Train To Busan

review film Train To Busan yang dibintangi Goong Yoo, mencertiakan seorang ayah dan anak perempuannya saat serangan zombi di kereta menuju Kota Busan

train to busan poster film

Judul : Train To Busan / Busanhaeng

Penulis skenario : Park Joo Suk
Sutradara : Yeon Sang Ho
Pemain : Gong Yoo, Jung Yu Mi, Ma Deong Seok
Durasi : 118 menit
Genre : thriller, drama,
Tahun Rilis : 2016

Sinopsis :

Cerita diawali dengan adegan seekor rusa yang bangkit kembali setelah ditabrak mobil. Lokasi tertabraknya rusa tersebut berada dekat dengan sebuah fasilitas nuklir.

Lalu kita dibawa berkenalan dengan tokoh utamanya Seok Woo, seorang pebisnis yang terlalu sibuk hingga melupakan hari ulang tahun dan penampilan menyanyi di sekolah putrinya, Soo An. Kekecewaan Soo An semakin bertambah tak kala ayahnya memberikan kado sebuah game console yang telah dimilikinya sebelumnya. Dengan kepolosannya Soo An meminta ayahnya untuk menukar kadonya tersebut dengan perjalanan ke Busan, demi menemui ibu kandungnya yang telah berpisah dari ayahnya.

Keesokan harinya, atas dorongan sang nenek, Soo An ditemani ayahnya berangkat ke Busan dengan menggunakan kereta ekspress (KTX). Tanpa sepengetahuan mereka telah berlangsung zombie outbreak di Seoul dan salah seorang penumpang yang naik diam-diam telah terinfeksi. Setelah berubah menjadi zombie, penumpang tersebut segera menyerang pegawai kereta api yang berujung pada peristiwa saling menyerangnya para penunpang dalam gerbong kereta yang sedang melaju kencang.

Mampukan Seok Woo mengantar Soo An pada ibunya di Busan, suatu kota yang menurut berita di televisi masih steril dari zombie karena telah dibarikade dan dilindungi militer?

Review :

Apa yang terlintas di kepala saya begitu mendengar kata Busan? Ada dua, yang pertama Olimpiade Seoul 1988. Saat itu saya memang masih kecil, tetapi ayah 'mewariskan' beberapa perangko Indonesia yang diterbitkan di tahun tersebut dan dalam edisi Olimpiade sehingga terdapat nama kotanya diantaranya ialah Busan, jadi sangat membekas diingatan. Dan sekarang Busan menjadi semakin tak terlupakan setelah saya menonton film ini. Asli, saya nangis sesenggukkan di adegan terakhirnya. Rasanya begitu menyentuh, membayangkan pengorbanan seorang ayah demi memperjuangkan kelangsungan hidup putri semata wayangnya dalam bencana zombie apocalypse.

Yang saya sukai dari film ini penokohannya sangat baik, meskipun pada awalnya kita seolah-olah para penumpang kereta adalah sekelompok random people yang tidak saling mengenal, namun kekuatan sinematografinya membuat kita memahami dengan baik karakter para tokohnya. Selain Seok woo dan putrinya, Soo An, ada sekumpulan anak cowok SMA yang akan mengikuti pertandingan baseball beserta seorang anak cewek yang naksir dengan salah satu pemain baseball; dua orang nenek-nenek bersaudara yang meski berbeda karakter namun saling mengasihi satu sama lain; seorang bapak bertampang menyebalkan yang ternyata seorang pebisnis mapan; seorang gelandangan berpenampilan lusuh; sepasang suami istri -sang istri sedang hamil- yang saling mencintai dengan cara mereka yang konyol dan kesibukan para pegawai kereta api beserta sang masinis kereta.

Pemerannya sebagian besar adalah aktor dan aktris papan atas Korea. Sebut saja Gong Yoo, Jung Yumi dan Ma Deong Seok. Penggemar drama Korea Selatan seperti saya pasti tidak asing lagi dengan kekuatan akting mereka. Tetapi saya paling terpesona dengan Kim Su An pemeran tokoh Soo An. Meskipun masih kecil, aktingnya sangat natural. Adegannya menangis membuat air mata saya tak tertahan lagi. Saya yakin Ia memiliki masa depan yang cemerlang di industri perfilman atau drama Korea Selatan

Kekuatan lain dari film ini adalah adegan demi adegan berlangsung cepat, karena para zombie di dalam film ini memang geraknya secepat makhluk pemangsa. Jadi bukan agak slow motion seperti dalam serial the Walking Dead ya.. Beberapa saat setelah tergigit, dalam sekejap dapat berubah menjadi zombie yang mengincar mangsa. Seru dan bikin deg-degan karena para tokoh diatas seolah harus bermain survival game dalam gerbong kereta yang sempit dan melaju kencang sepanjang perjalanan dari Seoul menuju Busan. 

Scoringnya juga keren, lumayan membuat adrenalin semakin meningkat. Apalagi bagi saya yang menontonnya disaat ditinggal seorang diri (+Ziqri sih) selama beberapa hari karena menunggui rumah orang tua yang sedang menghadiri sumpah dokter adik saya di Lampung, akhir tahun lalu.

Pesan moral yang diangkat juga sebenarnya cukup dalam. Akankah seorang anak manusia bisa mengorbankan dirinya demi orang lain, khususnya orang-orang yang dicintai dalam keadaan mendesak? Karena kemungkinan besar keegoisan sebagai sifat dasar setiap orang yang pertama kali akan muncul dalam perjuangan antara hidup dan mati. Masih adakah nilai-nilai kemanusiaan yang tulus?

Overall, saya beri film ini poin 8. Saya sangat merekomendasikannya untuk penggemar film thriller yang lebih dari sekedar gore atau horror belaka. Terutama bagi yang telah memiliki anak, duh.. siapin  dulu tisu yang banyak.