" ".

Recap dan Review Bon Appetit Your Majesty Episode 11

Table of Contents

Recap Bon Appetit Your Majesty Episode 11


HeOn meminta JiYoung jadi pendampingnya dan memberi janji manis. Namun saat berciuman, JiYoung kembali ke akal sehatnya dan meminta maaf sambil menjauh. HeOn terlihat terluka karena JiYoung sebegitu tak menyukainya. JiYoung bilang Ia bukannya tak menyukainya.

HeOn memintanya menatap matanya dan JiYoung merasa harus pulang ke zamannya, Ia tak sanggup melepas karir yang sudah susah payah dibangunnya seumur hidup dan yang paling utama adalah ayahnya sebatang kara.

HeOn yang awalnya terus memaksa JiYoung tinggal, akhirnya paham. Tapi Ia harus berjanji, sebagaimana Ia datang tiba-tiba, ia pun harus kembali padanya. "Bagaimana jika Aku ingin kembali, tetapi tak bisa?" 

"Jika kau ingin kembali tapi tak bisa bisa, kalau begitu, aku yang akan menemukanmu. Apapun caranya."

JiYoung berjanji untuk kembali dan meminta HeOn berjanji agar Ia tak menjadi tiran. HeOn tertawa dan bertanya apakah Dimata JiYoung ia masih menjadi tiran sambil tersenyum.

Dalam hatinya JiYoung memohon agar HeOn jangan tersenyum begitu karena Ia ingin angin yang berkecamuk di hatinya mereda jadi Ia bisa pulang dengan tenang 

HeOn malah memeluknya dan berjanji menunggu JiYoung kembali padanya.


Malam itu, Sang Raja kembali menyelesaikan Mangunrok. Ia mengingat kembali resep Bibimbap gochujang mentega yang dibuat JiYoung. Hebatnya Ia ingat JiYoung menambahkan dua sendok gochujang dan satu sendok mentega ke dalam masakan yang hanya dicicipinya sekali (di rumah GilGeum saat awal perjumpaan mereka dulu).

Sambil tersenyum, Ia berpikir apa nama yang cocok. Sebagai tambahan ide, Ia memanggil Kepala Kasim. Beliau malah salah mengira itu lukisan burung dan bunga (ya gambar HeOn khas zaman dulu ya.. agak jadul gitu Hoahaha). Nama yang diusulkan Hwaseban (makanan yang mengantar pulang) malah bikin HeOn bertambah manyun Hoahaha.  Padahal, menurut CheonSeong nama itu cocok karena JiYoung selalu ingin pulang dan HeOn menceritakan niatnya ingin membuat menu dihalaman terakhir itu untuk JiYoung suatu hari nanti.


Sementara itu di ruangannya, JiYoung mengelus cincin pemberian HeOn sambil teringat permintaannya untuk kembali ke Joseon. GilGeum bertanya kenapa Ia masih duduk diluar malam-malam. JiYoung memikirkan pulang ke masa depan. Ia mengajaknya lagi ikut, tapi kali ini GilGeum yang awalnya mengiyakan akhirnya jujur Ia takut berpergian jauh dan ke tempat baru. JiYoung pura-pura ngambek dan berjanji mereka akan membahasnya ketika Mangunrok kembali. GilGeum melihat angkasa dan penuh bintang jatuh, JiYoung senang sekali --karena tak ada polusi udara-- jadi bisa make a wish upon a star. 

Sajian 11 : Gujeolpan Daging Kedelai dan Pai Terung

Tibalah hari perjamuan jincheon alias ulang tahun Ibu Suri Agung yang ke-70. Istana dihias, penjaga bersiap, aneka menu cantik dibuat tapi JiYoung baru mendapat informasi dari Koki Eom kalau nenek HeOn itu sudah lama tak mau makan daging. Normalnya di acara besar istana harus menyediakan menu daging. Para Koki berdebat. JiYoung berpikir sejenak dan memutuskan menyajikan daging dari kedelai.

