Recap dan Review Would You Marry Me? Episode 9
Recap dan Review Would You Marry Me? Episode 9
WooJoo1 minta salinan akta pernikahan yang sudah mencantumkan tanggal perceraian ke kantor pemerintah untuk mengubah penerima manfaat asuransinya.
Ia bingung saat menerima informasi bahwa secara hukum Ia masih menikah karena putusan cerai belum diserahkan. Tanggal perceraian di Korea disahkan pada saat putusan cerai diserahkan.
Berbekal informasi ini Ia curiga kenapa MeRi belum menyerahkannya. Ia awalnya berpikir MeRi hanya mengujinya, sikap dan tindakannya berbeda. Jadi WooJoo1 membawa sebuket bunga besar saat mengunjungi rumah MeRi. Nahas, saat parki lewatlah dua orang ahjuma yang membahas rumah hadiah toserba Beaute. WooJoo segera mengaitkan ingatannya dengan vlogger yang membahas undian Beaute Palace, dia pun searching dan boom! Foto MeRi (dan WooJoo) dikenalinya sebagai pemenang rumah Hoahaha.
WooJoo1 segera Ia teringat nama WooJoo yang sama dengannya dan reaksi aneh MeRi saat ketahuan tinggal di Beaute Palace. WooJoo1 segera membanting bunganya. Ia memencet bel dengan penuh amarah.
Keceriaan MeRi saat membukakan pintu semakin membuatnya emosi, MeRi sedang menunggu WooJoo! MeRi mencoba masuk tapi WooJoo1 menahan pintu. Dan saat MeRi menghubungi polisi, Ia mengambil ponselnya dan mengancam akan melaporkan balik pasal penipuan. "Apa kau menikmatinya? Menjadi Pasutri palsu?"
MeRi terpaksa meladeni ocehannya di dalam rumah. WooJoo1 memuji keberuntungan MeRi memenangkan rumah yang indah ini. MeRi membalas Ia tak berniat menipu karena Ia sudah berulangkali menghubungi WooJoo1. Kemenangannya akan dibatalkan jika suaminya tak hadir sementara ia harus mengembalikan utang ibunya.
"Kemenangannya akan batal jika kau bercerai. Kau jadi cukup berani. Hingga sampai menipu. Kau tak bisa berbohong bukan?"
"Kau selingkuh dariku dan menjadikanku janda, meninggalkan ku dengan utang." Balas MeRi
Ok, jadi WooJoo1 hanya bisa mendengus kesal. Ia akan memaafkan MeRi jika Ia memutuskan hubungan dengan WooJoo.
"Tak butuh yang palsu saat asli kembali? Kenapa? Ia hanya klien. Kau betul-betul jatuh cinta kepadanya?" WooJoo1 menyadari MeRi menolak menjawab dan wajahnya sendu.
Ia mengancam akan menelpon Beaute agar mereka berdua dihukum. MeRi memang berniat mengaku karena cemas sampai tidurnya tak tenang. Rumah ibu terasa tak. Penting selama Ia didera rasa bersalah terutama pada WooJoo.
WooJoo1 malah mengamuk. Ia belum puas, pria itu adalah cucu pemilik Myunsoondang. Jika skandal ini tersebar WooJoo akan selamanya dicap sebagai penipu. MeRi mulai menangis, melarang WooJoo1 melakukan sesuatu yang buruk pada WooJoo. Semuanya atas permohonan MeRi dan Ia hanya berusaha menolong. WooJoo1 mengancam MeRi untuk mengakhiri hubungan sebelum meninju pecah foto pernikahan WooJoo dan MeRi.
MeRi menelpon WooJoo untuk membatalkan janji mereka dengan alasan tiba-tiba merasa kurang enak badan. WooJoo malah tambah khawatir, MeRi terluka dengan perkataan neneknya. Padahal MeRi kepikiran ancaman WooJoo1.
