Recap dan Review Would You Marry Me? Episode 11
Recap Would You Marry Me? Episode 11
Oh MinJeong memastikan Henry akan aman, dengan meminta WooJoo berjanji akan menitipkannya pada kerabat jauhnya di Pulau Jeju. Setelah itu ia menceritakan bukti konspirasinya ada di dalam boneka favorit anaknya itu di rumah yang mereka tinggali di Korea.
Saat memanggil MinJeong, WooJoo melihat tanda lahir di tengkuknya dan teringat malam kecelakaan itu. Ia langsung sadar sosok di hadapannya ini adalah orang yang menyebabkan hal itu terjadi.
Anxiety attacknya berlanjut sampai Ia berjalan keluar dari penjara. MeRi yang menemani segera memeluk dan menenangkannya yang sampai berlutut ke tanah. WooJoo bilang ia sudah minum obat dan menceritakan seluruhnya pada MeRi. Rupanya MeRi mendengar dari Bu Oh dan SeJeong bahwa wanita itu pernah bekerja jadi sekretaris di Myunsoondang 25 tahun yang lalu. Ia adalah mantan peserta Miss Korea dan mungkin sudah saling mengenal dengan paman sebelum itu.
WooJoo juga cerita tentang info keberadaan ponsel yang dipakai wanita itu berkomunikasi dengan pamannya, sebagai bukti yang tak bisa disangkal.
Kembali ke adegan episode lalu saat Paman mendengarkan rekaman suara dari flashdisk yang didapatkannya dari dalam mainan anaknya.
WooJoo langsung mengkonfrontasinya. Paman dengan berdarah dingin bilang Ia lega WooJoo tahu dan seolah menantang karna WooJoo tak bisa berbuat apa-apa dengan info ini. Toh masa aktif penuntutan sudah berlalu (menurut paman jatuh pada Juli 2025), hal ini lebih menyedihkan bagi WooJoo dibandingkan tak tahu.
WooJoo menggenggam kedua tangannya erat menahan amarah tapi Ia masih bisa mengintrogasi alasan paman membunuh orangtuanya. Ternyata bukan hanya sekedar perselingkuhan yang ketahuan oleh ayah WooJoo, tapi karena sang ayah merusak rencana paman.
Rupanya ayah WooJoo yang mendapatkan foto bukti perselingkuhan mengancam adik iparnya, Ia akan melapor pada kakek WooJoo, jadi paman akan diusir tanpa tunjangan. Paman merengek, memohon agar ayah WooJoo mengasihani adiknya (MiYeon) yang dulu pernah mengancam akan bunuh diri jika tak direstui dengan paman. lagipula bibi pasti tak bisa membesarkan EungSoo
Begitu keluar dari rumah, paman langsung ditangkap polisi yang sudah mengepung lokasi. Tuduhan awal atas dasar penipuan dan penggelapan dana. David Lee ditangkap di lokasi judi dan dari ponselnya terdapat semua bukti persengkongkolannya dengan paman dan MinJeong. Namun WooJoo menambahkan pembunuhan orangtuanya dengan alat bukti flashdisk yang disimpan di saku paman sendiri. Waktu penuntutan mundur karena paman sempat ke Amerika selama seminggu. Tahun 2009 paman pun sempat menyogok detektif yang membereskan rekaman kecelakaan itu. Paman diborgol dan masih berusaha menyangkal semuanya. WooJoo terlihat sangat terluka sekaligus lega.
