" ".

Recap dan Review Would You Marry Me? Episode 10

Table of Contents


Recap Would You Marry Me? Episode 10

Nenek WooJoo mengenang kembali, Ia bergabung saat menikah yang artinya Ia sudah bekerja selama 54 tahun membangun Myunsoondang. Ternyata ada seorang baker yang sudah bergabung setahun lebih dahulu darinya, jadilah Ia bukan pegawai yang paling senior, guraunya Hoahaha.

WooJoo yang mendengar telepon paman segera keluar, tak luput dari perhatian JinGyeoung. Padahal saat itu Bibi sedang gencar menjodohkannya dengan EungSoo yang duduk disebelahnya. JinGyeoung mengikuti WooJoo. Jadi saat WooJoo terpojok dengan pertanyaan SangHyeon tentang hubungan yang sebenarnya dengan MeRi, Ia langsung mengajak pria itu berbicara empat mata. Meski SangHyeon terkejut melihatnya, Bu dokter mendesak untuk segera mengikutinya. 




JinGyeoung memastikan mereka berdua tak menikah dan membenarkan kecurigaan SangHyeon yang mendengar percakapan nenek dan MeRi. SangHyeon segera mengerti bahwa WooJoo adalah pria yang ditaksir JinGyeoung (dan sering dicurhatin Hoahaha). JinGyeoung ingin tahu langkah berikutnya dan SangHyeon memastikan hadiahnya akan dicabut serta ada konsekuensi hukum.

JinGyeoung malah menunjukkan rekaman percakapan antara Walikota, bosnya dan SangHyeon di depan rumahnya. Rupanya Ia bermaksud mengembalikan pakaian SangHyeon yang dipinjamkan saat mabuk dulu. Ketika Ia baru menuliskan ucapan terimakasih, tiba-tiba mobil mereka menepi jadilah semuanya terekam di dash-cam mobilnya. 

SangHyeon menuduhnya memeras tapi menurut JinGyeoung ini hanyalah saran untuk bersepakat Hoahaha. Ia ingin melindungi WooJoo dan SangHyeon bisa melindungi apapun yang perlu dilindungi. JinGyeoung menegaskan masalah suap pada walikota lebih besar implikasinya dibanding berpura-pura menikah. 

SangHyeon membatalkan penarikan hadiah dengan alasan keliru. Jadilah bosnya mengomel di perjalanan. Bosnya berkomentar bahwa David Lee masih mengirim karangan bunga atas nama hotel Kaltz. Ia sempat berkomentar di hadapan Nenek WooJoo dan Direktur Jang bahwa pria itu sudah resign. Ia menceritakan pertemuan di pesawat meski Direktur Jang mencoba mengalihkan bahwa itu pasti kekeliruan.







Malamnya, WooJoo mampir ke rumah hadiah. MeRi diberitahu pertanyaan SangHyeon dan JinGyeoung yang mengajaknya pergi. MeRi heran keduanya saling kenal. WooJoo yakin JinGyeoung bisa menangani SangHyeon jadi mereka aman.

Ia lebih kecewa gagal mengenalkan MeRi secara resmi pada neneknya. Jadi rencana WooJoo besok pagi di kantor dan sorenya mereka akan menjumpai SangHyeon untuk mengakui semuanya. MeRi mengaku gugup. Jadi WooJoo memeluknya dan mengingatkan janji mereka untuk menghadapinya bersama. Satu pelukan berlanjut jadi ciuman mesra sampai bel depan berdentang dan wajah SoRi terpampang di interkom. 

WooJoo langsung panik, MeRi membukakan pintu sambil menanyai adiknya. Kapan Ia tiba dari AS. SoRi bilang Ia sudah pulang ke Yeosu tapi harus cari kerja di Seoul, jadi Ia akan menumpang sementara di rumah hadiah kakaknya yang diberitahukan oleh ibu mereka. 

Lucunya, SoRi yang sibuk memandangi sekeliling rumah sampai tak sadar WooJoo dan MeRi sedang sibuk mengatur strategi di belakangnya. Hohaha

SoRi terkejut melihat WooJoo tapi Ia langsung mengenalinya dari video call di rumah persemayaman abu ayah mereka waktu itu. MeRi langsung menilai WooJoo dan memberi nilai lulus. MeRi mengomelinya yang bertingkah seolah juri.