Sesuatu yang bukan daging tetapi rasanya seperti daging. Semua bersemangat menyiapkan semuanya.

Di ruangan Ibu Suri Agung, Pangeran JinMyoung yang sudah sehat memberi hormat sambil berdoa untuk kesehatan dan usia yang panjang. Neneknya sangat senang dan berjanji akan hidup sampai melihatnya menikah. Lucunya, JinMyoung menjawab Ia ingin neneknya melihat anaknya kelak. Para selir dan Ibu Suri tertawa tepat saat terdengar keributan di luar pintu.


Ternyata Selir Kang yang memaksa masuk. Ia meminta maaf dan minta izin memberi hormat pada hari pesta jamuan Ibu Suri Agung ini. 

Selir raja terdahulu langsung membentaknya tak tahu diri karena semua orang sudah tahu bahwa dayangnyalah yang bekerja sama dengan tabib yang melukai JinMyoung. 

Selir Kang malah berani bersumpah (palsu) bahwa Ia tak melakukan apapun yang membuat langit marah. Hari ini Ia hanya datang memberi hormat. Nenek HeOn menegur semuanya, sepatutnya Selir Kang tetap berdiam di kamarnya selama penyelidikan berlangsung. Ia membuat pengecualian karena ini hari bahagia, selama Selir Kang tak membuat masalah baru. Ia pun meninggalkan banyak hadiah.

Pangeran Jesan menerima laporan semua persiapan selesai baik di istana maupun hutan Sangolji. Termasuk pengawal sebagian sudah disusupi pemberontak. Ternyata anak dan istri penulis Yi JangGyun ditawan sebagai sandera agar mau menuruti rencana jahat ini.



Pangeran Jesan memberi salam dengan gaya konyolnya. Topinya terlepas yang nyaris membuat JinMyoung gagal menahan tawa. Dengan tak tahu malu, Ia merasa tersanjung berkat sambutan hangat Ibu Suri Agung. Ia pun memberi lukisan yang dipuji Ibu Suri Agung memberi pancaran aura surgawi. 

Jesan sekaligus minta maaf atas kesalahannya dengan Koki Ming dan berdoa dengan lebay bagi Ibu Suri Agung. Namun nenek HeOn tetap logis, mereka nyaris kehilangan hak memanen gingseng di negeri sendiri jadi Jesan harus bertanggung jawab dengan melepaskan jabatan sebagai Pengawas Saongwon. Ia harus menunjukan penyesalan pada HeOn dan pejabat lainnya.

Di ruangnya, HeOn bersiap memakai kostum penari saat Kepala Kasim melaporkan ChuWol yang ditemukan bunuh diri. HeOn minta agar dirahasiakan dulu dan urus Sekretaris Im untuk menyelidiki lebih lanjut. HeOn curiga pada Selir Kang.

Persiapan selesai dan para Koki tak hentinya memuji daging dari kedelai yang diajarkan JiYoung. Lagi-lagi terjadi kesalahpahaman dalam pengucapan menu vegan Hoahaha.  JiYoung sangat bangga melihat perkembangan para Kokinya terutama Koki Min yang mengingat dengan baik keterangannya mengenai makanan berbasis tumbuhan.

Suatu buntalan kecil terjatuh dari saku JiYoung dan GilGeum mengambilnya. Ia bisa mencium aroma akar manis dari coklat yang dibuatkan JiYoung untuk HeOn.

Upacara pun dimulai. Semua menerima hormat dan memberi ucapan doa. Ibu Suri Agung menerima dengan semringah dan meminta semua duduk menikmati hidangan. Ia sempat menghela nafas melihat kursi HeOn yang masih kosong. Selir Kang menyampaikan tarian dari penari Jahongwon sebagai hadiah. Para selir dan Ibu Suri menampakan ketidaksukaannya.

