" ".

Recap dan Review Head Over Heels Episode 4

Table of Contents

Recap Head Over Heels Episode 4

Ingatan akan senyum manis GyeonWoo kala menggenggam jemarinya membuat SeongAh senyum-senyum sendiri sepanjang mendengarkan curhat para klien. Ia malah bertanya balik mengenai hal ini pada kliennya yang lebih berpengalaman tentang cinta. DeongCheon ditahan bibi pendamping yang menguping untuk tak melemparinya dengan garam Hoahaha.

Di lapangan latihan, GyeonWoo yang menembakan anak panah pun tersenyum mengenang genggaman SeongAh. Ia salah tingkah sendiri hanya dengan melihat jemarinya, karena tak bisa fokus, bidikannya jadi meleset.


Di rumah abu, YeomHwa membuka pintu lemari Abu dan tersenyum creepy kala menyapa nenek.

DeongCheon mengajak SeongAh ke rumah berhantu. SeongAh sudah tahu garis besarnya dan akan ikut membantu ritual. Ibunya mengakui, Ia butuh kalimat penguat dari SeongAh. SeongAh pun memuji ibunya Shaman terkeren dan kuat. Ibunya masih kecil hati dan bilang jika Iya memang sekarang itu maka sejak percobaan pertama ia sudah akan langsung berhasil. Sayang Ah malah menunjukkan mindsetnya yang digunakannya pada saat menghadapi GyeonWoo : sepanjang belum menyerah artinya ya itulah percobaan pertama.

Ternyata, ini adalah hari ke-13 jadi 8 hari lagi GyeonWoo akan terbebas dari kesialan. Ibunya malah sebel karena lagi genting begini, anaknya masih tetap memikirkan GyeonWoo, tapi Ia tetap tersenyum penuh arti kala SeongAh berargumen ia akan menjadi seorang Shaman yang berfokus pada bidang percintaan. 

SeongAh bertekad melindungi GyeonWoo untuk tidak datang ke rumah ini supaya tidak diganggu hantu. Ibunya mengingatkan itu juga berlalu baginya sendiri. Ia harus berusaha untuk tidak kalah dan menghindari pertarungan yang tidak perlu. Pembicaraan terhenti ketika keduanya menangkap basah youtuber dan videografer yang melakukan siaran langsung dengan tajuk tur ke rumah hantu, mencoba mendobrak masuk ke dalam rumah. 

Meski dicegah dengan alasan nanti malah tidak bisa keluar lagi, sang youtuber malah heboh sendiri karena bertemu dengan Shaman. Mereka mewawancarai Ibu SeongAh ah dan bertanya apakah mereka kemari untuk mengusir hantunya. 

DeongCheon menjelaskan bahwa ia melarangnya merekam justru karena belum berhasil membersihkan rumah tersebut. Si Youtuber malah ngotot dan mengajak kedua Shaman masuk bersama. SeongAh yang dari tadi hanya bersembunyi di balik ibunya sambil menutupi wajahnya dengan masker akhirnya angkat bicara. Ia mengeluarkan pedang Ibunya dan mengayun-ayunkannya seolah-olah pedang tersebut adalah asli. Dua orang itu lari kalang kabut dikejar SeongAh dan pedangnya.

Ibunya hanya tertawa melihat tingkat SeongAh yang bilang Ia ingin menunjukkan bahwa Ia tak akan kalah dengan apapun. Sayang, kedua orang itu hanya bersembunyi kemudian kembali berusaha masuk ke dalam rumah ketika para Shaman sudah pergi. Di dalam rumah keduanya menjerit histeris kala langsung ditangkap oleh entitas tak kasat mata yang menyeramkan.

Keesokan paginya SeongAh kesulitan menemukan benda yang memiliki mata hidung dan mulut dengan aroma dirinya sebagai jimat pengganti. Demi menghindari hantu sejak kecil ia bahkan tak pernah bermain boneka. Syukurlah ia menemukan lip balm yang memiliki model boneka. 

Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Ia kesulitan menemukan alasan menyerahkannya pada GyeonWoo. Saat si pria tampan membuka topik pembicaraan dengan tema cuaca, dengan cepat salah menangkapnya dan mengatakan di cuaca yang cerah begini lebih baik kelembaban bibir GyeonWoo selalu terjaga kemudian menyerahkannya. GyeonWoo terlihat bingung tapi Ia menerimanya saja. 