Dipersidangan paman, WooJoo hadir ditemani MeRi. EungSoo datang dan duduk bersebelahan dengan Aspri nenek, Nona Kim. Hakim membacakan pertimbangan paman terbukti merencanakan penipuan jangka panjang untuk mengambilalih Myunsoondang serta penipuan investasi sebesar 30 miliar won (modal ini diperolehnya dengan menipu bibi dalam investasi properti di Hawaii), memakai J-Consulting untuk menggelapkan dana dan berkonspirasi memalsukan kontrak hotel Kaltz bersama David Lee dan Oh MinJeong untuk menipu korban. Selain kerugian finansial uang besar, paman menjadikan korban menjadi penipu sehingga merusak kredibilitas dan citra merek Myunsoondang serta menghambat bisnis. Ia juga terbukti membunuh Ko Seong Tae yang mengetahui pemalsuan buku besar J-Consulting. Ia juga berkonspirasi dengan supirnya Lee JangHyun demi meracuni Nenek WooJoo. Ia terbukti menjadi perencaan kecelakaan kedua orang tua WooJoo, Kim WooSeok dan Lee EunYeong.
Paman berteriak menyangkal, membuat EungSoo menghembuskan nafas muak. Paman harus dipegangi beberapa satpam pengadilan saat putusan hukuman mati dibacakan. Ia dan WooJoo sempat bertukar pandangan.
Bibi yang menunggui nenek, meminta maaf. Suaminya menghancurkan keluarga mereka, membunuh abangnya dan Ia meracuni Ibunya mertuanya. Jadi seharusnya Bibi menghajarnya sampai mati tapi bagaimanapun bibi tak sanggup datang ke persidangan dan menatapnya langsung. Bibi kesal sekali bisa tertipu bertahun-tahun dan malah merengek terus pada Ibunya.
WooJoo mengunjungi makam kedua orang tuanya bersama MeRi. Mereka membawa dua buket bunga yang besar. WooJoo seolah kembali ke masa kanak-kanak dan berdialog dengan keduanya lagi. Semuanya sudah berakhir sekarang, jadi ayahnya sangat bangga padanya, memintanya melupakan semuanya dan hidup bahagia. Ia menangis dalam pelukan keduanya yang juga menangis.
WooJoo memanggil MeRi dan mengenalkannya pada keduanya. MeRi berjanji akan melindungi WooJoo dan memastikan anak mereka selalu berbahagia.
Di rumahnya SangHyeon memberi makan kura-kura peliharaannya sambil teringat perkataan JinGyeoung. Ia sedang memikirkannya saat bel berbunyi dan pasangan tetangga datang.
MeRi dan WooJoo masuk dengan tegang. MeRi jujur merasa bersalah, mengakui semuanya. Ia dan mantan suaminya setuju bercerai sekitar waktu kemenangannya. Jadi Ia mengajak WooJoo mengklaim hadiah karena tak mau kehilangan rumahnya. WooJoo menambahkan sebenarnya mereka punya banyak kesempatan untuk mengaku tapi harus menunda karena keadaan WooJoo. Pria itu meminta maaf sudah mengganggu acara penting toserba dan bersedia membayar penalti. SangHyeon hanya menghela nafas panjang.
Sepulangnya dari sana MeRi mengaku lega tapi malah bingung dengan reaksi datar SangHyeon. WooJoo membenarkan, pria itu memang begitu, tapi mereka akan menunggu kabar darinya setelah membahasnya.
MeRi akan pindah ke apartemen SoRi. WooJoo mencemaskan jaraknya yang satu jam dengan MRT. MeRi berencana mengambil kursus mengemudi. Tapi bagi WooJoo itu terlalu berbahaya, Ia akan mengantar jemput, hanya harus mengurangi waktu tidurnya saja. MeRi agak sedih meninggalkan Beaute karena Ia suka jalur jalan kakinya. Jadilah mereka berjalan-jalan.
WooJoo1 bersepeda sambil menggumamkan balas dendam. Ia berusaha naik tangga ke atas menara Namsan sambil mengangkat sepedanya. Malang, baru separuh jalan, Ia sudah kelelahan. Ia memotivasi dirinya sendiri. Ini bukan kekalahan, Ia mundur selangkah demi maju dua langkah. Setibanya diatas dan memandangi kota Seoul. Ia berencana mengecek email dari perusahaan yang dilamarnya. Laman perambannya malah menampilkan berita mengenai Myunsoondang yang kembali berbisnis. Ia semakin kesal karena WooJoo tak jadi jatuh. Hoahaha. Ia bertekad balas dendam pada keduanya.