Ibu Suri Agung mencicipi 'daging' buatan JiYoung dan memanggilnya mendekat. Ia bertanya tentang asal daging gujeolpan dan JiYoung menjelaskannya. Semua takjub dibuat dari kedelai, kecuali Selir Kang yang masih menuduhnya menipu dengan daging sungguhan. JiYoung bilang justru Ia akan merimanya sebagai pujian atas kualitas masakannya. 

Ia mendoakan kedamaian abadi dan kesehatan yang baik bagi Ibu Suri Agung. Sebagai balasan Ibu Suri Agung menerima doa tersebut bagai obat dan balik mendoakan JiYoung tetap aman dan tentram dalam waktu yang lama. JiYoung turun dari podium sambil mengacungkan jempolnya pada para koki istana yang mengacungkan jempol dengan antusias. 

Dalam hati Selir Kang cuma menyumpahi JiYoung. Ia berkata ini adalah hari terakhir JiYoung di istana. 

HeOn menerima GongGil di ruangannya dan mereka bersiap tampil. Sekretaris Im mengumumkan penampilan selanjutnya atas undangan HeOn yaitu kelompok pelawak yang akan menampilkan tarian singa dan Cheoyon dari HeOn.

Penampilannya meriah, mirip barongsai ala Joseon dan semua terhibur termasuk JiYoung yang baru kali ini menonton dengan santai (sebelumnya pernah tengah malam di bawah ancaman kabur dari penjara). Di tengah-tengah berdiri GongGil yang memberi penghormatan bagi Ibu Suri Agung dan berdoa untuk usia dan kesehatannya. Ibu Suri Agung mengenalinya sebagai GongGil pelawak favorit HeOn.



JiYoung yang mengenali HeOn dari jauh tersenyum penuh kebanggaan, Ia berdoa HeOn dikenang sejarah sebagai raja yang adil dan bijaksana.  Musik dimainkan dan dua orang itu menari dengan identik dan indah. Ibu Suri Agung sangat terhibur cucunya menyiapkan tarian untuknya. Ibu Suri memuji keindahan bakti HeOn. Pangeran Jesan sempat-sempatnya memuji tarian HeOn yang selaras dengan GongGil. Padahal dalam hati menyumpahi HeOn yang sebentar lagi akan menjadi tiran terkejam.



Di luar gerbang penulis Yi JangGyun membawa sebuah kotak kayu. Ia ditemani Ibu dari Ratu yang digulingkan. Sebenarnya Ia ragu tapi teringat anak dan istrinya yang ditawan kubu pemberontak. Jesan menganggapnya pengkhianat karena Ia memimpin peristiwa Pembersihan Muin demi membalas dendam ibunya. HeOn seolah tak merasa bersalah membunuh banyak orang. 

Ia memasuki lapangan istana tepat saat HeOn menyapa dan mendoakan neneknya. Ibu Suri Agung pun mendoakan agar cucunya bak matahari yang akan menyinari kerajaan mereka selamanya. 

SuHyeok berusaha mencegah rombongan masuk, tetapi Inspektur Istana Yi JangGyun mengaku menerima titah Raja. HeOn mengenalinya dan menerima draf catatan sejarah itu dihadapan semua orang yang langsung gelisah. JiYoung apalagi, Ia sangat cemas, Ia berdoa dalam hati agar HeOn tak membacanya.

Saat kotak dibuka, manuskrip yang diakui sebagai kebenaran yang memuat kata-kata terakhir Ibu HeOn itu membuat tangan HeOn gemetar. JiYoung langsung sadar ini peristiwa Gapshin dan langsung berupaya menghentikan ini apapun caranya. Ia nyaris terjatuh tetapi GilGeum menyambarnya. 

JangGyun mengaku menemukan nenek HeOn dari pihak  ibu. Ibu dari Ratu Sim, Ia nampak kehilangan kewarasan dan alasannya karena melihat langsung anaknya di racun didepan matanya. HeOn mendatangi neneknya dan bertanya siapa dirinya. Sang nenek hanya mohon ampun untuk nyawa anaknya dan mengaku tak bersalah. Wanita tua itu mengenalinya sebagai Jeonha dan tertawa terbahak-bahak. ia malah mengambil makanan dari kursi para pejabat.