Tiba di rumah, Nenek menyerahkan dokumen dari Tuan ko. Rupanya kecelakaan sudah terjadi dua bulan lalu. Nenek menceritakan dana perusahaan yang dikirim pada J-Consulting --konsultan yang disewa untuk bantu memasuki pasar-- di Amerika dan Tuan Ko menyimpan buktinya.
WooJoo segera membaca dokumen tersebut dan menyadari selain lisensi mereka mengurus subkontraktor juga. Nenek sudah mengecek ternyata subkontraktor tersebut adalah perusahaan cangkang yang hanya nama. Ia merasa ada yang salah dan meminta WooJoo memeriksa tanpa sepengatahuan paman, karena direktur Jang yang menyewa sejak awal.
Di kamarnya WooJoo teringat pernah membaca laporan J-Consulting yang sama di meja paman saat kopinya tumpah beberapa waktu lalu. Ia segera segera menghubungi John, seorang temannya di Amerika.
Keesokan harinya, SeongHee melaporkan Bu Oh sudah meng-acc pekerjaan mereka. MeRi yang bengong harus dipanggil berkali-kali baru ngeh. Sang boss berpesan agar segera mengabari percetakan soal revisi desain. Ia menghalau kekhawatiran SongHee dengan alasan hanya kurang tidur. Kata-kata WooJoo1 terngiang-ngiang dan Ia menghela nafas berat.
Di kantornya, WooJoo pun terngiang kata-kata neneknya yang dikhawtirkannya membuat MeRi cemas. WooJoo ingin membuat MeRi tenang kembali dan sedang mencari caranya tepat ketika sepupunya sedang ngobrol dengan WonSeok. Topiknya adalah tiga langkah memenangkan hati wanita. EungSoo menjamin strategi ini akurat bahkan setelah menjadi pacar sekalipun. Dialognya hilarious tapi yang lebih lucu, WooJoo menguping dan membuat catatan juga Hoahaha.
1. Bawa ke tempat yang memikat mata. Misalnya ke kafe yang instagramable
2. Wanita selalu bisa makan, tak peduli sekenyang apapun tiga babak makanan penutup setelah makan berat pun masih memungkinkan. Hoahaha
3. Momen titik balik adalah pastikan ada sesuatu ditangannya. Berikan hadiah.
WooJoo yang tiba-tiba berdiri nyaris ketahuan oleh dua orang itu. Tapi Ia segera pergi dengan riang. Ia menghubungi MeRi mengajaknya kencan ke taman hiburan atau restoran terkenal di pinggir kota. MeRi beralasan harus mengerjakan suvenir ulang tahun Myunsoondang ke-80, jadi sebaiknya setelah perayaan saja. WooJoo kecewa, akhir-akhir ini saking sibuknya mereka jarang mengobrol. Ia mengeluh betapa malangnya dirinya dan berpesan kepada MeRi untuk menjaga makan dan istirahat.
Ia mendapat notifikasi dan mengecek email dari John yang memberi info penutupan J-Consulting. Alamatnya sama dengan restoran Router 66 Eats. Pemiliknya adalah orang Korea yang sama bernama Jesicca Oh MinJeong. Ia punya seorang putra berusia delapan tahun.
Bibi meninggalkan kuil sambil mengomel. Ia melaporkan hasil pembacaan nasibnya, menurutnya peramal salah memberi nasehat. Tak mungkin Ia akan dikhianati oleh orang terdekatnya sendiri. Ia pikir ini hanya akal-akalan supaya mau membeli jimat penangkal. Suaminya hanya meledeknya yang sudah berhenti ke peramal setelah EungSoo kuliah, ngapain pergi lagi (Anehnya memang paman tersenyum penuh afeksi). Namun istrinya cemas soal pengkhianatan ini maksudnya ibunya akan mengumumkan WooJoo sebagai penerus di Myunsoondang pada hari perayaan ulang tahun. Suaminya hanya membujuknya untuk tak bertengkar dengan ibunya sendiri. Bagaimana nanti jika sang CEO sampai pingsan. Isterinya makin curhat kalau ibunya membuat kesal. "Jangan dipikirkan, aku justru lebih mencemaskan perasaanmu. Aku akan segera pulang. Dah"
Jessica yang mendengarkan semua nada bujuk rayu itu tak ayal jadi kesal. Menurutnya suaminya sangat baik bagi orang yang akan segera bercerai. Suaminya menuduhnya cemburu. Tapi menurut istrimudanya ini Ia curiga karena terkadang sikapnya tak seperti karakternya saat berbicara dengan sang istri.
