senang dengan proyek MyungSoon dan MyungShik yang mendapat respon positif. Nenek juga bilang, WooJoo sering memuji mereka, penjualan ikut meningkat berkat mitra yang kompeten.
Menunya terlihat mewah, disajikan dalam mangkuk kuningan tradisional. Bu Oh teringat dulu Ia dan Nenek alias Bu CEO pernah membuat seribu mandu / pangsit saat mengunjungi panti asuhan.
Pangsit dibuat banyak agar dapat dibekukan sebagai stok. Bu Oh yang merasa kelelahan membuat sebagian saja dan berniat membeli sisanya di toko. Karena ketahuan, Ia dimarahi habis-habisan.
Nenek memberi wejangan bahwa dalam memasak, ketulusan adalah segalanya. Jadi harus jujur dari awal. Meski kepada anak kecil sekalipun, jangan berbohong buat sendiri padahal beli. "Sekali kalian mulai berbohong akan mudah berbohong lagi. Penipu kecil akan mudah menjadi penjahat besar. Aku benci orang yang berbohong, terutama demi keuntungan diri. Aku tak mau terlibat dengan mereka. Itu salah satu prinsip ku" Ia menegaskan sampai MeRi kehilangan selera makan.
Saat mereka pamit di halaman, rombongan berpapasan dengan JinGyeoung. Situasi sempat akward saat nenek mengajaknya makan dengan akrab. Membuat WooJoo dan MeRi terlihat semakin bersalah.
SongHee mengeluh di mobil tak ada yang memberi bocoran sebelumnya soal WooJoo. Bu Oh yakin MeRi sudah tahu sebelumnya. Ia sedang melamun, jadi SongHee sampai menyenggolnya. MeRi mengaku baru tahu tak lama. Bu Oh yakin pak Kim yang akan memimpin perusahaan kelak dan sikap MeRi sudah benar.
SeJeong yakin JinGyeoung calon istri WooJoo. Pak Han menceritakan ada perjanjian pernikahan antara WooJoo dengan putri dokter pribadi Nenek. Bu Oh baru tahu informasi ini dan semua memperhatikan kecantikan JinGyeoung serta nenek yang tampaknya sayang padanya.
Di rumah nenek diperiksa JinGyeoung. Nenek merasa akhir-akhir ini sering mimpi didatangi suaminya sampau tidurnya tak nyenyak. Alih-alih cemas, JinGyeoung bercanda, beliau datang sebagai kabar baik, mau memberi tahukan nomor lotre yang akan menang. Hoahahaha.
Nenek bilang Ia hanya ingin WooJoo menikah sebelum Ia meninggal. Nenek yakin ombak bisa memecahkan karang, saat JinGyeoung terlihat ragu ditanyain kemajuannya dengan WooJoo. Bu dokter sudah berpikir dan memilih WooJoo sebagai abang dibandingkan kekasih.
WooJoo1 menggalau di rumahnya sendiri. Ia menonton seorang vlogger menginformasikan harga rumah di Beaute Palace. Ia yakin WooJoo mampu membeli rumah itu dengan kekayaannya.
Ibunya datang mengomelinya untuk mencari kerja. Ia meminta WooJoo1 menyerahkan klaim asuransi untuk ganti biaya rawat inapnya karena selama ini ibunya yang bayar. WooJoo1 marah dan keluar rumah.
Ibunya malah marah balik, WooJoo1 melampiaskan kekesalannya pada beliau. Kakaknya mencoba meminta ibunya lebih pengertian. Adiknya dicampakkan Jenny dan MeRi punya pacar baru. Ibunya curiga MeRi sudah punya pacar sejak datang ke rumah dulu karena Ia tampak percaya diri. Kakak WooJoo1 memuji pria pilihan MeRi yang tampak hebat.
Ibunya malah bertanya anak gadisnya mau kemana karena sudah berdandan cantik. Ia bilang harus mencari pria sebagai jaring pengaman, melihat keadaan WooJoo1. Hoahaha.
WooJoo1 benar menghubungi asuransi yang memberi klaim lumayan besar. Ketamakannya membuat teringat MeRi pernah mendaftarkan asuransi atas namanya jadi Ia menghubungi perusahaan tersebut. Informasi tertanggung benar WooJoo1 tapi pemenang polis dan penerima manfaat adalah MeRi.