Ibu Suri Agung, para selir raja terdahulu dan Kakak Ibu Suri Agung beserta beberapa pejabat bersiap pergi. Tapi HeOn langsung membentak mereka agar kembali duduk. Neneknya kembali memohon kembali ke kamar tetapi HeOn langsung murka, akhirnya semua duduk lagi dengan tegang.

Sekretaris Im diperintahkan untuk membacakan di depan semua orang. Pertama, kedua selir ayahnya, Selir Yang dan Selir Sung bergantian mengajukan petisi pada Raja bahwa kecemburuan Ratu sudah melebihi batas, dan beliau kurang memiliki kesopanan jadi tak patut menjabat permaisuri. HeOn langsung mendelik murka dan keduanya berlarian mendekat ke arah Ibu Suri Agung.

Halaman kedua, Ratu mencakar wajah raja yang membuat beliau dan Ibu Suri Agung murka. Meski ditentang oleh banyak pejabat, Pejabat Han MinSeong alias Kakak Ibu Suri Agung menyetujui menggulingkannya dan mengusirnya keluar istana. Sang pejabat memohon agar semua dihentikan. Terakhir, Ibu Suri Agung (yang saat itu masih bergelar Ibu Suri), memohon agar Raja memberi racun pada Ratu untuk bunuh diri. Semua tercengang dan gelisah. HeOn terbayang detik-detik Ibunya menderita.



Ia pun menghunus pedang dari  SuHyeok setelah menjerit histeris. Matanya nyalang dan dia menuju podium tempat duduk neneknya. JiYoung langsung berlari menyongsongnya ke tengah lapangan. Ia menghadangnya dan memohon. HeOn hanya menyuruhnya minggir. JiYoung segera menahan bahunya "Jangan lakukan ini, Kau tak boleh lakukan ini, Kumohon, jangan" 

"Apa benar Nenek yang memerintahkan agar Ibuku dieksekusi? Aku bertanya kepada Nenek!" Pekikan HeOn menggema. Ia tetap mengacungkan pedang selama JiYoung memohon sambil menatap matanya.

Neneknya membenarkan dan Kakak lelakinya mengungkap Yi JangGyun adalah pengkhianat, Raja terdahulu bertitah agar hal ini dirahasiakan selamanya saat HeOn naik takhta. Jadi HeOn tak perlu mendengarkan kata-kata pengkhianat ini.

HeOn semakin mengamuk saat melihat nenek dari pihak ibunya mengacungkan kain / jeogiri berlumuran darah. Penulis Yi melihat kode dari Pangeran Jesan sebelum menjawab sambil berlutut itu adalah kata-kata terakhir dari almarhumah ibunya yang menginginkan ketidakadilan yang dialaminya diluruskan. HeOn mengkonfirmasi pada Sekretaris Im yang mencocokan pada halaman berikutnya. 

HeOn menangis sambil menggenggam kain berdarah itu. Nenek dari pihak ibunya pun menggumamkan hal yang sama. Setelahnya Ia berlari memohon ampun seperti orang yang tak waras pada umumnya. 




JiYoung panik, Ia harus bagaimana. Semua tegang, hanya Selir Kang dan Jesan yang tersenyum puas. "Hari ini akan ku perbaiki semuanya" HeOn kembali mengacungkan pedangnya. JiYoung langsung memeluk HeOn yang melewatinya "Kau harus menahan diri, jika Kau balas dendam sekarang, maka kau akan menyesal selamanya"

"Apakah juga ingin mati?" HeOn mengangkat pedang di atas kepala JiYoung. Semua koki Suragan langsung menyembah memohon agar HeOn mengampuni nyawa Kepala Koki mereka. 

"Ini tak ada hubungannya dengan mu" mata HeOn nyalang memandang JiYoung.