Suaminya hanya memintanya tak mempedulikan Ibu EungSoo. Jesicca mendesaknya untuk segera bercerai. Penolakan dengan alasan waktu belum tepat membuat wanita itu sampai membanting apel yang sedang dikupasnya. Ia marah posisinya merugikan anak mereka Henry. Ayahnya tak bisa mengajaknya ke mal atau restoran Korea karena takut ada yang mengenali. "Sudah delapan tahun begitu. Apa, tidak, sudah 27 tahun?" Koreksinya.
Paman tercekat dengan perkataan istrinya yang mengungkit sesuatu yang dilakukannya demi cinta saat itu. Ia segera menggenggam tangan istri mudanya dan menjanjikan semua yang diimpikan akan segera diraih jadi bersabarlah sebentar lagi. Sebagai pamungkas, Ia memeluknya tapi dibalik itu wajah sadisnya muncul kepermukaan.
Bel berbunyi dan Jesicca membuka pintu. Henry datang diantar oleh SoRi --adik MeRi. Si anak segera berlari gembira menyadari kehadiran ayahnya di rumah. Sementara Ibunya menawarkan uang bensin pada SoRi. Awalnya Ia menolak karena memang ini shiftnya di restoran tapi boss-nya ini memaksa dengan dalih SoRi pandai menjaga rahasia.
MeRi dihubungi WooJoo untuk rapat. MeRi khawatir ini soal revisi faktur jadilah Ia setuju ke Myunsoondang. Ternyata WooJoo sudah menjemputnya di seberang jalan. Ia melambaikan tangan dengan gembira. Ternyata Ia mengajak MeRi ke taman. "Tak semua rapat harus dalam ruangan" ujar WooJoo sambil menyusun makanan bekal piknik.
MeRi masih terlihat bingung tapi menerima minuman yang ditawarkan WooJoo sambil duduk di alas yang dihamparkan di atas rerumputan. WooJoo mengabari manajemen sudah setuju, jadi urusan kerjaan aman.
Agenda kedua, WooJoo bertanya apa yang mengganggu MeRi beberapa waktu ini. Apakah ucapan neneknya soal pembohong waktu itu. WooJoo menjelaskan, itu hanya prinsip bisnis nenek, bukan sengaja menyindir. Ia berjanji akan menjelaskan keadaan MeRi padanya, jadi jangan khawatir. MeRi hanya terdiam bahkan melepaskan tangannya yang digenggam WooJoo.
"Kita semua punya masalah masing-masing. Kau bilang begitu dalam perjalan menuju pengambilan hadiah". MeRi mencari-cari alasan untuk memulai misi putusnya
"Saat itu.." WooJoo terbata..
"Jika saat itu kubilang perbuatanku salah, tapi tidak lagi , semua orang akan menyebutkku penipu, kecuali dirimu"
"Kau bilang akan ke Beaute dan memberi tahukan kebenarannya."
"Hanya tinggal satu bulan. Dan aku tak perlu khawatir lagi tentang uang seumur hidupku. Sejujurnya orang-orang saling menipu satu sama lain. Jika berani mengambil resiko, aku akan nyaman seumur hidupku"
"MeRi-sshi.."
"Ada lagi. Apakah mengaku akan meningkatkan peluangku denganmu? Bagaimana meyakinkan nenekmu? Bagaimana aku bisa menanggung kebencian keluargamu? Aku tak mau berhati-hati di sekitar orang lain."
"Jangan menyerah sebelum mencobanya. Kubilang aku akan bicara dengan nenekku. Bisakah percaya padaku sekali ini saja?"