Nenek akhirnya sadar dan JinGyeoung memeriksanya. Semua lega apalagi bibi. Ia langsung berteriak memanggil ibunya yang seperti biasa langsung diperintahkan gara Ia menutup mulutnya. WooJoo mengabari MeRi. Menurut gadis itu malam ini WooJoo harus menemaninya jadi mereka bisa makan malam lain kali.
Bibi memanggilnya dan mereka mengobrol di taman. Ia berjanji akan mengambil kembali semua yang yang dicuri si bodoh itu Hoahaha. Jadi Ia minta waktu pada WooJoo. WooJoo malah meminta Bibinya mengurus dirinya sendiri. EungSoo sangat khawatir karna Ibunya tak bisa tidur. Bibi menangis dan mengaku sedang menopause. Ia merasa tak berhak mengeluh atau mengakui kesulitan di dekat keponakannya ini.
WooJoo menggenggam tangan Bibinya, beliau minta maaf telah membuatnya merasa kesulitan, kesepian dan membiarkannya sendirian begitu lama. Jika WooJoo tak ingin bertemu atau berhenti memanggilnua bibi pun tak mengapa. WooJoo berhak melakukan apapun selama Ia masih kesal. Tapi WooJoo malah memintanya selalu ada untuknya dan jika kehilangan bibi juga. Ia tak punya keluarga lagi.
Di atas atap gedung apartemen barunya, WooSeok meyiapkan piring dan gelas untuk minum bersama. SeJeong menelponnya mengabari Ia sedang berbelanja dengan Bu Oh dan SongHee, mereka merencanakan membawa sesuatu sebagai hadiah house warming. Menurut WooSeok, MeRi yang berjanji akan membawa minuman. Gawatnya, mereka berbelanja di Supermarket yang sama Hoahaha.
WooJoo mau memborong semua buah. Dengan alasan pria single tak akan sempat beli sendiri. Ia malah sempat bergurau, 'Ini nanas, bukan kaktus jadi jangan diduduki." Hoahaha. MeRi tersenyum kecut sambil berusaha mencegahnya memasukan lebih banyak buah ke troli. WooJoo pura-pura ngambek. MeRi berusaha membujuknya dengan memberinya tanda hati yang membuat WooJoo sampai memegangi jantungnya yang seolah meleleh.
Saat itulah mereka melihat rombongan SeJeong. WooJoo ingin menyapa tapi MeRi menundanya dengan alasan Ia ingin memberitahukan pada SongHee dulu. Terpaksa mereka mundur sambil mengendap-endap.
Di atap rumah WooSeok, akhirnya semua berkumpul dan makan bersama. WooSeok menyindir SeJeong yang akhir-akhir ini terlihat stress. Bu Oh membelanya itu karena kencan buta nya tak lancar, tapi karena gadis itu hanya diam, jadilah mereka memutuskan main truth or dare dengan memutar botol miras.
SeJeong memilih truth dan menyangkal Ia stress karena kencan buta di putaran pertama. Selanjutnya WooJoo mengakui Ia sekarang punya pacar. WooJoo memutar dan mengarah ke MeRi pertanyaan masih sama : "Punya pacar, iya atau tidak?' semua semangat menunggu jawabannya tapi MeRi selalu memilih dare minum meski berulang kali ditanya tentang hubungan percintaannya. WooJoo kesal karena MeRi tak mau jujur tentang hubungan mereka. WooSeok mengira karena MeRi sangat suka miras.
Akhirnya mereka bertemu di tangga darurat. MeRi sadar WooJoo merajuk. Pria itu heran kenapa MeRi menutupi punya pacar sampai akhir. WooJoo curiga MeRi melakukannya agar bisa ikut para gadis kencan buta Hoahaha. WooJoo kesal kenapa MeRi tak mau bilang, pria ini priaku.