Ketika tiba di bus SeongAh nampak menyesali seluruh perkataannya karena justru membuat pipinya merona kemerahan dan salah tingkah di hadapan GyeonWoo. Makanya Ia hanya menempelkan kepalanya di bingkai jendela. 

JiHo menyadari bahwa hari ini Ia lebih aneh dari biasanya. Sebelum sempat JiHo menyentuhkan jarinya, ternyata GyeonWoo sudah lebih dulu menempelkan jari kelingkingnya. SeongAh bisa menebak dengan benar sambil terus memegangi jari tersebut. Ketika menoleh kebelakang, Ia sangat terkejut bahwa orang yang menempelkan jari adalah GyeonWoo yang bertanya mengapa SeongAh mengira itu adalah JiHo padahal Ia pun sangat suka bermain. SeongAh bilang Ia akan mengingatnya. Interaksi manis kedua orang ini membuat JiHo gelisah sendiri di kursinya.


Setibanya di sekolah SeongAh masih mengamati hantu bayi yang menempel di DoYeon. Untunglah jimat pengabul yang dibuat SeongAh berfungsi dengan baik. Hantu Bayi sedang tertidur dengan pulas. Tanpa disadari ternyata SeongAh sudah menarik dasinya GyeonWoo sebagai upayanya melindungi dari Hantu Bayi saat mereka dan DoYeon berpapasan. JiHo semakin heran saat GyeonWoo tidak protes, malah membahas cuaca yang cerah.

Puncak keheranan JiHo adalah saat makan siang, SeongAh memilih duduk langsung di samping GyeonWoo alih-alih di kursi yang sudah dipersiapkannya di sebelahnya. JiHo langsung protes dan merasa tersinggung "Inilah duka kelompok 3 orang. Aku merasa diabaikan". SeongAh minta maaf tetapi JiHo tetap memaksanya untuk pindah duduk di sampingnya. JiHo bilang jangan hanya memperhatikan teman baru perhatikan juga teman lamamu. "Memangnya Kau anak SD?" Tanya SeongAh. "Anak TK" JiHo masih merajuk. SeongAh berdiri dan akan pindah kala GyeonWoo yang menahannya. Belum sempat SeongAh pindah ternyata HyeRi dan DoYeon langsung duduk di meja mereka. 



Trio perundung mengusir orang lain dan menempati meja bersama Beom dan temannya yang pernah menyebar isu GyeonWoo arsonis -JooSeung. SeongAh malah tersenyum memperhatikan arwah anjing kecil yang selalu mengikuti JinUng -ketua perundung. Hal ini tak luput dari perhatian GyeonWoo. Ia dan JiHo bahkan menangkap basah SeongAh mengagumi sosok JinUng yang berjalan bersama rekannya ditepi lapangan. SeongAh malah bilang "Imutnya".

JiHo langsung bertanya tentang cinta pertama SeongAh pada GyeonWoo. Ia paham alasannya karena ketampanan dan keahliannya memanah, tapi kenapa Ia menganggap JinUng imut? Ternyata di toilet GyeonWoo juga berusaha memahami sisi imut JinUng dari mana. Karena tak berhasil, ketika keluar Ia malah melaporkannya pada guru bahwa ada siswa yang sedang merokok di toilet.

SeongAh menjelaskan pada JiHo bahwa yang dianggapnya imut adalah Bok-I, anjing roh penjaga JinUng. Kecil tapi pemberani. Hantu biasa pasti terdorong menggangu GyeonWoo saat bertemu tapi Bok-I berwatak manis dan disiplin, jadi hanya peduli pada pemiliknya.

Bagi SeongAh JinUng justru aman, yang berbahaya adalah DoYeon. Hantu Bayi yang menempatinya membuat orang merasa sesak atau sakit kepala didekatnya. HyeRi merasa mual saat makan siang, tapi JiHo tak menyadarinya hanya merasa DoYeon orang yang dingin. Menurut SeongAh karena JiHo punya Qi yang sangat kuat dan itu sangat bagus. JiHo menunjukkan kecemburuannya, lagi-lagi tentang GyeonWoo. 