"Melihatmu menderita di tengah -tengah kami semua, akan terlalu berat bagiku."
"Apa maksudmu? Kau mau kita putus?"
"Ya, ayo kita putus, aku pergi"
WooJoo hanya bisa tertegun sementara MeRi pergi sambil menahan tangis. Ia teringat semua kebersamaannya dengan WooJoo. Mulai dari pernyataan cintanya, perjalanan ke Yeosu dan semua ciuman mereka. WooJoo pun akhirnya berkaca-kaca, tapi Ia masih mengirim pesan ke MeRi "Aku tahu itu berat bagimu. Seharusnya aku lebih peduli tentang perasaanmu. Maafkan aku. Istirahatlah hari ini. Kita akan bicara lain kali. Aku akan menunggumu."
SangHyeon membawa bosnya dan walikota. Politisi itu menceritakan kisah sedih tentang ibunya dan impian wanita itu untuk tinggal di Beaute Palace. Untuk itu SungWoo mengerling kepada SangHyeon melalui kaca spion depan. Setelah beliau turun, SungWoo memarahi SangHyeon kala mengetahui tak ada unit baru yang tersisa. Harus menunggu setidaknya sepuluh bulan lagi. SungWoo menyesali kehilangan rumah hadiah saat pencabutan undian. Ia malah menyindir SangHyeon yang kehilangan keberanian seperti saat dulu berani mengancam ayah SungWoo agar mau membiayainya kuliah ke Amerika sebagai ganti jadi joki ujian temannya ini.
WooJoo menerima pesan dari JinGyeoung uang meminta maaf telah bicara pada MeRi tanpa persetujuan WooJoo. Pria itupun minta maaf terlalu berlebihan dan meminta teman kecilnya ini perkasa seperti biasanya. JinGyeoung hanya mengajaknya makan untuk berbaikan. Saat WooJoo mengaku sibuk, ia minta izin bicara dan MeRi.
SangHyeon teringat semua hinaan SungWoo saat berlari sekuat tenaga. Ia mengambil sekaleng minuman di mini market dan saat hendak membayar, kasir menginfokan bahwa gratis satu kaleng lagi. JinGyeoung datang membawa sekaleng dan menawarkan membayarnya sekalian.
SangHyeon hanya menatap gadis itu yang langsung minum di depan kasir. Keduanya ngobrol lagi di tempat kemarin. JinGyeoung bertanya apakah SangHyeon sedang banyak pikiran, karena Ia sampai tak sadar gadis itu berlari dibelakangnya. SangHyeon hanya terdiam jadi JinGyeoung kesal dicuekin.
JinGyeoung bercerita Ia pun ingin berlari kencang hari ini. Bukan karena harinya buruk, malah sebaliknya pria yang disukainya sepertinya putus.
"Baguslah. Sepertinya ini kesempatanmu" ujar SangHyeon meski sambil agak manyun (masih tanpa sadar kayaknya Hoahaha).
"Benarkah? Lalu kenapa rasanya begitu aneh. Pasti karena aku melihatnya kesulitan. Bagaimana denganmu?" JinGyeoung membuat gesture menebas leher lengkap dengan sound pisau Hoahaha
"Tatapanmu bisa menembus kepalaku." SangHyeon jadi grogi dikit. Ia bercerita bosnya menyuruhnya mencari solusi atas masalah pelik yang memusingkannya.
"Apa yang terjadi jika tak diselesaikan? Kau dipecat?"
SangHyeon hanya mendengus menahan tawa. JinGyeoung menyarankan agar Ia berhenti lebih dahulu toh Ia sangat kompeten bekerja. Tapi SangHyeon bilang Ia punya alasan tak bisa berhenti. JinGyeoung malah lebih berapi-api untuk menghadapi langsung sang bos, semua perusahaan punya rahasia kotor, pasti ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan.
"Aku yang akan hancur karena Aku yang melakukannya"
"Dalam kasus mu, kau hanya menuruti perintah atasan. Bukan sukarela.