"Bagaimana bisa aku bilang, pria ini pria ku. Bahwa Ia begitu manis dan menggemaskan hingga membuatku gila" MeRi menggenggam pipi WooJoo seperti squishy. Hohahaha "itu akan mengejutkan mereka semua," dalih MeRi
Rupanya semuanya menguping di tangga. Mereka mengaku sudah lihat sejak di supermaket. Mereka memparodikan MeRi yang melemparkan hati mungil dari jari pada WooJoo. Permainan truth or dare justru untuk menguji mereka berdua. MeRi jadi pusing dan malu banget.
SongHee mengomeli bosnya. MeRi berkeras Ia masih mencari waktu memberitahukan padanya, makanya belum berani cerita pada yang lain. WooSeok mengaku malah pernah melihat mereka berpelukan di tangga kantor. SeJeong ingin tahu sejak kapan jadiannya. Apakah sejak saat WooJoo mengantar MeRi pulang setelah makan malam tim yang pertama, tapi MeRi menyangkal.
SongHee teringat pasangan yang dilihat SeJeong di studio foto. Dari reaksi malu-malu MeRi dan WooJoo yang mendadak tergagap, semua yakin itu mereka. Semua penasaran sejak kapan kisah mereka di mulai. WooJoo mengaku terlalu panjang karena dimulai sejak Ia berusia delapan atau sembilan tahun, yang penting saat ini Ia menggenggam tangan MeRi dan menggoyangkannya. Semua orang jadi heboh dan bersulang mengucap selamat. Terakhir mereka minta mereka berciuman. WooJoo berpura-pura mencium pipi MeRi sambil membuat suara lucu. Sayang bagi yang lain itu tak dihitung.
EungSoo menjenguk ayahnya. Ia menangis mengaku menyesal menunggu ayahnya kembali pada Ibunya. Si tak tahu malu itu masih berusaha pura-pura ditipu dan korban jadi mengamuklah anaknya. EungSoo sudah dengar percakapan mereka sejak usia 20 tahun. Baginya, ayah adalah monster yang membunuh paman dan bibi serta mengincar nenek.
Dulu Ia merasa sedih tak mirip ayahnya karena kurang gemilang di sekolah atau pekerjaan. Tapi sekarang Ia merasa sangat bersyukur karena hal itu. Jadi Ayah bisa melupakannya karena Ia tak akan memaafkannya sampai Ia sendiri meninggal. Sebelum pergi, Ia masih berpesan agar ayahnya mau menunjukkan rasa menyesal pada ibunya. Lagi-lagi ayahnya memanggil untuk minta bantuan mengajukan banding.
Sang Ibu juga ikut tapi tak mau turun dari mobil. EungSoo mengajaknya makan, meski mengaku tak berselera, Ibu bersedia menemani makan malatang.
Walikota dan calon presiden tertangkap korupsi, berita menginformasikan ada laporan grup Beaute melobi izin toserba secara ilegal. SangHyeon segera bergegas menemui ayah SungWoo. Beliau sedang memukuli anaknya itu dengan stick golf. Beliau meminta SangHyeon yang menanggung kesalahan ini. Karena wartawan sampai bisa mendapat laporan keuangan grup Beaute yang membuktikan aliran dana yang dikirim ke kalangan politik.
Setelahnya pria berkacamata ini pergi ke sebuah panti asuhan. Ia membawa buket bunga. Di sekitar waktu yang sama, JinGyeoung sedang bakti sosial bersama tim dari rumah sakitnya. Agenda tahunan ini mengukur kesehatan anak dari mata hingga gigi dan JinGyeoung memberi vaksin. Seorang anak protes karena suntikannya sakit. JinGyeoung hanya mencubit pipinya perlahan sambil memintanya bertahan, sebagai latihan menghadapi dunia Hoahaha. Imbalannya kelak Ia dewasa akan bertemu wanita yang cantik sepertinya.