Adeknya malah semakin menggodanya, kakaknya sungguh beruntung tahun ini (dapat rumah sekaligus pacar ganteng plus tajir Hoahaha). 

SoRi meminta WooJoo memperlakukan Kakaknya dengan baik karena meski tak bisa aegyoo, Ia adalah orang yang tulus. MeRi memintanya diam tapi SoRi langsung memparodikan tabiat pemarah MeRi. Hoahaha 

WooJoo pamit tapi SoRi menahannya dan meminta mereka melanjutkan saja, karena di bibir WooJoo masih ada bekas lipstik MeRi. Jadilah mereka berdua ibarat tertangkap basah sibuk membersihkannya.

Terakhir WooJoo buru-buru keluar sementara SoRi malah mengipasi dirinya seolah situasi sangat panas. Hoahahaha.

Di luar MeRi meminta maaf atas kelakuan adiknya. WooJoo malah menganggapnya menggemaskan dan berjanji akan mengajak makan bersama. Sebelum pergi, tangan WooJoo justru tak dilepaskan genggamannya oleh MeRi. Jadilah ia mengecup pipinya, tapi rupanya itupun masih kurang. Hoahaha.


Paman tiba di rumah Nenek. Ia teringat mertuanya itu memerintah Nona Kim mencari informasi tentang David. Jadilah Ia menghadap pura-pura ada hal penting. Ia menceritakan seolah-olah David yang menipu mereka, tak pernah ada perjanjian dengan hotel Kaltz. Nenek sangat marah, Ia bahkan berniat langsung ke AS sendiri. Suami putrinya ini menahannya terutama saat jantungnya bermasalah dan obatnya tumpah. Ia membantunya minum obat tapi melepaskan bom yang lebih dahsyat. Ia mengakui tak ada gunanya melaporkan ke Kaltz. Toh David sudah dipecat dua tahun lalu. Pihak hotel pasti akan lepas tangan. 

Nenek bingung, kenapa Ia dilarang berbuat sesuatu. Bagaimana pula dengan pabrik yang sudah dibangun di AS dengan banyak biaya. Paman dengan kejam bilang semuanya palsu. Fotonya adalah hasil editan dan semua uangnya masuk ke kantongnya sebagai pemilik J-Consulting. Paman bilang seharusnya nenek sudah tahu saat membaca laporan tuan Ko.

Nenek terbata mengakui Ia sempat ragu. Dan menyimpulkan bahwa David dan kontrak palsu Kaltz juga ulah menantunya ini. Dengan seringai kejam paman membenarkan. Nenek sangat marah, bertanya bagaimana bisa Ia akan menghadapi anak dan istrinya kelak.

Paman dengan santai bilang Ia tak perlu menjumpai keduanya. Malah Ja melemparkan kesalahan pada Nenek yang tak memberinya perusahaan setelah memberikan anaknya sebagai istri. (Kurang ajarnya Ia menyebut istrinya menyedihkan padahal MiYeon segitu sayangnya sama suaminya ini). Intinya ini semua soal warisan dan uang.

Nenek berusaha menyerang paman tapi saat itu Ia terjatuh. Ternyata si bajingan ini menukar obat nenek saat menyerahkannya tadi. Nenek menuju pingsan, tapi paman masih terus mengungkap rencana jahatnya. Menurutnya lebih baik nenek meninggal duluan daripada harus melihat perusahaan di jual dan hancur perlahan.

EungSoo, ibunya dan ayahnya berlarian ke RS. Syukurlah nenek masih diselamatkan dan operasinya terbilang lancar tapi menurut ayah JinGyeoung peluangnya kecil untuk kembali sadar. Untuk saat ini fokus mereka agar pendarahan otak nenek tak terjadi lagi.