"Mau bagaimana lagi", SeongAh berdiri "Aku adalah gadis yang sedang jatuh cinta. Katanya cinta menambah kecantikan seseorang. Bagaimana? Apa Aku cantik? Bagaimana?" SeongAh berpose imut sambil memejamkan matanya jenaka

"Apa Kau tak sadar?" JiHo sudah super salting 

"Apa Aku tak cantik?"

"GyeonWoo lebih cantik." JiHo menjawab sambil membuang muka.

"Kau benar, Aku suka GyeonWoo!" SeongAh memeluk dirinya sendiri. "Aku kangen dia, dia sedang apa ya?" Selorohnya

Sementara JiHo hanya bisa menatap sendu.

Di lokasi rumah hantu, DeongCheon dan pemilik rumah menemukan kedua orang semalam dalam keadaan katatonik. DeongCheon bilang Ia akan segera melakukan ritual, meski percuma Ia akan menunggu Sunbae Shamannya mengumpulkan Shaman yang kuat. Sembari menunggu Ia akan mulai melakukan ritual pembersihan.

Roh akan semakin sulit jika sudah merebut nyawa. DeongCheon sangat kesal memandangi rumah yang sekarang dipasang garis polisi dan dijaga.

Jam pulang sekolah, trio perundung kembali menyapu halaman. JiHo keheranan karena hukuman mereka kan sudah selesai. GyeonWoo pura-pura tak tahu. SeongAh pamit duluan setelah menerima telepon dari ibunya. Dua pemuda itu secara bersamaan menawari mengantarnya ke tempat kerja paruh waktunya, tapi Ia langsung menolak.

Ia nyaris pergi tapi berbalik lagi memberikan sentuhan jimat manusia. Agar adil, setelah menepuk jemari GyeonWoo, Ia pun melakukannya pada JiHo Hoahaha.

Kembali ke rumah Hantu, ibu dan anak secara sinkron melakukan serangkaian ritual. Di mulai dari melemparkan kain melalui jendela yang pecah. Warna yang tadinya putih bersih segera menjadi tercemar.


Paralel dengan GyeonWoo yang setibanya di halaman rumahnya langsung disapa YeomHwa dengan sebutan "Roh Baru" (padahal itu untuk jiwa yang baru meninggal). GyeonWoo langsung mempertanyakan alasan kedatangannya. Dengan kejam YeomHwa melemparkan foto-foto GyeonWoo dan nenek yang dipasang di sekeliling pasu abu. "Berapa lama lagi aku harus melindungi keluargamu darimu?" Tanyanya nyebelin!

GyeonWoo berusaha memungut foto-foto itu dan sangar terluka kala melihat di wajah neneknya pun ditulisi jimat yang mengusir kejahatan. Alasan YeomHwa siapa tahu Ia tak bisa menyebrang karena paling lama bersama GyeonWoo yang bawa sial. Tak lupa Ia menaburi garam ke seluruh tubuh GyeonWoo.

DeongCheon dan SeongAh melanjutkan ritual dengan pedang dan menaburi garam.

Di kamarnya, GyeonWoo terlihat seperti nyaris menangis tetapi berusaha tersenyum kala menemukan pelembab bibir dari SeongAh.

Di bus lagi-lagi JiHo terlambat menangkap kepala SeongAh yang ketiduran lalu nyaris menabrak kaca. GyeonWoo mempertanyakan pekerjaan paruh waktunya yang terlihat menguras energi pada JiHo yang terpaksa mengiyakan.

Di kelas, SeongAh terkantuk-kantuk mendengarkan gurunya menjelaskan pelajaran. Ternyata Beom dan temannya nonton rekaman Youtuber yang masuk ke rumah hantu itu. Entah bagaimana mereka membangunkan SeongAh, dari yang awalnya mengajak menonton malah menyadari kemiripan dengan Sang Shaman.

GyeonWoo dan JiHo makan siang bersama. GyeonWoo khawatir SeongAh tak makan siang, apalagi menu hari ini JapChae kesukaannya. Keduanya masuk tepat saat seluruh teman mengerubuti SeongAh dan Joo Seung sedang memaksanya mengucapkan dialog "Aku punya pedang" untuk menilai kemiripannya dengan Shaman di video. JiHo berusaha melerai dan SeongAh pun menyangkal tetapi tetap tersenyum. 