"Tidak, ini ada hubungannya denganku, karena Aku mencintaimu".

HeOn menurunkan pedangnya. Ia menatap JiYoung sejenak namun bergegas maju lagi. JiYoung kembali memeluknya dan mengingatkannya janji untuk membuatkan bibimbap untuknya dan akan menunggu. Keduanya menangis saat JiYoung mengingatkannya untuk menjadi raja yang baik dan bukan tiran.

Sekretaris Im pun berteriak "Jeonha, Aku mohon sarungkan pedangmu!" Ia membungkuk dan dan semua abdi hingga pejabat menyusul.

HeOn memandang JiYoung dan meminta maaf padanya. Tragedi ini bukan disebabkan oleh ibunya atau pun dirinya sendiri tetapi oleh neneknya dan para selir. Ia memerintahkan SuHyeok dan pasukan kerajaan untuk menutup semua jalan keluar. JiYoung ditahan oleh seorang pengawal saat HeOn tetap maju ke podium.


JiYoung segera berpikir cepat, Ia memberikan coklatnya pada Nenek Heon dari pihak Ibu. Ia mohon agar Nenek mau memahami hati paduka dari sudut pandang seorang Ibu. 

HeOn masih bertekad tak akan membiarkan siapapun yang bertanggung jawab atas kematian ibunya keluar hidup-hidup. Pada saat Ia menaiki anak tangga dan berhadapan dengan neneknya sambil mengacungkan pedang, harapan JiYoung terwujud, setelah mencicipi coklat, Sang Nenek menyampaikan kebenaran, kata-kata terakhir Ibu HeOn "Aku harap semoga putraku meluruskan ketidakadilan Ku. Semoga Ia menjadi seorang raja yang bijaksana, arif dan berbudi"

Ibu Suri Agung sebenarnya sudah pasrah tapi akhirnya bisa bernafas lega. HeOn berteriak "Sudah terlambat untuk hal itu "

JiYoung berlari mendekat dan bilang belum terjadi apapun. Seperti kata-kata terakhir ibunya, Ia ingin HeOn jadi raja yang bijaksana. Sekretaris Im segera berlutut kembali memohon HeOn memaafkan semuanya. Semua segera menyusul tindakannya sambil menangis.

HeOn memandang langit sambil menangis histeris "Ayah, kenapa meninggalkanku dengan kepedihan ini?" Pedangnya dilepaskan "Kenapa Ayah membunuh ibuku dan menjadikan aku raja? Kenapa?" Teriakannya pilu mengiris hati semua orang kecuali Jesan dan Selir Kang yang malah terlihat kesal.




HeOn pergi meninggalkan lapangan dengan terhuyung-huyung. Semua memandangnya khawatir dan JiYoung mengikutinya dari belakang. Para dayang dan Kasim Raja segera menyusul tetapi HeOn memerintahkan mereka kembali karena Ia ingin sendirian. JiYoung tadinya ragu tapi CheonSang memberi kode agar Ia lanjut mengikuti HeOn.

HeOn teringat kenangan dengan ibunya yang mengukur pertumbuhan tinggi badannya di salah satu pohon di halaman istana. Senyuman sang ibu mengembang dengan penuh suka cita dan kebanggaan. HeOn mengelus batang pohon itu dan menangis tersedu-sedu sambil berlutut di bawahnya. JiYoung diam-diam hanya ikut menangis.

Setelah tenang, Ia mendengarkan HeOn berkisah "Semua yang kulakukan untuk membalas dendam ibuku ternyata menentang keinginannya. Semua tak ada gunanya."

"Ibumu hanya tak ingin kau dikenang sebagai tiran" 

"Apakah Kau pernah menginginkan kematian anggota keluarga? Aku selalu berharap kematian ayahku karena menggulingkan ibu dan mengesekusinya. Sepanjang hidupku Aku tak bisa memahami dan memaafkannya. Aku ingin membunuh semua pihak yang terlibat."