Paman berpura-pura menenangkan istrinya yang histeris. Ia mengaku nenek masih sehat saat Ia mampir. Istrinya menyalahkan Nona Kim yang menangis, mengaku pergi sebentar karena ditugaskan nenek. WooJoo yang juga hadir sangat khawatir. Tapi paman diluar langsung mengubah wajah sedihnya menjadi sadis dan memerintahkan lewat telepon agar rencana mereka dimulai.


Keesokan harinya, reporter membanjiri halaman melapor kan bahwa perusahaan mendapat suntikan dana sebesar 30 miliar Won dari firma investasi BQ Capital berbasis AS, lewat kontrak pasokan palsu dengan jaringan Hotel Kaltz. Bibi, paman, EungSoo dan WooJoo berkumpul di ruangan paman. EungSoo mengusulkan mereka menangkap David terlebih dahulu tapi ayahnya malah mementahkan dan bercerita seolah-olah nenek lah yang berniat menipu sejak awal. Nenek sudah tahu dan menemui David untuk memintanya merahasiakan dari investor kalau kontrak itu ditunda. 

WooJoo curiga dan memeriksa dengan dokumen yang ada. Paman beralasan laba operasi berkurang setengah. Pemasukan stabil tapi biaya gaji karyawan yang diangkat jadi karyawan tetap sangat tinggi. Perusahaan sebenarnya defisit jadi nenek yang memintanya mengamankan dana investasi terlebih dahulu. Paman malah menyalahkan nenek yang tak kunjung menandatangani kontrak sementara dengan Kaltz.

Setelahnya WooJoo diajak Nona Kim bertemu di kafe. Beliau yakin nenek tak tahu kalau kontrak itu palsu karena di hari Ia pingsan nenek memerintahkannya menyelidiki David. Nenek bahkan tak tahu pria itu sudah dipecat Kaltz.

WooJoo mengunjungi kamar neneknya dan mengakui Ia takut mengingat perkataan nenek tentang pamannya, yang sebenarnya lebih dekat dengannya dibanding bibi kandungnya itu.

MeRi dan SongHee melihat pemberitaan di media sosial yang menyerukan pemboikotan Myunsoondang. SongHee panik, ini menyangkut klien kelas kakap studio mereka. MeRi bergegas mengemasi barang-barangnya dan menemui WooJoo di taman seputaran Rumah Sakit. 



MeRi bertanya apakah pacarnya ini sudah makan malam, tapi WooJoo tak selera. Dengan wajah murung, Ia heran kenapa MeRi datang. MeRi hanya ingin mendengar WooJoo menghela nafas. WooJoo sempat tersenyum jadi MeRi memintanya menarik nafas panjang tiga kali. Awalnya Ia tak percaya tapi setelah dicoba WooJoo benar merasa sedikit lebih baik. 

MeRi membujuknya menceritakan masalahnya dan berjanji akan masuk kuping kanan dan keluar dari kuping kiri Hoahaha. WooJoo awalnya termenung sedih, jadilah MeRi bernyanyi sebuah lagu untuknya. 

WooJoo menatapnya dengan segenap perasannya. Akhirnya Ia mau menceritakannya sambil berjalan-jalan dengan MeRi. Gadis itu bisa paham keraguan WooJoo karena ini menyangkut keluarga dan belum ada bukti kuat. Paman selama ini bagai pengganti ayahnya tapi WooJoo tahu Ia berbohong meski tak berani bertanya langsung. 

MeRi memintanya menguak kebenaran. "Saat orang kepercayaan mengkhianatimu, awalnya, kau mulai mempertanyakan alasan mereka berbohong. Lalu mulai menyalahkan diri sendiri, bertanya-tanya apa salahmu dan kapan semua mulai salah. Namun, jika dipikirkan lagi, itu bukan karena kesalahanmu. Orang yang berkhianat yang bersalah. Jadi jika paman berbohong, kau harus mengungkapkannya sebelum Ia melakukan yang lebih buruk. Kau mau menyelamatkan Myunsoondang kan? Itulah gunanya penerus." MeRi meyakinkan WooJoo yang terlihat berpikir keras. 

"Hanya kau yang bisa. Jangan terlalu dipikirkan, lakukan saja apa yang bisa kau lakukan sekarang. Jika seseorang menyusahkanmu aku tak akan diam saja!" MeRi memutar badannya seolah mengancam musuh tak kasat mata.