SangHyeon berbincang dengan ibu kepala. Beliau bilang sangat bangga padanya yang tumbuh dengan baik. SangHyeon berpamitan Ia mungkin tak bisa datang di waktu ulangtahun figur Ibunya ini tahun depan. Ibunya malah memintanya jangan terlalu sibuk bekerja, sudah waktunya Ia menikah. Sebelum berpisah, Ia memberikan hadiah teh krisan. SangHyeon banyak tersenyum bersama ibunya. Ia berterimakasih dan pamit hendak pulang. SangHyeon berpesan jika membutuhkan sesuatu, mereka harus menghubungi perusahaannya.
Saat Ibu kepala melepasnya di depan, JinGyeoung mengamatinya dari parkiran. Ia sedang menaikan barang-barang ke mobil. Ia segera menyapa pria itu karena heran sedang apa di panti ini.
SangHyeon tak menjawab, tapi menemaninya makan Topokki yang direkomendasikan oleh senior relawan tahun lalu. Tadinya Ia sudah mau datang sendiri, tapi SangHyeon sangat beruntung soal makan gratis hoahaha
Pria itu memperingatkan topokki di kedai ini sangat pedas. JinGyeoung tak menghiraukan dan langsung makan, ternyata Ia benar-benar kepedasan. Jadilah SangHyeon menuangkan jus untuknya. JinGyeoung ingin tahu apakah SangHyeon sudah pernah kemari.
Tempat ini penuh memori bagi SangHyeon sampai SMP. Ia besar di panti, JinGyeoung merasa pantasa saja suster kepala memberinya sesuatu. Ia sudah bertanya kenapa SangHyeon diistimewakan karena yang lain tidak dapat.
SangHyeon menyadari JinGyeoung tak kaget. Bu dokter berdalih, pedasnya lebih mengagetkan. Kemudian Ia meminta waktu dan menyuruh SangHyeon mengulangi lagi pertanyaannya jadi Ia bisa pura-pura terkejut.
"Kau cukup tidak biasa" SangHyeon berusaha keras menahan senyumnya.
"Aku? Tidak, aku benar-benar normal. Kau yang tidak biasa. Kau terlalu serius. Kau pikir itu terlihat keren? Lemaskan wajahmu dan tersenyum sedikit. Jika tersenyum terlalu sulit, pilih satu hari dalam sepekan untuk tertawa sepuasnya. Bagaimana?"
SangHyeon sudah tersenyum manis.
"Jika itu juga aneh, bagaimana kalau kau menelpon sepekan sekali? Akan kubuat tertawa." JinGyeoung mengundang dirinya sendiri Hoahaha
SangHyeon menceritakan memorinya dengan tempat ini. Dulu pemiliknya melaporkannya atas pencurian. Dia melepas cincin untuk bekerja, lalu cincinnya hilang. Jadi pemiliknya menggeledah semua tempat. Cincinnya jatuh di kaki SangHyeon. Pencurinya membuang cincinnya agar tak ketahuan. Ia menyangkal sampai ada yang membocorkan bahwa Ia adalah anak yatim piatu dari panti. Saat itu semua orang memanggilnya pencuri. Jadi dalam hati Ia memutuskan untuk meninggalkan panti.
JinGyeoung ingin tahu bagaimana kelanjutannya. SangHyeon menutup mulutnya, pindah ke rumah pencuri aslinya dan menggantikannya ikut ujian. Sebagai gantinya Ia mendapatkan kehidupan yang nyaman hingga sekarang. Terkadang Ia juga menggantikannya untuk dihukum. Tapi Ia bersyukur setelah ganti lingkungan orang-orang tak lagi meremehkannya.
JinGyeoung bertanya apakah Ia harus terus menerus membalas budi pada pencuri cincin itu sekedar demi hidup nyaman. SangHyeon memainkan jarinya dengan gelisah. Ia hanya tak ingin kembali ke keadaanya yang semula. JinGyeoung seolah kehabisan kata-kata, Ia tak seharusnya begitu, bagaimana mungkin.. Lalu JinGyeoung pun sadar, sebenarnya tak ada alasan untuk seterbuka ini.