"Menurutmu aku dipaksa?" Tanya SangHyeon tetap dengan wajah datar. Saat JinGyeoung kebingungan, Ia bilang hanya bercanda dan gadis itu sangat mudah ditipu. JinGyeoung mengikuti alurnya tapi Ia bisa melihat kesedihannya.
MeRi dan SongHee rapat di Myunsoondang, finalisasi suvenir ultah untuk tamu VIP. Setelahnya Bu Oh mengajak mereka maka siang dalam rangka ultah SeJeong. MeRi langsung pulang sementara yang lain termasuk WooJoo pergi bersama.
MeRi melewati kaktus yang didudukinya saat pertemuan pertama dengan WooJoo. Ia ingat kejadian malam itu, sama dengan WooJoo yang berhenti di jembatan saat MeRi minta berhenti di pagi harinya karena merasa mual.
WooJoo mendatangi rumah MeRi tapi saat Ia mencoba menelpon, lampu rumah MeRi dipadamkan seketika. Ia sadar gadis itu benar-benar menghindarinya. WooJoo menghela nafas sedih. MeRi di dalam rumah juga duduk dalam gelap. Ia rupanya sempat keluar mengamati jalanan dan menyadari kedatangan WooJoo.
Keesokan harinya kepala sekuriti Myunsoondang menunjukkan rekaman CCTV WooJoo1 yang memaksa bertemu pimpinan. Ia membawa surat namun sebelum pergi WooJoo1 mengkonfirmasi hubungan WooJoo dengan CEO. WooJoo langsung paham apa yang sebenarnya terjadi. Jadi Ia berputar arah menuju Beaute Palace.
Di rumah hadiah, WooJoo1 datang lagi. MeRi memintanya jangan menganggu WooJoo karena mereka sudah putus. Pria ini tanpa rasa malu mengajak MeRi berbalikan lagi. "Kenapa aku harus kembali padamu karena putus dengannya?" Tanya MeRi kesal.
WooJoo1 kembali ke lagu lama. Ia menampari dirinya sendiri sambil berlutut. Ia mengakui kebodohannya dan menyesal serta minta kesempatan lagi. MeRi marah, kesepakatan mereka adalah WooJoo1 tidak akan mengganggu WooJoo atau melaporkan MeRi. Pria menyebalkan ini berjanji akan memperbaiki semuanya dan mengajak MeRi tinggal bersama di rumah 'mereka'. MeRi tetap akan mengakuinya pada Beaute meski WooJoo1 tak melaporkan. MeRi bahkan langsung keluar menuju rumah SangHyeon.
WooJoo1 berusaha mencegahnya dan mengikutinya ke halaman. Ia menuduh MeRi sudah gila melepaskan rezeki nomplok. Tapi MeRi hanya melepaskan genggaman paksanya sambil berkata ini adalah rumah hadiahnya sendiri jadi terserah keputusannya.
WooJoo1 tak terima menganggap setengah rumah ini adalah haknya selaku suami. MeRi sangat marah, selama ini WooJoo1 hanya menyiksanya, jadi Ia jelas kembali demi rumahnya. WooJoo1 tanpa malu mengakui Ia ingin memiliki MeRi sekaligus rumahnya.
Pertengkaran memanas, WooJoo masih mengancam akan melaporkan WooJoo dan menuduh MeRi akan kembali kepada pria itu. MeRi hanya menyebutnya "Michin" lalu WooJoo1 bersiap menamparnya! Saat itulah lengannya ditangkap WooJoo yang sangat marah!!
"Jika kau ingin mengancam orang, ancam aku saja! Kau seharusnya malu!" Ia mencengkram lengannya lalu membantingnya hingga pria jahat itu mengasuh kesakitan.
WooJoo meminta MeRi menyerahkan surat putusan perceraian keesokan harinya, agar WooJoo1 tak menganggu lagi. WooJoo menantang untuk melaporkan mereka dan Ia siap menerima segala konsekuensi.