WooJoo tak kuasa menahan senyuman dan rasa gemasnya jadilah Ia mendekap MeRi sambil mengucap terimakasih dan MeRi menepuk punggungnya. 



JinGyeoung melihat pelukan itu dari kejauhan. Ia memutuskan tidak mengganggu keduanya dan pergi minum sendirian di bar favoritnya. SangHyeon pun tiba. Ia menyadari keberadaannya tapi memutuskan pura-pura tidak saling kenal.

JinGyeoung bilang setidaknya mereka saling menyapa karena telah berbagi rahasia. JinGyeoung berterimakasih karena direktur pemasaran Beaute menerima sarannya merahasiakan soal MeRi dan WooJoo. 

SangHyeon bilang Ia masih memikirkannya jadi jangan terlalu cepat menyimpulkan. JinGyeoung berujar untuk memutar rekaman darinya saja seandainya sang bos masih menelannya. Konsekuensinya dana sumbangan akan dicabut, begitulah dunia bisnis. JinGyeoung hanya bisa berseloroh mereka pelit sekali Hoahaha.

SangHyeon ingin tahu kenapa JinGyeoung melakukan hal tersebut padahal WooJoo tak pernah melihatnya sebagai wanita. JinGyeoung balik bertanya apakah Ia tak pernah benar-benar menyukai seseorang? Karena bila pernah, ia pasti paham keinginan agar orang yang disukai baik-baik saja. Ingin melindungi dan ikut merasakan penderitaan mereka tanpa alasan apapun. Itu respon otomatis.

SangHyeon bilang percuma saja karena Ia tetap tak akan tahu pengorbanan JinGyeoung. Bu dokter jadi kesal dan lanjut minum. Pokoknya baginya itu tak masalah.

SangHyeon meminta maaf bila menyinggungnya. Ia mengaku jadi sensitif karena JinGyeoung mendengar sesuatu tentangnya juga di hari itu 

JinGyeoung pura-pura tak paham. Meski Ia tahu hinaan bosnya yang menyuruh SangHyeon cepat tanggap seperti dulu saat minta dibiayai direktur utama kuliah di AS sebagai ganti jadi joki ujian anaknya.  SangHyeon mencoba melewati pembicaraan tersebut. 

JinGyeoung meyakinkannya tak semua orang terlalu tertarik dengan cara hidup kita. Jadi, berhenti bersikap bersalah. SangHyeon mencoba menyangkal tapi Ia tergagap. Jadi JinGyeoung semakin yakin dengan analisisnya Hoahahaha.

SangHyeon hanya tersenyum tipis. Jadi JinGyeoung melanjutkan nasihatnya : bayar sesuai bantuan yang diterimanya. Kerja kerasnya selama ini sudah lebih dari cukup. Sebenarnya Ia selalu bertingkah sok hebat tapi kadang agak bodoh. Jadi, Ia tak perlu membayarnya lagi. Menurut gadis itu dibandingkan bosnya yang pura-pura sakit itu, SangHyeon lebih pintar seratus bahkan seribu kali lipat. Jadi, tak perlu terus menahannya.

Menurut JinGyeoung Ia pria yang cakap dan berkemampuan. Jadilah SangHyeon tersenyum lagi. Apalagi saat JinGyeoung menawarkan mencarikannya pekerjaan lain. Hoahaha.

Jessica dan Henry tiba di Korea. Paman memberi briefing langkah yang harus di lakukan agar mereka bisa mengambil alih Myunsoondang. Mereka menelusuri isi klausul pasal kontrak investasi dari BQ Capital. Intinya kalau paman sudah di manajemen Ia akan menjual perusahaan sebagian demi bagian. 

Sebelum bersulang, Jessica meminta kepastian pada paman jadi beliau menyerahkan lembar formulir permohonan perceraian dengan Bibi. Jessica tersenyum puas tapi dibali itu paman berwajah licik.