SangHyeon juga tak tahu alasannya, Ia hanya ingin mengaku setidaknya kepada JinGyeoung. Mereka saling tersenyum malu-malu dan makan setelah SangHyeon membalikan becandaannya pada JinGyeoung.
WooJoo1 menerima pesan penolakan lamaran pekerjaannya. Ia sedang minum seorang diri sambil mengenang semua barang pemberian MeRi. Saat ada MeRi, wawancaranya lancar dan Ia diterima bekerja. Setalah mabuk, Ia malah tanpa sadar minta taksi mengantarnya ke Beaute Palace. Ia ngide mengintip MeRi. Ia melihat WooJoo sedang mengemasi barang, kemudian MeRi keluar membawa kotak besar yang segera disambut WooJoo.
Sang pacar masih membujuk MeRi, dengan alasan ruangan di apartemen studio SoRi pasti terbatas. Sementara di rumahnya lebih luas (ya iya rumah nenek kan mewah Hoahaha). WooJoo mengaku bersedih, MeRi tinggal sama SoRi. Ia pun ngambek dan pergi ke ruang duduk. MeRi memeluknya, bilang Ia pun ingin selalu bersama, lalu mereka cuddling di sofa sambil dilihat WooJoo1.
MeRi menawari WooJoo menginap di rumah, jadilah mereka tidur sambil berangkulan.
Saat alarm menyala WooJoo meminta MeRi lanjut tidur lagi (agar bisa berpelukan lagi. Hoahaha). Ia benar-benar ketiduran, saat bangun, WooJoo sudah menyiapkan sarapan.
MeRi kaget, WooJoo ingat Ia terbiasa sarapan. Jadi Pria itu sudah ke kafe membeli roti dan sedang meyiapkan telur (WooShik yang jago masak kembali). MeRi menatapnya lama dan WooJoo bertanya ada apa?
"Kita benar-benar seperti pasutri baru."
"Kita memang pasutri baru." WooJoo yang pede gila juga kembali Hoahaha
"Layanan ini hanya di fase bulan madu." Tunjuknya ke arah semua makanan yang terhidang.
"Aah.." MeRi menaikan alisnya dan mengangguk pelan
"Itu kata orang, tetapi aku akan terus masak untukmu." WooJoo si raja gombal beraksi
"Sampai kapan?" Tanya MeRi menggodanya.
"Sampai kuning telur jadi hijau?"
"Apa maksudnya itu?"
"Tidak, sampai rambutku beruban?"
MeRi segera memeluknya dari belakang dan mereka memastikan akan bersama selamanya.
WooJoo mengantar MeRi ke kantor. Karena MeRi lembur, Ia pun akan lembur. Ia akan bosan sendirian. Sebelum turun, MeRi mengecup pipinya dan mereka berpisah dengan gembira.
WooJoo1 kesal telponnya diabaikan MeRi. Ia mengirim email ke redaksi berita. Judulnya penipuan yang dilakukan pewaris generasi keempat Myunsoondang. Ia akan menggelar konferensi pers.
MeRi yang baru tiba di ruangannya mendapat pesan serupa. WooJoo1 memberitahukan waktu dan lokasi di Hotel Central Square Business, hari ini pukul 10.00 akan diadakan konferensi pers. MeRi syok, jadilah Ia menghubungi WooJoo yang langsung putar arah.
Semua wartawan menyerbu lokasi. Lengkap dengan baliho dan power point, WooJoo1 menggelar konpres-nya. Ia mengaku sebagai warga negara biasa yang akibat perselingkuhan WooJoo dan istrinya menghancurkan rumah tangganya. Mereka pi melakukan penipuan demi meraup keuntungan ilegal yang bernilai milyaran (rumah Beaute). MeRi dan WooJoo seolah berpacu dengan waktu.
Review Would You Marry Me? Episode 11
Dasar WooJoo1 ini bukannya malah intropeksi diri justru mengadakan kompres dengan alasan balas dendam ckckck.