GyeonWoo yang tak tahan malah merebut pena dan berteriak pada JooSeung, "Lebih baik menuduhnya membunuh orang, karena minimal pembunuh bisa dihukum." JiHo berusaha menenangkannya, tapi GyeonWoo membanting pena

"Ayo bicara" JiHo menahan GyeonWoo "Jangan lepaskan amarahmu, sampaikan dengan baik"

"Dengan baik? Bagaimana aku bisa baik jika korbannya tersenyum."

"Maafkan Aku, lain kali aku akan membela diri."

"Jangan minta maaf padaku, minta maaf pada dirimu sendiri. Kau tersenyum saat dipanggil pick-me atau Shaman, Kau selalu minta maaf padahal tidak salah. Atau kau memang seorang Shaman?"

"Mana mungkin dia Shaman." JiHo berusaha membela.

"Kalau kau Bukan Shaman kenapa kau menuruti orang lain seolah-olah mereka benar?"


SeongAh malah membayangkan jujur pada GyeonWoo dengan cara yang hilarious. Setelah GyeonWoo pergi, SeongAh bertanya pada JiHo kalau yang dibenci GyeonWoo adalah Shaman pada umumnya bukan dirinya. JiHo bilang SeongAh lemah karena tak benci GyeonWoo sementara JiHo sedikit membencinya.

Kala GyeonWoo berjalan pulang, Pelatih Yang JuSeop (Park JungPyo) menaburkan confeti demi mengajak mereka berdua memanah. Ia sudah kecil hati karena GyeonWoo menolak tetapi JiHo mengiyakan demi bisa berbicara dengan GyeonWoo.


Di lapangan, JiHo menerima masukan dari GyeonWoo sikap mendasar sebelum menembak. GyeonWoo mencontohkan dengan tembakan sempurna. JiHo mengajak bertukar namun setelah dua kali percobaan, anak panahnya masih gagal mengenai sasaran juga. GyeonWoo mengajaknya berbicara tapi awalnya JiHo ingin menyelesaikan latihannya dulu. Akhirnya JiHo menceritakan pertemuan pertamanya dengan SeongAh. 





Di Minggu awal masuk sekolah, gadis itu berdiri sendiri di tengah ruang makan tanpa mendapat tempat duduk. JiHo menyapanya dan menyarankannya tersenyum. Prinsipnya palsukan rasa percaya dirimu sampai kau benar-benar bisa percaya diri .

"Jadi, jangan terlalu marah padanya, bisa dibilang itu salahku." Jelas JiHo 

"Itu yang ingin kau bicarakan?" Tanya GyeonWoo.

"Aku menyukai SeongAh, jika rasa sukaku makin besar, Aku bisa main curang. Kau tak akan dapat informasi seperti ini. Aku berniat menjaga orang yang kusayangi" anak panah JiHo melesat tepat pada sasaran.

Malamnya sepanjang SeongAh membakar Soji (kertas putih yang dibakar untuk membersihkan kekoktoran), Ia teringat perkataan GyeonWoo siang tadi. Sementara DeongCheon terkenang YeomHwa. Keduanya sadar dari lamunan akibat percikan api.

Tangan keduanya terluka namun tak berhasil membersihkan rumah itu. SeongAh bertanya apakah ada yang mengganggu pikiran ibunya. DeongCheon menebak saat ini SeongAh sedang memikirkan cinta pertamanya. "Aku iri dengan Spiderman, setidaknya MJ tidak membenci laba-laba. GyeonWoo membenci Shaman." SeongAh curhat. Ibunya membenarkan, banyak orang begitu. Sesungguhnya bisa melihat arwah bukan hadiah melainkan takdir yang harus dijalani. Semua akan baik-baik saja selama SeongAh tak ketahuan sama seperti Spiderman yang anak SMA biasa saat tak pakai kostumnya. Tak perlu mencemaskan ketahuan, pikirkan saat kalau itu benar-benar terjadi saja. 