WooSeok terpaksa mundur dari acara kencan televisi yang diikutinya. Ia tak ingin menjadi penyebab rumor semakin beredar. Bu Oh membahasa rumor bahwa BQ Capital akan mengambil alih perusahaan tapi pria itu dan SeJeong masih percaya dengan perusahaan. Bu Oh berpikir keduanya naif, seharusnya mereka mulai mencari pekerjaan baru. Faktor usia mempengaruhi dan setelah berganti kepemilikan, PHK adalah hal yang lazim. WooJoo tak sengaja mendengar percakapan Bu Oh dengan suaminya. Ia jadi makin khawatir saat mengulas ulang rencana negoisasi dengan respon BQ Capital.



Di rumah MeRi, WooJoo merasa harus berusaha semaksimal mungkin demi masa depan para karyawan Myunsoondang. MeRi secara bergurau membenarkan, Ia juga mengawasi WooJoo karena perusahaan rotinya adalah klien terbesar mereka Hoahaha.

WooJoo mendengarkan pengalaman MeRi menjalankan Studio designnya selama ini. Bu CEO merasa paling antusias sekaligus berat di hari pemberian gaji SongHee, karyawannya. Ia cemas jika bukan itu tak ada job, jadi Ia merasa bertanggung jawab. Tak peduli harus lembur semalaman, setelah bisa menggaji tepat waktu, Ia merasa sangat bangga sebagai orang dewasa. Seperti menepati janji pada seseorang yang percaya dan berkerja padanya. 

Jika Myunsoondang tak bisa bayar denda. Kemungkinan manajemen akan diambil alih dan akan mulai dilakukan PHK. MeRi ingin tahu seperti apakah Dirut BQ Capital, jadilah WooJoo menunjukkan foto paman yang bersalaman saat penandatanganan kontrak tiga tahun lalu. MeRi merasa pernah melihat wajahnya dan mencocokkannya dengan foto dalam bingkai yang ditinggalkan SoRi di laci meja. Foto diambil saat perpisahan SoRi di restoran Amerika. Itu adalah pemilik restorannya, namanya Jesicca bukan Sylvia. WooJoo teringat pesan dari Jhon yang menyebut nama tersebut.

WooJoo pun yakin pernah membacanya di file J-Consulting yang ada di meja paman dan salinannya dari Tuan Ko yang diserahkan nenek.

SoRi yang dikirimi MeRi foto tersebut keheranan darimana kakaknya dapat foto itu. Jadilah MeRi menghubunginya lewat telepon. SoRi yakin itu Jessica dan Ia tak punya saudara kembar' bernama Sylvia. Lebih gong lagi, pria yang disebelahnya adalah suaminya sendiri. 

WooJoo dan MeRi sangat kaget tapi SoRi yakin karena pernah melihatnya langsung saat mengantar Henry. MeRi merasa tak enak padanya karena ini menyangkut paman. Mereka merasa yakin kedua orang itu adalah orang yang sama dan paman bekerjasama dengan orang yang akan mengambil alih perusahaan. MeRi juga cemas bibinya tahu bahwa pamannya punya putra gelap di AS. 


Bicara tentang Bibi, beliau meminta EungSoo mengantarkannya ke RS. Saat itu si anak sedang membongkar laci meja kerja ayahnya dan menemukan dokumen permohonan perceraian. Ia nampak kesal tetapi masih berusaha menyembunyikan dari ibunya.


Keesokan paginya, sang istri muda paman datang ke Myunsoondang selaku Dirut dan  wakil BQ Capital. Namanya adalah Sylvia Oh, mereka berpura-pura lama tak bertemu. Paman mengenalkannya pada EungSoo dan WooJoo sebagai ketus tim dan cucu dari CEO Myunsoondang.

Setelah rapat Sylvia tak setuju melindungi pegawai dari PHK. WooJoo berusaha membela karyawan tetap tapi wanita itu minta pembayaran denda. EungSoo pun berusaha membujuknya agar menerima waktu sehingga mereka bisa mencari solusi lain. Sylvia tegas memaparkan kenyataan penjualan anjlok dengan opini buruk beredar. Sementara aset properti terikat dalam hukum real estate. Myunsoondang pun tak bisa dapat meminjam lagi. Jadi baginya tak ada jalan lain selain menjual sebagian demi bagian. WooJoo masih berusaha berdebat tapi paman  menahan lengannya dan berjanji akan mendiskusikan permintaannya terlebih dahulu.