WooJoo1 mencoba menyerang WooJoo tapi pria yang terlatih bela diri itu lebih dahulu menghindar dan mendaratkan pukulan telak yang membuat WooJoo1 terjatuh ke tanah. Ia kembali memintanya melakukan apapun selama tidak mengganggu MeRi lagi.
WooJoo1 tak terima diceramahi komplotan penipu. Tapi WooJoo mengeluarkan ponselnya, rupanya Ia merekam semua percakapan WooJoo1 saat mengancam MeRi yang hendak jujur barusan.
WooJoo bilang artinya Ia pun terlibat. Jadi WooJoo1 pergi setelah sempat berteriak histeris. MeRi yang nampak stress ditenangkan WooJoo dengan pelukan dan elusan di rambutnya.
Di ruang duduk, WooJoo menanyakan kenapa MeRi tak cerita tentang hal ini. MeRi cuma bisa tertunduk dan berkata Ia tak ingin merepotkan WooJoo lagi.
WooJoo langsung mendekapnya erat, memohon jangan mengatakan hal yang sama lagi. Sangat berat baginya sejak MeRi pergi dan jika Ia benar-benar peduli, tetaplah bersama. Berhentilah bilang hendak putus demi dirinya. Karena meski hanya untuk satu hari, WooJoo tetap ingin bersama.
MeRi minta maaf untuk semua yang diucapkannya hari itu. WooJoo menghapus air matanya dan merek kembali berciuman.
Besoknya WooJoo mendapat list undangan naratama Beaute dari SoJeong. Ia segera mengkonfirmasi ke SangHyeon. Pria berkacamata itu rupanya sedang menemani bosnya ke Jepang jadi tak dapat hadir di acara ultah ke-80 Myunsoondang.
Di kabin eksekutif pesawat, SangHyeon bertemu dengan David Lee yang dikenalnya saat sama-sama di Amerika. SungWoo menguping pembicaraan mereka, pria satunya bercerita sudah berhenti dari Kaltz hotel dan pindah ke Tokyo untuk bisnis baru.
Nenek menerima daftar tamu yang sudah memastikan kehadirannya. Ia meminta tamu yang tak hadir tetap dihubungi dan dikirim souvenirnya. WooJoo pun diminta datang membawa pacarnya, nenek tahu Ia punya gadis yang lebih dipilihnya dibanding JinGyeoung. Nenek ingin mengenalnya lebih lanjut.
WooJoo dengan cheeky yakin nenek akan menyukai pacarnya karena sangat cantik. Tapi Ia khawatir karena nenek sangat pemilih. Neneknya langsung memotong dengan nada tinggi sampai WooJoo kaget. Intinya gadis itu beruntung, tak ada calo. Mertua yang akan menyiksanya dan nenek WooJoo sudah tua dan lemah. Satu lagi, Ia akan bebas makan pastry sebanyak yang disuka. WooJoo tambah kaget karena selama ini neneknya menyuruhnya bayar setiap roti yang dimakan Hoahaha. Nenek berjanji akan mempertimbangkan seandainya Ia dapat cicit . Hoahaha
WooJoo masih sempat meledek neneknya pelit tapi berjanji akan mengajak gadis pilihannya jika sang nenek memaksa.
Ia segera menelpon MeRi malamnya, mengundang untuk diperkenalkan pada neneknya. WooJoo meyakinkan Beaute tak datang, jadi MeRi tak perlu khawatir. Ia hanya perlu berpakaian bagus tapi bukan berarti harus cantik (karena di mata WooJoo selalu cantik Hoahaha). Mereka menutup telpon sambil tersenyum bahagia.
Di puncak acara ulang tahun, MeRi sangat nervous tapi WooJoo menyambutnya dengan gembira. Ia bilang semua orang lain yang seharusnya gugup karena MeRi sangat cantik. Ia mengajak MeRi bertemu nenek di pintu masuk, neneknya minta WooJoo mengantarkannya ke kursinya setelah saling menyapa. MeRi dan WooJoo bertukar pandang, sayang saat belum sempat menyampaikan maksudnya, wakil menteri datang dan nenek pamit untuk menyambut asisten menteri.