Setahun yang lalu, WooJoo teringat MeRi menyerahkan berkas dan kesal sehingga mau mengganti nama penerima manfaat. Sebagai syarat administrasi WooJoo1 harus menyerahkan akta pernikahan dan perceraian.
Di mobilnya WooJoo pun teringat kata-kata neneknya dan reaksi MeRi melihat kedekatan dengan JinGyeoung. Ia menghubungi MyungSoon. MeRi sedang makan dan WooJoo berjanji mampir setelah meeting di dekat rumahnya. Tiba-tiba bel pintu sudah berbunyi, MeRi yang sedang mencuci piring tak memeriksa interkom dan langsung membuka pintu. Ia mengira WooJoo tapi yang datang justru WooJoo1. MeRi memintanya pergi atau akan melaporkannya pada polisi tapi WooJoo1 mengancamnya melaporkan balik atas penipuan.
Review Would You Marry Me? Episode 8
Interaksi di kampung MeRi (yang syutingnya di rumah Hong BanJang Hometown ChaChaCha) ini terasa hangat dan manis. Mulai dari percakapan MeRi dengan Sundol --yang sebenarnya ditujukan untuk dirinya sendiri--, Ibu MeRi yang membuatkan sup istimewa untuk menyambut menantu, kunjungan ke rumah persemayaman abu ayah MeRi, telfonan dengan SoRi, bicara hati ke hati di pantai dan sikap WooJoo yang membantu MeRi mengambil barang di bagian atas kabinet dapur.
WooJoo memang jago banget deh soal memuluskan niatnya mengambil hati MeRi (dan Ibunya). Btw, public display affection (PDA) ala WooJoo di kabinet dapur itu terasa domestik banget. Soalnya suami saya kadang suka ga sadar begitu juga di depan umum. Hoahaha.
Sayang, sepertinya MeRi jadi keder setelah mendengar nenek WooJoo benci pembohong. Semoga ada jalan keluar karena memang status MeRi secara hukum masih menikah dengan WooJoo1. Jika dibatalkan pasti bermasalah dengan hadiah Beaute.
Ya, setidaknya JinGyeoung sudah menyadari, WooJoo lebih cocok sebagai oppa dibandingkan pacar. Toh sekarang ada kandidat potensial lain di sekelilingnya. Direktur Baek yang bisa membuatnya tersenyum sekalipun habis menangis sekaligus mengeluarkan isi hatinya meski dalam keadaan sadar.
Gosip yang beredar dikalangan Beaute memang JinGyeoung calon istri WooJoo sang calon pewaris. Tapi yakin tim pemasaran juga akan setuju saja dengan MeRi. Selama ini hubungan mereka cukup baik.
Ngomongin calon pewaris, kecemasan ibu EungSoo beralasan. Memang ada keluarga yang lebih mengutamakan anak lelaki. Yang bikin sedih, justru sikap Nenek yang menilai Ibu EungSoo sering tertipu justru dia sebabkan jebakan suaminya sendiri.
Asli jahat banget nih Direktur Jang. Ia benar-benar hanya memanfaatkan keluarga istrinya. Terbukti, dengan istri mudanya juga berkenalan saat di Myunsoondang.
Mungkin mantan pegawai bagian keuangan, makanya bisa membuat skema penggelapan berlapis hingga menyimpan dana di rekening bank di Swiss. Satu lagi, di episode sebelumnya mereka merencanakan menutup restoran yang menjadi kedok pencucian uang. Bagaimana jika itu adalah restoran tempat SoRi bekerja? Bisakah mereka bekerja sama mengungkap rahasia paman?
Kasihan EungSoo juga sih. Mau bagaimanapun Ia adalah korban ayahnya. EungSoo sebenarnya sangat sayang pada ibunya. Terbukti Ia menyarankan ayahnya untuk rajin menelepon dan membawakan oleh-oleh yang memang diminati sang ibu.
Baca juga Recap dan Review Would You Marry Me ?



















































Posting Komentar