Di ruangannya paman bahkan memarahi WooJoo yang dinilainya terlalu emosional. Sebenernya WooJoo pun ingin mendebat paman tapi teringat perkataan MeRi. Mereka akan menyusun strategi berdasarkan reaksi pamannya. Beliau tetap ingin mengikuti permintaan Sylvia karyawan diberhentikan. dari top management lalu menjual pabrik. Meski rugi besar selorohnya.


WooJoo menceritakan semua pada MeRi. Gadis itu usul mereka mengungkap konspirasi dan perselingkuhan mereka demi mengambil alih Myunsoondang. Menurut WooJoo itu belum cukup menjadi alasan untuk mendapatkan akses pada ponsel atau rekening mereka sebagai bukti nyata kerjasama untuk melakukan penipuan. 

MeRi bergumam andai Nenek WooJoo sadar. Tepat saat Nenek sedang ditunggui anaknya. Jarinya nampak bergerak pelan ketika MiYeon menangis meminta maaf dan memohon agar Ia bangun.

Cue to EungSoo menerima telepon dari ibunya yang mengabari nenek sudah sadar. Paman yang berada di tangga mendengar dan melaporkan pada Jessica --yang sedang bermain dengan Henry.


Jessica alias Sylvia menyamar sebagai perawat dan mendatangi nenek yang sedang tertidur di kamar rumah sakitnya. Tepat sebelum Ia menyuntikan cairan mencurigakan ke infus, wanita yang berambut perak itu memborgolnya. Tapi Ia mencoba melepas diri hingga Bu polwan terjatuh. Jadilah WooJoo mencegat dan memojokkannya ke tembok kamar sambil membuka maskernya. "Oh MinJeong" panggilnya sinis.

Wanita itu masih berusaha mengelak di saat yang sama polisi masuk dan menangkapnya dengan pasal percobaan pembunuhan.

MeRi yang ikut masuk segera mengamit lengan WooJoo. Rupanya sejak semula ini memang rencana MeRi dan WooJoo., seolah-olah nenek bangun. Mereka bahkan berkerja sama dengan EungSoo. Ia setuju membantu menjebak ayahnya setelah WooJoo menceritakan ayahnya punya selingkuhan bernama Sylvia Oh di Amerika. Sebenarnya EungSoo sudah pernah tahu. Dan Ia setuju demi melindungi nenek, perusahaan dan ibunya sendiri. Adegan menelpon di lift hanya akting demi membuat ayahnya bergerak.

Sayang yang datang adalah Oh MinJeong, bukan paman tapi menurut WooJoo ini awal yang bagus untuk penyelidikan. MeRi memuji kerja bagus WooJoo dan mengajaknya makan malam bersama.

Berita segera menyebar, Myunsoondang dipastikan adalah korban konspirasi BQ Capital dengan mantan eksekutif Hotel Kaltz David Lee. Bu Oh mencoba membalikan keadaan dengan WooJoo tapi pria itu hanya mengangguk saja sementara WooSeok dan SeJeong yang kesal dengan muka duanya. 

WooJoo berterimakasih dan merasa bisa melawati semuanya berkat mereka. SeJeong tak sengaja mengungkap bahwa orang kantor sudah mengetahui keterlibatan paman. WooJoo menerima telepon dari detektif yang menangani kasus Oh MinJeong. Hanya ada bukti konspirasi dengan David tapi tak ada bukti komunikasi dengan Paman. Apalagi bukti transaksi. 

SoRi membantu menjaga Henry di rumahnya. Tak ada orang lain yang dikenalnya di Korea. Saat makan, SoRi menyarankan agar boneka dinosaurusnya mau diletakan sebentar tapi Henry tetap memengangnya sambil seolah menyuapinya. Ia sangat menyayangi boneka itu.