"Tapi lalu apa? Itu tak membantu dirimu atau ibumu atau orang lain. Berjanjilah kau tak akan berpikir begitu lagi." JiYoung berusaha menasehatinya.

HeOn senang sebenarnya JiYoung mencemaskannya. JiYoung membenarkan karena kepedihan HeOn menjadi kepedihan dirinya juga. Ketika HeOn hanya terdiam, JiYoung mengira Ia tak percaya, tapi HeOn bilang Ia paham.

Antek Pangeran Jesan segera mengerumuninya dan mengungkapkan kekesalan rencana jadi berantakan karena JiYoung. (Mereka menganggapnya licik! Oh the audacity!!) Pangeran Jesan langsung menjalankan rencana tahap dua dan mencelakakan JiYoung.

Sekretaris Im berhasil menguping tapi rupanya itu jebakan dan Ia malah tertangkap pengawal Jesan. Sekretaris Im di culik setelah Ia langsung mengancam Jesan tak akan lolos dari hal ini.

Para pembesar lain segera merencanakan pertemuan. Nenek HeOn terlihat pusing mengingat amukan cucunya barusan dan teringat kata-kata kakaknya. Ia sangat khawatir.

Ibu Suri dan para Selir mencemaskan amukan HeOn. Ibu Suri masih berpikir positif dan melihat JiYoung sangat memahami sekaligus dituruti oleh HeOn. Mungkin mereka harus menggantungkan harapan pada kepala koki istana. Selir malah bilang ini saatnya untuk menyingkirkan Selir Kang dan menjadikan JiYoung Ratu secara resmi. Untuk saat ini mereka menunggu Ibu Suri Agung terlebih dahulu.




Di ruang HeOn, JiYoung menyampaikan. keheranannya akan penulis Yi yang menyela jamuan. Semua hal sejak insiden Pangeran JinMyoung terasa aneh, seolah-olah seseorang ingin HeOn kehilangan kendali. HeOn pun mendengarkan permintaan JiYoung dan ibunya yang menginginkan Ia jadi raja bijaksana. HeOn jujur bingung harus mulai dari mana karena selama ini misinya hanya balas dendam.

JiYoung mengusulkan agar Ia berbaikan dengan Ibu Suri Agung. Malam ini HeOn akan makan malam bersama di kediaman sang nenek. HeOn awalnya keberatan tapi JiYoung berkeras mungkin ini alasannya Ia datang ke zaman ini. 

Sebelum menyiapkan Seoksura, JiYoung meminta maaf lupa menyampaikan pesan Tang Bailong. Sayang, mereka berdua sama-sama tak memahami arti teka-tekinya. 


Di dapur istana, para Koki heboh dan memuji keberaniannya. Jadi malam ini mereka akan menyiapkan makan malam di ruangan ibu Suri Agung. Semua bergegas menyiapkan mi berbaikan yang digagas JiYoung.

Dalam hatinya JiYoung masih khawatir jika terjadi pembantaian saat ini maka akan memicu pemberontakan, lalu HeOn akan digulingkan. Jika HeOn berbaikan dengan neneknya, sejarah mungkin akan berubah.

Malangnya, Pejabat Im SeoHong ayah sekretaris Im dipanggil ke kediaman Pangeran Jesan. Setelah menyadari bahwa ini jebakan dan rencana kudeta Jesan, Ia berusaha kabur tetapi malah ditangkap dan di bunuh Sebelum sempat memperingatkan HeOn. Sebelum meninggal Ia sempat mendoakan keselamatan bagi anaknya Im SongJae. (Huhuhu.. sedih banget).

Rupanya GongGil melihat semua kejadian itu dan bergegas menuju dapur istana. Tepat ketika JiYoung dipanggil oleh pengawal istana (yang disusupi pemberontak anak buah Jesan) dan diculik, GongGil menyelamatkannya. (Koki Min sempat menganggap piring yang dipecahkan GilGeum sebagai pertanda buruk).