MeRi dan WooJoo bertemu di luar. MeRi ingin mengaku pada nenek WooJoo dahulu sebelum mereka mendengarnya dari SangHyeon. Saat MeRi mau pergi, Ia justru berpapasan dengan nenek yang mengantar tamu. Neneknya ingin mengobrol lebih jauh dengan MeRi dan mengundangnya ke rumJ lagi kapan-kapan, karena Ia bertanya tentang kedekatannya dengan cucunya. MeRi membenarkan hal tersebut. Celakanya SangHyeon mendengar semuanya dan melapor pada atasannya ada alasan yang bisa membuat mereka menarik kembali rumah hadiah.
Ia bergegas masuk saat berpapasan dengan WooJoo yang terburu-buru keluar. SangHyeon bertanya apakah Ia dan MeRi benar-benar pasangan suami istri yang sah?
Oow..
Review Would You Marry Me? Episode 9
Agak menyesal di episode ini MeRi masih jatuh dalam jebakan WooJoo1. Dengan dalih melindungi WooJoo, Ia bersedia mengakhiri hubungan mereka. Padahal niat terselubung WooJoo1 jelas ingin mengejar MeRi kembali. Makanya Ia mengancam agar MeRi menuruti kata-katanya atau Ia akan mengekspos penipuan mereka. Memang WooJoo1 itu ga tahu malunya kelewatan.
WooJoo yang salah paham dengan sikap MeRi wajar saja. Ia cemas perkataan nenek melukai perasaan MeRi. Untungnya WooJoo adalah WooJoo. Setelah sekuriti menunjukkan rekaman CCTV Myunsoondang, Ia segera mengkaitkan segalanya dengan perubahan sikap MeRi. Sikap konsistennya melindungi MeRi sangat manis. Dan sebagai seseorang yang berlatih Taekwondo sejak kecil, pukulan telaknya saat WooJoo1 mencoba menampar MeRi membuat kita semua bersorak gembira!
Ohya, WooShik alias Edward Choi sebagai WooJoo akhirnya membuat sambungan telpon dalam bahasa Inggris kepada rekannya di AS. Suaranya jadi lebih berat dan keren banget.
Tak salah lagi, SoRi akan menjadi salah satu kunci menjatuhkan paman. Istri mudanya alias Jessica adalah orang yang sama dengan pemilik restoran tempat SoRi bekerja. Ia kerap menjemput Henry dan mengantarnya ke rumah.
Ngomongin soal paman emang ga ada habisnya. Kali ini Ia menunjukkan wajah sadis saat memeluk Jessica sang istri muda, apakah artinya Ia juga hanya mempermainakannya? Beda banget dengan nada bicaranya dengan bibi dan wajahnya pun penuh kelembutan. Wajar lah kalau istri muda jadi cemburu Hoahaha.
Mungkin paman memang biasa bersikap manis pada bibi makanya EungSoo jadi tahu cara menyenangkan wanita. Agak kontradiktif karena Minggu lalu paman seolah tak peduli membelikan oleh-oleh untuk istrinya.
Yah, minimal WooJoo jadi dapat contekan dari EungSoo cara mengambil hati pacarnya yang sedang ngambek hoahaha.
Hubungan JinGyeoung dan SangHyeon sangat menarik, sepertinya SangHyeon mulai menyadari perasaannya pada gadis itu mulai bertumbuh. Karena bagaimanapun JinGyeoung bisa membuatnya tersenyum sekuat apapun Ia mencoba menahannya plus bercanda. JinGyeoung juga selalu menganggapnya pintar dan tak masalah resign dari atasan yang mengerikan itu. JinGyeoung pun berusaha memahami keterpaksaannya tetap bekerja di Beaute Grup.
Jadi semakin penasaran bagaimana reaksi SangHyeon terhadap rahasia MeRi dan WooJoo yang sudah terungkap.
Baca juga Recap dan Review Would You Marry Me ?

















.jpg)


















Posting Komentar