Ibunya sedang dikunjungi ayahnya. Henry dijaga mantan manajer restorannya alias SoRi, tapi Ia meminta suaminya bercerai dan membawa anak mereka kembali ke AS. Paman meyakinkannya bahwa Ia tak perlu khawatir. Yang penting tak ada bukti yang mengkaitkan mereka, Ia berjanji akan mencarikan pengacara terbaik karena ancamannya hingga 15 tahun penjara. Selama istrinya tutup mulut, paman berjanji dengan manis.



WooJoo memikirkan sambil menunggu lama di ruangan paman. Paman mengaku baru pulang rapat di luar dan heran ponakan istrinya datang tanpa mengabari dulu. WooJoo tanpa basa-basi langsung bilang sudah tahu hubungan paman dengan Oh MinJeong. Paman membohongi nenek dan menggelapkan dana perusahaan melalui J-Consulting. Serta putra mereka di AS. WooJoo berjanji akan membongkar semuanya.

Paman dengan drama menangis mengaku diperas oleh wanita itu yang menginginkan uang. Ia bahkan tak yakin Henry adalah anaknya. Paman bersumpah selain kontak pribadi dengan J-Consulting, ia tak terlibat. 



WooJoo membahasnya dengan EungSoo. Abang sepupunya ini menyerahkan SD card yang berisi rekaman dash-cam yang membuktikan hubungan mereka tak berdasarkan ancaman. WooJoo memutarnya di rumah dan mendengar paman berjanji datang ke AS dengan orang yang dipanggilnya dangshin (sayang). Rupanya EungSoo sudah tahu sejak usianya baru 20-an



WooJoo masih merasa bukti ini tak cukup kuat untuk penggelapan dana pembunuhan nenek. Jadi Ia menemui Oh MinJeong. Awalnya wanita itu tak mau bicara saat ditanyai alasannya mencoba membunuh nenek. Bahkan tanpa membunuh nenek, Ia bisa secara resmi menguasai Myunsoondang. Mungkin neneknya sudah tahu rahasia kedekatan mereka. Oh MinJeong masih menyangkal, WooJoo memutar rekaman suara paman saat ditanyai WooJoo, sambil berkata pria itu bahkan sudah menyangkal keberadaan anaknya. Ia tak mungkin akan memegang janjinya. 

Sebelum berdiri pulang, Ia berpesan MinJeong harus berpikir baik-baik jika Ia ingin melindungi Henry. Tentu saja MinJeong jadi berubah pikiran, Ia akan memberikan semua bukti asal Henry aman. 

Paman memikirkan ancaman istri mudanya. Mereka di pihak yang sama 25 tahun lalu jadi tak ada yang bisa melepaskan diri. Masih ada bukti lain selain ponsel dan server yang sudah dihancurkan. Jadilah Paman membongkar semua barang istrinya dan Henry. Ia sempat kesal dan membanting barang sebelum membuka boneka dinosaurus anaknya yang merupakan hadiah darinya. Di dalamnya ada ponsel dan files pesan antara mereka berdua lengkap dengan rekaman suara saat kejadian kecelakaan orang tua WooJoo. Paman mengirim pesan berisi nomor plat mobil abang ipar dan keluarganya. Ia juga lah yabg menginstruksikan MinJeong untuk mendesak mobil dengan truk yang dikendarainya hingga terjadi kecelakaan maut itu di jembatan. 



Paman terlihat puas mendengar rekaman mereka yang merencanakan hal itu di YeoSu. Latar belakangnya karena ayah WooJoo yang menjabat CEO taju perselingkuhan adik iparnya dengan Oh MinJeong. WooJoo masuk dan langsung mengkonfrontasi pamannya "Kaukah orang yang melakukannya?" 

Review Would You Marry Me? Episode 10

Hubungan yang diawali dengan pertemuan seolah takdir antara MeRi dan WooJoo ini mungkin terjadi. Tapi peluang hubungan di dunia nyata terjadi itu lebih banyak seperti SangHyeon dan JinGyeoung. Diawali dari sebatas kenalan biasa yang hidupnya sering bersinggungan. Lama kelamaan mereka akan mengobrol dan menemukan sisi lain yang membuat mereka jadi akrab bahkan satu sama lain menemukan 'sesuatu' yang hanya orang itu bisa lakukan. Misalnya SangHyeon yang biasanya serius jadi bisaa bercanda dan tersenyum karena JinGyeoung. Begitu pula sebaliknya, JinGyeoung bisa dengan mudah mengutarakan isi hatinya sampai nangis segala --sudah saya bahas Minggu lalu-- dihadapan SangHyeon. Padahal mau bicara jujur sama WooJoo saja, Ia gagal berkali-kali Hoahaha.