Sayangnya, HeOn yang dipuji CheonSeong memilih langkah bijak saat menuju kediaman Ibu Suri Agung malah dicegat SuHyeok yang membawa surat yang dikirim kubu Pangeran Jesan. Surat dibuat seolah-olah dari sekretaris Im yang menemukan markas asasin yang mengejar mereka di rumah penemu ChunSaeng. HeOn langsung memerintahkan pasukan bergerak ke hutan Salgoji terutama karena pejabat melaporkan JiYoung diculik dan dibawa ke lokasi yang sama. 

HeOn marah besar kenapa hal ini bisa terjadi. Ia teringat teka-teki dari Bailong dan berniat menumpas sendiri para pemberontak.

Di ruangannya Selir Kang berhias. Dayang barunya terlihat keheranan tetapi Ia meyakinkan malam ini akan ada tamu istimewa.


Di kediaman Ibu Suri Agung sesosok yang memakai kostum penari lengkap dengan topeng membantai para dayang. Saat neneknya melihat darah yang menetes, Ia mengira cucunya akhirnya memilih pedang. "Apa kau sungguh bertekad membunuh nenekmu sendiri?" Tanyanya. Tapi ketika Ia mendengar suara dari sosok tersebut, Ia yakin itu bukan HeOn. 

Sosok itu menyebut sumber bencana adalah keputusan Ibu Suri (Agung) yang menggulingkan  ratu tapi malah menjadikan putranya raja. 

Saat Ibu Suri Agung mengenalinya. Pangeran Jesan tertawa licik dan membuka topengnya. Nenek HeOn menangis menyesali tak mengenali kepura-puraannya. Jesan beralasan Ia akan mengembalikan kerajaan pada raja yang bijaksana. Nenek HeOn bilang justru Ia sendiri adalah tiran yang mengacungkan pedang. Sebelum nafas terakhirnya setelah ditusuk tepat di bagian vital, Ibu Suri Agung menyumpahinya bahwa Jesan akan bertanggung jawab atas perbuatannya. Saksi mata melihat seolah paduka pelaku sebenarnya.


Pangeran Jesan menyalakan kembang api dan memakai ikat kepala merah lambang makar. Di saat yang bersamaan, semua penjaga istana, para dayang HeOn dan Kepala Kasim dibantai dengan panah oleh tim pemberontak yang menyusup (huhuhu Dayang Choi si Pencicip😭😭). Dalam dua jam istana lumpuh. 


HeOn dan rombongan tiba di kawasan Hutan Salgoji yang biasa dijadikannya lokasi berburu. Ia melihat sesosok terikat di pancang kayu dan segera mengenalinya sebagai Sekretaris Im. Ia berusaha memutuskan tali ikatannya sendiri dan meminta pasukannya berjaga. SongJae --yang baru sadar dari pingsannya- memohon agar Jeonha segera pergi karena ini adalah jebakan Pangeran Agung Jesan. HeOn tak menghiraukannya dan terus memotong tali. Tepat saat terlepas, SongJae melihat panah menuju posisi mereka dan menepis HeOn ke tanah. Segera anak panah menancap di tubuhnya namun Ia masih sempat mengingatkan HeOn agar berlindung.

Panah yang disulut api segera membakar tempat itu dan semua orang langsung dalam mode pertempuran. SuHyeok mati-matian menarik HeOn dari lokasi ketika sang Raja histeris meneriakan nama sahabat terbaiknya itu. SongJae menemui ajal sambil berjanji setia pada HeOn.

JiYoung lega diselamatkan GongGil. Pria itu mengajaknya segera pergi karena jika Ia tertangkap maka Posisi HeOn akan semakin bahaya. JiYoung menutut penjelasan tapi tak ada waktu lagi karena mereka dikejar pemberontak. Satu kelompok berhasil menangkap JiYoung yang akhirnya sadar, inilah pemberontakan Gapshin. Dalam hatinya Ia memohon keselamatan paduka. Di hutan Salgoji, HeOn bertempur mati-matian sambil mendoakan keselamatan JiYoung..