Malah ibunya dari cuplikan dua Minggu lalu akan ikut-ikutan melaporkan pada nenek. Semoga nenek sudah mendengar cerita lengkap dari WooJoo bahwa MeRi adalah anak dari pria yang menolongnya di malam kecelakaan. Serta berkat ide MeRi (dan bantuan SoRi), WooJoo bisa mengungkap rencana jahat pamannya.
Saya suka penulis Marry, Me, Space ini merangkai ceritanya dengan cerdas dan koheren. Jadi alur non-linear terasa tak membosankan. Kita malah penasaran kejadian yang sebenarnya atau sudut pandang lain dari suatu adegan.
Misalnya adegan MeRi dan WooJoo berpelukan di tangga beberapa episode lalu, siapa sangka WooSeok tak sengaja memergoki mereka berdua Hoahaha.
Hal lain yang seolah percakapan random antara Nenek WooJoo yang mengomeli Bibi saat merawat tanaman, ternyata jadi kunci kasus penipuan yahh direncakan paman selama bertahun-tahun. Paman menipu bibi ketika uang warisan bagiannya di investasikan di Hotel Hawaii. Uangnya dijadikan modal BQ Capital yang akan dijanjikan akan ditanamkan di Myunsoondang. Uang itulah yang diputar lagi di J-Consulting masuk ke rekening paman. Beneran deh, dari awal paman memang menikahi Bibi demi keuntungan finansial semata.
Bisa jadi kecurigaan Bu Oh benar, Paman sudah kenal MinJeong sebelum Ia menjadi sekretaris di Myunsoondang.
Kasihan EungSoo dan Bibi, paman tak menunjukkan rasa bersalah. Btw, sebenarnya ada sifat EungSoo yang mirip paman, waktu kecil, Ia selalu mau mainan WooJoo. Itu meniru keserakahan ayahnya Hoahaha. Untunglah begitu dewasa, EungSoo lebih logis dan mengakui kecakapan WooJoo. Belum ada tanggapan tentang adik se-ayahnya, Henry. He's cute kid, dan tak tahu apa-apa soal orang tuanya. Bibi juga jadi korban, keluguannya dimanfaatkan. Syukurlah Ia pun berbesar hati mau minta maaf pada nenek dan WooJoo.
WooJoo mendapat closure dengan kasus kecelakaan ayahnya. Semoga anxiety tak bangkit lagi. Toh sudah jelas kecelakaan itu direncanakan, timingnya saja yang berbarengan dengan ayahnya yang menasehatinya. Ia pun sudah memperkenalkan MeRi sebagai calon istrinya. Dan MeRi yang berjanji memastikan WooJoo bahagia itu juga manis sekali.
Sesuai dugaan saya, tim marketing dan SongHee menerima hubungan MeRi -WooJoo dengan baik. Setelah membereskan masalah Konpress WooJoo1, sebaiknya mereka menikah beneran dengan SongHee dan SeJeong (yang sekarang jadi bestie) sebagai pendamping!
Satu lagi yang bisa jadi pendamping adalah JinGyeoung. Bagaimanapun Ia membantu MeRi dan WooJoo melobi SangHyeon. Bisa jadi rekaman yang bocor ini dari SangHyeon sendiri sebagai whistleblower, karena sekarang Ia sudah punya bukti kuat (rekaman dash-cam JinGyeoung) yang menunjukkan pelaku penyuapan ke walikota adalah SangWoo (bapake serem amat ya, pantesan anaknya takut banget..Hoahaha). Minimal, semoga SangHyeon kali ini menolak jadi kambing hitam menggantikan anaknya. Mengingat Bu dokter berjanji akan menemaninya seminggu sekali.
Ah, senang sekali sudah mau ending tapi sekaligus sedih mau berpisah dengan pasangan yang luar biasa bikin ikut merasakan jatuh cinta lagi dan lagi ini. Serta para pemeran pendamping yang semuanya uwuu..
Baca juga Recap dan Review Would You Marry Me ?










.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)











































Posting Komentar