Lowkey, mereka berdua sama-sama mulai sesuai dengan kriteria JinGyeoung tentang melindungi seseorang yang disukai. Sikap SangHyeon yang sinis karena JinGyeoung membantu WooJoo sampai segitunya menurut saya bukan hanya karena cemburu (tak sadar mulaii naksir), ditambah juga Ia tak ingin JinGyeoung makin bersedih gara-gara cinta bertepuk sebelah tangannya. JinGyeoung disisi lain juga selalu berusaha melindungi dan membela SangHyeon dari bosnya yang jahat dan agak bego itu.

Saya suka episode ini pace-nya sat set. Alur non-linear yang sejak awal diterapkan di Space, Marry Me ini ternyata sangat bermanfaat untuk pemecahan kasus. Jadi kita bisa tahu strategi yang disusun sebelumnya setelah eksekusinya. Menurut saya ini seru sekali. Serasa sedang nonton genre detektif atau misteri.

Paman memang ga ada obat brengseknya. Muka duanya juga luar biasa. Sepertinya Ia hanya memikirkan dirinya sendiri. Dengan gampang Ia memutar balikan fakta pada WooJoo bahwa Ia diperas Oh MinJeong dan menafikan anaknya, Henry yang tak salah apapun. Bagus sih, jadi bisa dijadikan senjata untuk membuat MinJeong sadar, Ia hanya dimanfaatkan. Mulai dari menyingkirkan orangtua WooJoo dan nenek, untung masih bisa digagalkan berkat rencana MeRi.

Pengalaman MeRi dalam menjalankan perusahaan sendiri dan menghadapi pengkhianatan WooJoo1 ternyata sangat bermanfaat dalam membantu WooJoo menyelesaikan berbagai masalahnya. Senang, artinya MeRi pun balik memberikan dukungan kepada pacarnya itu disaat Ia paling membutuhkannya. Syukurlah EungSoo mau diajak bekerja sama, karena rasa sayangnya pada ibunya dan loyalitasnya juga pada perusahaan milik nenek. 

 SoRi benar-benar tepat menjadi kartu kunci yang mengkaitkan segalanya. Canggihnya, caranya tak bertele-tele, dan untung MeRi tipikal orang yang mudah mengingat nama dan wajah orang (Kalau saya pasti gagal nih Hoahaha). Jadi dalam satu sambungan telfon langsung terbongkar konspirasi paman dan istri mudanya rahasianya itu. Pemeran SoRi ini mirip JungSomin tapi lebih mirip pemeran ibunya. Loga Yeosu dan cara bicaranya mirip sekali dengan sang Ibu. Jadi believeable banget buat kita pemirsa.

Ah tak sabar menunggu episode akhir di weekend ini. Antara senang tapi juga sedih berpisah dengan pasangan paling manis sejagat K-drama akhir-akhir ini. 

Psst, jagat sosmed agak ramai dengan yang protes adegan kisseu WooJoo dan MeRi dianggap kurang steamy atau apalah. Saya cuma mau bilang, selain rating WYMM 13+, di dunia nyata pasutri pun making out itu kayaknya pas mau bercinta ya kan? Ciuman manis ala pasangan inilah yang lebih sering hadir. Kecupan di pipi saat berpamitan atau baru berjumpa lagi, kecupan kening saat bergelung nonton film bareng atau ciuman kecil yang curi-curi dilakukan antara urusan rumah tangga dan anak-anak yang selalu ada 'mengawasi' Hoahaha. Intinya tanpa adegan yang terlalu dewasa pun Drakor ini sudah romantis luar biasaaa.

Baca juga Recap dan Review Would You Marry Me ?

Episode 1      Episode 7

Episode 2     Episode 8

Episode 3     Episode 9  

Episode 4

Episode 5

Episode 6

Posting Komentar