Panjang umur, malah mereka bertemu GyeonWoo. Keduanya berusaha kabur, namun pemuda itu mencegat mereka dan meminta SeongAh membuka maskernya demi membersihkan nama temannya. Ia harus mengambil foto sang Shaman. DeongCheon mengingatkan SeongAh --yang langsung terpesona sampai tak sadar membolehkan-- agar tak memenuhi permintaan GyeonWoo, masalah temanmu bukan urusan putriku hardiknya.

GyeonWoo masih berusaha menjelaskan bahwa Ia akan meminta maaf pada temannya. Ia langsung mengirim pesan mengajak bertemu untuk minta maaf. Pada saat yang bersamaan notifikasi ponsel SeongAh berbunyi. GyeonWoo langsung menatapnya dan Sang Shaman terpaksa berteriak "Apa lihat-lihat? Tundukan dirimu" ancamnya! GyeonWoo pun pergi.

SeongAh malah menangis karena takut ketahuan, Ia terpaksa berteriak tunduk dan tak sanggup membalas pesan GyeonWoo. Saat melewati toko pakaian, ibunya bertanya tentang gaun yang dipajang di etalase. SeongAh bilang, itu cantik meski sambil menangis. Ibunya memintanya mencoba, kemudian menghapus air matanya, Spiderman hanya jadi Spiderman kala pakai kostum. Sekarang ayo lekas temui dia ujar ibunya.




SeongAh sangat berterimakasih dan segera berlari menemui GyeonWoo. Mereka bertemu di sebuah taman. Anehnya setelah bersama dan GyeonWoo mulai minta maaf begitupula SeongAh yang terlambat menjawab pesan, listrik padam. SeongAh dan GyeonWoo duduk berdua dalam gelap. Keduanya berusaha mengobrol tapi SeongAh mencemaskan para hantu yang tertarik energi yin kegelapan. SeongAh menceritakan masa kecilnya yang takut hantu sampai tidur dengan lampu menyala. Ternyata tangan yang hangat, bisa membuat perasaan lebih tenang. Ia teringat DeongCheon menemaninya sambil menggenggam tangannya hingga pagi. 

"Sejujurnya senyum terpaksa mu mengingatkanmu akan diriku". GyeonWoo mengenang masa-masa dilempari garam oleh YeomHwa. "Orang jahat makin jahat saat kau tersenyum hingga kau menangis. Namun bagaimanapun Kau dan Aku adalah dua orang yang berbeda. Aku merasa berada diposisimu dan merasa marah. Aku benar-benar minta maaf."

SeongAh malah memeluknya "Jangan memikirkan masa lalu, mulai sekarang, hal buruk tak akan menimpamu karena akan Ku usir semuanya. Aku sangat hangat." SeongAh menepuk pundaknya.

Saat GyeonWoo membalas tepukan dipunggung SeongAh, lampu menyala dan keduanya saling melepaskan diri dengan tersenyum malu-malu.




Besoknya, SeongAh mengajak GyeonWoo menyewa sepeda ke sekolah. JiHo hanya melihat mereka lewat di halte. Ia menghela nafas patah hati. GyeonWoo merasa sangat senang dengan cahaya matahari, sapaan anak-anak dan lainnya. Ia tersenyum pada SeongAh. Mereka terlambat dan GyeonWoo membantu menangkap SeongAh melompat dari pagar. Keduanya berlari di halaman sekolah sambil bergandengan tangan. Pelatih Yang menangkap basah mereka melalui teropong dan berusaha memahami alasan GyeonWoo tak memanah karena Ia sedang kasmaran.

Master Bunga didatangi DeongCheon untuk menanyakan tentang YeomHwa. Celakanya, malah Shaman Jahat ini sedang mengunjungi rumah berhantu. 

Di sekolah,  SeongAh dan GyeonWoo sedang membahas mereka tak pulang naik sepeda sebab GyeonWoo harus berlatih memanah. JinUng dan gengnya meminta GyeonWoo datang ke gudang, sepertinya mereka sudah tahu GyeonWoo yang melaporkan mereka merokok. SeongAh yang khawatir akan melaporkan pada wali kelas tapi GyeonWoo bilang Ia tak akan pergi.