Review Bon Appetit Your Majesty Episode 11

Wah salah satu episode K-drama terbaik. Puncak konflik utama yang mengungkap semua permasalahan 

Memang penyebab Ibunya HeOn digulingkan terdengar sepele, karena dirinya mencakar wajah sang Raja (ya memang tubuh raja dianggap suci dan harus dilindungi ya) tapi apa benar, Ibu HeOn yang selalu baik hati ternyata kurang arif dan menampakkan kecemburuan pada para selir?

Melihat manuver para Selir raja terdahulu, saya curiga sebenarnya ada alasan lain dari sudut pandang ibu HeOn. Bisa jadi para selir memang bersikap licik dan menjebaknya. Ibu Suri Agung pun (yang terlihat bijaksana) terbawa arus dan akhirnya memerintahkan hal tersebut. Sayang pembicaraan antara HeOn da neneknya tak pernah terjadi. 

Tentang Pangeran Jesan akhirnya Ia menunjukan warna aslinya. Sayang Ibu Suri Agung pun terlambat menyadari bahwa Ia serigala berbulu domba. Tindakannya yang membantai dengan pakaian penari membuat HeOn tetap dianggap sebagai tiran. Sayangnya, saat ini hampir semua saksi mata yang mengetahui kebenarannya telah tiada.

Hati saya berkeping-keping melihat CheonSeong dan dayang Choi si Pencicip HeOn tertembak. Tambah remuk saat melihat Im SongJae menghembuskan nafas terakhir sambil tetap melindungi HeOn, sahabat yang disayanginya. Beruntunglah HeOn, yang meski kehilangan ibunya dan selalu merasa sendirian, sebenarnya punya sahabat yang selalu setia dan mendukung semua keputusannya sambil berupaya memberi nasehat terbaik juga (SongJae jadi abdi pertama yang memohon agar HeOn menyarungkan pedang dan memaafkan keluarganya juga di saat tragedi hari ini).

Di sisi lain, akhirnya JiYoung menyatakan perasaannya yang sesungguhnya pada HeOn. Lebih romantis dari pada sekedar kata-kata. Ia memeluk dan mencegahnya saat murka. Sesuatu yang menunjukkan kuatnya bonding mereka berdua.

Ohya, dari kemarin saya telat menyadari bonding spesial antara Koki Maeng dan GilGeum. Saya kira sang koki melatih GilGeum memotong dengan tegas semata karena alasan menghindar perintah dari Selir Kang. Kemarin, jadi lebih jelas saat Koki Maeng bersedia menggantikan GilGeum menghadap Raja untuk melaporkan penangkapan JiYoung. Perhatiannya paling nampak saat GilGeum memecahkan piring di episode ini. Saat yang lain sibuk menegur gadis itu atau membantu membereskan pecahannya, koki Maeng lah yang bertanya apakah GilGeum baik-baik saja.

Dari segi akting, ChaeMin bisa menyampaikan amarah sekaligus keputusasaan HeOn dengan luar biasa. Mengimbangi YoonA dan para pemeran lain yang tampil maksimal. 

Saya juga terkesan dengan sinematografi pelaksanaan upacara ultah Ibu Suri ini. Indah sekaligus bisa menghadirkan momen yang mencekam. 

Tak hanya koreografi tarian istana dan duo HeOn-JiYoung yang keren, saat perang di hutan Sangolji juga bagus sekali. Intens dan bikin deg-degan. Salah satu episode menjelang episode penghabisan yang luar biasa.

Baca juga Recap dan Review Bon Appetit Your Majesty :

Episode 1      Episode 7

Episode 2     Episode 8

Episode 3     Episode 9

Episode 4      Episode 10

Episode 5     

Episode 6        Episode 12     




1 komentar


Episode 12 kpan di up nya min, lagi nungguin mheheh