Setelah memanah, teman setim berbisik-bisik mempertanyakan apakah GyeonWoo akan masuk jadi tim inti. Pelatihnya masuk dan bilang Ia sedang masa menjelang putus (dengan busur panahnya Hoahaha). Pada GyeonWoo Pelatih Yang marah karena GyeonWoo sudah mendekati gadis lain padahal belum benar-benar putus. GyeonWoo menyangkal dan bilang Ia tetap akan memanah.




SeongAh menuju rumah berhantu sambil membawa dua lampion besar. Ia tampak kesulitan dan kesal karena Ibunya memerintahkannya untuk mempersiapkan semua, sementara DeongCheon sendiri sangat sibuk. Setibanya di sana Ia bertemu YeomHwa yang baru selesai merapal mantra di dalam. Tanpa curiga, SeongAh mengira Ia bagian dari Shaman yang dikumpulkan Bibi Shaman senior ibunya. YeomHwa lalu mengajak SeongAh menarikan tarian ritual bersama.

Ternyata disaat yang bersamaan GyeonWoo menyampaikan pada pelatih, ia tak berhenti karena menyukai panahan. Pelatih Yang sangat terharu dan memeluknya, "Dasar, Kau memang ahli tarik ulur dan sangat cocok jadi Pemanah." Sebagai junior, GyeonWoo harus menerima tantangan misi perkenalan dari teman baru di tim panahan untuk datang ke rumah hantu dan kembali ke sekolah dalam waktu satu jam.



Nahas, ketika GyeonWoo tiba di lokasi rumah hantu, SeongAh baru selesai menarikan tarian ritual dengan lampion tanpa masker --karena YeomHwa yang melepaskannya. Betapa kagetnya mereka berdua saat pandangan bertemu di kegelapan malam. GyeonWoo mengenang kembali kisah hidupnya dan pertemuannya dengan SeongAh.

Review

YeomHwa ini creepy banget jadi vilain. Selain tindak tanduknya yang mencurigakan --apakah Ia menerapkan ilmu hitam??-- asli senyumnya sinis dan wajahnya sangat sombong. Wajar GyeonWoo yang saat awal pertemuan masih kanak-kanak membencinya.

Namun sekejam-kejamnya YeomHwa, keluarganya GyeonWoo lebih kejam lagi. Teganya orangtua membuang anaknya sendiri. Termasuk paman dan bibinya yang lebih percaya pada ramalan dan sejenisnya. Respek sekali pada Nenek yang mau menemaninya mengatasi segala kesulitannya.

Jahatnya mereka masih saja berusaha menjauhkan GyeonWoo. Terlihat dari menyewa Shaman Jahat YeomHwa untuk mengambil semua foto keduanya dari pasu Abu sang Nenek.

Sebenarnya saya paham kompleksitas ramalan, kesialan, Shaman dan sebagainya ini erat dengan kepercayaan yang dianut oleh mayoritas orang KorSel.

Keluarga besar ibu saya --yang notebene seorang mualaf-- masih ada yang berpegang teguh pada tradisi leluhur yang percaya dengan hal tersebut. Sehingga tidak bakal mempan disanggah dengan alasan logis apapun bila sudah menerima ramalan dari 'dukun' yang dipercaya.

Di sisi lain, kisah cinta segitiga para tokohnya makin seru. JiHo jelas-jelas cemburu dengan kedekatan para OTP. Tapi sebagai seorang gentleman sejati, pada dasarnya yang diinginkannya adalah kebahagiaan SeongAh. Ia bela-belain ikut memanah adalah bukti nyata. Eh, feeling pelatihnya boleh juga, JiHo berpotensi jago memanah. 

Tinggal GyeonWoo yang harus mengatasi kebenciannya terhadap Shaman agar bisa melihat ketulusan sang gadis yang jatuh cinta pertama kali padanya. Dilalah kenyataan bahwa SeongAh benar seorang Shaman justru didapat saat Ia melihatnya bareng dengan YeomHwa yang sangat dibencinya.

Baca juga Recap dan Review Head Over Heels:

Episode 1     Episode 7

Episode 2     Episode 8

Episode 3     Episode 9

Episode 4     Episode 10

Episode 5     Episode 11   

Episode 6     Episode 12

Posting Komentar